My Love Teacher

My Love Teacher
Arthit Ram Tanawat


__ADS_3

Cyra segera di bawa masuk untuk mendapat penanganan.


"Ada apa ini Cyra?"


"Entahlah dok. Perutku sakit dan air ketubanku sepertinya pecah." Cyra menjawab pertanyaan dokter sambil menahan rasa sakit. Keringatnya membasahi dahinya.


"Oke, tunggu sebentar." Dokter melakukan pemeriksaan. "Air ketubanmu mulai berkurang. Bayi ini harus di lahirkan."


"Tidak bisakah menunggu sampai besok dokter."


"Sangat beresiko Cyra. Bayi ini bisa keracunan. Dan aku tidak tahu apakah kamu sanggup menahan rasa sakit ini sampai besok. Yang ada justru kamu akan lemah tak bertenaga itu membahayakan dirimu dan bayimu."


"Aku ingin melahirkan secara normal dokter."


"Aku usahakan. Tapi jika memang sudah tidak bisa terpaksa jalur operasi harus aku tempuh."


Cyra mengangguk. "Baiklah." Cyra sudah tidak bisa berkata - kata lagi.


"Mana suaminya?" tanya dokter.


"Maaf dokter, tuan Aroon beberapa waktu yang lalu mengalami kecelakaan dan saat ini masih di rawat di rumah sakit di Bali." jawab bik Tika.


"Kamu tanda tangan ini." perintah dokter.


"Apa ini dokter?"


"Surat persetujuan karena saat ini tuan Aroon suaminya tidak ada jadi kamu aku anggap sebagai walinya. Pasien akan kami induksi dengan Oksitosin agar mempercepat kontraksi sehingga bayi akan segera lahir."


"Baik dokter."


"Tolong kamu beritahukan tuan Aroon mengenai kondisi Cyra saat ini."


"Baik dokter."


Setelah bik Tika tanda tangan Cyra mendapat suntikan melalui infus. Dan benar adanya perutnya merasakan kontraksi yang terus menerus dan sakit yang luar biasa.


Dokter datang memeriksa secara rutin tentang perkembangannya. "Cyra kamu sudah siap melahirkan. Apa ada yang menemanimu di dalam?"


"Tidak ada dokter. Tidak apa - apa aku di dalam sendirian."


"Baiklah." dokter segera membawa Cyra ke ruang bersalin. Di dalam Cyra berjuang mati - matian untuk melahirkan buah cintanya dengan Aroon.


"Ayo sedikit lagi Cyra. Aku tahu kamu bisa."


Ya tuhan tolong bantu aku doa Cyra dalam hati.


"Heeegghhh.. Aarrgghhh!!!" dengan sekali tarikan napas. Cyra mengejan dan akhirmya.


"Oek.. Oek.. Oek.."


"Selamat Cyra. Bayimu sudah lahir. Baby boy." setelah dokter memotong tali pusar bayi di taruh di atas dada Cyra.


Dengan penuh haru Cyra mencium bayinya dengan menitikkan air mata.


"Welcome to the world my baby." bisik Cyra.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


Cyra sudah di pindahkan ke ruang rawat inap. Gio selalu menungguinya dan sesekali memegang adiknya. Karena lelah Cyra tertidur sebentar dan bayi di kembalikan ke ruang bayi.


Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan suaminya. Dan seolah itu terasa nyata. Cyra terbangun. Samar - samar ia melihat seorang pria duduk di atas kursi roda sedang menggendong bayi.


"Aroon." panggilnya lirih.


"Hai. Kau sudah bangun."


"Ini kamu?"


"Ya sayang ini aku."


"Ya tuhan aku kira mimpi."


Aroon menaruh bayinya di box. Ia kemudian membawa kursi rodanya mendekat ke tepi tempat tidur Cyra.


"Kau tadi tidur nyenyak. Aku jadi tidak tega membangunkanmu." Aroon menggenggam jari Cyra dan menciumnya. "Aku minta maaf."


"Kenapa? Kau selamat saja aku sudah bersyukur. Kau tidak perlu minta maaf."


"Aku tidak menemanimu melahirkan sesuai dengan janjiku padamu."


"Kita memang sebagai manusia hanya bisa merencanakan tapi tuhanlah yang menentukan semua. Aku tidak mempermasalahkan hal itu sayang." Cyra membelai lembut pipi suaminya. "Aku merindukanmu."


"Aku juga." ucap Aroon. Ia memeluk Cyra walau agak kesusahan karena kursi roda menghalangi kebebasannya.


"Bagaimana kakimu?"


"Terkilir, mungkin beberapa hari ke depan akan sembuh." jawab Aroon. "Bayinya mirip denganku."


"Tentu saja, itu hasil kerja kerasmu." goda Cyra.


"Eh libur. Aku habis melahirkan."


Aroon kembali menggendong bayinya. Tak lama kemudian Gio masuk dan ikut bergabung bersama mereka.


"Siapa namanya?" tanya Gio.


"Kamu ada usul?"


"Namakan saja sama denganku. Kalian tidak akan susah memanggil kami cukup dengan Gio saja."


"Hahahahh.. Kamu ada - ada saja."


"Hmm.. Phoo punya." sahut Aroon.


"Siapa?"


"Arthit yang artinya anak laki - laki yang baik. Arthit Ram Tanawat."


"Bagus."


"Aku setuju." jawab Gio


🍀🍀🍀🍀


Baby Arthit hari ini sudah boleh pulang. Ayah dan ibu sudah sampai di Bogor. Mereka menyambut cucu pertama mereka dengan suka cita.

__ADS_1


Aroon mengadakan sebuah pesta syukuran bersama para pekerja untuk menyambut kehadiran Arthit dan juga atas kebaikan tuhan karena ia terhindar dari bencana.


Pesta malam ini juga di hadiri oleh beberapa klien dan sahabat dekat Aroon dan Cyra. Baby Arthit tidak rewel sehingga Cyra juga bisa merawat kaki suaminya yang perlu terapi untuk proses penyembuhannya.


"Cyra." panggil Aroon


"Hmm.. Ya." jawab Cyra yang saat itu sedang menemui beberapa tamu.


"Arthit nangis."


"Maaf saya tinggal sebentar, bayi saya mungkin lapar. Permisi." pamit Cyra. Ia segera masuk ke dalam kamar dan Aroon berada di belakangnya menggunakan kruk.


Arthit sudah di gendong oleh bik Tika. "Aduh.. Aduh.. Kesayangan Mae, kamu lapar ya nak. Maaf ya Mae tinggal lama." Cyra segera menggendong bayinya.


"Kalau begitu saya tinggal dulu nyonya."


"Terimakasih ya bik."


Cyra duduk di sofa yang memang sudah di persiapkan untuk menyusui. Seketika baby Arthit terdiam karena sudah bertemu dengan pawangnya.


Melihat istrinya yang sedang menyusui baby Arthit, Aroon menatap tajam. Ia kemudian mendekati istrinya. "Cyra."


"Ya."


"Kau tidak rindu padaku?" tanya Aroon.


"Tentu saja rindu." jawab Cyra yang masih membelai bayinya agar tenang.


Tangan Aroon mulai nakal dengan memainkan salah satu bukit kembarnya.


"Aauuww sakit Aroon. Aku baru menyusui."


"Heheheh.. Beda.. Tambah besar dan padat." godanya.


"Puasa dulu empat puluh hari, aku masih nifas."


"Yah apa tidak ada cara lain." Aroon berusaha sedikit memaksa. Maklumlah sudah dua minggu ia tidak berhubungan dengan Cyra. Ia kecelakaan dengan kakinya yang terkilir kemudian Cyra melahirkan.


Cyra tidak menjawab atau merespon perkataan suaminya. Ia masih konsentrasi menyusui Arthit hingga bayi itu kembali tertidur. Dengan perlahan ia meletakkannya di box bayi.


Aroon yang terlihat kesal duduk bersandar di atas tempat tidur. Cyra melihat suaminya yang sedang merajuk itu dengan senyuman.


"Sabar bayi besarku. Kamu kan tahu aku baru menidurkan bayi kecilku. Kamu tidak ingin kan di tengah permainan kita ia menangis." Cyra mengerlingkan matanya. Ia mendekati suaminya dan duduk di pangkuannya. "Kenapa ngambek?"


"Kau sekarang tidak memperhatikanku."


"Siapa bilang?" tanya Cyra yang mulai membelai bagian intim Aroon. "Aku selalu memperhatikanmu tuan Aroon." Cyra mulai membuka celana suaminya. "Cara lain ini kan yang kamu inginkan?"


Aroon mengangguk senang. Tanpa menunggu waktu lama Cyra mulai bermain dengan asyik di sana. Apapun akan ia lakukan untuk menyenangkan hati suaminya. Aroon memejamkan matanha mulai menikmati permainan yang di berikan istrinya.


"Kamu tambah hot sayang." puji Aroon.


"Makanya jangan macam - macam dengan emak - emak dua anak ya."


Mereka berdua terus bermain tanpa memperdulikan tamu yang datang. Sudah ada Syamsudin dan Sulaiman yang menanganinya.


Dasar tuan Aroon.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2