My Love Teacher

My Love Teacher
Kehebohan Di Perkebunan


__ADS_3

Omar berlari tergopoh - gopoh  menuju ke rumah utama. Ia menabrak Jono.


"Hei! Hati - hati dong!"


"Maaf.. Maaf.. Aku terburu - buru."


"Memang adapa apa sih?"


"Ada bu Cyra. Dia pulang." jawab Omar.


"Bu Cyra? Wah aku harus bilang sama ibu."


"Ya sudah sana. Aku mau ke kamar tuan muda."


Omar kembali berlari menuju ke kamar Gio. Bahkan ia tidak sadar sudah melewati Denisha yang sedang duduk di ruang tengah sambil minum teh.


"Omar!" panggil Denisha.


Panggilan itu membuat Omar harus menghentikan lagi langkahnya. "Aduuuhhh! Siapa sih yang panggil - panggil! Mengganggu saja."


"Hei! Apa kamu bilang! Kurang ajar kamu!" umpat Denisha. "Sini kamu!"


"Eh nona denisha. Maaf saya tidak tahu." Omar terpaksa menghampiri Denisha dan berdiri di depannya. Ia berusaha mengatur napasnya sehingga terlihat lebih tenang di hadapan nona galak itu.


"Kenapa lari - lari? Heboh benar." tanya Denisha sambil membuka majalah yang ada di pangkuannya


"Itu ada bu Cyra."


"Cyra? Bagaimana bisa?" Denisha bertanya dengan nada tinggi. "Gio kan sudah tidak membutuhkannya. Dan juga dia sudah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya. Mau apa dia?"


"Saya juga tidak tahu nona."


"Terus kenapa kau lari - lari?"


"Saya mau memberi tahu tuan muda."


"Tidak perlu. Apa penting memberi tahukan kedatangannya?"


"Pokoknya saya harus memberitahu tuan muda." Omar berbalik


"Omar! Kembali kau! Tidak perlu memberitahu Gio!" teriak Denisha.


"Maaf nona, saya harus." Omar tetap pergi tanpa mengindahkan larangan Denisha.


"Kurang ajar!" Denisha membanting majalah yang tadi di bacanya ke lantai. "Aku harus telepon Billy." gumamnya ia segera pergi ke kamar.


Omar sudah sampai de depan pintu kamar Gio. Tiba - tiba saja ia menjadi ragu tentang noat awalnya. "Waduh tuan muda di beritahu tidak ya." ia berbicara sendiri.


Tiba - tiba saja pintu kamar terbuka karena kebetulan Olif mau keluar.


'Hei! Jangan bicara sendiri, kayang orang gila."


"Ah, kau mengagetkanku saja."


"Habisnya kau sudah menghalangi jalanku, bicara sendiri pula." ucap Olif sewot.


"Eh tuan muda ada?"

__ADS_1


"Ada tuh di dalam. Sedang baca buku."


"Buku apa?"


"Sssstttt.. buku yang dari bu Cyra."


"O..o..o."


"Kamu mau masuk sebentar aku bilang."


"Eeehh.. Ngg___."


"Tuan muda ada Omar." belum selesai Omar berbicara, Olif sudah berteriak memberi tahukan kedatangan Omar.


'Ada apa Omar?" tanya Gio dari dalam. Tampak Gio dengan cepat menyembunyikan buku bacaannya di bawah bantal.


"Kamu itu, aku sudah bilang jangan." bisik Omar jengkel dengan mulut ember Olif.


"Salah sendiri kurang cepat, makanya punya otak jangan lambat." cibir Olif.


Omar menjitak kepala Olif dengan pelan kemudian berjalan melewatinya untuk bertemu dengan Gio. Olif  mengikuti dari belakang.


"Kau belum menjawab pertanyaanku Omar. Ada apa?"


"Maaf tuan muda, tidak jadi. Saya takut mengganggu tuan muda."


"Tidak apa - apa. Aku sedang santai." jawab Gio. "Katakan saja."


"Itu ada bu Cyra di depan tuan muda."


"Apa bu Cyra?" Gio bersorak, tampak senyumnya mengembang tanpa dia sadari. Gio beranjak dari tempat tidurnya dan segera berlari menuju pintu. Tapi tak lama kemudian ia berhenti seperti tersadar bahwa ia masih marah dengan gurunya itu. Gio berbalik dan kembali ke tempat tidurnya. "Biarkan saja. Toh aku sudah tidak membutuhkannya." ucapnya lirih sambil tidur berbaring membelakangi Omar dan Olif. Mereka berdua saling berpandangan. Mereka merasa heran bukankah tadi tuan mudanya itu senang bertemu dengan Cyra tapi kenapa tiba - tiba berubah menjadi malas.


"Aku mau istirahat. Kalian keluarlah."


Omar dan Olif sama - sama menghela napas. Tuan muda sama keras kepalanya dengan tuan Aroon. Mereka berdua memutuskan untuk keluar. Akan tetapi di depan pintu sudah ada bik Tika.


"Ada apa bik?" tanya Omar. "Tuan muda sedang istirahat, tidak mau di ganggu."


"Tuan Aroon menyuruhku memanggil tuan muda dan juga kalian berdua." jawab bik Tika. "Sepertinya tuan mau memberitahukan hal penting pada kita semua."


"Hal penting apa bik?" tanya Olif.


"Aku juga tidak tahu. Semua sudah berkumpul di ruang tengah. Tinggal tuan muda dan kalian berdua."


"Baiklah akan aku sampaikan ke tuan muda." ucap Omar. Bik Tika segera pergi meninggalkan mereka.


Dengan sangat terpaksa Omar dan Olif kembali masuk kedalam. "Maaf tuan muda, tuan Aroon memerintahkan tuan untuk ke ruang tengah." Omar menyampaikannya secara hati - hati.


"Bilang pada Phoo, aku mau istirahat."


"Tapi tuan muda____."


"Bilang saja begitu!" Gio memerintah dengan nada ketus.


Tiba - tiba..


"Oh, kau tidak mau bertemu dengan Phoo rupanya." ucap aroon yang ternyata sudah ada di dalam kamar. Sepertinya ia tahu isi hati putra. "Phoo ingin bicara padamu." Aroon mendekati dan duduk di pinggir tempat tidur. Ia membelai lembut rambut putranya.

__ADS_1


"Bicara saja di sini." Gio terlihat acuh tak acuh.


"Ayolah Gio, Phoo sudah memanggil semuanya. Apa kau ingin membuat malu Phoo." Aroon berusaha membujuk. "Sebentar saja, oke? Setelah itu kau bisa kembali ke kamar."


Gio memandang wajah Aroon yang tampak tersenyum lembut padanya.


"Atau mau Phoo gendong kalau kau malas berjalan." goda Aroon.


"Tidak aku jalan sendiri." Gio beranjak dari tempat tidurnya.


Ah benar juga yang di katakan Cyra, saran darinya ternyata berhasil membujuk Gio. Bagaimana bisa ia begitu mengerti tentang sifat putranya pikir Aroon dalam hati. Ia tampak tersenyum bahagia.


Semua sudah  berkumpul di ruang tengah termasuk Denisha. Ia tadi sempat menelepon Billy tapi sangat di sayangkan ia tidak mendapatkan jawaban apa - apa. Wajahnya tampak menegang.


"Cyra kemari." perintah Aroon.


Dengan patuh Cyra menuruti perintah suaminya itu.


"Perhatian semuanya aku akan memperkenalkan anggota baru yang sudah tidak asing di mata kalian semua. Kenapa aku mengatakan anggota baru karena sekarang ia akan menjadi nyonya di perkebunan ini." Aroon mengalungkan tangannya di pundak Cyra. "Perkenalkan semua ini Cyra istriku."


Semua yang ada tampak berbisik - bisik.


"Kamu sudah gila Aroon!" teriak Denisha. "Dasar wanita penyihir! Kamu pasti yang sudah mengguna - gunai Aroon!" denisha bergerak maju dan ingin menjambak rambut Cyra tapi dengan cepat di cegah oleh Syamsudin. "Hei! Lepaskan!" denisha meronta - ronta. "Lepaskan! Jangan pegang aku dengan tangan kotormu itu!"


"Maaf nona, anda sudah membahayakan keselamatan nyonya di rumah ini. Sudah tugas kami untuk mencegahnya." ucap Syamsudin tegas.


Cyra masih terdiam dan belum bisa berkata apa - apa. Ia hanya melihat Gio, ingin sekali rasanya ia memeluk anak itu. Tapi pandangan benci itu menjadi penghalang besar dari keinginannya.


"Phoo." panggil Gio


"Ya Gio."


"Aku tidak menyetujui hal ini. Aku tidak akan menganggap bu Cyra sebagai ibuku." ucap Gio dan langsung pergi dari ruang itu.


"Gio!" panggil Aroon. Ia segera menyusul Gio tapi di cegah oleh Cyra.


"Jangan, biarkan ia sendiri dulu tuan. Saya tahu bagaimana perasaannya. Ia pasti terkejut." bisik Cyra.


Aroon menuruti perkataan Cyra. Ia membiarkan Gio pergi, bahkan ia memerintah Omar dan Olif untuk menjaga anak semata wayangnya itu. Ia kemudian kembali berbicara dengan pekerja disana.


"Kalian sudah tahu sekarang posisi Cyra di rumah ini. Aku harap kalian bisa menghormatinya sama seperti kalian menghormatiku." ucap Aroon. "Apapun perintahnya itu juga sama dengan perintahku."


"Baik tuan." jawab mereka bersamaan.


"Baiklah kalian bisa kembali bekerja."


Semua pekerja bubar dan kembali melakukan kegiatannya masing - masing.


Sementara itu di kamar Denisha...


"Aaarghh!!! Siiaall!!!" ia memporak porandakan seluruh kamar. Membanting barang - barang yang ada. "Cyra sialan! Wanita penyihir!" teriakan dan jeritan menggema di dalam kamar Denisha. Ia bener - benar frustasi. Apalagi sekarang tidak ada Billy yang selalu berada di sampingnya. "Davira!!! Kenapa kau tidak membiarkan suamimu menjadi milikuuu!!!" Denisha meraung - raung. "Kau pasti mengutukku kan!"


Tiba - tiba saja ia menjadi tenang. "Davira kau masih dendam padaku?" gumamnya. "Aku terpaksa melakukannya karena kau sama sekali tidak mau memberikan Aroon padaku. Dulu waktu kau punya mainan dan aku menyukainya kau pasti akan memberikannya padaku. Tapi kenapa Aroon tidak!"


Denisha kembali bergejolak lagi. Ia menangis meraung - raung.


Dengan tangan gemetar Denisha mengambil sesuatu di dalam laci. Sebotol obat, dengan tergesa - gesa ia meminum pil itu dan tak lama kemudian ia semakin tenang.. tenang dan kemudian tertidur.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2