My Love Teacher

My Love Teacher
Syarat itu


__ADS_3

Pagi ini sesuai dengan rencana, Syamsudin akan menemui Cyra.


"Kamu sudah siap?"


"Sudah tuan."


"Ayo."


"Kemana tuan?"


"Menemui keponakanmu itu."


"Tuan ikut?"


Aroon mengangguk sambil meninggalkan Syamsudin yang masih tampak bingung. Kalau tuan ikut kenapa dia tidak datang sendiri saja, kenapa harus mengutusku pikir Syamsudin.


Mereka berdua masuk ke dalam mobil menuju rumah Syamsudin. Belum sampai di halaman Aroon sudah menyuruh Syamsudin berhenti.


"Stop." perintahnya.


"Kita belum sampai tuan." Syamsudin memperingatkan. "Masih ada dua rumah lagi yang harus kita lalui."


"Kau pikir aku bodoh, bagaimana kalau keponakanmu itu melihatku."


"Oh iya juga tuan." Syamsudin garuk - garuk kepala. "Kalau begitu saya akan turun disini, biar urusannya cepat selesai."


Tanpa menunggu jawaban, Syamsudin bersiap membuka pintu.


"Tunggu."


"Ada perintah lagi tuan?"


"Pasang ini." Aroon menyerahkan sebuah alat yang sangat kecil.


"Apa ini tuan?"


"Kamera."


"Buat apa? Kita tidak sedang syutingkan?"


"Tidak. Ini hanya untuk jaga - jaga siapa tahu keponakanmu itu menjelek - jelekkanku di belakang."


"Tidak mungkin tuan, saya berani menjamin keponakan saya tidak suka membicarakan orang."


"Kita tidak tahu kedepannya Syam. Bisa saja dia masih dendam padaku karena aku pecat."


"Baiklah." Syamsudin akhirnya mau menerima kamera kecil itu.


"Pasang ini di baju depanmu. Dan ini ditelingamu. Apa yang akan kamu bicarakan akan aku komando dari sini. Ingat jangan bicara macam - macam."


"Baik tuan." Keponakanku semoga kau tidak membicarakan kejelakan tuan aroon doa Syamsudin dalam hati.


Setelah semua siap, kamera terpasang sempurna, Syamsudin turun dan berjalan beberapa meter ke depan menuju rumahnya. Sedangkan Aroon tetap di dalam mobil melihat gerak gerik Syamsudin dari kamera yang terpasang di bajunya. Aroon cukup puas dengan kerja Syamsudin.


"Pak Uo." sapa Cyra yang terkejut dengan kedatangan Syamsudin.


"Kamu ada tamu?"


"Oh, ini Vano temanku sekolah waktu di Surabaya dulu."


Syamsudin menjabat tangan pria itu. Alat ditelinganya mulai mengeluarkan suara umpatan tuan Aroon. "Oh bagus, dia sama sekali tidak sedih karena aku pecat, tidak sedih pisah dari Gio dan malah asyik berpacaran!"


"Ehem tenang tuan." gumam Syamsudin.


"Ada apa Pak Uo? Kenapa bergumam sendiri?"


"Heheheh.. tidak apa - apa. Tiba - tiba saja aku teringat pekerjaan di kebun."


"Oh. Silahkan duduk Pak Uo. Aku buatkan minum." ucap Cyra, ia melihat ke arah Vano yang masih terdiam. "Oya, kamu mau pulang kan Vano?"


"Aku ada yang___." belum selesai Vano berbicara sudah dipotong oleh Cyra.


"Aduh maaf ya, sepertinya ada hal yang penting yang mau disampaikan Pak Uo padaku. Benar kan Pak Uo?" Cyra memberi kode agar Syamsudin mau bekerja sama dengannya.


"Eh, iya benar. Pembicaraan yang sangat penting."


"Baiklah kalau begitu aku akan pulang, lain kali aku akan mampir."


"Iya, lain kali kalau mampir ajak Sekar sekalian."


Vano tersenyum pahit. Wajahnya tidak senang dengan kehadiran Syamsudin. Setelah Vano pergi Cyra membuatkan secangkir kopi untuk Pak Uo nya.


"Syam."


"Iya tuan." jawab Syamsudin lirih.


"Kenapa ucapanmu pelan, aku tidak dengar?"


"Ini agar keponakan saya tidak curiga tuan."


"Baiklah. Apa hubungan keponakanmu dengan pria tadi? Kau tahu?"


"Tidak tuan, ini pertama kali saya ketemu. Nanti akan saya tanyakan." jawab Syamsudin. "Ssssstt, Cyra datang."


"Hei! berani kau memerintahku!"


Syamsudin hanya diam saja walaupun ditelinga penuh suara - suara amukan dari Aroon.


"Di minum Pak Uo, mumpung masih panas."

__ADS_1


Syamsudin menyeruput kopi panas di depannya. "Siapa pria tadi?"


"Itu pria yang dituduhkan tuan Aroon punya hubungan denganku." jawab Cyra. "Bagaimana bisa orang seperti tuan Aroon yang berpendidikan tinggi bisa berpikiran dangkal seperti itu."


"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.." Syamsudin terkejut dengan perkataan Cyra.


"Pelan - pelan minumnya Pak Uo."


"Tidak, aku tidak apa - apa." jawab Syamsudin. "Hmmm Cyra lebih baik kita jangan bawa nama tuan Aroon."


"Oh tidak bisa Pak Uo!" jawab Cyra berapi - api. "Pria arogan itu harusnya mendapat pelajaran, enak saja memecat orang tanpa memberi tahu letak kesalahannya apa."


"Cyra.. Cyra.. tenang. Sudah.. sudah." Syamsudin panik.


"Aku belum selesai Pak Uo, tidak hanya itu saja. Melihat wajahnya yang menyeramkan hampir saja dulu aku mengira dia preman! Sikapnya sama sekali tidak berperi kemanusiaan."


"Cyra.. Cyra.. Ayo kita bicara yang lain saja."


"Tunggu dulu Pak Uo. Wajahnya yang sedingin es di kutub utara, aku jamin tidak ada wanita yang akan mendekatinya. Pantas Gio tidak mendapatkan kasih sayang. Mungkin juga ia akan menduda sampai tua!"


"Tuan Aroon itu sangat setia dengan nyonya Davira."


"Nah.. Nah.. Itu nyonya Davira pasti sudah diguna - guna. Kok bisa ya wanita selembut dan seanggun nyonya Davira jatuh cinta dengan preman dari kutub utara."


Syamsudin menghela napas panjang berkali - kali untuk mengamankan jantungnya. Ia harus menghentikan Cyra, kalau tidak, bisa batal keinginan tuan untuk membawanya kembali.


"Cyra, aku mohon. Tidak baik menjelekkan orang, ayah ibumu tidak pernah mengajarimu akan hal itu kan?"


Cyra terhenyak seakan ia tersadar dengan apa yang sudah dia katakan. "Ah iya Pak Uo." Cyra tampak menyesal.Β  "Aku sudah menerima keputusan tuan Aroon dengan ikhlas, apalagi saat itu aku memang dalam posisi tidak mengawasi Gio." ucap Cyra. "Ini semua gara - gara pria brengsek itu."


"Siapa?"


"Siapa lagi kalau bukan Vano."


"Apa dia kekasihmu?"


"Bukan Pak Uo. Kami berteman dekat waktu sekolah SMA. Yah bisa dibilang cinta monyet."


"Apa dia memintamu jadi kekasihnya?"


"Tidak, dia sudah mempunyai tunangan. Sekar namanya. Dia juga temanku waktu sekolah SMA dan mereka berselingkuh." ucap Cyra. "Entah kenapa tiba - tiba saja dia seperti mendekatiku lagi, aku malas."


"Hati - hati Cyra dengan pria seperti itu."


"Iya Pak Uo, oleh sebab itu aku memutuskan untuk pulang ke Surabaya saja karena tidak mau jika Vano bolak balik kemari. Mungkin di Surabaya aku bisa mendapat pekerjaan lagi."


Syamsudin tersenyum. "Nah kebetulan sekali Cyra, sebenarnya maksud kedatanganku kemari menyampaikan pesan dari tuan Aroon."


"Pesan?"


"Yah beliau meminta maaf karena sudah menuduh dan memecatmu."


"Itu.. Itu.. Karena masih sibuk, dia mengurus tuan muda dan perkebunan sendirian." Syamsudin beralasan.


"Hmm.. Sama sekali tidak tulus." ucap Cyra.


"Sudah kamu jangan terlalu keras kepala. Tuan sudah ada niat baik untuk meminta maaf, itu jarang ia lakukan pada pekerjanya. Hargailah."


"Baiklah, perlu Pak Uo tahu sebenarnya ia sudah aku maafkan."


Syamsudin tersenyum lega. "Dan yang kedua beliau memintamu untuk kembali bekerja."


"Kembali bekerja?" teriak Cyra terkejut, walaupun dalam hati ia bersorak senang tapi rasa gengsinya mengalahkan akal sehatnya. "Akan aku pikirkan." ucapnya


"Hah, akan kamu pikirkan? Tidak usah banyak pertimbangan, kamu butuh pekerjaan ini Cyra." ucap Syamsudin


"Aku sebenarnya mau mengajar Gio kembali\, tapi___."


"Tapi apa?"


"Harus ada syaratnya."


"Syarat?!" teriak Syamsudin. Sedangkan di telinga Syamsudin, Aroon juga berteriak. "Hei! Berani benar keponakanmu itu meminta syarat padaku!"


"Tenang.. tenang." ucap Syamsudin.


"Tenang apa Pak Uo? Aku tenang kok."


"Hmm, syarat apa yang kau minta?"


Cyra tersenyum. "Tuan Aroon harus mau mencukur kumis, brewok, jambang atau apalah itu yang tumbuh diwajahnya sehingga tampil bersih. Oya satu lagi rapikan juga rambutnya yang gondrong."


Syamsudin menelan ludah. Karena Aroon yang mendengar syarat itu marah besar. "Kurang ajar! Siapa dia berani menyuruhku!" bentak Aroon. "Kau pulang saja! Aku tidak usah menggunakan keponakanmu itu lagi!"


"Tenang.. Tenang.. Itu demi tuan muda." gumam Syamsudin sambil mengelus - elus dadanya yang tambah sesak. Ia berkata seperti itu untuk Aroon diseberang sana.


"Pak Uo ini kenapa sih? dari tadi tenang - tenang. Aku tenang Pak Uo dan memang aku mau kembali itu juga demi Gio."


"Nah kamu sendiri yang bilang demi tuan muda, jadi kenapa harus pakai syarat."


Cyra diam, ia tampak menelaah perkataan Syamsudin. Ia hanya emosi sesaat dan jangan sampai itu malah memperburuk keadaan. Toh ia butuh pekerjaan itu. "Baiklah besok aku akan kembali Pak Uo. Terlepas dari tuan Aroon mau merubah penampilannya atau tidak."


"Bagus, itu baru keponakanku." Syamsudin ersenyum lega. "BesokΒ  pagi akan aku jemput."


"Baik Pak Uo."


"Istirahatlah dan jangan lupa kunci pintunya. Aku akan kembali ke perkebunan." pamit Syamsudin. Ia segera berjalan kembali menuju ke mobil Aroon.


"Kurang ajar! Berani benar anak itu!"

__ADS_1


"Tenang tuan tenang. Tadi kan Cyra sudah mau kembali terlepas dari syarat yang dia ajukan."


"Memangnya tampangku seperti preman?!"


Syamsudin diam.


"Jawab jujur!"


"Iiiya sedikit tuan, maksud saya preman yang tampan dan kaya raya." jawab Syamsudin gugup


"Sialan!" umpat Aroon. "Kita kembali ke perkebunan!"


"Baik tuan?"


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi ini Cyra bersiap untuk kembali ke perkebunan, terus terang ia sudah tidak sabar bertemu dengan semua yang ada disana.


Sesuai dengan janjinya, Syamsudin menjemputnya untuk kembali. Cyra kembali menempati kamarnya yang lama. Setelah menata barang - barangnya dikamar, ia akan mengejutkan Gio karena keterangan dari Syamsudin Gio belum tahu kalau ia kembali mengajarnya.


"Tuan muda, ayo kita main."


"Aku malas Omar."


"Jangan begitu, tuan muda dari kemarin melamun terus disini." Olif berusaha membujuk. "Hmm bagaimana kalau main petak umpet?"


"Malas."


"Ayolah tuan muda, jangan malas."


"Tidak ada bu Cyra tidak seru." ucap Gio.


Tiba - tiba...


"Benarkah yang kamu katakan itu Gio?"


Gio segera menoleh ke sumber suara.


"Bu Cyra!" teriaknya dan menghambur kepelukan gurunya itu.


"Yeayy bu Cyra kembali!" Omar dan Olif juga ikut menghambur kepelukan Cyra.


"Woww.. Woww.. Sudah.. Sudah.. Aku tidak bisa bernapas. Hahahhhh." mereka tertawaΒ  bersama.


Setelah melepas pelukannya mereka berempat duduk di dekat taman buatan mereka.


"Kenapa kau tidak belajar Gio?"


"Aku belajar, cuma rasanya jadi membosankan tanpa bu Cyra."


"Hmm benarkah?" Cyra menaikkan alisnya pura - pura terkejut. "Aku merasa tersanjung dengan perkataanmu Gio. Terima kasih." Cyra membelai lembut rambut bocah laki - laki yang tampan itu.


"Phoo sudah tahu jika aku tidak bersalah." ceritanya.


"Hmm bagus. Ingat perkataanku, kebenaran pasti akan menang."


"Jadi tuan Aroon meminta bu Cyra kembali?" tanya Omar


"Iya Omar, tuan Aroon meminta Pak Uo agar membawa aku kembali."


"Yesss hari - hari kita akan menyenangkan lagi." teriak Olif.


"Ayo kita mulai belajar bu Cyra." pinta Omar.


"Sebenarnya aku mau menemui tuan Aroon dulu."


"Bu Cyra mau menemui Phoo?"


"Iya Gio, aku harus mengucapkan terima kasih pada ayahmu. Dia sudah mempercayaiku kembali untuk mengajarmu. Dan juga aku butuh pekerjaan untuk membantu orang tuaku dikampung."


Cyra segera beranjak dan pamit pada mereka untuk menuju ke lahan perkebunan, biasanya jam pagi seperti ini Aroon ada di sana.


Udara disini begitu segar, Cyra mengagumi perkebunan Aroon. Entah kenapa ia tidak pernah bosan dengan kehidupan disini. Begitu tenang, damai dan menyenangkan.


Loh, siapa pria bertubuh besar itu pikir Cyra. Apa ada pekerja baru? pikirnya.


"Maaf, apa anda tahu dimana tuan Aroon?" tanya Cyra pada pekerja baru itu.


"Tahu." jawabnya sambil membalikkan badannya.


Cyra tampak membelalakkan matanya, ia terkejut dengan pemandangan di depannya. "Tuan Aroon?"


"Terkejut?"


"Tentu saja." jawab Cyra sambil tersenyum. "Tuan tampan sekali." pujinya sambil mengacungkan kedua ibu jarinya.


Aroon telah merubah penampilannya sesuai dengan syarat yang diajukan oleh Cyra. Cyra tampak tersipu karena orang besar seperti tuan Aroon mau menuruti keinginannya. Tuan Aroon yang sekarang bersih dari bulu - bulu di wajahnya dan rambutnya yang terpotong rapi.


"Sudah tidak seperti preman bukan?"


"Hah, oh tidak tuan. Sama sekali tidak." jawab Cyra gugup. Darimana dia tahu kalau aku menjulukinya preman, jangan - jangan Pak Uo cerita lagi pikirnya.


"Ada apa mencariku?"


"Saya mau mengucapkan terima kasih karena tuan sudah mau menerima saya kembali. Saya berjanji tidak akan lalai terhadap Gio. Saya akan terus mengawasinya."


"Bagus." jawab Aroon. "Maaf." ucapnya lirih hampir tidak terdengar, tapi cukup jelas di telinga Cyra.


Dengan tersenyum manis Cyra sangat menghargai itu. "Iya."

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2