My Love Teacher

My Love Teacher
Skorsing


__ADS_3

"Dimana kamu tinggal?"


"Pentingkah hal itu buat nona?"


"Eh berani kamu ya menjawab pertanyaan nona Denisha dengan pertanyaan!" teriak Billy. "Pengen deh aku robek mulutmu itu."


"Saya hanya seorang guru biasa. Dimana saya tinggal tentu saja tidak akan membuat nona penasaran kan?"


"Oh begitu rupanya dirimu, mau menabuh genderang perang."


"Tidak sama sekali nona. Terus terang saya tidak tertarik. Disini saya hanya butuh pekerjaan bukan berperang apalagi melawan nona Denisha yang sangat cantik."


Denisha tersenyum sinis mendengar perkataan Cyra. Aku tidak bisa memandang remeh gadis ini. Mentalnya sudah siap bekerja seperti ini pikir Denisha. Aku harus memutar otak. "Baiklah aku tidak akan menganggapmu sebagai ancaman asalkan kau jauh dari Aroon."


"Tidak bisa nona, saya tidak bisa jauh dari tuan."


"Hei sialan ya mulut kamu!" teriak Billy yang mau maju untuk memukul Cyra, tapi di halangi oleh Denisha.


"Cukup Billy, jangan kotori tanganmu dengan manusia murah sepertinya." Denisha memandang dengan mata berapi - api. Ia berjalan mendekati Cyra hingga tidak ada jarak di antara mereka. Cyra merusaha untuk tidak menunduk. Ia juga memandang wajah Denisha. "Sekali lagi! Dengar perintahku! Jauhi Aroon!"


"Tidak nona. Pekerjaan saya berhubungan dengan tuan Aroon karena saya adalah guru privatnya Gio. Bagaimana tuan Aroon tahu perkembangan Gio jika saya tidak melaporkannya. Tolong anda perjelas menjauh bagaimana yang anda maksud?"


"Hahahahahhh!!!' terdengar tawa Denisha yang menggelegar di seluruh ruangan.


"Menjauh dari pekerjaan atau menjauh secara personel antara laki - laki dan perempuan?"


"Pintar kamu!" Denisha tampak sangat geram.


"Kalau menjauh soal itu seharusnya nona Denisha tidak perlu khawatir dengan saya. Tuan Aroon orang yang pintar tentu saja kita tahu siapa yang akan di pilihnya."


"Pergi kamu dari hadapanku! Pergi!" teriak Denisha. Billy memegang tangan Denisha agar lebih tenang dan tidak histeris.


"Baiklah saya permisi." Cyra meninggalkan Denisha. Setelah ia menjauh, Cyra bisa bernapas dengan lega. Ia bersandar pada tembok untuk menenangkan emosinya. "Ini gila." gumam Cyra.


"Siapa yang gila?" tanya seseorang.


"Ya tentu saja nenek sihir." jawab Cyra spontan. Ia menengok untuk melihat siapa yang bertanya. "Tuan?!"


"Siapa nenek sihir?"


"Nenek sihir? Apakah tadi saya mengatakan seperti itu?"


"Cyra aku tidak suka dengan kebohongan."


"Buat apa saya bohong tuan. Nenek sihir itu kan tokoh jahat dan tentu saja perilakunya sangat gila. Iya kan?"


Aroon masih diam, pasti yang dimaksud Cyra bukan nenek sihir seperti itu. Pasti ada yang disembunyikan. "Jangan kau racuni Gio dengan cerita seperti itu."


"Tidak tuan, saya tidak berani menceritakan tokoh fiksi. Takutnya Gio akan menerima itu sebagai sesuatu yang nyata."


"Bagus." ucap aroon sambil pergi dari hadapan Cyra.


"Huuff, untung aku bisa berpikir dengan cepat." gumam Cyra. Ia kemudian segera kembali ke rumahnya.


Sementara itu.


"Billy."


"Iya nonaku sayang." Billy mendekati Denisha yang sedang berbaring di sofa


"Aku harus bertemu dengan Bian."


"Bian siapa?"


"Biantara pria yang pernah aku ceritakan padamu."


"Oh pria yang membuat hidupmu hancur. Aduh, jangan cari masalah deh." ucap Billy kesal. "Pria brengsek seperti dia buat apa di hubungi lagi."


"Aku butuh bantuan di sini. Dan aku yakin Bian adalah orang yang tepat."


"Tapi menurutku Bian itu orang yang terlalu kejam. Hiiiiii takut." ucap Billy tergidik ngeri.


"Sudah! jangan banyak membantah." ucap Denisha kesal. "Kau hubungi Bian sekarang juga."


"Baiklah nona." jawab Billy ogah - ogahan. Ia segera mengambil handphone dan mencoba menghubungi Biantara.


"Cepat!"


"Sabar nona, ini belum diangkat." Billy mengulangi panggilannya.


Sementara itu...


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


"Maaf tuan mengganggu waktu istirahat anda."


Biantara turun dari tempat tidurnya. Ia menyelimuti wanita yang berada di sebelahnya yang tanpa sehelai benang pun.


"Ada apa?" ia berjalan dan duduk di sebuah sofa sambil menyalakan rokok.


"Ada seorang wanita yang datang ke rumah tuan Aroon. Berdasarkan informasi ia adalah saudara dari nyonya Davira."


"Saudara Davira? Maksudmu Denisha?"


"Ya betul tuan, nona Denisha."


"Hmm menarik. Dia bisa menjadi sekutu yang menguntungkan buat aku." ucap Biantara. Tersirat rona bahagia di wajahnya. "Baiklah kau boleh keluar."


"Baik tuan, saya permisi."


Setelah Biantara menghisap rokoknya begitu dalam, ia segera berpakaian. Sekilas ia mencium wanita yang sedang tertidur pulas itu dan kemudian keluar kamar. Ia menuju ke ruang kerjanya, memeriksa handphonenya yang mendapat tiga panggilan tak terjawab.


"Siapa ini?" gumamnya. Yang tahu nomor teleponnya ini hanya beberapa orang dekat dan bukan dari relasi bisnis. Biantara segera menelepon kembali.


"Halo."

__ADS_1


"Selamat siang tuan." sapa Billy.


"Ini siapa?"


"Saya Billy tuan, asistennya nona Denisha."


"Oh Denis, dimana dia?"


Billy menyerahkan handphone pada Denisha. "Hai." sapanya.


"Aku merindukanmu Denis."


"Sayangnya aku tidak."


"Wow kau sudah lupa dengan apa yang kita lalui. Menurutku itu terlalu berat, bahkan bisa membuatmu mendekam di penjara."


"Apa maksudmu?" tanya Denisha geram.


"Ah aku tidak bermaksud apa - apa. Aku hanya mengatakan kalau mendekam di penjara itu sangat menyiksa. Kau tidak akan memperoleh wajah cantikmu lagi."


"Diam kau!"


"Oke.. Oke.. Kalau kau yang meminta." ucap Biantara mengalah. "Setelah empat tahun kau baru meneleponku, aku yakin kau butuh bantuanku lagi."


Denisha hanya diam.


"Sepertinya tebakanku benar." Biantara tersenyum sinis. "Jangan ragu untuk mememinta bantuanku sayang. Kau bisa mengandalkanku." tegas Biantara. "Siapa yang ingin kau singkirkan?"


"Cyra." jawab Denisha.


"Guru rendahan seperti itu bisa menjadi musuhmu? Wow lagi - lagi ini menarik."


"Kau kenal dengan Cyra?"


"Yah, gadis semanis itu tentu saja aku tahu. Dia orang baru yang mendapat kepercayaan dari Aroon."


"Kau tertarik dengannya?"


"Mungkin.  Hahahahahh.." tawa Biantara menggelegar di seluruh ruangan. "Oya apa yang membuatmu berpandangan kalau dia suatu ancaman yang harus aku singkirkan?"


"Dia ingin menjadi nyonya di rumah ini."


"Darimana kamu tahu?"


"Instingku sebagai wanita. Aku tahu jika Aroon memberikan perhatian lebih pada gadis itu. Entah itu suka atau hanya sekedar bangga karena jasanya. Sekarang Gio anak kesayangannya sudah menjadi anak yang penurut."


"Baiklah sayang, aku akan menolongmu." ucap Biantara. "Tapi apa upahku?"


"Berapa ratus juta yang kau mau?"


"Wow, kau tahu aku tidak tertarik dengan uang. Uangku banyak Denis sayang."


"Apa maumu?"


"Semua Informasi tentang Aroon."


"Deal."


Panggilan diakhiri. Denisha tersenyum lega mendengar sekarang ia akan mendapat bantuan.


"Hati - hati nona. Aku rasa tuan Bian itu licik." Billy memperingatkan. Ada perasaan khawatir akan keselamatannya nonanya.


"Sudah diam! Tugasmu hanya menuruti dan melayaniku. Mengerti?!"


"Iya saya mengerti nona." jawab Billy sambil tertunduk.


🍀🍀🍀🍀


Pagi itu Gio sedang belajar bahasa. Aroon yang ingin melihat perkembangan anaknya berjalan menuju ruang belajar.


"Aroon tunggu."


"Ada apa Denisha?"


"Mau kemana?"


"Mau melihat Gio yang sedang belajar."


"Boleh aku ikut? Aku juga ingin melihat perkembangan keponakanku."


Aroon mengangguk. Mereka berjalan beriringan menuju ke ruang belajar.


Sementara itu...


"Gio jangan bercanda terus, ayo perhatikan pengucapannya."


"Susah bu." keluh Gio.


"Iya susah." sahut Omar.


"Tidak akan susah kalau kau mau belajar, Gio, Omar." jawab Cyra. "Bahasa perancis memang seperti itu."


"Coba ibu ulangi." pinta Olif


"Oke coba dengarkan ibu. Bonjour artinya selamat pagi."


Omar memajukan mulutnya yang lancip. "Boncor.. Boncor."


"Bukan seperti itu Omar, ayolah serius sedikit." ucap Cyra agak kesal karena Gio dan Olif tertawa terus.


Tiba - tiba...


"Bagaimana bisa dikatakan guru yang baik jika melafalkan bahasa Perancis saja salah." ucap Billy meremehkan. "Nih lihat nona Denisha." Billy mempersilahkan Denisha. Cyra langsung mundur ke belakang.


Dengan sedikit pamer Denisha memperlihatkan keahliannya berbahasa Perancis. "Bahasa Perancis itu ada beberapa yang diucapkan dengan sedikit sengau. Bonjour.. coba Gio."


"Bonjour." ucap Gio

__ADS_1


"Hmmm bagus." puji Denisha berusaha mengambil hati Gio.


Omar yang tahu gelagat tidak enak segera beraksi. "Kalau saya nona Denisha. Bonjouuurrr.. uuurrrr.." ledeknya.


"Aroon lihat itu, bagaimana bisa Gio cepat pintar jika pengasuhnya bodohnya minta ampun. Harusnya ketika belajar mereka berdua jangan ikut. Dan kau tadi juga dengar kan kalau mereka suka bercanda."


"Omar, dan kau Olif. Kalian keluar dulu." perintah Aroon.


"Tapi tuan___." Olif mau protes tapi dicegah oleh Cyra agar urusannya tidak panjang.


Mereka berdua akhirnya keluar.


"Oya Aroon kau lihat itu, dia sebagai guru tidak tahu kalau lampu di ruang belajar ini mati." tunjuk Denisha keatas.


Cyra melihat ke atas. Sepertinya kemarin lampu itu masih baik - baik saja, bagaimana bisa tiba - tiba mati.


"Kau kurang teliti Cyra."


"Maaf tuan, akan saya ganti." Cyra pergi keluar dan tak berapa lama kemudian kembali dengan membawa lampu yang baru. Aroon dan Denisha sudah pergi. Terus terang saja itu membuat Cyra merasa lega.


Cyra mengambil kursi yang terbuat dari kayu. Setelah memastikan kursi itu tepat di bawah lampu Cyra bersiap akan naik.


"Aku mau ganti lampunya." rengek Gio.


"Jangan Gio, ini tinggi dan juga listrik. Akan sangat berbahaya untuk anak kecil."


Huh, bu cyra nggak asyik."


"Ini demi keselamatanmu Gio."


"Baiklah." jawab Gio sambil menundukkan kepala. Ia kembali ke mejanya dan tampak menulis sesuatu di buku.


Cyra kembali bersiap untuk naik, akan tetapi handphonenya berdering. Ia melihat di layar tercantum nomor tak di kenal, tapi ia memutuskan untuk menerimanya.


"Halo."


"Hai masih ingat aku?"


Deg.. Deg.. Itu suara Biantara tebak Cyra dalam hati. "Gio, ibu keluar sebentar." pamitnya dan Gio hanya menjawabnya dengan anggukan.


Ia segera keluar dari ruangan, takutnya ada yang mendengar percakapannya dan bisa saja di laporkan pada tuan Aroon. Kalau ceritanya hanya sepihak takutnya tuan Aroon akan marah.


"Masih." jawab Cyra. "Ada apa tuan?"


"Oh kau pelupa rupanya."


"Maksud tuan?"


"Bagaimana dengan ganti rugi mobilku yang sudah kau rusakkan?"


"Maaf, saya tidak lupa. Bukankah tuan sendiri yang akan mengkonfirmasi hal itu."


"Oke.. Oke.. Sekarang aku akan membicarakan masalah ganti rugi itu."


"Silahkan saja tuan. Beri tahu berapa yang harus saya ganti?"


"Jangan terburu - buru."


"Maaf tuan saya sedang bekerja, jika tuan belum bisa memberitahu berapa nominal yang harus saya bayar, lebih baik kita tunda saja pembicaraan ini."


"Wow, disiplin juga kau rupanya."


"Saya hanya bertanggung jawab terhadap pekerjaan saya."


"Baiklah kalau kau masih sibuk bekerja, kita bicarakan masalah ini lain waktu saja." Panggilan di akhiri.


Cyra menghela napas lega akan tetapi___.


"Cyra! Cyra! Cyra!" terdengar teriakan Aroon dari ruang belajar. Dengan cepat Cyra kembali ke ruang belajar.


"Tuan memanggil saya."


"Dari mana Kamu?!"


"Saya.. Saya dari luar. Baru saja menerima telepon." jawab Cyra. ia melihat disana sudah ada Denisha, Billy, Omar dan Olif.


"Lagi - lagi kau mengabaikan tugasmu menjaga Gio!"


"Maksud tuan? Saya tidak mengerti."


"Lihat ini! Lihat dengan jelas!" tunjuk Aroon.


Cyra melihat Gio memegang lampu yang akan ia ganti dan juga kursi kayu yang sudah ia siapkan berubah menjadi meja yang lebih tinggi dari kursi tepat di bawah lampu.


Ya tuhan Gio berusaha mengganti lampu itu sendiri. Kenapa dia tidak mengindahkan perintahku. Pantas tuan marah besar pikir Cyra. Ia menarik napas panjang.


"Maafkan saya tuan." jawab Cyra.


"Maaf? Kau hanya bilang minta maaf. Bagaimana jika Gio jatuh? Atau Gio tersetrum listrik?" sahut Denisha. Ia seperti menjadi kompor dalam posisi ini. Tapi mau bagaimana lagi ia memang teledor.


"Aku kecewa padamu! Sungguh kau sangat tidak bertanggung jawab!"


"Phoo jangan marah dengan bu Cyra, ia tidak bersalah." rengek Gio.


Denisha segera menarik tangan Gio. "Gio ayahmu sedang marah, jangan membuatnya tambah marah." Denisha berusaha mencegah Gio memberikan pembelaan pada Cyra.


"Kau baru saja keluar, mengabaikan anakku, terima telepon dari siapa? Orang tuamu?"


"Bukan tuan. Itu telepon dari tuan Biantara yang ingin menagih ganti rugi mobil." jawab Cyra lirih.


Braakkk!!! Aroon bertambah emosi dengan menggebrak meja kayu di dekatnya. "Sudah aku bilang! Jangan berhubungan dengan Biantara!" teriak Aroon. "Kau mengabaikan putraku hanya demi menerima telepon dari Biantara! Baiklah Cyra kamu aku larang bertemu dengan Gio! Dan untuk sementara Gio akan belajar bersama Denisha."


"Maksud tuan?"


"Kamu aku skorsing!"


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2