
Uh akhirnya kita sampai juga. Syukurlah belum makan malam. Jadi aku tidak terkena marah tuan. Cyra meletakkan beberapa belanjaan di kamarnya dan segera mandi.
Tok.. Tok.. Tok..
"Ya sebentar." Cyra membuka pintu kamar.
"Malam bu Cyra."
"Ada apa Omar?"
"Di panggil tuan di ruang kerja."
"Oh ya sebentar." Cyra merapikan rambutnya dan kemudian mengunci pintu kamar. Ia mengikuti langkah Omar. "Omar, kenapa tuan memanggilku?"
"Kurang tahu bu Cyra, Olif juga di panggil."
Wah jangan - jangan tadi tuan tahu kalau aku bertemu dengan Biantara.
Mereka sampai di ruang kerja. Sudah ada Olif dan Gio yang duduk di sana.
"Tuan memanggil saya?"
"Ya, duduklah."
Cyra duduk di sebelah Gio.
"Mana baju yang kalian beli tadi?"
"Ada di kamar tuan." jawab Cyra.
"Tuan, saya jamin tuan pasti akan kaget dengan penampilan bu Cyra yang baru." sahut Olif dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Heleh, pasti selera orang kampung." cibir Omar.
"Oh.. Berani menghina kamu ya curut." umpat Olif.
"Siapa yang curut?!" mata Omar melotot.
"Kamu! Siapa lagi!" Olif tak mau kalah. Ia melotot juga ke arah Omar
"Sudah! Sudah! Kalian kenapa jadi bertengkar?" teriak Aroon. "Cyra pakai baju yang kalian beli tadi, aku ingin lihat."
"Semuanya tuan?"
"Ya semuanya."
Cyra segera berganti pakaian dengan di bantu Olif.
"Olif kenapa pendek begini?"
"Ini model baru bu Cyra. Nggak apa - apa malah terlihat seksi."
"Kalau tuan marah bagaimana? Baru kali ini aku pakai baju seperti ini."
"Bu Cyra tenang saja, aku jamin tuan tidak akan marah. Ayo kita kejutkan mereka." Olif menarik tangan Cyra. Ia tidak sabar melihat reaksi para pria melihat Cyra.
"Tuan Aroon, tuan muda dan Omar, ini dia penampilan bu Cyra yang baru." ucap Olif sambil mempersilahkan Cyra masuk.
Cyra mengenakan hot pans dengan atasan dengan model sabrina dan memperlihatkan pundaknya yang putih, leher yang seksi. Ditambah dengan rambut cepol ke atas siapapun yang melihatnya pasti ingin menggigit lehernya.
"Bu Cyra.. Woooww." Omar berdecak kagum. Ia mengacungkan kedua jempol untuk memberi penilaian.
"Bu Cyra keren dan se___." belum selesai Gio menyelesaikan kalimatnya, Omar segera menutup mulutnya. Ia tahu apa yang akan dikatakan oleh Gio.
Aroon terpesona dengan penampilan Cyra. Tapi ia langsung tersadar dari jeratan pesona itu. Ia melihat Cyra sebagai wanita dewasa yang menggoda. Aroon segera beranjak dari duduknya, berjalan mendekati Cyra dan menutupi tubuhnya dengan jaket yang dikenakannya. "Olif, apa - apaan ini!"
"Kenapa tuan?"
"Baju apa yang kau belikan untuk Cyra?"
"Ya baju biasa tuan, itu trend model terbaru. Bagus kan di pakai bu Cyra? Nyatanya Omar dan tuan muda memujinya."
"Tidak boleh! Cyra tidak boleh pakai baju ini ketika mengajar Gio."
"Baiklah tuan, nanti bu Cyra bisa pakai kalau kita jalan - jalan diperkebunan atau jalan - jalan di luar."
"Tidak bisa!" teriak Aroon, ia masih menutupi tubuh Cyra yang terbuka. Walaupun ia setengah mati menahan hasratnya. "Ini terlalu terbuka! Bagaimana bisa kamu membeli baju kurang bahan ini?"
__ADS_1
"Tuan.. Tuan.." panggil Cyra.
"Ya kenapa?"
"Kenapa saya dipegangi terus?"
"Aku sedang menutupi tubuhmu dari baju yang kurang bahan ini."
"Iya saya tahu, saya akan berganti baju kalau begitu."
"Tidak boleh!"
Cyra mengerutkan dahinya. "Tidak boleh?"
Sadar akan kekeliruannya Aroon segera menjelaskan maksud perkataannya. "Maksudku tidak boleh pakai baju ini lagi. Gantilah cepat!" perintah Aroon. Ia setengah mati menahan hasrat nakal dari dalam dirinya. Oh ternyata 36 C ini seksi juga bentuk tubuhnya pikir Aroon dalam hati.
Olif sedikit kecewa. Padahal Olif sangat suka dengan penampilan Cyra yang sekarang. Lebih modern dan cantik. Tapi karena tuan tidak suka ya apa boleh buat.
"Padahal bu Cyra pakai baju ini bagus loh." ucap Olif sambil melipat baju. Tampak raut kecewa di wajah Olif.
"Mungkin bagus aku pakai, tapi kalau aku pakai saat mengajar Gio sepertinya kurang pas."
"Ya di pakai waktu santai."
"Kalau di rumah sendiri mungkin gak apa - apa Olif. Tapi ini kan perkebunan banyak pekerja pria. Takutnya malah mengundang pelecehan."
"Iya juga sih bu. Kenapa aku nggak berpikir ke arah sana."
"Nggak apa - apa. Aku yakin tuan Aroon menghargai niat baikmu. Dan aku sangat berterima kasih sudah kamu pilihkan baju yang bagus."
"Iya sama - sama bu Cyra."
Mereka berdua kembali ke ruang kerja Aroon. Aroon sudah lebih tenang ia duduk di meja kerjanya. Sedangkan Omar tampak kecewa.
"Bu Cyra."
"Ya Omar."
"Melihat bu Cyra pakai baju itu jadi mengingatkanku akan sesuatu." celutuknya
"Sapi. Badan ibu putih seperti Sapi."
"Hahahhahhh...!" Gio, Omar dan Olif tertawa bersama.
Aroon merasa tidak suka dengan celutukan Omar. Dengan spontan ia melempar pulpen dan tepat mengenai kepalanya.
Pletak!
"Aduh." teriaknya.
"Jangan bicara sembarangan."
"Bercanda tuan." jawab Omar sambil mengusap kepalanya yang terkena lemparan pulpen.
"Syukurin makanya kalau punya mulut itu di jaga, jangan asal mangap aja." cibir Olif.
"Nih mangap. Haaah!" Omar mengarahkan mulutnya tepat di muka.
"Uh busuk! Mulutmu bau petai!" teriak Olif sambil menutup hidungnya.
"Heh rasakan bau mulutku, aku sudah tiga hari tidak gosok gigi."
"Jorok!" ucap Olif
Bercandaan mereka membuat suasana tidak tegang lagi.
"Hmm maaf tuan."
"Ada apa?"
"Tadi sore ada kejadian dan saya berani bersumpah itu bukan suatu kesengajaan." ucap Cyra.
"Kejadian apa?"
"Tadi waktu kita mau pulang dari kulineran di istana Bogor. Tanpa sengaja saya menyerempet sebuah mobil. Saya benar - benar tidak sengaja tuan karena saat itu tempat parkir penuh dan banyak orang yang lalu lalang."
"Kamu tidak apa - apa?"
__ADS_1
"Kami berdua tidak apa - apa cuma___."
"Cuma apa?"
"Yang jadi masalah adalah pemilik mobil yang kami serempet."
"Siapa?"
"Tuan Biantara, tuan."
"Apa!" teriak Aroon. "Kenapa kamu punya urusan dengan dia!" Aroon menggebrak meja karena kesal.
"Kami benar - benar tidak sengaja tuan."
"Harusnya kamu menghindarinya."
"Menghindari bagaimana maksud tuan? Ini pertama kalinya saya tahu dan kenal dengan Biantara. Kalau Olif tidak cerita siapa dia, saya juga tidak tahu kalau dia bermasalah dengan tuan."
Aroon terdiam, yah benar Cyra memang tidak tahu siapa pria itu pikirnya. "Apa kerusakannya?"
'Hanya sedikit lecet di bagian bumpernya tuan." jawab Cyra.
"Tapi aneh tuan." sahut Omar. "Kok tumben tuan Biantara ada di tempat wisata. Buat apa coba?"
"Mungkin dia ada bisnis." jawab Olif.
"Kalau pertemuan bisnis itu di restoran atau di kantor, Olif tolol."
"Sembarangan!" Olif memukul pelan lengan Omar.
"Iya benar juga yang kamu katakan Omar."
"Maksud tuan dia sengaja?"
Aroon hanya terdiam, ia tidak memberikan jawaban atas pertanyaan Cyra. Ia sedang dalam pemikirannya sendiri. Buat apa musuhnya mengikuti Cyra. "Kalian keluar dan istirahat, masalah ini biar di selesaikan oleh Syamsudin dan Sulaiman."
"Baik tuan." jawab mereka berempat bersama.- sama.
Mereka keluar dan menuju kamar masing - masing. Cyra mengganti pakaiannya dengan baju tidur. Karena malam ini terasa sangat panas mungkin mau turun hujan, Cyra memutuskan untuk mengenakan baju tidur two piece dengan lengan tali spageti yang tadi juga dibelikan oleh Olif. Huh memang selera Olif semua terbuka. Tapi karena ini posisi ia di kamar tidurnya sendiri jadi tidak masalah.
Cyra membaringkan tubuhnya yang terasa penat. Ia harus segera istirahat karena besuk pagi Gio meminta belajar di luar, ia ingin mengenal alam. Cyra sulit memejamkan matanya walaupun AC sudah ia nyalakan tapi tidak terlalu dingin. Ia mendengar sayup - sayup suara petir tanda hujan mau turun. Cyra melirik ke arah jam dinding, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tapi pikirannya masih tentang pertemuannya dengan Biantara.
Kalau dipikir lagi memang sepertinya itu disengaja. Mobil tidak terparkir di sana, tapi kenapa mobil Biantara bisa masuk ke parkir sepeda motor. Karena tadi panik ia belum bisa melihat situasi yang sebenarnya. Ach kenapa tadi aku tidak berpikir dengan tenang seperti biasanya sesal Cyra.
"Duuuaaarrr!!!" suara petir cukup keras terdengar. Dan lampu dengan tiba - tiba padam. "Duuaaarrr!!! Duaaarrr!!!" suara petir terus bergemuruh.
Cyra menghidupkan senter pada handphonenya. Ia memutuskan untuk mengecek kamar Gio.
"Aaaccchhh!!!" suara teriakan terdengar dari kamar Gio.
"Itu suara Gio." gumamnya. Dengan setengah berlari Cyra menuju ke kamar Gio. Dan ternyata Aroon juga terlihat keluar kamar. Mereka sama - sama menuju kamar Gio.
"Suara Gio tuan."
"Iya aku juga dengar." Aroon dengan wajah tegang membuka pintu kamar. Entah kenapa teriakan itu tidak terdengar lagi. "Sepi."
"Sudah kita langsung masuk saja."
Mereka berdua masuk dengan hati - hati. Baru satu langkah tiba - tiba kaki Cyra seperti mengenai sesuatu yang berbulu. Ia mengarahkan senternya ke bawah untuk memastikan apa yang telah dia injak.
Apa ini? Berwarna coklat seperti Anjing atau Kucing ini pikir Cyra. Ia sangat panik karena gelap membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. "Aaacchhh!!!" teriaknya
"Ada apa?"
Cyra melompat dan memeluk tubuh Aroon, kakinya mengerat pada pinggang Aroon. "Ada Anjing tuan."
"Mana?"
"Di bawah."
"Nggak mungkin ada Anjing."
Tiba - tiba saja lampu kembali menyala. Aroon mengerjapkan pandangannya penyesuaian antara gelap dan terang. Ia sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Sial lagi - lagi baju kurang bahan.
"Apa yang bu Cyra dan Phoo lakukan?" teriak Gio.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1