My Love Teacher

My Love Teacher
Merawatmu Tuan


__ADS_3

Denisha di bantu Billy memapah Aroon masuk ke dalam kamarnya.


"Ayo duduk di tempat tidurmu."


"Tidak Denis, tubuhku justru terasa lemah jika aku tiduran terus."


"Tapi kau terluka dan butuh istirahat." paksa Denisha. "Aku berjanji akan merawatmu."


"Iya tuan, nona Denisha ini orang yang sabar dan penuh kelembutan. Aku yakin tuan akan sembuh."


"Yakin kau akan merawatku?"


"Yakin." jawab Denisha mantab.


"Luka ku ini masih basah dan terkadang jika ada gerakan sedikit akan keluar darah. Kau sanggup melihat darah."


"Darah." gumam Denisha. "Hmmm... Tidak apa - apa. Tolong percaya padaku." Denisha memberi kode agar Billy keluar dan memberikan ruang untuknya dan Aroon.


"Tuan Aroon kalau begitu saya permisi keluar dulu. Takutnya akan mengangganggu tuan istirahat."


Aroon hanya mengangguk. Ia bersandar pada tempat tidurnya.


"Kamarmu tidak berubah."


"Dari maka kamu tahu tentang kamarku?"


"Dulu Davira sering bercerita, ia suka mendekorasi kamarmu dengan warna - warna pastel. Bahkan setiap pernak pernik yang ia beli selalu aku tahu. Jadi aku merasa seolah ini kamarku sendiri."


Aroon hanya diam. Denisha duduk di pinggir tempat tidur.


"Istirahatlah Aroon aku akan memijat kakimu, kamu pasti lelah diperjalanan." Denisha mulai memijat kaki Aroon. Tapi justru yang di rasakan oleh Aroon bukan memijat tapi membelai. Makin lama pijatan tangan Denisha makin ke atas sampai ke paha. Dan hampir saja mengenai milik pribadi Aroon jika tangan Denisha tidak di cegah oleh Aroon.


"Tolong hormati kakakmu. Ini ruangan pribadi kami. Jangan lakukan itu disini."


"Melakukan apa? Aku sedang memijatmu Aroon."


"Oke.. Stop." ucap Aroon sambil menghela napas. "Tolong ambilkan pakaianku di almari. Aku mau ganti baju. Baju ini kotor." perintah Aroon. Tujuannya agar Denisha tidak semakin kurang ajar.


"Baiklah." Denisha beranjak dari duduknya. Ia mengambil baju Aroon. Dengan lembut ia membelai baju - baju itu bahkan ia juga menciumnya. Ada aroma Aroon yang tertinggal di sana. Denisha masih memilih milih baju itu hingga ia membuka almari yang satu lagi. Dan almari itu berisi dengan lingerie milik Davira.


Denisha tersenyum. "Aku yang akan memakai baju ini nantinya. Tunggu saja Aroon." gumamnya.


Setelah mengambil sebuah t-shirt warna biru Denisha kembali menghampiri Aroon. "Lebih baik pakai kaos saja, biar tidak panas."


"Terserah."


Denisha mulai membuka baju Aroon, ini lah momen yang di tunggu olehnya. Ia merindukan tubuh kekar Aroon yang dulu sering ia lihat diam - diam. Ia hanya  bisa memimpikannya. Tapi gerakan tangannya ia hentikan secara tiba - tiba. "Bajumu berdarah." ucapnya panik.


"Aku tadi sudah bilang, lukaku masih basah dan rawan berdarah."


"Ak.. Ak.. Aku tidak menyangka kalau darahnya sebanyak ini."


"Bagaimana tidak banyak aku mendapat enam jahitan di perut."


"Ap.. Ap.. Apa? Enam jahitan?" wajah Denisha langsung pucat pasi, tangannya gemetar hebat.


"Kamu kenapa?"


"Oh.. Tidak apa - apa." berulang kali Denisha mengatur napasnya, berusaha agar tidak panik. "Aku buka ya."


Aroon mengangguk.


Denisha kembali melanjutkan membuka baju Aroon, ia memejamkan mata. Tapi ia membuka matanya sedikit untuk melihat. "Aaacchhh!!! Da.. Da.. Darah." setelah mengucapkan itu ia lemas dan tergeletak di bawah.


"Denisha kamu kenapa?" Aroon yang melihat itu bergerak dengan cepat. "Aaaarrgghhh!!!" teriaknya yang merasakan perih pada luka akibat gerakannya. Jika ia mengangkat tubuh Denisha pasti luka jahitannya akan terbuka lagi. "Billy! Billy! Billy!" teriaknya.


Billy masuk ke dalam kamar dengan tergopoh - gopoh. "Ada apa tuan? Apa yang terjadi."


"Denis pingsan melihat darahku."


"Ya tuhan, nona Denisha memang tidak tahan jika melihat darah."


"Terus kenapa kau biarkan dia merawat lukaku? Kau tahu gara - gara ini lukaku kembali berdarah."


"Maafkan saya tuan."


"Bawa dia keluar!"


"Baik tuan." Billy segera membopongnya keluar dari kamar Aroon.


"Omar! Omar! Omar!" panggil Aroon dari dalam kamar.


Omar segera datang. "Ada apa tuan?"


"Panggilkan Cyra, lukaku berdarah lagi."


"Baik tuan." Omar berlari keluar karena tuannya tampak sangat kesakitan. Beruntung Omar segera mencari Cyra karena kebetulan Cyra di dapur sedang membagi - bagi oleh - olehnya dari Surabaya. "Bu Cyra! Bu Cyra!." panggil Omar.


"Ada apa Omar, kau mau jenang juga. Tunggu, harus antri ya." ucap Cyra.

__ADS_1


"Bukan itu bu. Itu.. Itu.."


"Itu apa, kalau ngomong yang jelas."


"Lukanya tuan berdarah lagi."


"Loh kok bisa?" wajah Cyra langsung berubah panik. "Tadi kan ada nona Denisha."


"Pingsan."


"Siapa yang pingsan? Yang jelas Omar. Tuan pingsan?"


"Bukan bu, yang pingsan nona Denisha. Sudah ayo temui tuan dulu."


"Iya.. Iya.." jawab Cyra sambil meletakkan jenangnya di meja. "Bik Tika tolong teruskan ya."


"Iya sudah sana temui tuan dulu." jawab bik Tika.


Cyra dan Omar segera menuju ke kamar tuan. Di sana tampak tuan sedang berusaha membenarkan duduknya. Cyra segera membantunya. Setelah Aroon duduk dengan sempurna ia segera melihat lukanya.


"Sedikit terbuka tuan.. Tapi tidak apa - apa, jahitannya bagus kok masih seperti awal." ucap Cyra. "Bajunya saya lepas tuan." Cyra mohon ijin.


"Silahkan." jawab Aroon yang masihnterus menatap Cyra tanpa berkedip.


Cyra kemudian mengambil air hangat untuk membersihkan sisa darah yang menempel di sekitar jahitan. Dengan hati - hati Cyra membersihkannya. "Sakit tuan?"


"Tidak."


Cyra meniup luka itu dengan harapan tuannya tidak merasakan sakit atau perih. Setelah semua bersih, Cyra menutup luka dengan kasa steril. "Omar tolong ambilkan kasa yang gulung itu."


"Baik bu." Omar segera memyerahkan kasa itu.


"Tuan, saya balut lukanya." Cyra segera menutup luka jahitan itu dengan kasa. Luka itu letaknya di perut samping jadi mau tidak mau Cyra membalutnya secara memutar hingga mirip dengan orang berpelukan. Ya tuhan jarak antara aku dan tuan begitu dekat, kuatkan imanku doa Cyra dalam hati.


Gila.. Ini benar - benar gila. Kenapa aku menyukai setiap sentuhannya, nafasnya, suaranya pikir Aroon dalam hati. Jantungnya berdebar.


"Cyra."


"Ya tuan." Cyra mendongak ke atas. Karena posisinya bersimpuh untuk memudahkannya membalut luka Aroon.


Aroon memandangi wajahnya dan bibir Cyra kenapa begitu menggoda.


"Tuan." panggil Cyra lagi.


"Oh ya.. Aku hanya mau bertanya apa sudah selesai?"


Cyra tersenyum. "Sebantar lagi. Tidak sakit kan?"


"Tidak."


"Aku bukan anak kecil."


"Tetap saja saat ini tuan membutuhkan bantuan, seperti anak kecil." ucap Cyra. "Sudah makan?"


"Belum."


"Hmmm.. Baiklah karena sebagai pasien tuan tidak banyak rewel jadi saya menawarkan tuan mau makan apa?"


"Kesukaan Gio."


"Hmm sekarang ada dua."


"Apa?"


"Ayam atau telurnya." ucap Cyra sambil tersenyum.


"Kalau saya yang ayam saja bu Cyra, lebih enak." sahut Omar.


"Dia bertanya padaku bodoh."


"Maaf tuan saya kan juga dari tadi belum makan. Hehehehhh.." jawab Omar.


"Kau makan masakan bik Tika." perintah Omar.


'Baiklah." jawab Omar dengan nada kecewa.


"Jadi bagaimana tuan, mau makan apa?"


"Coba yang ayam."


"Baiklah tunggu sebentar." Cyra membereskan semua obat dan peralatan yang dia pergunakan untuk mengobati luka Aroon. Dokter tadi sudah menjelaskan cara merawatnya agar cepat kering dan tentu saja tidak boleh terkena air. Ia segera keluar menuju dapur dan memasak untuk tuan Aroon. Tidak membutuhkan waktu lama akhirnya selesai juga.


"Tuan minta makan apa?"


"Chicken katsu bik, kayak Gio kemarin."


"Tuan kalau sakit manja ya."


"Hahahahhh.. Nggak juga bik. Masih tetap arogan kok."

__ADS_1


"Itu mah watak, sulit."


"Hahahahh.. Iya bik. Aku kesana dulu ya. Takut kena marah." Cyra membawa nampan berisi Makanan, Minum dan potongan buah. Sampai di depan pintu kamar Aroon ia menarik napas panjang. Ini pertama kalinya ia masuk ke kamar pria. "Tuan makanannya sudah siap."


"Aku kira masih tiga jam lagi." sindir Aroon.


Cyra hanya diam, mungkin maksudnya bercanda. Tapi  kaku nggak ada lucu - lucunya.


"Apa ini?"


"Chicken Katsu tuan."


Aroon manggut - manggut dan kemudian diam. Itu membuat Cyra keheranan. Apa tuan tidak berselera dengan masakanku ya, padahal sudah aku hias sedemikian rupa pikir Cyra.


"Sampai kapan kamu diam?"


"Maksud tuan?"


"Saat ini aku pasien, apa kau tidak berniat menyuapi aku."


"Hah.. Oh iya.. Iya." Cyra segera mengambil piring dan mulai menyuapi Aroon. Tuan ini aneh yang sakit perutnya kenapa makan juga harus disuapi pikir Cyra dalam hati. Walau bagaimanapun Cyra dengan telaten merawat tuannya itu tanpa protes sedikitpun. "Minum tuan."


"Terima kasih. Masakanmu enak. Pantas Gio suka."


"Benarkah? Terima kasih tuan." Cyra tersenyum sambil tertunduk malu, wajahnya memerah membuat Aroon semakin gemas melihatnya. "Tuan mau makan buah?"


"Nanti saja."


"kalau begitu minum obatnya." Cyra mengambil obat dan membaca aturan minum yang tertera di sana. Ada tiga macam obat antibiotik, penghilang rasa sakit dan demam. Semua dimunum setelah makan. Cyra memegang kening Aroon. "Hmm sudah tidak demam, berarti obat demamnya tidak usah dimunum saja tuan."  Cyra membuka dan memberikan dua obat untuk Aroon Minum.


Dengan patuh Aroon meminumnya. "Besok siapkan sarapan untukku juga."


"Tuan mau makan apa?"


"Biasanya Gio makan apa kalau pagi."


"Sandwich spesial buatan saya."


"Baiklah aku makan itu saja."


"Kalau begitu saya keluar dulu. Selamat istirahat tuan." sebelum Cyra pergi ia membenarkan letak selimut, mengatur suhu ruangan dan kemudian keluar.


Senyum Aroon mengembang, ternyata enak jadi pasien pikirnya sambil memejamkan mata.


Cyra keluar dengan hati - hati dan berjalan menuju ke dapur. Tetapi di tengah perjalanan ia di hadang oleh seseorang.


"Apa yang kau lakukan?!"


"Saya merawat tuan, nona."


"Lancang kamu ya! Mulai gatal kamu, menggoda Aroon."


"Maksud nona?" tanya Cyra yang emosinya hampir tersulut. Ia capek karena sejak pulang dari bandara ia belum istirahat sama sekali.


"Siapa yang menyuruhmu?! Aku yang akan merawat Aroon."


"Nona pingsan melihat darah tuan, apa menurut nona itu layak merawat orang?"


Denisha mencengkeram tangan Cyra, tapi ia bertahan tanpa perlawanan. Ia tidak mau menumbulkan kegaduhan yang bisa mengganggu istirahat tuan. "Kenapa diam! Ayo lawan!"


"Maaf nona, saya tidak mau mengganggu istirahat tuan. Bukankah nona juga ingin tuan cepat sembuh? Jadi mari kita berdamai."


"Aku tidak sudi berdamai dengan gembel sepertimu! Ingat itu! Aku diam karena Aroon sakit. Mengerti?!" Denisha melepaskan cengkeramannya dan kemudian pergi dari hadapan Cyra.


Cyra bernapas dengan lega. Aku harus hati - hati agar emosiku tidak terpancing pikir Cyra.


🍀🍀🍀🍀


Pagi ini Cyra sudah bersiap ke kamar Aroon, ia harus mengganti perban dan juga menyiapkan sarapan untuknya. Ia sudah mendapat kepercayaan untuk keluar masuk kamar Aroon. Tapi sifatnya hanya sementara saja selama Aroon sakit.


Sesampai di dalam kamar, Cyra menyibakkan tirai membuka jendela agar udara segar masuk. "Semalat pagi tuan." sapanya.


"Pagi." jawab Aroon dengan suara seraknya. Cyra membantunya untuk duduk bersandar di atas tempat tidur.


"Karena luka tuan belum boleh terkena air, pagi ini tubuh tuan saya lap dengan air hangat saja."


"Aku mau keramas."


"Tapi tuan___."


"Rambutku gatal, lagian ada shower."


Cyra berpikir keras bagaimana tuannya itu bisa keramas. Ia melihat ada sebuah kursi santai dari kayu. Ia kemudian meminta bantuan Omar untuk menaruh kursi itu di dalam kamar mandi tepat di bawah Shower, "Nah silahkan tuan."


"Kamu yakin?"


"Yakin tuan. Seribu persen yakin. Saya jamin tidak akan mengenai luka tuan."


"Baiklah."

__ADS_1


Sebenarnya Cyra cukup deg - degan karena berdua di kamar mandi bersama dengan tuannya. Ya tuhan lancarkanlah...


__ADS_2