
"Bagaimana keadaanmu?"
"Sudah membaik Pak Uo. Dua hari lagi aku sudah boleh pulang."
"Orang tuamu tahu soal ini."
"Tidak aku tidak memberitahunya. Aku takut akan membuat mereka pikiran."
"Yah aku rasa itu lebih baik." ucap Syamsudin. "Hati - hati Cyra. Kejadian yang menimpamu sangat mencurigakan."
"Maksud Pak Uo?"
"Bagaimana bisa seekor anjing jenis Pit Bull bisa masuk ke perkebunan. Tuan langsung menyuruh Sulaiman untuk menyelidiki termasuk peristiwa lepasnya kuda dari kandangnya."
"Memangnya aneh seekor anjing masuk ke dalam perkebunan. Bukankah dulu juga pernah."
"Kalau anjing biasa mungkin kita tidak akan curiga. Tapi ini anjing jenis Pit Bull yang di impor dari Amerika. Tidak semua orang punya. Hanya yang berduit saja yang bisa membelinya." jawab Syamsudin. "Harga satu anjing jenis Pit Bull bisa sampai puluhan juta."
"Aku memang tidak begitu mengetahui jenis anjing karena pada dasarnya tidak pernah tertarik dengan binatang itu."
"Tuan curiga kenapa yang ditargetkan adalah kalian berdua."
"Maksud Pak Uo aku dan Gio?"
"Iya. Coba kamu ingat - ingat. Dari kejadian kuda lepas dari kandangnya terus ini anjing liar yang menyerang. Semuanya beruntun. Benarkan dugaan tuan."
Cyra terdiam cukup lama. Dalam hatinya ia membenarkan apa yang dikatakan oleh Pak Uo nya itu. Memang semuanya menargetkan dia dan Gio. Tidak mungkin itu semua serba kebetulan.
"Kalau soal kuda bagaimana?"
"Laporan dari pekerja kuda mereka menemukan kandang dalam keadaan terbuka dan ada sebuah jarum. Biasanya jarum itu di gunakan untuk membuat kuda marah."
Oh jadi jarum yang di berikan oleh pekerja itu. Makanya Aroon bersikap seolah - olah tidak mau kehilangan kami pikir Cyra dalam hati.
"Tuan sudah memberi perintah Sulaiman untuk menyelidiki hal ini. Ingat - ingat lagi apakah kau punya musuh diperkebunan ini."
"Aduh siapa ya Pak Uo." Cyra pura - pura mengingat. Padahal ia sudah curiga pada seseorang. Denisha.
"Eh bagaimana dengan mantan pacarmu?" tanya Syamsudin.
"Mantan pacar apa Syam? Jangan kau sebut itu di depan istriku?" sahut Aroon yang tiba - tiba saja sudah di dalam ruangan.
"Eh tuan. Maaf bukan maksud saya___."
"Sudah tidak perlu di bahas lagi."
"Maafkan saya tuan."
"Aroon." panggil Cyra.
"Ya."
"Tadi Pak Uo hanya curiga mungkin Vano yang melakukan ini semua."
"Kecurigaanmu tidak mendasar Syam. Kau tahu kenapa?"
"Maaf, tidak tuan."
"Kau tahu aku sudah memperketat keamanan, sulit orang luar untuk masuk dan menyusup. Padahal yang dilakukan ini adalah hal - hal yang ada di dalam perkebunan jadi yang melakukannya adalah orang perkebunan. Orang kita sendiri. Dan perlu kita tahu alasan dan dengan siapa dia bekerja sama."
"Iya tuan. Kenapa otak saya tiba - tiba menjadi bodoh."
__ADS_1
"Sudahlah. Tidak perlu di bahas lagi." Aroon terdengar masih kesal.
"Kalau begitu saya permisi tuan."
"Baiklah. Bantu Sulaiman mencari informasi."
Syamsudin segera keluar dari ruangan Cyra.
"Kenapa kau tampak kesal?" tanya Cyra.
Aroon berjalan mendekat ke samping tempat tidur Cyra. "Kau sudah minum obat?" ia tidak menjawab pertanyaan Cyra dan terkesan menghindar.
Cyra hanya tersenyum, ia tahu suaminya itu cemburu. "Belum. Bagaimana bisa aku minum obat dengan tangan dan kaki di perban begini."
"Terus apa kerja Syam disini tadi? Hanya mengobrol?"
"Pak Uo tanya apakah ayah dan ibu tahu? Dan aku menjawab tidak. Menurutku lebih baik mereka tidak tahu dari pada khawatir. Perjalanan Surabaya Bogor cukup lama."
"Maafkan aku yang tidak bisa menjagamu."
"Hei, tidak perlu minta maaf. Aku tahu kau begitu menjaga kami sepenuh hati. Dan peristiwa ini tidak bisa di duga akan terjadi."
Aroon membantu Cyra untuk duduk. Memberinya air untuk minum obat.
"Mana Gio?"
"Bermain di taman dengan Omar dan Olif."
"Benarkah besok aku sudah boleh pulang?"
"Kata dokter begitu. Nanti kalau dokter sudah visit baru kita pulang."
"Lukamu masih sakit."
"Sudah tidak begitu terasa perih." jawab Cyra. "Bagaimana dengan pekerjaanmu?"
"Sudah ada Syam dan Sulaiman yang menghandle."
"Maaf aku selalu merepotkanmu. Kau selalu menungguiku disini."
"Kau kan masih takut sendirian. Kata dokter penyembuhan pasca trauma yang mungkin butuh waktu yang lama." ucap Aroon. "Kau istriku sudah menjadi tanggung jawabku untuk menjagamu."
Cyra sedikit kecewa dengan jawaban Aroon. Jawaban sebenarnya yang ingin dia dengar adalah karena aku mencintaimu Cyra. Apa mungkin rasa itu sudah pupus dari hati tuan, akibat aku yang tidak merespon perasaannya pikir Cyra.
Sementara itu...
"Nona!"
"Ada apa Billy?" tanya Denisha yang masih konsentrasi memcaca majalah mode.
"Nona sudah dengar berita belum?"
"Soal apa?"
"Soal Cyra."
"Oh yang dia kehabisan darah dan juga belum sadarkan diri sampai sekarang kan?"
"Nona salah." Billy menyangkal perkataan Denisha.
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Dia sudah sadar dan kemungkinan lusa akan pulang. Berita ini memang sengaja di sebar seperti itu agar pelaku perencanaan penyerangan lengah dan akhirnya bisa tertangkap."
"Kurang ajar!" Denisha geram. Ia langsung beranjak dari duduknya.
"Tapi yang lebih gawat lagi adalah saat ini Sulaiman dan Syamsudin melakukan penggeledahan darurat di semua pekerja. Termasuk kita."
"Kenapa kau baru laporan sekarang!"
"Itu juga saya tahu karena Sulaiman dan Syamsudin sudah ada di kamar Omar dan Olif. Kita sudah di tipu oleh informan kita."
"Kita sudah tidak ada waktu lagi. Sembunyikan berkas jual beli anjing itu." perintah Denisha.
"Baik nona."
Dengan segera Billy menghancurkan semua barang bukti yang berhubungan dengan pembelian anjing Pit Bull itu.
"Cepat Billy!"
"Iya nona. Sedikit lagi."
Tak berapa lama datanglah Sulaiman dan Syamsudin untuk menggeledah kamar Denisha.
"Mau apa kalian?" tanya Denisha ketus.
"Kami diperintah oleh tuan untuk menggeledah setiap kamar satu persatu."
"Buat apa?!"
"Maaf nona kami tidak mengatakan alasannya. Kami hanya menjalankan perintah." jawab Syamsudin.
Denisha mendengus kesal. "Terserah kalian."
"Maaf, kami mohon nona dan juga Billy bisa keluar." ucap Sulaiman tegas.
Denisha tampak terkejut. "Hei jangan sembarangan kalian. Aku harus memastikan tidak ada barang berharga milikku yang hilang."
"Maafkan kami sekali lagi nona. Kami hanya menjalankan tugas." ucap Sulaiman. "Silahkan keluar."
"Awas kalau ada barangku yang hilang. Aku jamin kalian akan dipecat dan tinggal di jalanan." Denisha keluar sambil terus mengumpat.
Sulaiman dan Syamsudin melakukan tugasnya. Mereka menutup pintu dan memeriksa semua keadaan di dalam. Hampir tiga puluh menit mereka di dalam.
"Kenapa lama sekali?" gumam Denisha.
"Nona tenang saja."
"Bagaimana aku bisa tenang, mereka menggeledah kamarku." jawab Denisha. "Kau sudah pastikan semua bukti itu tidak ada yang tetinggal di dalam kan?"
"Sudah nona. Aku pastikan kita bersih dari tuduhan."
"Bagus."
Tak berapa lama Syamsudin dan Sulaiman keluar. Mereka hanya diam dan tidak berkata apa - apa. Dan kembali melanjutkan penggeledahan di ruang yang lain.
"Sepertinya kita aman nona."
"Ya. Aku rasa juga begitu."
Syukurlah kalian tidak menemukan apa - apa, dalam hati Denisha lega. Aku harus mencari cara untuk bisa melenyapkan Cyra. Kenapa gadis itu bernyawa banyak. Beberapa kali lepas dari jebakanku.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1