
Mau menggigit tapi leher itu milik siapa pikir Aroon. Apa dia sengaja melakukannya, dasar penggoda.
"Tuan! Awas kubangan!" teriak Cyra yang tiba - tiba membuat Aroon terhenyak dari lamunan nakalnya. Ia tidak bisa mengendalikan laju sepeda dan____.
Gubraak!!!
Mereka berdua terjatuh. Cyra terlempar dalam kubangan lumpur sedangkan Aroon bisa menghindar.
"Hahahhah." Aroon tertawa melihat wajah Cyra yang penuh lumpur.
Hati Cyra dongkol sepertinya Aroon sengaja. Olif segera menolong Cyra tapi ia juga tidak bisa menahan tawa.
"Maaf bu Cyra, ini terlalu lucu."
"Yah, tertawalah sepuasnya." sindir Cyra.
Aroon segera mengambil sepedanya. Ia mulai mengendarai lagi. "Kau jalan kaki, jarak rumah sudah dekat. Kau bau."
Cyra menghela napas, tangannya menggenggam erat. Ia menahan emosi. Ingat Cyra dia bosmu, atasanmu, sabar.. sabar ia menenangkan dirinya sendiri.
"Aku temani jalan bu Cyra."
"Terima kasih Olif."
Mereka berdua berjalan beriringan menuju rumah utama.
"Olif aku mau mandi dulu. Kau temani Gio makan."
"Siap bu."
Cyra segera membersihkan diri. Hari ini berencana menyampaikan gagasannya untuk camping di alam luar, untuk menambah pengalaman Gio.
Setelah selesai Cyra menuju ke ruang kerja Aroon. Tapi ia tidak menemukannya.
"Kok mukanya masam?" tanya bik Tika.
"Habis masuk kubangan lumpur bik."
"Kok bisa?"
"Tuan Aroon tuh. Sepertinya ia sengaja."
"Tuan Aroon?"
"Iya tadi ban sepedaku kempes. Tuan menawarkan bantuan mengantarku pulang ke rumah utama. Ada kubangan lumpur di depan tapi tuan malah jalan terus."
"Cyra."
"Ya bik."
"Baru kali ini tuan mengijinkan wanita berdekatan dengannya. Hanya denganmu ia tidak waspada."
"Benarkah? Kalau menurutku tidak."
"Maksudmu?"
"Sikap tuan itu memang beda tapi lebih ke menyiksa, galak dan juga arogan."
"Tapi beliau tidak waspada terhadapmu. Sejak kematian nyonya Davira tuan tidak mau dekat dengan wanita kecuali nona Denisha."
"Nona Denisha? Siapa dia?"
"Nona Denisha itu saudara kembar nyonya Davira. Mereka kembar tapi bukan identik."
"Kenapa tuan Aroon tidak menikah saja dengan nona Denisha? Pasti wajah dan sifatnya mirip dengan nyonya Davira."
"Mereka berdua memang sama - sama cantik tapi nyonya Davira hatinya lebih cantik dari nona Denisha. Nyonya itu hatinya lembut, ramah dengan semua pekerja, penuh kasih sayang. Sedangkan nona Denisha sedikit sombong."
"Mereka pernah tinggal bersama?"
"Yang pertama kali mengenal tuan itu nona Denisha. Tapi tuan jatuh cintanya dengan nyonya."
"Yah, hati orang siapa yang tahu. Jatuh cinta itu tidak bisa memilih bik."
"Kamu sudah punya pacar?"
"Belum bik, masih jomblo."
"Kenapa?"
"Yah belum ketemu saja yang cocok."
"Kalau sama Fahri gimana?" tanya bik Tika. Ia berusaha menjodohkan Cyra.
"Tidak boleh!" teriak Aroon tiba - tiba.
"Tuan!" teriak bik Tika dan Cyra terkejut.
"Kau konsentrasi mengajar Gio, aku tidak mau perhatianmu terbagi. Aku mengijinkanmu bekerja disini bukan untuk ajang mencari jodoh tapi untuk mengajar Gio. Mengerti?!"
"Iya saya mengerti
tuan." jawab Cyra. Sedangkan bik Tika tampak gemetar ketakutan atas perkataannya tadi. Cyra berusaha mengalihkan perhatian. "Maaf tuan saya tadi mencari tuan."
__ADS_1
"Ada apa?"
"Ada hal penting yang ingin saya bicarakan."
"Keruanganku."
Cyra mengikuti langkah Aroon, ia melihat bik Tika bernapas dengan lega karena terhindar dari amarah Aroon.
Cyra masuk ke dalam ruangan yang didominasi dari kayu itu.
"Ada apa?"
"Begini tuan, sewaktu kami belajar mengenal alam Gio sangat antusias. Maka dari itu saya berpikir yntuk mengajaknya fun camping."
"Fun camping?"
"Yah semacam kegiatan berkemah bersama keluarga, disana kita bisa mengenal alam dan juga lebih mendekatkan hubungan antara tuan dengan Gio."
"Kau mengusulkan kegiatan diluar sudahkah memperhitungkan keselamatan anakku?"
"Terus terang belum tuan, saya pikir kita camping di tempat yang aman. Dan tidak akan ada bahaya yang mengancam. Tempat camping biasanya tidak ada binatang buas. Disana juga ada penjaganya."
"Keselamatan Gio adalah yang terpenting, jika ada yang mencelakakannya bagaimana. Jika memiliki ide harusnya kamu pikir baik - baik menggunakan otak."
Cyra tampak terkejut mendengar perkataan Aroon. Matanya berkaca - kaca. Ia memilih meninggalkan ruang kerja Aroon dari pada berdebat yang akhirnya akan tambah menyakiti hatinya. "Oh, maafkan saya yang tidak memiliki otak ini tuan" ucap Cyra. "Kalau begitu saya permisi."
Aroon hanya diam melihat kepergian Cyra. Ia duduk bersandar di kursi. Ach kenapa aku berkata seperti itu pikir Aroon, salah sendiri yang ada di otaknya hanya pria dan pria. Aroon mengacak - acak rambutnya karena kesal.
Sementara itu, Cyra setengah berlari menuju ke peternakan Sapi. Setelah sampai di sana i berteriak sekeras - kerasnya. "Aaaccchhh.. Aaaccchh.. Aaaccchh!!!" napasnya memburu karena emosi. Tapi ia merasa sudah sedikit lega. Cyra mulai mengatur napasnya. "Oke Cyra kamu sudah berusaha, tapi tuan yang arogan itu menolaknya. It's okey." Cyra membesarkan hatinya. "Aku harus menyampaikan berita ini pada Gio, mudah - mudahan anak itu tidak kecewa. Aku paling tidak bisa melihat raut wajah kecewa Gio." gumamnya. Ia menarik napas panjang mengisi rongga dadanya dengan udara segar dan kemudian menghembuskannya pelan - pelan.
Cyra segera meninggalkan peternakan sapi dan menuju ke ruang belajar. Tapi belum sampai masuk ke ruang belajar ia disambut oleh pelukan Gio.
"Hei ada apa?"
"Kita akan camping, Phoo mengijinkan." jawab Gio senang.
"Mengijinkan?" Cyra tidak percaya dengan yang didengarnya. Ternyata tuan mengijinkan. Ia menyambut pelukan Gio dengan hangat. "Ibu ikut senang. Selamat Gio."
"Ini berkat ibu. Terima kasih bu Cyra." Gio mencium pipi Cyra.
Aroon keluar dari ruang belajar diikuti Omar dan Olif. "Kita pergi rombongan."
"Maksud tuan?"
"Selain Omar dan Olif, ajak juga Syamsudin, Sulaiman, bik Tika dan Jono."
Cyra tersenyum. "Baik tuan." jawabnya bersemangat.
"Itu sudah lebih dari cukup, tuan mengijinkan saja kami semua sudah senang."
"Persiapkan semuanya, aku tidak mau ada kekurangan."
"Siap tuan."
Aroon pergi dan ketika berpapasan ia mengatakan sesuatu di telinga Cyra. "Maaf." ucapnya lirih bahkan hampir tidak terdengar. Cyra tersenyum mendengar hal itu, dengan pelan ia mengangguk.
"Omar, Olif ayo kita persiapkan semua. Nanti kalian catat semua yang kita butuhkan ketika camping."
"Siap bu Cyra."
ππππ
Cyra menaikkan tenda ke atas mobil, ia menyiapkan empat tenda besar.
"Aduh beratnya."
Tiba - tiba saja ada tangan kekar yang sangat ia kenal membantunya menaikkan semua ke atas.
"Terima kasih tuan."
"Ini saja yang kau bawa?"
"Masih ada lagi. Baru diambil Omar dan Olif."
Gio beserta yang lainnya datang. Mereka juga membawa pemanggang barbeque untuk acara nanti malam. Cyra mengambil rute yang tidak terlalu jauh dari perkebunan dan dekat dengan sebuah danau. Mereka akan berkemah di Curug Cihurang. Cyra juga sudah memastikan bahwa tempat itu aman untuk Gio.
Pukul enam mereka bersiap berangkat, mereka membawa tiga mobil jeep. Selama perjalanan mereka selalu bersenandung. Aroon benar - benar menikmati perjalanan ini. Sudah lama ia tidak pergi refreshing. Untuk melupakan kematian istrinya ia sibuk bekerja dan melupakan bahwa sebenarnya tubuh dan pikirannya sangat butuh refreshing.
"Apa ini bu Cyra?"
"Ini namanya teropong, kamu bisa melihat bintang - bintang nanti malam."
"Benarkah?"
"Iya benar, nanti aku akan jelaskan gugusan bintang juga. Aku jamin kau pasti suka, kita lihat apakah zodiakmu ada disana."
Gio sudah tidak sabar.
Tak berapa lama mereka sampai ke tempat camping. Setelah menurunkan barang - barang mereka mendirikan tenda.Β Tenda Aroon dan Gio sudah selesai. Cyra masih berkutat dengan tendanya.
"Bisa?" tanya Aroon.
"Kurang sedikit lagi tuan." jawab Cyra sambil mengusap peluh keringat di dahinya.
__ADS_1
Aroon mengambil alih, dengan cepat ia memasang rangkanya. "Pegangi itu."
"Baik tuan."
Hanya hitungan menit tenda milik Cyra sudah jadi. Rencananya tenda itu akan diisi Cyra, Olif dan bik Tika. Cyra segera memasukkan tas ranselnya ke dalam tenda. Ia juga menata tempat tidur untuk mereka nanti malam. Bik Tika sedang membuat makanan untuk makan siang. Setelah Cyra selesai ia bergabung dengan bik Tika dan Olif untuk membuat makanan. Suasana dan udara di Curug Cihurang sangat segar dan masih alami.
Setelah makan siang Gio meminta naik perahu untuk keliling danau. Omar dan Olif menemani sedangkan Cyra hanya mengawasi saja, memastikan mereka tidak sampai ketengah. Aroon bersantai dia atas Hammcock, ia sangat menikmati suasana di sana. Syamsudin dan Sulaiman baru asyik berburu.
"Gio, Omar, Olif ini sudah sore. Ayo kita kembali ke tenda."
"Baik bu."
"Omar temani Gio mandi, setelah itu kita akan barbeque sekalian makan malam."
Mereka membersihkan diri.
"Bu Cyra besok pagi kita mandi yuk di danau." ajak Olif.
"Eh kalau ada yang ngintip."
"Paling mereka belum bangun, nanti kita ajak juga bik Tika."
"Baiklah tapi pagi sekali ya sebelum yang lain bangun."
"Oke." jawab Olif sambil mengerlingkan matanya.
Malam telah tiba. Bik tika, Olif dan Omar sedang memanggang daging dan sesuai janjinya Cyra memperlihatkan bintang yang ada di langit dengan menggunakan teropong. Itu adalah hal yang baru bagi Gio.
"Bu Cyra."
"Ya Gio."
"Apakah Mae Davira ada disana?"
"Tempat Mae Davira lebih indah daripada bintang itu Gio. Kamu tahu kenapa?"
Gio menggelengkan kepala.
"Karena Mae Davira orang yang baik, penuh cinta dan kasih. Walaupun semua orang pada akhirnya akan meninggal alangkah baiknya jika kita meninggalkan kebaikan."
"Aku kangen Mae Davira."
"Jika kamu kangen dengan Mae Davira kamu harus tambah semangat belajar dan jadi anak yang membanggakan, aku yakin Mae Davira akan bangga melihatmu dari sana." Cyra memeluk Gio dan membelai rambutnya dengan lembut."
Sepasang mata berkaca - kaca mendengar pembicaraan mereka. Mata itu memandang jauh ke atas. "Aku juga merindukanmu sayang." gumamnya lirih.
Malam bertambah larut, setelah acara barbeque mereka melakukan permainan sambil menghangatkan diri di depan api unggun. Sulaiman membawa gitar, Omar dan Olif menyanyi diiringi gitar.
Karena waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, Gio harus sudah tidur. Omar dan Olif menidurkannya. Bik Tika sudah masuk ke dalam tenda begitu juga dengan Sulaiman dan Syamsudin.
Cyra duduk di depan api unggun sambil melihat bintang dengan teropong, Aroon datang dan duduk disampingnya.
"Ternyata kamu tahu banyak tentang astronomi."
"Hehehehh cuma sedikit saja tuan. Yah pengetahuan dasarnya saja." jawab Cyra merendah. "Oya apa Zodiak tuan."
"Aku Leo."
Cyra melihat ke atas. "Hmmm itu rasi bintang Leo tuan." tunjuk Cyra.
"Yang mana?"
'Itu yang dekat rasi bintang urut tiga." jawab Cyra sambil berdiri. Aroon masih belum bisa melihatnya. "Sini mendekat tuan, dari sini lebih jelas."
Aroon beranjak dari duduknya dan mendekati Cyra yang sibuk tunjuk - tunjuk ke atas.
"ItuΒ tuan, mirip siluet singa kan?"
"Aku belum tahu."
Cyra menariknya agar lebih mendekat lagi hingga mereka tidak ada jarak. "Itu.. Yang itu. Sudah lihat kan?"
"Ya aku lihat." jawab Aroon setelah sekian lama akhirnya menemukan rasi bintangnya. "Kalau kamu?"
"Saya Aries."
"Pantas keras kepala." ucap Aroon. Cyra hanya menanggapi dengan cibiran. "Yang mana?"
"Hmm sebentar." Cyra sibuk mencari. "Eh ada tuan itu.. Yang itu.." tunjuk Cyra dengan antusias bahkan ia sampai melompat senang.
"Mana?"
"Itu tuan."Cyra menoleh ke arah Aroon berbarengan dengan Aroon yang juga menoleh ke arahnya. Jarak yang terlalu dekat tidak mengelakkan mereka dari sentuhan. Ya hidung mereka saling bersentuhan. Lama Aroon memandang mata bening milik Cyra.
"Oh maaf." ucap Cyra gugup. Jantung berdetak kencang.
"It's okey." gumam Aroon. Ia memalingkan muka.
"Hmm saya permisi istirahat dulu." ucap Cyra langsung berlari masuk ke dalam tendanya.
Gila.. ini gila.. pikir Cyra sambil memegang wajahnya yang merah padam.
ππππ
__ADS_1