
Di sebuah cafe yang bernuansa klasik, terlihat dua gadis sedang bersantai di satu meja tepatnya pada sudut ruangan,dua gadis tersebut terlihat sesekali tertawa, entah apa yang sedang mereka bicarakan.
"Jadi,lo muali les nya kapan?" tanya salah satu gadis itu.
"******! gue lupa tanyain soal itu, gimana dong Del." jawab Nabila lalu menepuk jidatnya sendiri.
Mereka berdua adalah Nabila dan Delsa, sesudah membahas percakapan Nabila dan Alvaro tadi, mereka berdua berangkat menggunakan motor Delsa,lalu singgah ke bengkel untuk mengambil motor Nabila,dan akhirnya mereka pun jalan menikmati suasana sore hari,lalu sampailah mereka di sebuah cafe milik keluarga Delsa yang saat ini mereka tempati di karenakan kehausan yang melanda tenggorokan.
"chat lagi aja,dari pada nanti lo dapet masalah lagi gimana." usul Delsa yang sama sekali tidak membuat Nabila tertarik,plis lah Nabila terlalu malas berurusan dengan guru matematika nya itu.
"malas banget,ntar jawaban nya pasti 1 huruf lagi,tu guru terlalu jual mahal **** najis tau nggak." tolak Nabila langsung.
"Yah terus gimana?" tanya Delsa lagi.
"kayaknya besok aja gue samperin ke kantor, otomatis dia nggak bakal berani macem macem karena kan di kantor kan banyak guru tuh, gimana pinter kan gue." jawab Nabila bangga.
Prok... prok... prok...
Suara tepuk tangan dari Delsa berhasil mengundang perhatian pengunjung cafe tersebut.Delsa hanya mengangguk mengiyakan pernyataan Nabila,saat ini dia malas berdebat,jika ia tidak mengiyakan maka terjadilah percekcokan mulut maka dari itulah Delsa hanya pasrah mengiyakan.
"Ehh Del abang lo lagi ada di cafe nggak? " tanya Nabila, Delsa melihat sahabatnya malas, selalu saja seperti ini sahabatnya ini memang mengidolakan abangnya di karenakan abang nya yang memiliki syle begaya kore,jadi wajar saja Nabila sang pencinta cogan Korea mengidolakan sang abang.
"Ada di dalem,mau lo apain lagi abang gue mau lo goda? " balas Delsa dan dibalas oleh kekehan Nabila.
"udah deh lo jangan macem-macem sama abang gue,ingat umur woi lagian kalo laskar mau gue nggak sudih punya kaka ipar kayak lo." jelas Delsa.
"aelah tega bener lo,kan bgus kalo gue sama bang laskar biar mempererat hubungan keluarga." ujar Nabila tidak mau kalah.
"mau gue tampol?!." ancam Delsa kemudian.
"Sorry bang jago... ampun bang jago." balas Nabila menyanyikan lagu yang sedang viral di dunia pertiktokan.
"***** lo bil." umpat Delsa, Nabila hanya tertawa mendengar kekesalan sahabatnya.
Setelah hampir satu jam lamanya mereka berdua berbincang bincang, perhatian keduanya teralihkan saat mendengar suara bariton yang serasa familiar di telinga Nabila maupun Delsa.
"Ehh kok lo ad di sini dek." ujar suara bariton itu.
__ADS_1
"Gue lagi nongkrong sama si Dajjal aja bang." jawab Delsa pada pria tampan itu yang di ketahui adalah laskar abangnya sendiri.
"Bngsat lo Del! cewe cantik gini di bilang Dajjal." protes Nabila tidak terima.
"iya nih Del, jangan gituin malaikat abang deh," saat mendengar gombalan laskar itu sontak Nabila di buat baper.
"Yaampun bang, jangan gitu dong Nabila baper ni lama lama."
"Yaelah tu pipi napa merah kek tomat busuk." sindir Delsa.
"gombal untuk calon masa depan kan wajar "ujar laskar lagi.
Nabila merasa akan meledak saat itu juga,bukan baru dia diperlakukan seperti ini oleh laskar,namun tetap saja pipinya selalu mengeluarkan semburat merah bak tomat busuk serta jantung yang berdisko tidak seperti biasanya.
"aduhhh gue mau pingsan." ujar Nabila yang sudah berada di level salting tertinggi dan laskar malah setia berdiri di dekatnya sambil tersenyum menampilkan senyum hangatnya.
"ihhh gemes banget sih kalo lagi malu gini." tanpa banyak bicara laskar langsung mencubit pipi Nabila gemas. fiks Nabila kehabisan pasokan oksigen saat itu juga, entah sudah seberapa merah pipinya sekarang ia tidak peduli Nabila hanya ingin beteriak sekencang kencangnya namun ia masih terlalu waras untuk itu.
"Gini ni gue males satuin kalian bedua,gue langsung nggak di anggap, langsung hilang ke telen bumi."kesal Delsa yang menjadi saksi keuwuan Nabila dan laskar saat itu.
Nampaknya pesona pria tersebut sangat kuat, karena seluruh pengunjung cafe yang ada disana beralih memperhatikan pria tersebut, merasa penasaran Nabila dan Delsa pun menoleh untuk melihat orang itu, dan saat melihat orang tersebut, secara refleks Nabila dan Delsa saling pandang tatapan yang mengandung arti yang hanya di pahami oleh Allah mereka berdua saja.
"PAK VARO!!!!" batin Nabila dan Delsa bersamaan.
"heyyo bro makin ganteng aja Lo." sapa laskar saat Alvaro sudah sampai di tempat mereka.
"hmm biasa aja." hanya jawaban singkat saja lah yang keluar dari mulut Alvaro.
"buset masih dingin aja lo,udah sini duduk." laskar pun mempersilahkan Alvaro duduk di samping Nabila sedangkan laskar duduk bersebelahan dengan Delsa adiknya.
Sebelum duduk Alvaro terlihat sedang mengamati gadis yang berada di sampingnya,namun ia kesulitan karena gadis itu hanya sibuk bermain ponsel sambil menunduk sama halnya dengan gadis yang satunya lagi, Alvaro juga bertanya tanya kepada benaknya siapa gadis dua ini dan apakah hubungan nya dengan laskar si sahabatnya itu.
"Ni kenalin adek gue, Delsa kalo itu Nabila... ekhem itu calon gue hehehe." laskar mengenalkan dua gadis itu pada Alvaro saat Alvaro sudah diduk di kursi yang bersebelahan dengan Nabila.
Saat ini Nabila tidak tau harus senang karena di akui di depan temannya laskar atau takut karena sialnya Nabila malah bertemu dengan pak singa kutub nya, sedangkan Delsa ia juga menghawatirkan Nabila karena ia tahu bahwa Nabila memiliki masalah dengan guru barunya itu dan lagi pula Nabila dan Delsa juga merasa tidak nyaman bertemu dengan guru di luar sekolah seperti ini, mereka bingung harus bersikap bagaimana jadi itulah mereka hanya menunduk dari tadi.
Saat Nabila dan Delsa mendongak menatap Alvaro untuk menyapa, bisa di lihat Alvaro yang merasa terkejut namun dengan cepat ia rubah menjadi normal kembali.
__ADS_1
"H-hai pak." sapa Nabila dan Delsa gugup.
"loh pak? kalian udah kenal Alvaro?."laskar pun bertanya karena heran melihat gerak gerik Nabila dan adiknya yang sepertinya sudah kenal dengan sahabatnya itu.
"Udah bang pak varo itu guru matematika baru aku."jawab Delsa jujur, sedangkan Nabila hanya memilih diam karena merasa kurang cocok dengan suasana yang kini menjadi canggung.
"ooo lo ngajar di sekolah milik bokap lo Al?." laskar bertanya pada sahabatnya yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apapun,hanya datar dan datar.
"Jadi,pak varo anak dari pemilik sekolah? gila!"Nabila membatin kagum.
"Eh buset, sekolah Darmawangsa tenyata punyanya pak varo."batin Delsa juga.
"hmm,ada yang harus gue kerjain."singkat padat dan jelas itulah Alvaro, seperti sudah biasa dengan jawaban singkat Alvaro laskar hanya mengangguk paham.
"ini pacar lo?." tanya Alvaro, membuat laskar bingung 'ha?! tidak biasanya Alvaro, penasaran terhadap sesuatu' batin laskar.
"hah?!" laskar pura pura tidak paham,
"yang ini cewe Lo?" tanya Alvaro lagi seraya menatap Nabila yang pasnya juga sedang menatapnya juga, tidak tau harus bersikap apa Nabila hanya memperhatikan senyuman bodohnya.
"ohh,bukan pacar sih tapi orang spesial gitu." jawab Alvaro menatap Nabila sambil menampilkan senyum manisnya,dan Nabila hanya membalas dengan senyuman nya juga.
"emang napa? kaget lo ya kalo gue punya pacar sedangkan lo belum?" Sambung laskar lagi yang niatnya ingin menggoda Alvaro.
"gak nanya aja."tidak banyak basa basi Alvaro hanya menjawab dengan singkat.
Melihat suasana yang makin canggung,Nabila dan Delsa pun pamit kepada dua pria tampan itu, sebenarnya sudah dari tadi Nabila dan Delsa saling mengkode kode lewat kaki di bawah meja namun mereka belum menemukan waktu yang pas, hingga saat ini merasa ini waktu yang tepat Nabila dan Delsa pun tidak menyia-nyiakan kesempatan ini,sudah cukup mereka berdua terjebak dalam situasi canggung ini.
"Kak aku sama Nabila pamit dulu ya." ujar Delsa pada laskar.
"yaudah,mau kemana emangnya?" tanya laskar
"mau ke supermarket kak."
"ooo oke hati hati ya" ujar laskar pada akhirnya.
"iya,duluan ya kak,pak varo" pamit Delsa.
__ADS_1