
Aroon bergegas bangun dari tidurnya setelah menerima telepon dari pihak rumah sakit.
"Mau kemana sayang?" tanya Cyra yang terbangun karena suaminya melepas pelukan.
"Ada telepon dari pihak rumah sakit. Sulaiman sudah siuman."
"Syukurlah." Cyra duduk bersandar sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. "Tunggu aku mau mandi."
"Kau tidak usah ikut, sementara biar aku saja. Aku tahu kamu masih capek."
"Kamu tidak apa - apa sendirian?"
"Tidak apa - apa. Ada Fahri dan Syam yang akan menemaniku." Aroon mengecup kening Cyra dan bergegas pergi ke rumah sakit.
Cyra kembali merebahkan tubuhnya. Kalau sudah di bantai oleh Aroon yang ada bawaannya mau tidur terus.
Sementara itu Aroon berangkat ke rumah sakit di temani oleh Fahri dan Syamsudin. Mereka sampai di ruang rawat inap. Sulaiman tidak memiliki siapa - siapa di Bogor ini. Dulu pernah menikah tapi akhirnya bercerai dan sejak saat itu ia tidak menikah lagi. Trauma akan di sakiti seorang wanita membuatnya enggan membentuk suatu rumah tangga.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Tuan." jawab Sulaiman lirih. Tubuhnya masih sangat lemah. Alat - alat yang menopang hidupnya pun belum di lepas oleh dokter. Dokter masih harus menunggu beberapa hari ke depan untuk mengevaluasi keadaan Sulaiman. Setelah itu dokter baru berani melepas alat itu. Dan itu pun satu persatu. Usia Sulaiman yang sudah setengah abad membuatnya harus berjuang lebih agar bisa lepas dari masa kritisnya.
"Maaf tuan Aroon, pak Sulaiman saat ini masih belum lepas dari masa kritisnya. Alangkah baiknya kita menunggu beberapa hari lagi untuk berkomunikasi."
"Kenapa bisa begitu dok?"
"Usia pak sulaiman dan juga kehilangan banyak darah. Alat yang selama ini terpasang hanya membantu saja. Selebihnya adalah semangat dari pasien untuk sembuh. Alangkah baiknya jika kita bisa mensupport."
"Baik dok. Saya minta lakukan yang terbaik untuk Sulaiman."
"Itu pasti tuan Aroon. Kami akan melakukan yang terbaik."
"Terima kasih dok."
Dokter berpamitan untuk keluar.
"Syam."
"Ya tuan."
"Nanti malam kamu berjaga di sini. Di depan sudah ada pihak kepolisian yang menjaga. Aku takut jika Biantara mulai bertindak."
"Baik tuan."
🍀🍀🍀🍀
Leo berjalan cepat menuju ke kolam renang pribadi milik Biantara. Kolam renang yang terdapat beberapa Hiu itu merupakan kolam favorit Biantara. Ia pria yang suka tantangan dan tentu saja berhati dingin.
"Selamat pagi tuan."
"Pagi." jawab Biantara. "Ada apa?"
"Maaf tuan saya sudah mendapatkan informasi mengenai siapa orang yang sudah mengintai kita."
Biantara yang awalnya santai tampak terhenyak. Ia segera naik ke atas dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk. "Siapa?"
__ADS_1
"Sulaiman dari perkebunan Aroon."
Biantara mengambil gelas berisi sampanye dan melemparkannya ke muka Leo. Keluarlah darah segar dari kening Leo. "Kenapa bisa informasi sepenting ini sangat lambat kau dapatkan!" teriaknya marah.
"Maaf tuan."
"Kau tahu kan Aroon orang yang cepat dalam bertindak. Ia tidak main - main apalagi lawannya adalah aku!"
"Maaf tuan."
Biantara terduduk. Wajahnya nampak sangat menegang. "Kau kondisikan pondok ganja kita. Sebelum pihak berwajib bertindak."
"Baik tuan." jawab Leo.
"Kau pindahkan sementara barang - barang kita ke gudang kayu di daerah Bandung."
"Maaf tuan, itu terlalu jauh." ucap Leo. "Apa nanti kita tidak menimbulkan kecurigaan."
"Dasar bodoh! Memang kau punya solusi yang lebih baik dari itu."
"Saya memiliki sebuah lahan tidak jauh dari tempat itu sekitar lima belas kilo meter. Jika kita memindahkan barang itu nanti malam saya rasa tidak akan menimbulkan kecurigaan. Apalagi itu tempat terpencil."
Biantara tampak diam. "Sepertinya idemu layak di coba." Biantara berdiri dari duduknya dengan tangan menggenggam senjata api. "Tapi jika sampai gagal, maka nyawamu taruhannya." ia menodongkan senjata itu tepat di dahi Leo.
"Siap tuan. Saya pastikan tidak akan gagal."
Biantara meninggalkan Leo sendiri dan masuk ke dalam rumah bersama beberapa orang wanita.
Leo segera melancarkan rencananya. Ia membawa beberapa truk besar untuk mengangkut barang - barang itu. Rencananya malam hari nanti truk itu baru jalan ke tempat yang baru.
"Medannya terlalu terjal tuan Leo. Kami tidak bisa bekerja cepat."
"Kau membantah perintah tuan Biantara?" Leo menodongkan pistol itu dan hampir menarik pelatuknya. "Lakukan dengan cepat atau kau menyusul dua temanmu."
Mendengar ancaman Leo mereka bergerak secepat mungkin. Hari sudah mulai petang tapi mereka baru menyelesaikan setengahnya.
"Ayo cepat! Cepat!" teriak Leo.
"Maaf tuan Leo. Kalau tidak di tambah pekerja, kita tidak akan selesai tepat waktunya."
Leo terdiam ia membenarkan apa yang di katakan oleh salah satu pekerja. Biasanya pekerjaan seperti ini di selesaikan dalam dua hari. Ini sudah dapat setengahnya berarti sudah melampaui batas.
"Sebentar aku telepon dulu." Leo tampak melakukan panggilan dan tiga puluh menit kemudian sepuluh orang datang ke lokasi dan membantu pekerja yang lain.
"Ayo cepat! Cepat! Semua harus sudah selesai sebelum tuan Biantara datang!"
Mereka semua bekerja tanpa rasa lelah. Hingga tanpa sadar bahwa kegiatan mereka telah terintai oleh pihak berwajib. Aroon dan Syamsudin juga ikut datang dalam penggerebekan itu.
"Berhenti semua! Angkat tangan!" teriak para polisi yang sudah membawa senjata lengkap.
Mereka semua menghentikan kegiatannya.
"Menunduk semua!" teriak para polisi.
"Sial! Kenapa bisa ada polisi di sini!" gumam Leo. Ia masih mencari akal. Lebih baik perang dari pada tertangkap pikirnya.
__ADS_1
Semuanya merunduk akan tetapi dengan cepat Leo menembakkan senjatanya ke arah salah satu petugas.
"Dooorrr!!!"
"Hei! Berhenti!"
Leo tidak mengindahkan perintah polisi, ia terus menghujani mereka dengan beberapa tembakan dan bergerak mundur menuju motor terdekat. Tangan yang satu lagi mengambil handphone dan menelepon seseorang.
"Halo tuan, kita di serang oleh polisi." lapor Leo dengan cepat.
"Sssiiaaalll!!!" teriak Biantara yang kemudian membanting handphonenya. Ia kemudian bergegas melarikan diri bersama beberapa bodyguard kepercayaannya.
Sementara itu keadaan di sana sangat ricuh. Aroon dan Syamsudin membantu polisi menangkap sisa - sisa pekerja yang ada di sana.
Sedangkan Leo yang bersiap naik sepeda motor tertembak kakinya oleh pihak kepolisian.
"Aaaccchhhh!!! Siaall!!!" umpatnya. Ia terjatuh dari sepeda motornya.
"Cepat tangkap dia." perintah komandan.
Leo berpikir dengan cepat. Ia termasuk anak buah yang paling setia. Ia tidak ingin informasi mengenai Biantara sampai ke tangan polisi. Dan tanpa berpikir panjang ia menembakkan pistol ke kepalanya.
"Doorrr!"
"Komandan, tersangka bunuh diri!"
Aroon dan Syamsudin segera berlari menghampiri. Ia melihat Leo yang sudah tidak bernyawa lagi.
"Kita tidak bisa mendapatkan informasi dimana Biantara bersembunyi." Aroon tampak kesal.
"Tenang tuan Aroon. Kami akan terus menelusuri kasus ini. Jadi apabila tuan mendapat informasi penting segera laporkan pada kami."
"Baik komandan."
Beberapa polisi segera membawa barang bukti dan anggota sindikat tatto kalajengking. Mereka akan memproses agar para penjahat mendapat hukuman yang setimpal.
"Tuan bagaimana ini? Kita belum menangkap Biantara." bisik Syamsudin.
"Aku tahu. Itu artinya kita harus meningkatkan kewaspadaan kita." jawab Aroon. "Aku tahu Biantara tidak akan tinggal diam melihat tempatnya di obrak abrik oleh kita.
"Baik tuan."
🍀🍀🍀🍀
Biantara dengan beberapa bodyguard mengendarai mobil dengan kecepatan maksimal. Mereka menuju ke Bandung di daerah puncak. Biantara memiliki villa pribadi di sana.
"Kenapa Leo bisa sebodoh itu?" Biantara memukul - mukul jok kursi untuk melampiaskan rasa kesalnya. "Kurang ajaaarrr kau Aroon!!!"
"Maaf tuan." salah satu bodyguard menyerahkan sebuah foto. "Leo bunuh diri."
"Apa!" Biantara geram, matanya merah menyala. "Aku mau kalian menculik keluarga Aroon dan bunuh mereka bagaimanapun caranya! Mengerti!"
"Siap laksanakan tuan."
Rasakan pembalasanku Aroon, kau akan merasakan kepedihan untuk kedua kalinya karena di tinggal oleh orang - orang yang kau cintai. Aku ingin melihatmu hancur pikir Biantara.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀