
Tangan Cyra bergetar hebat setelah melihat isi pesan dan sebuah foto yang dikirim padanya. Ia segera berlari keluar kamar. Mencari keberadaan Aroon.
Pertama ia menuju ke kamar Davira. Tapi kamar itu kosong. Ia tidak menemukan suaminya di sana. Cyra tidak putus asa dan menyerah. Ia terus mencari.
Ia membuka pintu kamar Gio. "Kau lihat Phoo?"
"Tidak Mae. Ada apa?"
"Tidak apa - apa. Mae pergi dulu."
Cyra kemudian menuju ke dapur. Di sana ada bik Tika yang sedang membersihkan dapur dan menata stok di almari es.
"Bik Tika lihat Aroon?" tanya Cyra panik.
"Tidak nyonya."
Cyra kembali berlari keluar. Bik Tika yang melihatnya juga keheranan. Kenapa Cyra tampak panik dan tergesa - gesa.
Cyra berlari ke perkebunan. Ia berkeliling seperti orang gila padahal ini sudah malam. Ia harus menemukan suaminya sebelum jatuh ke pelukan Davira. Ya tuhan tolong bantu aku. Selamatkan suamiku. Aku mohon beri tahu aku dimana suamiku, doa Cyra sambil berlinang air mata.
Tenaganya habis is bersimpuh di tanah. Ia sudah berkeliling kemana - mana tapi hasilnya nihil. Suaminya tidak bisa ia temukan. Dibawa kemana oleh Davira.
Cyra kembali ke kamarnya dengan perasaan yang remuk redam. Ia menangis terus. Ia tidak bisa membayangkan jika suaminya berhubungan dengan wanita lain. Hancur benar - benar hancur.
Sementara itu..
Davira melihat Aroon yang terkulai lemah di atas tempat tidur. Ia melepaskan baju Aroon. Melihat mantan suaminya yang begitu kekar perkasa membuatnya ingin segera menikmati.
"Maafkan aku Aroon. Kalau kamu tidak aku beri obat seperti ini. Kamu tidak akan menjadi milikku seutuhnya." gumam Davira.
Ia melepaskan bajunya satu persatu hingga tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun. Ia mulai berjalan dan naik di atas tubuh Aroon. Saat itu kondisi Aroon setengah sadar. Tubuhnya terasa panas dan pandangannya menjadi kabur.
"Cyra." panggilnya lirih. "Cyra." ia terus memanggil istrinya.
"Aroon ini aku Davira."
"Cyra.. Cyra.. Mana Cyra?" Aroon berusaha untuk bangkit tapi ia seperti tak bertenaga.
"Ayo nikmati aku Aroon. Lakukanlah sesukamu." Davira menarik kedua tangan Aroon dan meletakkannya di atas dada. Davira memejamkan mata merasakan sentuhan dari suami yang lama tidak ia rasakan.
Aroon menghempaskan tangan Davira. "Kamu bukan Cyra. Mana Cyra?"
Davira tersulut emosi karena dari tadi hanya Cyra yang keluar dari mulut Aroon. "Anggaplah aku Cyra sayang. Aku akan menjadi apapun yang kamu sukai." lagi - lagi Davira meraih tangan Aroon dan meletakkan di pinggangnya. "Ayo Aroon, nikmati aku." Davira mulai menggerakkan tubuhnya untuk menarik perhatian Aroon.
Aroon memandang wanita yang berada di atasnya yang tak lain adalah Davira. Dengan sekuat tenaga ia menyingkirkan tubuh Davira. Hingga Davira terjatuh ke samping. "Pergi! Kau bukan Cyra!"
Aroon mulai berdiri. Ia berjalan sempoyongan. Dengan cepat Davira memeluknya dari belakang. "Jangan pergi Aroon! Aku tidak mengijinkanmu! Kau hanya milikku!" teriak Davira histeris.
Dengan kasar Aroon melepaskan pelukan Davira. "Aku mau mencari Cyra! Pergi!" Aroon mendorong tubub Davira ke belakang hingga tubuhnya terantuk almari. Aroon membuka pintu dan pergi.
Tubuhnya yang sempoyongan dan pandangannya yang mulai kabur membuatnya kesulitan mengenali tempat itu. Tubuhnya sudah bermandikan keringat. Dari kejauhan ia melihat seorang pria setengah baya sedang duduk. Sepertinya ia bagian keamanan villa ini.
"Pak.. Tolong pak!" teriak Aroon.
Pria itu bergegas menghampirinya. "Ada apa pak? Apa yang terjadi."
__ADS_1
"Antar saya pulang. Tolong antar saya pulang. Ada orang jahat di sana."
"Baik pak tunggu sebentar." dengan cepat pria itu mengambil motornya. "Dimana rumah bapak?"
"Di perkebunan milik tuan Aroon Tanawat."
"Baik pak. Ayo naik."
Aroon dengan susah payah naik ke atas sepeda motor. Pria itu segera mengendarai membelah malam yang udaranya dingin. Dari kejauhan tampak Davira yang sudah mengenakan pakaian mengejarnya. ia segera naik mobil dan menyusul Aroon.
Aroon sudah sampai di depan rumahnya dengan tubuh sempoyongan ia masuk ke dalam rumah.
"Cyra! Cyra! Cyra!" teriaknya. Ia terus berjalan menuju kamarnya.
Cyra yang menangis di dalam kamar seperti mendengar namanya di panggil. Ia mengusap air matanya dan berjalan keluar membuka pintu. Di lihat suaminya yang hanya mengenakan baju saja berjalan dengan sempoyongan ke arahnya.
Cyra segera berlari ke arahnya dan memeluk tubuh kekar itu. "Sayang kamu kenapa?"
"Aku.. Aku kena obat."
"Ya tuhan." Cyra melepas pelukannya. Ia melihat suaminya yang sama persis seperti dulu waktu merenggut kegadisannya.
Aroon menarik tubuh Cyra dan tanpa waktu lama ia segera mencium bibir Cyra. "Aku menginginkanmu." bisiknya di sela - sela ciumannya.
Cyra hanya mengikuti permainan suaminya. Sudah dua hari ini ia sangat merindukan moment seperti ini. Aroon menggendongnya seperti koala. Dengan cepat Cyra mengaitkan kakinya di pinggang kekar milik suaminya tanpa melepaskan ciuman.
Malam - malam penuh kehangatan kembali membara saat itu. Aroon bertindak sangat agresif. Begitupun dengan Cyra yang tidak mau kalah. Ia merasa sangat bersyukur bahwa suaminya kembali padanya. Semua ia luapkan dalam permainan panas ini. Teriakan demi teriakan kenikmatan menggema di seluruh ruangan. Seakan mewarnai permainan mereka.
🍀🍀🍀🍀
"Maafkan aku sayang." bisiknya di telinga Cyra. Aroon mengecup punggung istrinya.
"Aku maafkan." jawab Cyra dengan suara serak khas orang bangun tidur.
"Sudah bangun?"
"Hmmm." jawab Cyra.
"Lelah? Tidurlah lagi."
"Bagaimana aku bisa tidur jika tanganmu ini tidak bisa dikondisikan?"
"Hahahahhh.. Maafkan aku sayang. Aku sangat merindukanmu."
Cyra berbalik. Ia memeluk suaminya. "Apa yang terjadi semalam?"
"Janji kau tidak marah jika aku cerita."
"Tidak. Aku tidak akan marah."
"Baiklah." Aroon membenarkan letak tidurnya. "Semalam Davira memberiku obat. Dia menaruhnya di dalam minuman. Waktu itu aku tidak waspada karena sedang memikirkan masalah kita. Saat itu aku berencana meminta maaf padamu. Karena Aryo datang menjelaskan semuanya."
"Aryo datang, buat apa?"
"Dia datang bersama calon istrinya. Dia akan menikah. Di pertemuan kami dia banyak bercerita panjang lebar dan menjadikan pikiranku terbuka. Saat itu aku benar - benar menyesal marah padamu. Karena Davira meyakinkanku kalau dia juga melihatmu di rumah sakit."
__ADS_1
"Benarkah dia mengatakan itu?"
"Iya oleh sebab itu aku percaya bahwa kau berbohong. Di samping aku melihat sendiri, Davira juga meyakinkanku. Aku tahu sifatnya dulu yang tidak pernah berbohong. Dalam rasa frustasi itu dia memberikanku obat. Dia membawaku ke sebuah villa di dekat perkebunan. Beruntung aku berhasil melarikan diri dan diantar oleh seorang pria penjaga di sana."
Cyra memeluk erat suaminya. "Kau tahu, Davira mengirimkan gambarmu yang tanpa baju padaku."
"Benarkah dia melakukan itu?"
"Benar." Cyra mengambil handphonenya dan memperlihatkan gambar dan isi pesan dari Davira. "Dia mengatakan akan mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya. Aku seperti orang gila, mencarimu kesana kemari dan hampir saja frustasi karena tidak menemukanmu. Aku tidak mau kegilanganmu, aku tidak mau kau menjadi milik orang lain. Kau hanya milikku."
"Cyra."
"Ya sayang."
"Dia bukan Davira istriku yang dulu." ucap Aroon.
"Benarkah? Darimana kau tahu kalau itu bukan Davira."
"Janji kau tidak akan marah kalau aku cerita ini? Tapi aku bersumpah hanya namamu yang ada dalam pikiranku dan terus aku ucapkan."
"Kau serius sekali." Cyra tersenyum melihat wajah Aroon yang menegang.
"Karena aku takut kau marah."
"Iya.. Iya.. Aku janji tidak akan marah."
Aroon menarik napas panjang. "Terus terang saat itu kondisiku tidak berdaya, panas dan pandanganku kabur. Yah mirip orang mabuk. Davira membuka seluruh pakaiannya hingga tubuhnya tanpa sehelai benangpun."
"Kau menikmatinya?" teriak Cyra cemberut.
"Tidak sayang. Bukankah tadi aku bilang yang aku inginkan hanya kamu."
"Terus?" tanya Cyra sewot.
"Saat itu aku melihat perutnya."
"Apa? Perut?" Cyra memukul lengan Aroon yang padat dan membalikkan tubuhnya membelakangi Aroon.
"Tadi kan sudah janji tidak marah." bujuk Aroon.
"Iya.. Iya.. Lanjutkan ceritanya." ucap Cyra ketus.
"Nah di perutnya itu tidak ada bekas luka operasi."
"Maksudmu?"
"Dulu Davira melahirkan Gio dengan cara operasi cesar karena saat itu dia sudah di diagnosis kanker tapi masih stadium awal. Sehingga dokter menyarankan untuk melahirkan dengan cara operasi. Setelah melahirkan penyakitnya tambah parah."
Cyra terdiam tampak berpikir dan menelaah cerita suaminya.
"Dan juga aku merasa bahwa terkadang ia lembut tapi juga terkadang jahat. Davira yang aku kenal tidak akan merebut segala sesuatu yang bukan miliknya dan dia akan merelakan semua agar orang yang di cintai bahagia." lanjut Aroon
"Aku juga merasa aneh dengan sifatnya. Karena yang aku dengar memang Davira sangat lembut dan berhati malaikat." Cyra menimpali. "Lantas kalau bukan Davira terus siapa orang itu?"
"Itu yang akan kita selidiki, siapa sebenarnya orang yang menyamar sebagai Davira."
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀