My Love Teacher

My Love Teacher
Saling Mendukung


__ADS_3

Gio menggelengkan kepala sambil menangis.


"Jangan menangis! Kau harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu! Ayo makan!"


Gio kembali menggelengkan kepalanya berulang kali, air matanya semakin deras.


"Kau tahu! Berapa banyak orang yang tidak bisa makan di luar sana!"


Plethaakk!!! Aroon memukul kemoceng di meja makan.


Sementara itu...


"Suara apa itu bik? Kok ribut - ribut."


"Bibik juga nggak tahu Ra."


Terdengar kembali suara Aroon yang menggelegar.


"Bik aku kesana dulu. Sepertinya tuan sedang marah."


"Ya.. Ya.. cepat sana. Aku takut terjadi apa - apa."


Cyra berlari menuju meja makan dan alangkah terkejutnya dengan apa yang dilihat.


"Ayo makan!" perintah Aroon.


"Tunggu!" teriak Cyra. Ia seperti tidak percaya dengan apa yang terjadi. Aroon ayah Gio menyuruh anaknya sendiri makan makanan yang sudah jatuh ke lantai.


"Jangan ikut campur!" tuding Aroon.


"Saya harus ikut campur karena saya gurunya Gio. Apa yang terjadi dengan murid saya sebagai guru saya harus bertanggung jawab." ucap Cyra tegas.


"Bagus! Bagus kalau kau mau bertanggung jawab! Kau lupa dengan apa yang aku katakan tadi siang!"


"Tidak tuan, saya masih ingat dengan jelas apa yang tuan katakan dan saya juga sudah berjanji. Tapi itu tidak semudah membalikkan telapak tangan."


"Aku tidak peduli!" jawab Aroon. "Aku membayarmu mahal! Mengerti!"


"Huh, guru lulusan mana sih. Pendidikannya rendah." cibir Billy.


"Diam kau! Jangan ikut campur dalam urusan keluargaku, jika kau tidak ingin aku usir!"


"Maaf tuan." jawab Billy ketakutan. Ia mendekati Denisha untuk meminta perlindungan.


"Aroon kamu tenang dulu, jangan menyalah Gio. Aku lihat memang benar yang dikatakan Billy."


"Diam semua! Kau juga Denisha! Jangan memperkeruh suasana! Aku ingin mendisiplinkan anakku."


"Tuan, saya sudah berjanji dan saya akan menepati janji itu. Tapi tolong beri saya waktu dan dukung saya. Tanpa mendapat dukungan dari tuan mustahil saya akan memenuhi janji saya pada tuan."


"Gio harus tetap mendapat hukuman." ucap Aroon lirih.


"Saya yang akan menanggungnya. Dia masih kecil dan belum tahu apa yang dilakukan itu tepat atau tidak." ucap Cyra. Tangannya gemetar karena menahan emosi. Ia juga melirik ke arah Denisha yang dari sorot matanya sangat bangga bisa menciptakan keributan seperti ini. "Saya yang akan makanan itu." dengan cepat Cyra mengambil steak yang sudah ada dilantai.


"Letakkan!"


"Tidak!" jawab Cyra tegas.


"Letakkan kataku!" Aroon memandang tajam jauh ke sorot mata Cyra. "Bawa Gio dan pergi dari hadapanku."

__ADS_1


Cyra segera menggendong Gio yang masih terus menangis. Ia berjalan cepat tanpa memperdulikan pandangan Aroon. dasar tuan Arogan. Kau akan menyesal nanti ucap Cyra dalam hati.


Cyra membawa Gio ke tempat tinggalnya yang baru. Disana sudah menunggu Omar dan Olif yang mendapat informasi dari bik Tika kalau tuan Aroon sedang marah besar dengan tuan muda.


"Bu Cyra, tuan muda."


"Kalian istirahatlah, tidak apa - apa. Aku akan membawa Gio tidur di kamar."


"Baik bu."


Cyra membawa Gio ke kamar. Di rumah itu hanya ada dua kamar. Tapi semua sudah dibersihkan oleh Cyra. Cyra membaringkan Gio ke tempat tidur. Anak itu matanya sembab karena menangis cukup lama. Cyra tahu hatinya sangat sakit karena kemarahan ayahnya.


"Bu Cyra. Jangan tinggalkan aku."


"Hei jangan berkata seperti itu. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu."


"Phoo sudah tidak sayang padaku."


"Itu tidak benar Gio, Phoo sangat menyanyangimu. Hanya saja cara Phoo menegurmu tidak bisa lembut seperti aku."


"Aku benci dengan aunty ia memegang paha Phoo."


"Kamu masih kecil Gio, belum tahu tentang hal - hal orang dewasa."


"Itu tidak benar, aku tidak suka."


"Baiklah kalau kau tidak suka. Itu hakmu, tapi boleh aku cerita sebentar."


Gio mengangguk


"Di dunia ini kita memiliki banyak negara, tiap negara memiliki budaya yang berbeda - beda. Kalau negara kita masih mengutamakan adat kesopanan, tapi berbeda dengan negara yang laiannya. Mungkin berpelukan antar pria dan wanita dianggap tabu di negara kita, tapi kalau di negara Amerika itu adalah hal yang biasa. Dan kau tahu kan aunty Denisha bertahun - tahun tinggal di Perancis, di sana itu berpelukan, berpegangan tangan, bahkan ciuman adalah hal yang biasa. Kita harus menghargai itu. Aku yakin lambat laun aunty Denisha akan tahu bagaimana menempatkan diri. Kita beri dia kesempatan, oke. Jangan terbawa emosi, lihat dulu apakah apa yang kita lihat itu adalah hal yang benar."


"Jadi aunty Denisha belum bisa menyesuaikan dengan adat kita."


Gio terdiam, ia sepertinya sudah memahami apa maksud perkataan Cyra. "Ya, aku mengerti."


"Bagus, good boy." Cyra membelai lembut kepala Gio.


"Phoo marah besar padaku."


Cyra mengangguk - angguk. "Yah memang apa yang dilakukan oleh Phoo kurang tepat. Sama seperti dirimu yang tersulut emosi. Phoo hanya tidak ingin kau membuang - buang makanan, masih banyak orang diluar sana yang tidak bisa makan enak seperti dirimu Gio. Bersyukurlah kamu hidup berkecukupan. Dulu bu Cyra waktu kecil hanya makan sehari dua kali."


"Benarkah?"


"Benar, oleh sebab itu bu Cyra jadi pendek seperti ini. Kurang gizi. Hahahahhh.."


"Aku mau badanku tinggi, besar dan kekar seperti Phoo."


"Maka dari itu jangan buang - buang makanan. Dan juga kita harus menghargai jerih payah aunty Denisha memasak untukmu dan Phoo."


"Aku akan minta maaf pada Phoo."


"Anak pintar." puji Cyra. "Aku juga akan memastikan Phoo meminta maaf padamu atas sikap kasarnya."


"Terima kasih bu Cyra." Gio memeluk Cyra.


"Sekarang tidurlah, kamu pasti lelah."


Cyra menemani Gio sampai anak manis itu tertidur. Ia menghela napas panjang. Semoga saja feelingnya mengenai Denisha yang ingin merebut Aroon tidak benar. Setelah memastikan Gio tertidur dengan pulas, ia keluar dan menemui Omar, Olif.

__ADS_1


"Bagaimana bu?"


"Dia sudah tidur."


"Nenek sihir itu sangat berbahaya, awas saja kalau ketemu." ucap Olif geram.


"Sudah Olif, kita tidak perlu memperkeruh suasana." cegah Cyra. "Kalian kembalilah ke rumah utama, biar Gio tidur disini."


"Baiklah bu, kalau ada apa - apa. Jangan segan memanggil kami" ucap Omar. Cyra hanya menjawab dengan anggukan. Hari ini ia sangat lelah, ternyata emosi juga menguras tenaga. Ia memutuskan membuat mie instan. Hmm aroma dan rasa mie instan ini benar - benar enak. Cyra mulai menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Gio.. Gio.. Sayang."


Siapa itu malam - malam begini membuat keributan. Cyra memutuskan untuk melihat ke depan.


"Gio.. Gio.. Sayang."


Hah tuan Aroon, kenapa malam - malam begini datang kemari. Cyra keluar untuk membuka pintu.


"Tuan apa yang tuan lakukan mala - malam begini."


Dengan sempoyongan Aroon mendesak Cyra masuk.


"Tuan mabuk?"


"Hehehehh.. mana Gioku sayang?"


"Dia tidur tuan."


"Jangan bohong, ia pasti sembunyi karena marah padaku." Aroon melangkah masuk, tapi karena sempoyongan kakinya terantuk sofa hingga jatuh.


Huh merepotkan saja, kalau ada masalah saja datangnya kesini. Kalau senang - senang ke Denisha. Cyra berusaha menarik tangan Aroon agar bangun dan duduk di Sofa. "Duduk sini tuan."


"Cyra..."


"Ya tuan."


"Gio marah padaku kan?"


"Tidak tuan, Gio sekarang sedang tidur. Sekarang tuan istirahat, saya antar pulang."


"Hmmm tidak.. tidak.. Kau mengusirku? Kau juga marah padaku."


"Tidak tuan saya tidak marah pada tuan."


"Heheheheh.. bohong. Itu hidungmu panjang, kau pasti bohong kan."


Hidung panjang dari mana, Cyra menghela napas panjang. "Saya tidak marah tuan dan saya tidak bohong."


Tiba - tiba Aroon memegang hidung mungil Cyra. Menekan - nekan berulang kali. "Oh ya. Hidungmu tidak panjang."


"Iya, kan sudah saya katakan tadi."


"Cyra.." Aroon tiba - tiba memeluknya.


"Jangan marah padaku." ucapnya sambil memeluk Cyra dengan erat. "Maaf." bisiknya.


"Iya saya maafkan tuan." jawab Cyra. Beberapa menit ia menunggu reaksi Aroon tapi dia hanya diam dan hening. "Tuan.. Tuan.." panggilnya berulang kali. Heh anak bapak sama saja. Cyra melihat tuan Aroon yang tertidur. "Tuan ayo pindah ke kamar."


"Hmmmm." hanya itu yang keluar dari mulut Aroon. Dengan susah payah Cyra membawa Aroon ke kamarnya. "Huh dasar bayi besar. Berat amat." begitu sampai di tempat tidur Cyra meletakkan Aroon, melepas sepatu dan kemudian mengambil air hangat. Ia menyeka keringat agar ketika bangun tuan Aroon merasa segar. Setelah menyelimutinya Cyra meninggalkan kamar itu.

__ADS_1


Hari pertama menempati rumah ini ia terpaksa tidur di sofa. Yah namanya juga bawahan harus mengalah pada atasan. Selamat tidur tuan dan Gio.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2