
"Nona! Nona! Kau tidak akan percaya dengan apa yang aku dengar."
"Ada apa sih?"
"Aku tadi mendengar Jono dan Fahri mengatakan sesuatu yang akan membuat Cyra ketakutan."
"Apa? Awas kalau informasimu tidak benar. Maka tidak segan - segan aku akan menendangmu."
"Kali ini benar nona dan di jamin wanita itu akan keluar dari perkebunan,"
"Hanya keluar? Aku ingin dia di akhirat selamanya."
"Kkkalau itu sebenarnya bisa. Tapi saya takut."
"Memang apa yang dikatakan mereka?"
"Jadi tadi Jono dan Fahri mengatakan kalau Cyra trauma dengan anjing dengan kata lain kita bisa menterornya dengan anjing hingga dia tidak betah dan memutuskan pergi dari perkebunan."
"Anjing?" Denisha terdiam sejenak, ia tampaknya mengingat sesuatu. "Ah ya, aku ingat Gio dulu pernah bercerita padaku." Denisha tersenyum smirk. "Kenapa tidak terpikirkan cara itu sejak dulu." gumam Denisha. "KIta ke pusat penjualan anjing."
"Sekarang nona?"
"Ya sekarang. Kapan lagi. Kita harus bergerak cepat."
"Bbbaik nona." Billy segera membayar minuman mereka dan keluar dari cafe.
Denisha sibuk mencari informasi mengenai toko hewan. Ia berulang kali melakukan panggilan tapi belum menemukan yang cocok. Ia juga sibuk mencari di internet.
"Nona mau mencari anjing jenis apa? Kalau Poodle di sini ada." Billy menunjukkan layar handphonenya.
"Dasar bodoh, buat apa kita mencari anjing jinak seperti itu."
"Terus jenis apa nona?"
"Pit bull atau Doberman Pinscher."
"Ittu anjing paling galak nona. Bisa berbahaya untuk keselamatan kita."
"Memang itu tujuanku. Kita bisa membunuh Cyra dengan mengkambing hitamkan anjing liar." ucap Denisha dengan lugasnya. "Tangan kita bersih dan tentu saja Aroon tidak akan curiga bahwa itu perbuatan kita. Anjing liar kan bisa saja berkeliaran di mana - mana."
"Nona, lebih baik kita pikirkan hal itu masak - masak. Ini menyangkut nyawa orang."
Denisha menghentikan kegiatannya dan memandang tajam ke arah Billy. "Memang aku pduli dengan nyawanya?" tatapan dingin itu begitu menusuk ke tulang Billy hingga ia tergidik ngeri. "Ingat ya Billy, kau adalah asistenku dan harusnya mendukung semua yang aku lakukan. Mengerti!"
"Iiya saya mengerti." ucap Billy. Keringat dingin mulai membasahi keningnya. Ia menyesal mengapa mengatakan hal itu pada Denisha. Pikirnya ia akan menggunakan anjing itu untuk menakuti Cyra, tapi beda persepsi dengan Denisha yang mau menggunakan anjing itu untuk membunuh Cyra. Tapi apalah arti semua ini, ia hanya seorang asisten saja, tentu ia kan mengikuti keinginan majikannya.
Sempat terlintas dalam pikirannya apakah nonanya itu juga pernah melakukan pembunuhan. Mengingat Denisha yang sama sekali tidak gugup atau ragu dalam melukai orang yang di anggap menghalangi langkahnya.
Denisha tiba - tiba tersenyum. "Sudah dapat. Kita kesana saat ini juga."
"Baik nona."
Setelah menempuh hampir dua jam akhirnya mereka sampai ke suatu tempat yang agak terpencil. Seperti suatu pertenakan yang terdapat pagar tinggi berwarna hitam.
"Nona yakin ini tempatnya?"
"Yakin ini shareloc nya disini." jawab Denisha. "Ayo kita masuk."
Billy tergidik ngeri karena tempat ini jauh dari pemukiman penduduk. Terdapat dua penjaga yang berbadan besar. Setelah Denisha enjelaskan kedatangannya ia di persilahkan untuk masuk.
"Dengan nona Denisha?" sapa seorang laki - laki yang berkumis itu.
"Ya betul. Tuan John?"
"Yah, itu saya. Anda menginginkan anjing yang seperti apa?"
"Pit Bull atau Doberman."
"Kami ada. Tapi nona tahu sendiri kan harga anjing pit bull itu berapa?"
"Saya tidak tahu tapi saya akan bayar berapa pun. Kalau bisa yang paling ganas." pinta Denisha dengan antusias.
__ADS_1
"Hahahahhh.. Anda tidak mempergunakan anjing ini untuk membunuh orang kan?"
Denisha tersentak kaget dengan perkataan pria itu. Tapi kemudian ia tersenyum. "Tentu tidak tuan John. Saya hanya ingin melindungi rumah saya dari para penguntit."
"Oh, anda artis?"
"Iya, saya model."
"Wow, pantas saja kecantikan anda begitu luar biasa." puji John. "Baiklah nona kita kembali ke pembicaraan semula yaitu mengenai harga anjing pit bull ini." John mengajak Denisha untuk mengikutinya. Mereka melalui lorong yang cukup panjang dan ada sebuah pintu besar yang terbuat dari besi. John membuka pintu itu dan alangkah terkejutnya Denisha karena di suguhkan dengan pemandangan yang menyeramkan.
Lolongan anjing yang bersahut - sahutan hingga memekakkan telinga. Billy memegang tangan Denisha dengan erat, ia tampak sangat ketakutan.
John meniup semacam peluit dan tak lama kemudian anjing itu tenang dan terdiam. "Anda tidak oerlu takut, kandang ini terbuat dari besi. Anjing - anjing ini tidak akan bisa lari keluar."
"Iya saya tahu." jawab Denisha berusaha untuk tegar. Ia membuang rasa gugupnya. "Oya mana anjing Pit Bull yang anda tawarkan pada saya."
"Oke, itu di sana." tunjuk John. Ia berjalan mendekat dan Denisha mengikutinya. "Ini anjing Pit Bull jenis impor dari Amerika. Dan tentu saja harganya berbeda dengan jenis lokal. Kalau soal keganasan anda tidak perlu meragukannya lagi nona."
"Baiklah, aku ambil ini."
"Anda harus bersabar."
"Kenapa?"
"Tiga hari lagi anjing jenis ini akan tiba di Indonesia."
"Kenapa lama? Saya ambil yang ini saja."
"Hahahahhh.. Maaf nona, ini anjing milik pribadi saya. Tentu saja saya juga butuh anjing penjaga seperti nona bukan?"
"Baiklah. Tiga hari atau saya batalkan."
"Deal.. Anda tidak perlu khawatir berbisnis dengan saya. Kualitas dan kepuasan konsumen tetap saya utamakan."
"Deal." Denisha menjabat tangan John.
Setelah mengurus surat kepemilikan dan tranfer uang. Denisha segera kembali dengan perasaan yang bahagia. Senyumnya mengembang sepanjang perjalanan. Tunggu kematianmu Cyra.
🍀🍀🍀🍀
"Wow.. Ada apa Omar?" tanya Cyra yang saat itu sedang menemani Aroon minum teh di taman samping.
"Omar yang sopan."
"Maaf tuan.. Itu karena saya terlalu bahagia."
Cyra tertawa. "Bukankah kamu setiap hari bahagia."
"Ini berbeda bu."
"Apa bedanya?"
Omar menarik napas panjang sebelum berbicara. "Tuan muda ingin bertemu dengan bu Cyra."
"Aapa.. Mau.. Mau bertemu denganku."
"Iya tuan muda mau berbicara penting dengan bu Cyra."
Cyra sangat senang mendengar. "Aroon kau dengar itu. Gio mau bertemu denganku." Cyra bersorak dan memeluk Aroon saking senangnya. "Terima kasih kau sudah membantuku."
Aroon tahu kalau istrinya melakukan itu tanpa sadar. Semua karena rasa kegembiraan yang berlebihan. Tapi tetap ia nikmati toh itu oelukan yang dia inginkan juga.
"Ya sudah, cepatlah datang ke sana. Daripada nanti Gio berubah pikiran."
Cyra melepas pelukannya dan memandang Aroon dengan senyuman termanis. "Iya.. Iya.. Aku akan ke sana." ucapnya sambil kembali memeluk Aroon. Setelah itu ia segera pergi bertemu dengan Gio.
Cyra menarik napas dan menghembuskannya pelan - pelan sebelum masuk ke dalam kamar Gio.
"Kau ingin berbicara denganku Gio?"
"Iya." jawab Gio. Ia menunduk tanpa mau melihat Cyra.
__ADS_1
"Ada apa?"
"Aku ingin belajar lagi."
Mata Cyra terbelalak. Ia tidak percaya dengan apa yang di dengarnya. Perkataan itu keluar dari mulut kecil milik Gio. "Kau jngin belajar?"
"Iya, aku tidak ingin bodoh."
"Gio, kau tahu ini berita yang paling menggembirakan yang pernah aku dengar." mata Cyra berkaca - kaca. Ia tidak bisa membendung rasa haru itu.
"Bu Cyra jangan senang dulu."
"Maksudmu?"
"Aku hanya ingin belajar. Tidak lebih dari itu. Aku masih belum menwrima status barumu."
"Tidak.. Bagiku itu tidak masalah Gio. Kau mau belajar saja aku sudah merasa senang." Cyra mendekat ke arah Gio. Ia memperhatikan bocah kecil itu dan ingin rasanya ia memeluknya. Tapi niat itu segera ia urungkan karena ia tidak mau rasa buru - buru nya akan menggagalkan pendekatan ini lagi. "Kau ingin aku mengajarimu seperti biasanya?"
Gio mengangguk.
"Baiklah. Kapan kau akan mulai?"
"Besok."
"Oke. Besok kita mulai. Kau ingin belajar apa?"
"Matematika."
"Baiklah besok kita akan belajar matematika. Besok kita belajar di dekat kandang kuda poni milikmu."
"Kenapa di sana?"
"Besok kau akan tahu. Disana banyak yang akan kita pelajari, bahkan matematika sekalipun." Cyra sengaja membuat Gio penasaran karena ia anak yang rasa ingin tahunya tinggi dan suka tantangan. Cyra tahu pasti Gio sangat tidak sabar ingin belajar besok pagi.
Cyra meninggalkan kamar Gio, sepanjang perjalanan ia selalu tersenyum.
"Bagaimana?" tanya Aroon.
"Ia mau belajar lagi."
"Syukurlah."
"Apa yang kau katakan padanya hingga ia mau memulai bicara padaku?"
"Rahasia."
"Huh, kau curang." cibir Cyra. "Tapi aku bersyukur kau berhasil membujuknya walaupun saat ini ia belum mau mengakui aku sebagai ibunya."
"Sabar Cyra, aku yakin ia pasti akan mengakuimu suatu saat nanti. Gio itu hanya memiliki rasa gengsi yang tinggi. Aku yakin kau bisa meluluhkan hatinya sama seperti aku. Kau bisa mwlukuhkan benteng pertahananku."
Cyra tersenyum sambil tersipu malu.
"Tidakkah aku berhak mendapat hadiah."
"Hadiah?" tanya Cyra.
"Pelukan mungkin."
Tanpa di duga Cyra menjawab. "Baiklah." tanpa menunggu lama Cyra menghambur ke dalam pelukan Aroon. "Hadiah dariku apakah kamu suka?"
"Suka sekali."
🍀🍀🍀🍀
Hai teman - teman pembaca setia novelku 🥰
Aku secara pribadi mengucapkan
MINAL AIDZIN WAL FAIZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN
__ADS_1
1 SYAWAL 1444 H