My Love Teacher

My Love Teacher
Cemburunya Bumil.


__ADS_3

Setelah melalui banyak drama ngidam yang di rasakan oleh Cyra, kini Aroon bisa bernapas lega pasalnya Cyra di usia kandungannya yang tujuh bulan ini sudah tidak menginginkan hal yang aneh - aneh lagi.


"Aroon, besok ada undangan dari sekolah."


"Soal apa?"


"Besok Gio terima penghargaan. Dia juara olimpiade matematika."


"Jam berapa?"


"Jam sembilan." jawab Cyra sambil membolak balik isi almarinya.


"Cari apa?" Aroon memeluknya dari belakang.


"Baju buat besok."


"Itu banyak pilihan."


"Jelek semua." jawab Cyra yang tampak gelisah.


"Ya sudah beli lagi saja biar di temani Olif atau Tika."


"Aku malas jalan."


"Ya kalau begitu biar mereka yang beli untukmu."


"Kalau pilihan mereka jelek gimana."


Aroon menghela napas. Kalau sudah seperti ini lebih baik ia berhati - hati. Salah ucapan bisa panjang ceritanya. Bisa - bisa nanti malam ia tidak mendapat apa - apa dari istrinya.


Cyra pindah di depan kaca. Ia berdiri berputar ke kanan dan ke kiri. Aroon mengikuti istrinya dari belakang.


"Sayang, kamu mau pakai baju apa saja pasti terlihat bagus."


"Jangan bohong."


"Aku berani bersumpah." Aroon berusaha meyakinkan istrinya. Ia memeluk Cyra dari belakang. "Kau tambah seksi, tambah padat berisi."


"Oh, kamu mau bilang kalau sekarang aku gendut kan?"


Aroon terkejut jika pujiaannya akan di salah artikan oleh Cyra.


"Aku jadi gendut begini karena hamil anak kamu. Harusnya kamu menghargai dong. Jangan hanya mencela dan menuntut aku untuk tampil seksi, langsing. Atau jangan - jangan kamu sudah bosan denganku. Atau.. Atau.. Kamu sudah punya yang lain." Cyra berbicara tanpa bisa di sela oleh Aroon.


"Hei sayang, kenapa kau bicara seperti itu." Aroon berusaha menenangkan istrinya. Kali ini ia menjadi pria yang amat sabar. "Cintaku, maafkan aku jika tadi aku salah bicara."


"Nah, sekarang baru minta maaf. Pasti takut kan kalau nanti malam nggak bisa nengok anakmu ini." Cyra masih tampak emosi.


Aroon terdiam ia bingung harus bicara apa lagi. Ia lebih memilih menenangkan istrinya dengan pelukan.


"Iya.. Iya.. Aku yang salah. Aku minta maaf ya." ucap Aroon akhirnya. "Mau aku kupaskan buah?" Aroon berusaha mengalihkan pembicaraan.


"Iya aku mau." ucap Cyra manja.


Memang mood ibu hamil gampang berubah. Aroon segera menuruti keinginan istrinya. Ia mengupaskan dan memotong buah Apel agar memudahkan Cyra untuk memakannya.


Cyra makan buah sambil duduk di pangkuan suaminya.


"Aroon."


"Ya."


"Kamu pasti malas denganku. Aku sekarang pemarah."


"Tidak Cyra, aku sama sekali tidak memiliki perasaan seperti itu. Ingat kata dokter, itu pengaruh hormon jadi mood mu selalu berubah."


"Terima kasih sudah mengerti aku."


Aroon tersenyum melihat tingkah istrinya. Ia marah tapi beberapa menit kemudian jadi baik. Awalnya Aroon hampir terbawa emosi juga. Tapi lama kelamaan ia menjadi sosok yang lebih penyabar.


"Besok aku pakai baju seadanya saja." ucap Cyra.


"Ya sudah kalau itu keputusanmu. Pakai apapun kamu tetap cantik."


🍀🍀🍀🍀


Pagi ini Cyra membangunkan Aroon.


"Aroon.. Aroon.. Bangun."


"Aku masih ngantuk Cyra."


"Ayolah bangun sebentar."


Aroon mengucek matanya dan melihat Cyra yang hanya mengenakan handuk. "Ada apa?"


"Lihat ini."

__ADS_1


"Baju?"


"Iya bajuku."


"Kenapa dengan bajumu sayang?" Aroon beranjak dari tempat tidur untuk melihat baju istrinya. Walaupun sejatinya ia masih mengantuk. Karena ini pukul empat pagi.


"Kekecilan." jawab Cyra.


"Yang mana?"


"Yang ini, terus ini, yang biru itu juga." tunjuk Cyra.


Aroon melihat - lihat lagi isi almari Cyra. Ia melihat ada baju yang ukurannya lebih besar dari yang ditunjuk tadi. "Kalau pakai ini bagaimana?"


"Apa nggak terlalu kebesaran?"


"Nggak sayang, aku yakin kamu cantik mengenakan ini."


"Benarkah?"


"Seribu persen benar." jawab Aroon mantab.


"Baiklah aku pakai yang ini." Cyra meletakkan baju pilihan Aroon di gantungan untuk memudahkannya.


"Kenapa kamu pakai handuk saja?"


"Gerah, aku habis mandi."


"Cepat pakai baju, jangan sampai masuk angin." perintah Aroon. "Kalau gerah apa AC nya mau di kecilkan?"


"Tidak usah nanti malah kedinginan."


"Ya sudah ayo kita tidur lagi. Aku masih mengantuk." ucap Aroon sambil menguap. Ia kembali tidur.


🍀🍀🍀🍀


Aroon dan Cyra akhirnya sudah sampai di sekolah Gio setelah melalui beberapa drama soal baju.


Tampak rona bahagia tersirat di wajah Cyra karena bangga Gio akan mendapat penghargaan.


"Pak Aroon." panggil seorang wanita. "Masih ingat saya?"


Aroon dan Cyra saling berpandangan. Seorang wanita dengan penampilan seksi berada di hadapan mereka.


"Pak Aroon lupa dengan saya."


"Saya Yeny yang dulu pernah melamar jadi guru privat."


"Oh maaf saya benar - benar lupa."


"Tidak apa - apa. Anda orang yang sibuk saya maklum jika anda tidak mengingat nama saya." ucap Yeny. "Putra bapak siapa namanya?"


"Gio."


"Ah, iya Gio. Sepertinya mendapat penghargaan bukan?"


"Iya benar."


"Selamat ya." Yeny mengulurkan tangannya. Demi menghargai Aroon menyambut ucapan selamat dari Yeny.


Cyra yang berada di sebelah Aroon wajahnya memanas menahan emosi. Bisa - bisanya perempuan ini tidak menghargai aku yang berada di sebelah suamiku. Oh mau menggoda suami orang rupanya.


"Mari pak saya antar ke kursi tamu undangan."


"Hmm sebentar." Aroon menggandeng tangan Cyra. "Biar istri saya jalan di depan, ia sedang hamil."


"Oh, ini istri anda." tampak raut wajah Yeny kecewa mendengar Aroon sudah beristri.


"Iya, ia sedang mengandung anak kami." jawab Aroon bangga. Ia bahkan mengusap perut Cyra berulang kali.


Yeny terdiam melihat itu dan berusaha ikut tersenyum bahagia.


"Mari silahkan lewat sebelah sini."


"Terima kasih."


Cyra masih tidak suka dengan Yeny. Instingnya sebagai seorang wanita sangat kuat. Apalagi sama wanita - wanita penggoda macam Yeny. Ia harus waspada karena ini termasuk bahaya laten. Ia takut karena kondisi hamil suaminya akan berpaling darinya.


Yeny duduk di sebelah Aroon. Tapi Aroon memilih agar Cyra duduk diantara mereka. Hingga saatnya Gio menerima penghargaan. Cyra mengusap air matanya karena terharu. Huh dasar bumil bawaannya melow terus.


Setelah menerima penghargaan mereka akhirnya pulang. Gio memamerkan piala yang di dapatnya pada semua orang di perkebunan.


"Kamu kenapa sayang? Sejak tadi kamu selalu diam."


"Ya diam dong soalnya tidak di ajak bicara. Kan dari tadi kamu ngobrol sama Yeny terus." sindir Cyra.


"Kamu cemburu?"

__ADS_1


"Nggak cemburu tapi marah karena merasa tidak di hargai."


"Jangan marah sayang. Apalagi aku tidak mengingat dia itu siapa. Aku hanya sekedar menjawab pertanyaannya saja."


"Kamu pasti senang kan dengannya."


"Tidak sayang." Aroon berusaha meyakinkan istrinya yang tampak mulai emosi. Aroon menarik napas panjang agar emosinya juga tidak tersulut.


"Sudah mengaku saja. Pria kan seperti itu. Kalau istrinya jelek pasti selingkuh."


"Cyra."


"Iya kan. Ucapanku benarkan."


"Cyra cukup."


"Nggak aku masih sangat marah dengan sikapmu tadi."


"Sikapku? Kau menganggapku seperti seorang pria murahan." Aroon mulai meninggi. "Tuduhanmu tidak mendasar Cyra."


"Itu benar kan."


"Terserah dengan apa yang kamu katakan. Tapi kamu tidak menghargai aku. Kamu merendahkan harga diriku." Aroon pergi meninggalkan Cyra.


"Aroon.. Aroon." panggil Cyra. Tapi Aroon tetap pergi. Ia lebih memilih menghindar untuk menenangkan diri daripada nanti terjadi pertengkaran yang lebih hebat.


Cyra termenung melihat kepergian suaminya. Ia memutuskan kembali ke kamar dan berganti pakaian. Ia duduk di sofa merenungkan setiap perkataan suaminya.


Drrrtttt... Drrrttt... Drrrttt handphone nya berdering.


"Halo bu."


"Bagaimana kandunganmu?"


"Baik bu."


"Oya, mana nak Aroon."


"Tidak tahu."


"Kalian marahan ya?"


Cyra terdiam.


"Cyra, ibu tahu kamu baru hamil. Mood ibu hamil memang selalu berubah - ubah. Tapi ibu minta kamu tetap harus berpikir secara jernih. Nak Aroon itu suami yang cukup sabar. Kamu harusnya bersyukur mendapat suami seperti dia. Jangan kau turuti emosimu. Yang ada nanti kamu sendiri yang menyesal."


"Iya bu."


"Ibu tidak tahu apa yang kalian perdebatkan tapi ibu harap apapun perdebatan itu harus kamu selesaikan dengan baik. Jangan sampai membawa masalah dalam tidur."


"Baik bu."


"Ya sudah selesaikan masalahmu dengan suamimu. Ingat nak Aroon itu sangat mencintaimu, ia sabar menghadapi kehamilanmu."


Panggilan di akhiri. Cyra melihat sekelilinginya. Biasanya saat seperti ini Aroon sudah mulai memijat kakinya yang terkadang capek.


Aku sepertinya harus minta maaf. Tadi ucapanku keterlaluan pikir Cyra. Ia bergegas keluar mencari keberadaan Aroon tapi ia sama sekali tidak menemukannya. Ia teringat oleh sesuatu. Ya rumah lama. Cyra bergegas pergi ke sana dan benar. Ia menemukan suaminya sedang duduk di kursi santai.


"Hai." sapanya. Ia memeluk suaminya dari belakang. "Kau marah padaku?"


"Tidak." jawab Aroon.


"Maaf. Aku minta maaf." ucap Cyra. "Aku tersulut dengan emosiku sendiri. Aku sama sekali tidak mementingkan perasaanmu."


Aroon hanya terdiam. Cyra tidak menyerah begitu saja.


"Aroon sayang. Aku benar benar minta maaf." mata Cyra berkaca - kaca. "Jangan marah padaku. Aku mencintaimu." ia mulai terisak.


Aroon seperti tersadar. "Hei. Jangan menangis."


"Bagaimana aku tidak menangis. Kau marah. Kau tidak peduli denganku."


"Tidak sayang. Maafkan aku." Aroon membimbing Cyra duduk dipangkuannya. "Bukannya aku tidak peduli. Aku hanya menenangkan diri. Aku tidak mau emosiku akan mempengaruhi hubungan kita, bayi kita." Aroon mengusap lembut perut Cyra. "Kau tahu. Di dunia ini kau satu - satunya wanita yang aku cintai. Tidak pernah terbesit di dalam pikiranku untuk berpaling darimu sayang."


"Maafkan aku. Aku seharusnya tidak mengikuti emosiku. Aku harusnya bisa berpikir dengan jernih."


"Kita lupakan masalah ini, oke. Aku janji tidak akan meninggalkanmu seperti tadi. Maafkan aku Cyra, harusnya aku bisa lebih bersabar."


Cyra memeluk Aroon dengan erat. "Aku mencintaimu. Jangan pernah tinggalkan aku."


"Tidak akan sayang." Aroon membalas pelukan istrinya. "Cyra."


"Hmmm.. Ya."


"Mau bercinta di sini?"


"Tawaran yang menarik." Cyra tersenyum dan tanpa menunggu aba - aba. Ia menghujani suaminya dengan ciuman - ciuman panas.

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2