
Pagi ini setelah sarapan Cyra bersiap membawa Arthit ke dokter sekalian mengantar Gio ke sekokah. Ia sudah lama tidak mengantar putranya ke sekolah.
"Mae mau antar aku ke sekolah?"
"Iya, sudah lama aku tidak ke sekolahmu. Mae juga sekalian membawa Arthit ke dokter."
"Arthit sakit apa?" Gio membelai - belai adiknya yang tambah gembul.
"Mae belum tahu, ada lebam di pahanya." jawab Cyra. "Ayo kita berangkat."
Gio dan Cyra bersiap.
"Kalian mau kemana?" tanya Davira.
"Aku mau antar Gio sekolah sekalian periksa ke dokter."
"Siapa yang sakit?"
"Hmm.. Kau tahu kan kemarin paha Arthit merah dan malamnya berubah jadi biru seperti luka lebam."
"Apa jangan - jangan karena kemarin di gendong bik Tika?" lagi - lagi Davira menyebutkan kata bik Tika.
Cyra menghela napas panjang. "Aku tidak tahu. Aku tidak mau berprasangka yang tidak - tidak. Nanti jatuhnya fitnah." jawab Cyra. Ia sebenarnya malas karena Davira berusaha menggiring opini bahwa bik Tika lah yang melakukan itu semua.
"Maaf aku hanya mengemukakan pendapatku saja. Dan itu juga terserah padamu." jawab Davira.
"Terima kasih atas perhatiannya. Kami berangkat dulu."
"Hati - hati di jalan."
Cyra dan Gio masuk ke dalam mobil. Setelah sampai di sekolah Gio, Cyra segera ke rumah sakit. Tidak lupa ia memberikan pelukan untuk putranya itu. "Baik - baik di sekolah."
"Iya, Mae." setelah mencium kedua pipi Cyra dan Arthit. Gio segera masuk ke dalam sekolah. Cyra melanjutkan oerjalanan menuju ke rumah sakit.
"Bagaimana dok, anak saya sakit apa?"
"Ini seperti lebam karena benturan benda tumpul, di pukul atau di cubit."
"Tapi anak saya tidak pernah saya pukul dok."
"Mungkin baby sisternya atau bisa juga kakaknya karena gemas."
"Tidak ada dok."
"Coba ibu ingat - ingat lagi nanti di rmh. Sekarang saya akan memberi resep untuk lebamnya. Hanya di oles salep saja." ucap dokter. "Kalau malam rewel? Atau panas?"
"Tidak dok."
"Bagus, itu tandanya ini tidak berbahaya. Sekitar tiga hari nanti lebamnya hilang. Jika masih nanti kembali kemari, kita evaluasi bersama."
"Baik dok."
Setelah menerima resep Cyra segera antri obat. Tidak membutuhkan waktu yang lama Cyra sudah mendapatkan obat. Ia segera menelepon Aroon karena janji akan menjemputnya. Cyra duduk di kursi tunggu dan melakukan panggilan dengan suaminya.
Tuuut.. Tuuut.. Tuuut..
Lama Cyra menunggu jawaban dari suaminya dan akhirnya diangkat juga.
"Halo sayang." sapa Cyra.
"Oh maaf Cyra, HP nya Aroon ketinggalan." jawab Davira.
"Dimana dia?"
"Sedang di kamar mandi."
Cyra terdiam cukup lama. Buat apa dia bersama mantan istrinya di kamar mandi, pikiran Cyra kemana - mana. Ia berusaha menahan emosinya. "Bukankah tadi dia sedang menemui klien?"
"Aku tidak tahu, kami sedang mengobrol bersama kemudian perutnya mulas dan harus ke kamar mandi. Handphonenya dia titipkan padaku."
Oh ternyata malah ngobrol bersama Davira. Tadi katanya ketemu klien. Mana yang benar pikiran Cyra terganggu mendengar perkataan Davira.
"Baiklah. Tidak apa - apa. Nanti tolong sampaikan kalau aku sudah pulang dari rumah sakit."
"Oya hasil diagnosa dokter kenapa?"
__ADS_1
"Tidak apa - apa hanya lebam biasa."
"Syukurlah aku ikut senang." jawab Davira. "Aku kira karena bik Tika."
Lagi - lagi Davira memancing Cyra. "Davira, aku tidak mau berprasangka buruk ke orang tanpa bukti."
"Oh, maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu."
"Tidak apa - apa. Aku tutup teleponnya."
Cyra menutup teleponnya. Ia berusaha berpikir positif. Sambil menggendong Arthit ia mencari taksi.
Sepanjang perjalanan Cyra berusaha melupakan persoalan handphone yang ketinggalan. Ia takut jika terus di pikirkan akan terbawa sampai rumah yang ada nanti malah bertengkar. Nanti saja jika ada waktu ia akan bicara baik - baik dengan Aroon.
Cyra bercanda dengan Arthit. Ia melihat anaknya yang semakin mirip dengan Aroon. Kenapa wajahku tidak mirip dengan anakku sendiri. Tentu saja karena hampir setiap saat Aroon absen ke sana. Mengingat hal itu Cyra tersenyum sendiri.
Tak berapa mereka sampai. Setelah membayar taxi Cyra masuk ke dalam rumah.
"Cyra kamu sudah pulang?" Aroon keheranan melihat istrinya pulang. "Kenapa tidak meneleponku?"
"Sudah."
"Sudah? Kapan?"
Cyra berjalan masuk ke dalam kamar sedangkan Aroon mengikutinya dari belakang. Cyra kemudian meletakkan Arthit yang sudah tertidur.
"Sayang kau tidak menjawab pertanyaanku?"
"Sebentar Aroon, aku ke kamar mandi dulu. Kotor habis dari rumah sakit." Cyra masuk ke dalam kamar mandi dan berusaha menenangkan emosinya. Ia membasuh mukanya dan berganti pakaian.
Aroon menunggunya keluar dari kamar mandi. "Duduk sini sayang?"
Cyra tersenyum, ia duduk di sebelah Aroon dan dengan spontan Aroon memijit bahunya yang di kira capek karena menggendong Arthit.
"Aku tadi sudah meneleponmu." Cyra membuka pembicaraan.
"Benarkah? Kapan? Aku sama sekali tidak menerima telepon darimu."
"Mungkin kau tadi sedang ke kamar mandi?"
"Kalau tidak ke kamar mandi lantas kemana?"
"Aku tadi ketemu klien bersama Syamsudin, cukup lama kami berbincang - bincang. Kebetulan memang handohone ku tertinggal di kamar. Tapi waktu aku kembali untuk mengambil handphone tidak ada panggilan tak terjawab darimu."
Cyra melihat ada keanehan disini. Kenapa tadi Davira berbohong. Apa maksudnya. Kenapa dia jadi seperti orang jahat pikir Cyra.
"Oh mungkin tadi tidak ada sinyal." jawab Cyra akhirnya. Ia tidak mau memperpanjang masalah ini. "Aku tidak apa - apa sayang."
"Cyra aku minta maaf."
"Tidak apa - apa sayang."
Aroon memijit kaki Cyra juga. Tapi lama kelamaan tangannya nakal juga. Ketika Cyra memejamkan mata. Tangannya menyusup kedalam. Memainkan sesuatu yang ada di sana.
"Aroon stop." gumam Cyra dengan suara parau. Ia memejamkan mata menikmati sentuhan dari suaminya.
"Kau memyukainya?"
"Hmm.." jawab Cyra.
"Kau basah sayang." bisik Aroon.
Cyra tersadar, ia membelalakkan matanya. "Sudah ah, masih siang."
"Sudah terlanjur." jawab Aroon. "Lihat itu ASI mu sampai tumpah."
Cyra melihat ke arah bajunya yang sudah basah di bagian dada.
"Mau aku bantu sayang?" Aroon mengerlingkan matanya. Tanpa menunggu jawaban Cyra ia langsung melahap dua bukit kembar yang sekarang ia harus berbagi dengan Arthit.
🍀🍀🍀🍀
Sore ini Cyra menikmati suasana bersama kedua anaknya. Gio sedang asyik menggambar untuk tugas sekolahnya.
"Gio kau mau buah sayang?"
__ADS_1
"Mau."
"Apel atau jeruk?"
"Apel saja, Mae."
"Baiklah. Kamu tunggu sebentar di sini. Mae akan ambil apelnya."
"Iya."
"Tolong jaga Arthit."
"Siap Mae." ucap Gio. Cyra tersenyum karena Gio menjadi kakak yang baik buat Arthit. Cyra bergegas ke belakang untuk mengambil apel.
Tampak dari kejauhan Davira datang mendekat ke taman samping. "Sedang menggambar apa Gio?"
"Pemandangan alam."
"Tugas sekolah?"
"Iya." jawab Gio yang masih sibuk dengan lukisannya.
"Mae berharap sekolahmu lancar dan kau menjadi anak yang sukses." doa Davira. "Boleh Mae memelukmu?"
Gio menghentikan kegiatannya dan kemudian memeluk Davira.
"Good boy." pujinya sambil membelai rambut Gio. Setelah melepas pelukannya, Gio kembali menyelesaikan tugasnya.
Davira memandang ke arah stroller. Ia memperhatikan baby Arthit yang tertidur lelap. Davira mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ia kemudian menggoreskan benda itu di lengan Arthit hingga bayi itu menangis dengan keras.
Gio langsung menghampirinya. "Kenapa adikku?"
"Mae juga tidak tahu." jawab Davira panik. "Kamu disini dulu, aku akan memanggil Cyra." Davira segera bergegas menuju ke dapur.
Gio terlihat panik melihat adikknya yang tidak berhenti menangisnya. Ia memutuskan untuk menggendongnya. Gio berusaha menenangkan adiknya.
Sementara itu..
Cyra ke dapur sedang mengupas apel. Aroon datang dari belakang dan memeluknya.
"Untukku?"
"Bukan, ini untuk Gio. Dia belajar giat hari ini jadi aku mengupaskan apel untuknya."
"Aku jadi iri. Kau memanjakannya setiap hari."
"Hahahahhh.. Kau ini lucu. Cemburu dengan anak sendiri."
"Iya, apalagi Arthit. Dia sekarang pemilik utama dari ini." tangan Aroon menyusup ke dalam baju Cyra.
"Hei! Geli! Aku sedang pegang pisau."
"Ayolah, kau juga menikmatinya bukan." goda Aroon. Dan mereka tertawa bersama.
Sepasang mata melihat dengan tatapan tajam ke arah mereka berdua. Melihat interaksi mereka membuatnya menjadi cemburu. walau bagaimanapun ia dulu yang pernah berada di posisi itu. Davira menarik napas panjang dan menghempaskannya perlahan. Ia kemudian merubah mimik wajahnya menjadi panik.
"Cyra! Cyra! Cyra!" panggilnya panik.
Cyra meletakkan pisaunya dan Aroon segera menarik tangannya.
"Ada apa?"
"Arthit menangis. Aku tidak tahu yang terjadi."
Cyra berlari menuju ke taman samping dan diikuti Aroon di belakangnya.
Di sana ia melihat Gio yang tampak kewalahan menenangkan tangis Arthit.
"Apa yang terjadi Gio?" tanya Cyra. Ia segera mengambil alih Gio ke dalam gendongannya.
"Aku tidak tahu, ia tiba - tiba menangis dengan sangat keras dan tidak mau berhenti."
"Ya tuhan lengannya berdarah." tunjuk Davira.
Aroon segera melihat lengan Arthit. "Gio! Kamu apakan Arthit?!" teriaknya.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀