My Love Teacher

My Love Teacher
Bangkitlah Anakku


__ADS_3

"Iya bu." jawab Cyra. Ibu langsung memeluk Cyra anak semata wayangnya. Mereka terisak bersama. Ayah berusaha tegar setelah mendengar cerita dari anaknya. Dan mereka berpelukan bersama.


"Aku kotor bu! Aku kotor ayah!"


"Tidak nak, kau sama sekali tidak kotor. Jangan berkata seperti itu. Dimata kami kau tetap anak kami yang baik, yang suci, yang bersih. Kau kesayangan kami." ucap ibu sambil mengusap air mata yang jatuh di pipi Cyra.


"Benar yang dikatakan ibumu. Kau tetap sumber kebahagiaan kami."


"Lantas bagaimana dengan masa depanku ayah, siapa yang mau dengan gadis yang sudah tidak suci lagi ibu."


"Cyra kamu tidak perlu khawatir, kita serahkan semuanya sama tuhan. Kesucianmu terenggut karena paksaan bukan kemauanmu sendiri. Jika seorang pria mencintaimu dengan tulus ia tidak akan memperdulikan masa lalu mu. Ia akan menerimamu apa adanya."jawab ibu.


"Maafkan aku ayah, maafkan aku ibu. Sudah mengecewakan kalian."


"Tidak nak, kamu tidak bersalah sama sekali. Yang salah adalah ayah dan ibu yang tidak memperhatikanmu, membiarkanmu merantau mencari uang untuk kami."


"Cyra, bagaimana dengan tuan Aroon?"


"Ia berulang kali meminta maaf dan sangat merasa bersalah. Tapi aku masih trauma untuk berdekatan dengannya. Oleh sebab itu aku minta pulang ke Surabaya. Aku butuh waktu untuk menenangkan hati dan pikiranku."


"Nak, jangan terlalu menyalahkan tuan Aroon. Ia sendiri juga tidak sadar, itu bukan kemauannya. Kami tahu ia orang yang sangat baik. Penjahat itu yang mempermainkan kalian. Ibu yakin mereka akan mendapat balasan yang setimpal."


"Yang dikatakan ibumu itu benar Cyra. Satu - satunya cara untuk menenangkan hati kita adalah belajar memaafkan, ikhlas menerima ini sebagai bagian dari perjalanan hidup kita." ayah menasehati Cyra. "Ayah tahu ini pasti terasa berat oleh sebab itu lepaskan semua beban. Jika kamu ingin keluar dari pekerjaanmu dan kembali ke Surabaya kami tidak apa - apa, jika kamu memutuskan untuk terus bekerja bersama dengan tuan Aroon kami juga akan mendukung semua keputusanmu."


"Tenangkanlah pikiranmu di sini." lanjut ibu. "Ibu tahu kamu kuat menghadapi ini semua. Kami akan selalu mendukungmu dan membantumu menghilangkan rasa traumamu."


"Terima kasih ayah, ibu."


"Cyra kamu harus bangkit dari keterpurukan ini. Kembali ceria dan kuat seperti dulu lagi."


"Aku akan berusaha demi kalian."


Mereka bertiga berpelukan. Beban berat yang ada di pikiran Cyra seketika menjadi ringan. Beban itu telah terkikis oleh dukungan yang senantiasa di berikan oleh orang tuanya. Ia sudah mulai bisa tersenyum lagi. Memang semua itu butuh proses. Melupakan memang tidak bisa tapi ia bisa memaafkan dan bersahabat dengan keadaan.


"Apa yang akan kau lakukan setelah ini?" tanya ayah.


"Aku akan menikmati waktuku bersama kalian. Dan aku belum memikirkan apa aku akan kembali mengajar atau tidak."


"Pikirkan baik - baik Cyra. Tidak perlu terburu - buru, karena ini menyangkut masa depanmu."


"Siap ayah ibu."


🍀🍀🍀🍀


Sudah hampir satu minggu Cyra berada di rumah orang tuanya. Ia sudah mulai bisa tersenyum dan itu semua karena dukungan orang tuanya.


"Pagi - pagi sudah mandi mau kemana?" tanya ibu


"Mau ke kelurahan bu."


"Tumben, mau apa?"


"Itu ada kunjungan orang dari luar negeri, kata pak lurah mau studi banding masalah sistem tanam jagung di sini. Jadi aku di mintai tolong sebagai penerjemah."


"Lah apa nggak kebalik itu? Negara merekan lebih maju."


"Nggak bu, kita ini ekspor perkebunannya ke luar negeri bagus lo."

__ADS_1


"Ealah, ibu nggak tahu."


"Kita harus bersyukur, karena perkebunan di Indonesia banyak di akui maju oleh negara lain."


"Ya sudah kamu berangkat sana."


"Aku berangkat dulu ya bu." Cyra mencium kedua pipi ibu. Bergegas mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju ke kantor balai desa.


Ibu meneruskan pekerjaan di dapur. Ia bersama ayah sedang menyiapkan pupuk untuk di bawa ke sawah. Pekerjaan mereka terhenti karena ada suara ketukan pintu.


"Yah, sepertinya ada tamu."


Ayah menghentikan kegiatannya. "Ah nggak ada. Aku tidak dengar suara apa - apa bu."


"Ada pak. Aku mendengar dengan jelas."


"Ya sudah sana kamu lihat dulu untuk memastikan."


"Baiklah aku tinggal dulu pak." Ibu berjalan menuju ke arah depan dan terkejutlah ia dengan siapa yang datang. "Tuan Aroon?"


"Selamat pagi bu?'


"Pppagi. Mari silahkan duduk." ibu tampak terbata - bata karena tidak menyangka Aroon akan datang ke Surabaya. "Hmmm.. Saya panggilkan bapak dulu." ibu masuk ke dalam dan segera menemui bapak.


"Siapa tamunya?"


"Tuan Aroon."


"Hah tuan Aroon? Ngapain dia kesini bu? Cyra kan baru saja tenang."


Ayah dan ibu segera keluar menemui tuan Aroon. Ekspresi ayah tidak seperti biasa sedangkan ibu menjadi agak canggung setelah apa yang sudah ia perbuat terhadap Cyra. Mereka sempat terdiam beberapa saat kalut dengan pikiran masing - masing, sampai Aroon membuka pembicaraan.


"Saya mencari Cyra."


"Dia di kelurahan." jawab ayah.


"Bisa saya bicara sebentar?"


"Buat apa tuan, Cyra sudah mulai tenang."


"Bapak dan Ibu tahu tentang kejadian itu?"


"Tahu. Cyra sudah cerita. Walaupun itu sepenuhnya bukan kesalahan tuan, tapi saya sebagai orang tua merasa sedih karena perjalanan hidup anak saya." ayah menjelaskan panjang lebar. Sedangkan ibu memilih diam, jika ia ikut berbicara yang keluar hanyalah suara tangisan.


"Saya benar - benar minta maaf pak, bu." ucap Aroon, tampak kesungguhan dari sorot matanya. "Saya sudah lalai menjaga Cyra."


Ayah menarik napas panjang. "Apa yang tuan Aroon inginkan terhadap anak saya? Saat ini ia sedang memulihkan mentalnya."


"Saya tahu, Cyra butuh banyak waktu untuk bisa menerima keadaan ini. Saya hanya ingin melihat keadaannya saja. Terus terang Gio sangat merindukannya."


"Cyra memang kami beri pilihan. Untuk tetap bekerja pada tuan atau memilih berhenti. Tapi sampai saat ini ia belum memberikan jawaban."


"Berhenti? Kenapa?"


"Yah, jika Cyra masih merasa trauma dengan anda maka berhenti dari pekerjaan ini adalah jalan yang terbaik. Apalagi mana tega saya membiarkannya bekerja di tempat yang sudah membahayakannya."


"Saya berjanji akan menjaganya."

__ADS_1


"Bagaimana tuan akan menjaganya. Banyak yang harus tuan perhatikan, pekerja tuan juga banyak, urusan dan bahkan musuh tuan juga banyak."


"Pak saya berjanji akan ekstra menjaga Cyra." Aroon berusaha mayakinkan kedua orang tua Cyra. "Oya bagaimana dengan anak saya? Dia sudah terlanjur dekat."


"Saya harap tuan jangan egois. Tuan mementingkan kepentingan anak tuan begitupun dengan saya. Apapun akan saya lakukan demi anak saya." ucap ayah. Ibu memegang tangan ayah karena nada ayah yang sudah meninggi.


Aroon terdiam. Dalam hati ia membenarkan ucapan ayah. Orang tua mana yang tega melihat masa depan anaknya dirusak.


"Saya akan bertanggung jawab?"


"Bertanggung jawab? Bertanggung jawab bagaimana yang tuan maksud?'


"Saya.. Saya akan___."


"Tuan sendiri bingung dengan perkataan tuan sendiri."


"Tuan Aroon, beri Cyra sedikit waktu. Dia sendiri yang nanti akan memberi jawaban untuk tuan." ibu mulai berbicara. "Sekarang lebih baik tuan pulang."


Aroon masih terdiam, ia memaklumi perubahan sikap kedua orang tua Cyra. Dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi. "Baiklah pak, bu saya akan pamit pulang. Tolong sampaikan salam dari Gio untuk Cyra." Aroon beranjak dari tempat duduknya dan pergi keluar.


"Pak apa tadi, kita tidak keterlaluan?" tanya ibu cemas.


"Ya tidak to bu. Kita itu membela Cyra jangan sampai dia tersakiti bekerja di sana." jawab Ayah. "Ayo kita lanjutkan pekerjaan kita."


🍀🍀🍀🍀


Sebelum pulang Aroon pergi ke kelurahan ia ingin melihat Cyra dan memastikan kalau dia baik - baik saja. Walaupun sejatinya ia merindukan keceriaannya. Ia memutuskan mendatangi balai desa dimana Cyra pergi sesuai dengan keterangan dari ayah.


Ia melihat banyak orang berkerumunan di sana. Ternyata banyak warga yang ingin bersalaman bahkan berfoto dengan bule - bule.


"Permisi apa anda yang melihat Cyra?"


"Oh Cyra. Tadi sih ada." jawab wanita itu sambil celingukan mencari Cyra. "Eh mas nya ini bule juga ya. Minta foto dong.'


"Bukan, saya orang sini saja."


"Oh ganteng sih."


"Hmmm kalau begitu saya permisi."


"Eh mas coba tanya bapak itu, tadi Cyra berdiri sebelahan sama dia."


"Terima kasih." Aroon pergi mendekati pria itu. "Maaf apa anda tahu di mana Cyra?"


"Cyra? oh ya.. ya.. tadi dia sudah pulang. katanya mau ke sungai."


"Terima kasih." Aroon pergi meninggalkan kerumunan warga itu dan pergi ke sungai.


Antara balai desa dengan sungai lumayan dekat hanya sekitar lima belas menit kalau naik kendaraan. Tak berapa lama Aroon sampai di sana, ia melihat sepeda yang biasa Cyra bawa terparkir di sana dan juga ada sebuah sepeda motor entah milik siapa. Aroon turun dari mobil dan menutup pintunya dengan hati - hati.


Ia berjalan dengan perasaan tak menentu dan sedikit ragu. tapi rasa penasaran, rindu yang ingin melihat keadaannya mengalahkan semuanya.


Tapi alangkah terkejutnya ketika di sana ia melihat Cyra tidak sendirian. Ia di sana duduk berdua sambil ngobrol dan tertawa dengan orang yang sangat ia kenal. Itu adalah Aryo anak pak Sapto yang akan di jodohkan dengan Cyra.


Sial! kenapa aku geram melihat kedekatan mereka berdua! umpat Aroon dalam hati. Tangannya mengepal erat menahan emosi. Akhirnya ia segera pergi dari tempat itu dengan menelan pil pahit. Bahwa ternyata Cyra baik - baik dan sama sekali tidak mengingat dia dan Gio


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2