My Love Teacher

My Love Teacher
Pergi Dari Sini Billy


__ADS_3

"Cyra sementara kau tinggal disini sampai orang tuamu datang."


"Terima kasih Pak Uo. Maaf kalau aku merepotkan."


"Tidak apa - apa. Kau sudah aku anggap sebagai anakku sendiri." Syamsudin membawa koper Cyra masuk ke dalam kamar. "Kau bisa tenang di sini. Aku jamin tidak ada yang akan mengganggumu terutama nona Denisha."


"Semoga saja Pak Uo."


"Dan juga tuan."


"Tuan?"


"Iya, dia tidak tahu kamu pindah ke sini. Tahunya kamu sudah kembali ke Surabaya."


"Dari mana Pak Uo tahu."


"Tadi Sulaiman yang cerita. Tuan kelihatan syok dengan kepergianmu."


Cyra hanya terdiam. Ia harus busa mulai menata hati dan hidupnya agar pikirannya tidak di perkebunan terus. Dan juga ia perlu mencari pekerjaan yang baru.


"Cyra."


"Ya Pak Uo."


"Jangan melamun. Tidak usah terlalu banyak pikiran. Ingat kesehatanmu." ucap Syamsudin. "Oya di sini ada sebuah sepeda motor. Bisa kau gunakan jika keluar cari makan atau refresing sebentar."


"Terima kasih Pak Uo." Cyra membuka koper dan mulai menata bajunya ke dalam almari. Syamsudin membantunya membersihkan rumah.


Cyra juga berusaha menyibukkan diri. Ia mulai mengepel dan juga membersihkan debu - debu yang menempel.


"Aku keluar beli bahan makanan di pasar."


"Nanti biar aku saja Pak Uo."


"Sudah, kamu lanjutkan bersih - bersihnya. Ingat jangan terlalu capek."


"Ya baik."


Syamsudin keluar untuk membeli bahan makanan selama Cyra tinggal di sana. Akan tetapi tiba - tiba handphonenya berdering. Syamsudin segera minggir dan menghentikan laju mobilnya.


"Halo tuan."


"Kemana kamu?"


"Saya keluar sebentar tuan."


"Kau bersama keponakanmu itu?"


"Tidak tuan."


"Jangan berani bohong padaku! Orang perkebunan melihat kau membawanya."


"Saya hanya mengantarnya ke terminal."


"Jadi benar dia pulang ke Surabaya?"


"Benar tuan."


"Dasar gadis bodoh! Mendengar Gio tidak membutuhkannya langsung saja main pergi."


"Maaf tuan keponakan saya itu orang yang berkomitmen. Dan terus terang saja apa yang tuan lakukan padanya hingga timbul kesalah pahaman sungguh saya sangat kecewa."


"Kau tidak tahu apa - apa Syam. Jangan terlalu banyak berkomentar!"


"Saya tahu keponakan saya itu orang yang lugu, tulus. Tapi jika dia mendapat tuduhan suka menggoda tuan terua terang saya juga merasa sakit hati."


"Siapa yang menuduh seperti itu?! Berani - beraninya!"


"Tuan tanyakan sendiri pada Billy asisten nona Denisha."


Aroon terdiam sejenak. "Jawab pertanyaanku. Dimana Cyra sekarang? Aku harus bicara dengannya."


"Dia sudah pulang tuan."


"Pesankan tiket pesawat untuk hari ini."


"Baik tuan."


"Syam."


"Ya tuan."

__ADS_1


"Aku minta maaf ataa semua yang terjadi pada keponakanmu itu. Dan untuk Billy akan segera aku urus."


"Terima kasih tuan atas keadilan yang di dapat keponakan saya."


Panggilan di akhiri. Setelah itu Syamsudin hanya terdiam di dalam mobil. "Maafkan saya tuan. Terpaksa saya lakukan demi ketenangan keponakan saya." gumam Syamsudin. Ia kemudian menyalakan mobilnya dan segera ke pasar.


Syamsudin juga berbohong mengenai tiket pesawat. Ia mengatakan kalau tidak ada tiket pemberangkatan ke Surabaya. Adanya besok pagi. Akhirnya Aroon memutuskan menyusul Cyra kewsokan paginya. Padahal gadis itu masih ada di Bogor.


"Cyra."


"Ya Pak Uo."


"Bawa ini kebelakang."


"Qah Pak Uo belanjanya banyak sekali. Aku kan tinggal disini hanya beberapa hari saja. Kalau ayah dan ibu.puoang lagi ke Surabaya aku akan ikut."


"Kau sudah menyiapkan alasan tentang pemecatanmu?"


"Aku akan berkata terus terang. Toh ayah juga awalnya tidak mengijinkan aku kembali lagi bekerja di perkebunan sejak tahu tentang penculikan itu."


"Baiklah. Aku menghargai keputusanmu. Apalagi berbohong juga bukan hal yang baik."


"Aku ke dapur dulu. Pak Uo mau aku masakkan apa?"


"Apa saja. Terserah."


Cyra segera membawa barang belanjaan dan berkutar di dapur.


Sementara itu.


Aroon dengan langkah cepat menuju ke rumah utama. Tapi baru sampai di ruang tamu Denisha sudah menghadangnya.


"Aroon aku mencarimu. Kau harus segera memanggil polisi." wajah Denisha terlihat sangat panik.


"Ada apa?"


"Billy! Billy!" panggil Denisha. Billy segera datang dengan wajah babak belur. Sejenak Aroon tampak kaget. "Lihat ini.. Wajah Billy babak belur seperti ini. Kau tahu siapa yang melakukannya?"


"Tidak."


"Cyra yang melakukannya! Beraninya dia menghajar asisten pribadiku. Kau harus melaporkan hal ini ke polisi. Billy berhak mendapat keadilan." desak Denisha.


Aroon masih terdiam.


"Beruntung dia pergi dari sini. Gadis bar bar seperti itu tidak layak menjadi guru Gio."


"Cukup! Cukup!" teriak Aroon yang membuat Denisha sangat terkejut. "Kau kira aku tidak tahu apa yang sudah diperbuat asiatenmu! Pukulan itu layak kau dapatkan."


"Tapi Aroon____."


"Kau tidak perlu membela orang seperti dia. Dan mulai sekarang aku putuskan untuk mengeluarkanmu dari rumahku." usir Aroon.


"Apa?!" teriak Denisha dan Billy tidak percaya.


"Aroon kau harus pikirkan lagi!"


"Tidak Denis. Sekali aku bilang keluar ya harus keluar."


"Kau tidak adil." Denisha mengumpat sambil pergi meninggalkan Aroon.


Aroon sama sekali tidak memperdulikan. Ia bergegas menuju ke kamarnya dan segera menyiapkan pakaian yang akan ia bawa besok.


Sementara itu..


"Bagaimana ini nona? Apa aku harus tinggal di jalanan." Billy menangis.


"Diam! Aku juga sedang berpikir. Kau juga, kenapa kau membuat masalah. Bukankah aku hanya menyuruhmu memastikan kalau dia akan pergi."


"Iya, tapi mulutku gatal jika tidak mengumpatnya."


"Kau itu. Harusnya mulutmu kau jaga. Beruntung rencana kita berhasil. Gadis itu sudah pergi. Jika gara - gara perkataanmu malah membuatnya tidak jadi pergi. Aku pastikan kau akan mendapat pukulan dariku hingga tidak bisa jalan."


"Jangan nona. Aku akan menjaga mulutku."


"Bagus."


"Terus ini bagaimana?"


"Aku akan menyuruh orang menyiapkan rumah sewa di sekitar sini. Kau tinggallah di sana untuk sementara. Beri aku waktu untuk membujuk Aroon hingga kau bisa kembali lagi ke sini."


"Berapa lama nona?"

__ADS_1


"Aku belum tahu. Saat ini Aroon sama sekali tidak bisa di bujuk. Tapi aku berjanji akan melakukan secepatnya."


"Terima kasih nona."


"Kemasi pakaian dan barang - barangmu. Dan ini uang untuk mencukupi kebutuhanmu selama tinggal di luar."


Denisha memberi Billy uang dan bergegas menyuruhnya pergi. Karena Aroon sudah tidak mau melihatnya. Jika Aroon masih melihatnya berkeliaran di sekitar perkebunan bisa di pastikan ia akan murka.


🍀🍀🍀🍀


Sore ini Cyra keluar untuk menjemput orang tuanya. Ia memanggil taksi dan segera menuju ke stasiun. Setelah menunggu hampir tiga puluh menit akhirnya ia bertemu dengan kedua orang tuanya. Mereka berpelukan dalam waktu cukup lama.


"Eh kamu tidak bekerja? Sudah ijin tuan kalau mau jemput ayah ibu?"


"Kamu ini lo bu. Baru saja datang kok anak sudah diberondong dengan berbagai pertanyaan." bela ayah.


"Iya nih ibu. Ayo kita ke rumah Pak Uo dulu. Tuh audah di tunggu taksi."


Mereka bertiga segera naik taksi. Tas dan oleh - oleh dimasukkan ke dalam bagasi. Ayah dan ibu merasa sangat senang melihat keindahan kota Bogor.


"Adem ya yah. Hawanya sejuk." ibu membuka jendela untuk merasakan angin yang masuk ke dalam taksi.


"Ya sebutannya saja kota hujan." jawab ayah.


"Pantas saja kulitmu tambah putih Cyra." puji ibu. "Coba kalau kau mengikuti keinginan ayah kerja di sawah. Sudah pasti kulitmu hitam legam seperti kami."


"Hahahahhh.." Cyra tergelak. "Ibu ini ada - ada saja. Kerja dimana pun sama bu. Pasti ada resikonya."


"Cyra kami akan menginap selama satu minggu. Kau tidak keberatan kan?"


"Tentu saja tidak, ayah. Aku justru merasa sangat senang." jawab Cyra. "Aku nanti akan mengajak ayah dan ibu jalan - jalan."


"Wah, kita bisa melepas penat di sini." ucap ibu senang. "Oya Ra, ibu kemarin buat jenang nanti bisa kamu bagi dengan orang - orang di perkebunan. Hmmm siapa itu namanya yang mulutnya maju?"


"Omar." jawab Cyra.


"Eh, jangan mengejek orang." ayah memperingatkan.


"Iya.. Iya yah. Maaf." ucap ibu. "Nah ya Omar, dia kayaknya yang paling suka jenang buatan ibu."


"Iya.. Iya nanti aku bagikan semua." ucap Cyra.


Tak berapa lama mereka akhirnya sampai di rumah Syamsudin.


"Oh ini rumahnya Syam. Bagus juga." puji ibu.


"Iya, tapi Pak Uo tidak tinggal di sini. Ia dibuatkan rumah juga di perkebunan." Cyra memgeluarkan tas dan oleh - oleh dari bagasi, kemudian membawanya ke dalam rumah.


"Wah tuan Aroon baik juga."


"Beberapa orang kepercayaan tuan di buatkan rumah di area perkebunan. Tujuannya memudahkan tuan untuk berkoordinasi."


"Tanah tuan Aroon luas?"


"Iya, sangat luas." jawab Cyra. "Ayah dan ibu nanti tidur di kamar itu. Sprei dan selimutnya sudah aku ganti." Cyra menjelaskan. Ayah hanya mengangguk ia masih mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Ayah dan ibu mau minum apa?"


"Seperti biasa. Kopi buat ayah dan teh buat ibu." jawab ibu.


"Ya sebentar aku buatkan." Cyra bergegas menuju ke dapur dan membuatkan minum untuk kedua orang tuanya. Tak berapa lama ia keluar dengan membawa nampan berisi minuman hangat.


"Ayah, ibu. Ayo di minum dulu."


Ayah dan ibu kemudian duduk di sebuah sofa. Sambil menikmati minuman hangat mereka.


"Ra."


"Ya bu."


"Kapan - kapan ajak kami keliling perkebunan tuan Aroon. Aku yakin tuan pasti mengijinkan."


Cyra hanya diam. "Sepertinya tidak bisa." jawab Cyra. Ayah dan ibu saling berpandangan mendengar jawaban Cyra. Dari sorot mata sepertinya mereka tidak mengerti.


"Tuan tidak memperbolehkan sembarang orang masuk?" tanya ayah.


Cyra menggeleng.


"Lantas apa alasannya?"


"Karena aku sudah tidak bekerja di sana lagi." jawab Cyra lirih

__ADS_1


"Apa!" teriak mereka berdua.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2