My Love Teacher

My Love Teacher
Davira


__ADS_3

Sudah satu bulan tanpa terasa umur baby Arthit. Ia sangat sehat dengan badan yang gemuk. Setelah pulang sekolah Gio selalu bermain sebentar dengan Arthit.


"Cyra." panggil Aroon yang duduk di sofa.


"Ya."


"Bagaimana kalau rumah yang lama kita renovasi?"


"Buat apa? Toh masih bagus. Dulu waktu aku tinggal disana juga baru saja di perbaiki."


"Aku punya rencana rumah itu aku jadikan taman bermain untuk Gio dan Arthit. Jadi mereka bisa bermain tanpa harus kepanasan atau kehujanan."


"Yah tidak apa - apa sih, bagus kalau kamu punya rencana seperti itu. Tapi anak - anak harus bermain di outdoor juga untuk menambah imun mereka."


"Yah aku pikir Arthit masih kecil, dia mungkin belum butuh bermain di luar ruangan. Apalagi kalau malam hari."


"Kapan kami akan memulai renovasi?"


"Bagaimana kalau minggu depan. Hanya menambah mainannya saja."


"Baiklah aku setuju." jawab Cyra.


Aroon beranjak dari duduknya dan menghampiri istrinya. "Sepertinya kamu sudah selesai." Aroon memeluk istrinya dari belakang.


"Tahu dari mana?"


"Semalam aku mengintipnya. Dan kau sudah tidak menggunakan pembalut lagi."


"Terus." Cyra masih membereskan pakaian - pakaian Arthit.


"Ayolah kakiku sudah sembuh dan sudah lama aku tidak memasukimu."


"Pakai pelindung, nanti yang ada aku hamil lagi." ucap Cyra.


"Siap nyonya, aku sudah membelinya."


"Kau nakal."


Aroon segera menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Aroon."


"Hmm.."


"Kau tidak akan bosan denganku kan?"


"Kenapa mesti bosan?"


"Sekarang aku gendut karena habis melahirkan."


"Siapa bilang gendut. Ini berisi sayang. Ini mu tambah padat." ucap Aroon sambil memegang bukit kembar yang sekarang ia harus berbagi bersama Arthit. "Ini juga padat." ucap Aroon lagi sambil memegang bokong istrinya. "Cyra aku mencintaimu dengan tulus. Aku tidak peduli jika fisikmu berubah. Karena aku mencintai hatimu bukan fisikmu."


Cyra tersenyum. Ia mengecup bibir suaminya. "Aku mencintaimu." ucapnya dengan suara bergetar.


"Aku lebih mencintaimu." balas Aroon.


"Kau boleh memasukiku tuan Aroon. Buat aku selalu menjerit."


"Pasti nyonya."

__ADS_1


Aroon menghujani istrinya dengan ciuman - ciuman panas. Entah berapa lama Aroon bermain - main dengan milik istrinya.


🍀🍀🍀🍀


Pagi itu Cyra mengajak baby Arthit jalan - jalan di perkebunan. Ia akan menemui Aroon yang sedang bekerja.


"Hai anak Phoo, tambah gembul saja." Aroon menggendong bayinya dan menciumnya berkali - kali.


"Sudah, lihat itu pipinya merah."


"Kalau begitu gantian ibunya yang aku ciumi." Aroon sambil menggendong Arthit menghujani Cyra dengan ciuman - ciuman.


"Aroon, malu di lihat pekerja."


"Oh, sekarang kau malu. Dulu waktu hamil Arthit kau justru marah besar ketika aku bilang seperti itu."


"Benarkah?" Cyra terbelalak tidak percaya.


"Huh, Mae mu pura - pura lupa." ucap Aroon ke bayinya. Ia kembali menciumnya dan terkadang mengajaknya mengobrol hal - hal kecil.


Sudah cukup Aroon bermain dengan Arthit ia menaruhnya kembali ke atas stroller.


"Cyra."


"Ya."


"Besok adalah hari kematian Davira. Biasanya aku dan Gio akan berkunjung ke makamnya. Jika kamu mau, kamu bisa ikut." ucap Aroon pelan. Ia begitu menjaga perasaan Cyra.


"Tentu saja. Besok aku akan mempersiapkan semuanya." ucap Cyra antusias. "Terima kasih sudah mau mengajakku ke sana." ia mencium sekilas pipi Aroon.


"Kau tahu aku benar - benar takut kau akan berpikir yang tidak - tidak misalnya cemburu atau apalah itu. Aku mencintaimu Cyra. Sekarang yang ada di dalam hatiku cuma kamu."


"Iya aku tahu. Bukankah aku pernah mengatakan bahwa aku tidak cemburu dengan Davira. Karena ia adalah bagian dari hidupmu maka ia juga bagian dari hidupku."


"Bagaimana sifatnya dulu?"


"Davira itu orang yang lembut dan perasa. Jika ada sesuatu yang mengena di hatinya ia akan menangis. Dulu pernah ada anak salah satu pekerja yang terjatuh dari pohon, Davira menangis dan butuh waktu untuk menenangkannya. Sifatnya yang welas asih membuat banyak pekerja merasa kehilangan ketika ia meninggal dunia."


"Gio pasti sedih kehilangan dia."


"Sebenarnya Gio tidak terlalu mengerti, saat itu umurnya baru dua tahun, ia menangis ketika mencari Davira tapi tidak bisa menemukannya."


"Aku berdoa agar Davira berada di tempat yang paling indah di sana."


"Terima kasih sayang."


🍀🍀🍀🍀


Hari peringatan kematian Davira tiba. Cyra sudah membeli tiga rangkaian bunga untuk di bawanya ke pemakanan umum. Untuk sementara Arthit ia tinggal karena tidak mungkin bayi di ajak ke tempat pemakaman umum.


Aroon mengenakan kemeja warna hitam begitu juga dengan Gio. Ketika ke pemakaman Gio sudah tidak sesedih dulu karena ia sudah punya Cyra dan keluarga yang baru.


"Terima kasih sudah menyiapkan ini semua."


Cyra mengancingkan kemeja Aroon. Ia mencium bibir suaminya sekilas. "Aku janji akan selalu mencintaimu."


"Ah kenapa kau seperti itu?"


"Loh memang aku kenapa. Ada yang salah?"

__ADS_1


"Itu membuatku menginginkanmu." Aroon mengangkat tubuh Cyra dan mendudukkannya di meja.


"Hei jangan. Sebentar lagi kita berangkat."


"Salah siapa tadi memancingku."


Tangan Aroon sudah menjelajah kemana - mana dan tiba - tiba___.


Tok! Tok! Tok!


"Maaf tuan mengganggu sebentar."


Aroon menghentikan kegiatannya. "Ada apa?"


"Ada tamu tuan." jawab Omar dari luar.


"Suruh tunggu sebentar." perintah Aroon. Ia kembali mencium istrinya.


"Maaf tuan, ini penting." Omar memaksa dari luar kamar.


"Aaggrrhh.." Aroon memgacak rambutnya karena kesal. "Tunggu sebentar sayang, aku urus curut itu sebentar. Awas saja kalau tidak penting." gerutunya.


Aroon membenahi bajunya begitu juga dengan Cyra. Aroon segera membuka pintu. "Ada apa?"


"Ada tamu."


"Aku tahu ada tamu tapi siapa?" Aroon meninggikan suaranya karena kesal.


"Lebih baik tuan lihat sendiri." jawab Omar sambil menunduk.


"Kamu ngerjain aku."


"Tidak sama sekali tidak tuan." jawab Omar gugup. Mendengar suaminya yang agak marah Cyra mendekat untuk menenangkannya.


"Kita lihat saja bersama - sama. Siapa tahu Omar memang tidak kenal tamunya."


"Saya kenal, bu Cyra. Tapi lebih baik tuan melihatnya sendiri."


"Awas kalau sampai aku tidak kenal atau tamu yang tidak penting. Aku pastikan kamu mencangkul setiap hari.


"Sudah jangan marah - marah. Kita lihat tamunya, terus setelah itu kita ke makam. Mumpung Arthit masih tidur." Cyra berusaha membuat suaminya tidak emosi.


"Baiklah ayo."


Aroon dan Cyra berjalan beriringan menuju ke ruang tamu. Tiba - tiba saja Aroon menghentikan langkahnya ketika melihat siapa orang yang sedang duduk di sana.


Cyra menatap suaminya yang tampak terkejut dengan wajah pias dan pucat. Lalu pandangannya beralih pada seseorang yang sedang duduk di sana. Seorang wanita yang hampir seumur suaminya, cantik, keibuan. Siapa wanita itu pikir Cyra.


Wanita itu memandang Aroon dengan mata yang berkaca - kaca. "Aroon." ia berlari memeluk Aroon. Dan tentu saja Cyra terkejut dengan aksi yang dilakukan wanita itu. Dengan spontan ia menghalaunya.


"Siapa kamu?" tanya Cyra.


"Tunggu, biarkan aku memeluk suamiku."


Deg.. Deg.. Deg.. Jantung Cyra berdetak tidak karuan. "Suami?" ucap Cyra lirih seakan tidak percaya. Sejak kapan suaminya memiliki dua istri atau menikah lagi. "Aroon." panggilnya ke suaminya seakan meminta penjelasan. Aroon yang dari tadi terdiam dan tampak sangat terkejut seakan tersadar.


"Aroon, siapa dia?" tanya Cyra kagi.


"Davira." jawab Aroon lirih. Tapi cukup jelas di telingan Cyra dan membuatnya sangat terkejut dengan kata yang keluar dari mulut Aroon.

__ADS_1


Bagaimana mungkin Davira hidup lagi.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2