My Love Teacher

My Love Teacher
Memulai Penyelidikan


__ADS_3

Pagi ini Sulaiman berangkat ke Singapore. Dia sudah mencari informasi di rumah sakit mana saja yang melayani jasa operasi plastik. Tugasnya sangat berat karena banyak rumah sakit yang harus ia datangi. Itu pun tidak semua rumah sakit mau membuka informasi mengenai pasien.


Tapi karena Aroon memiliki seorang teman yang bekerja di kepolisian Singapore, membuat langkah Sulaiman menjadi mudah.


Syamsudin tetap berada di perkebunan untuk menjaga situasi. Jika dia juga ikut pergi justru akan menimbulkan kecurigaan Davira.


Sore itu Syamsudin sedang ngobrol santai di gazebo bersama Cyra.


"Kau yakin dengan dugaanmu itu?"


"Hatiku mengatakan sangat yakin. Tidak masalah kan kalau kita mencari informasi. Kalaupun ia bukan Denisha, kita juga harus tahu siapa dia karena dia bukan Davira."


"Aku takut dengan keselamatan mu dan anak - anakmu."


"Pak Uo tenang saja. Aku yakin bisa mengatasi masalah ini bersama dengan Aroon. Dia adalah kepala keluarga yang bertanggung jawab dan menjaga kami semua."


"Masalah ini datang lagi. Aku kira dengan tidak adanya Denisha dan Biantara kalian akan menjadi keluarga yang bahagia."


"Aku sangat bahagia Pak Uo. Ingat setiap orang hidup akan selalu mendapat cobaan dari sang pencipta. Entah itu dari suami, anak, keluarganya bahkan sampai dengan tetangganya."


"Kamu benar juga. Tuan Aroon tidak salah memilih istri." puji Syamsudin.


"Ah Pak Uo bisa saja."


"Oya. Orang tuamu tahu soal ini?"


"Tidak Pak Uo. Ayah dan Ibu sudah sibuk di sana. Aku tidak mau menambah beban pikiran mereka. Aku hanya ingin mereka tahu bahwa aku di sini sangat bahagia. Dan memang itu nyatanya. Aku memiliki suami yang bertanggung jawab dan juga anak - anak yang lucu." jawab Cyra.


Syamsudin lagi - lagi tersenyum, ia di buat kagum oleh keponakannya sendiri. "Sudah ada kabar dari Sulaiman?"


"Hari ini setelah sampai dia akan berkoordinasi dengan teman Aroon yang ada di sana. Mereka juga akan merencanakan langkah - langkah penyelidikan. Perlu waktu yang cukup lama untuk bisa mengumpulkan informasi di negara orang lain."


"Kamu benar. Mudah - mudahan saja mereka bisa mengumpulkan informasi itu secepatnya."


"Mudah - mudahan."


"Cyra, aku akan kembali mengecek semuanya. Karena sebentar lagi malam."


"Iya pak Uo."


Sepeninggal Syamsudin, Cyra kemudian masuk ke dalam rumah. Arthit di jaga oleh bik Tika.


Kebetulan ketika melewati ruang tengah ia bertemu dengan Davira yang tampak anggun sedang membaca buku.


"Cyra."


"Ya."


"Darimana?"


"Aku dari perkebunan."


"Duduklah di sini sebentar. Aku butuh teman ngobrol."


"Baiklah." Cyra segera duduk di samping Davira. Tujuan sebenarnya adalah ia ingin mengetahui Davira dari dekat.


"Oya sebentar lagi Gio akan naik ke kelas dua. Dan aku yakin ia akan menjadi juara kelas."


"Iya, dia anak yang pintar."


"Menurutmu hadiah apa yang cocok dengannya." tanya Davira.


"Dia suka membaca dan melukis. Kau bisa memilih salah satunya. Buku atau peralatan melukis."


"Benar juga. Aku akan membeli dua - duanya."

__ADS_1


"Kau punya uang? Padahal kau tidak bekerja?" selidik Cyra.


"Oh.. Hmmm.. Aku bekerja kok."


"Dimana? Kenapa tidak kau lanjutkan?"


"Aku.. Aku bekerja di sebuah perusahaan."


"Woww.. Kamu hebat." puji Cyra. "Di perusahaan apa?"


"Hmmm di Golden Company. Sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti."


"Wah, kalau Gio mendengarnya ia pasti bangga." puji Cyra lagi.


Davira hanya menanggapi dengan senyuman.


Cyra memandang wajah Davira dengan seksama. Dan ada satu yang membuatnya curiga.


"Davira." panggil Cyra dengan tatapan aneh.


"Ya, ada apa?" Davira tampak salah tingkah dengan tatapan Cyra.


"Wajahmu kenapa merah - merah. Kamu iritasi atau alergi?"


"Hah benarkah." Davira memegang wajahnya.


"Iya banyak sekali. Kalau alergi segera ke dokter."


"Iiya.. Kalau begitu aku ke kamar dulu."


Davira dengan cepat meninggalkan Cyra sambil menutupi wajahnya. Dan kesimpulan Cyra pasti itu efek operasi plastiknya. Segala sesuatu yang bukan ciptaan tuhan pasti tidak akan bertahan dengan lama.


Cyra juga memberitahu Aroon tentang Golden Company, perusahaan dimana Davira bekerja. Apakah memang betul di Singapore ada perusahaan itu.


Sebelum kembali ke kamar Cyra mampir ke kamar Gio sebentar.


"Aku baru mengerjakan PR."


"Tumben di kerjakan malam. Biasanya sore sudah kamu kerjakan."


"Besok tugasku banyak. Aku kesulitan membagi waktu."


"Hmm.. Boleh Mae memberi saran?"


"Boleh."


"Jadi kamu harus menulis lagi semua kegiatan rutin yang kamu lakukan beserta dengan jamnya. Setelah itu kamu masukkan kegiatan tidak rutin di sela - sela jam kosongmu. Jika sudah tidak ada itu artinya kamu harus mengurangi kegiatan itu. Karena kita juga butuh waktu untuk istirahat. Jangan sampai kita nanti sakit."


"Iya benar juga Mae."


Cyra tersenyum sambil membelai lembut rambut Gio.


"Oya Gio, boleh Mae tanya?"


"Soal apa?"


"Hmmm.. Soal Mae Davira."


Gio mengangguk.


"Kenapa saat bertemu dengan Mae Davira kau ragu kalau itu adalah memang Mae Davira?"


"Aku ingat sekali dulu Mae selalu memanggilku dengan nama kesayangan. Berbeda dengan Mae yang ada di hadapanku."


"Panggilan kesayangan?"

__ADS_1


"Iya aku ingat sekali dia tidak pernah memanggilku Gio. Sangat berbeda dengan yang aku dengar sekarang. Tapi saat itu aku lupa panggilan sayang Mae padaku."


"Sekarang kamu ingat?"


"Iya, aku ingat."


"Apa panggilannya untukmu?"


"Luuk Chaai yang artinya anak laki - laki." jawab Gio. "Apa Mae juga curiga kalau dia bukan ibuku?"


Cyra tersenyum. "Mae hanya penasaran saja kenapa kamu ngotot kalau dia bukan ibumu. Aku hanya ingin tahu saja alasannya."


"Aku yakin sekali dia bukan ibuku." tegas Gio lagi.


"Ya sudah lanjutkan belajarmu. Tapi ingat masalah ini jangan sampai mempengaruhi sekolahmu."


"Tidak Mae. Bukankah aku sudah berjanji pada kalian akan menjadi anak yang membanggakan."


Setelah mencium kening Gio, Cyra segera meninggalkan nya sendirian di dalam kamar. Cyra menuju ke kamarnya yang mana suaminya sudah menunggu. Tapi ada hal yang aneh. Suaminya itu berbaring di atas kamar tanpa mengenakan apapun.


"Wow.. Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Cyra sambil tersenyum geli dengan tingkah suaminya yang aneh - aneh.


"Aku menunggumu sayang. Aku memberi kesempatan padamu untuk menikmati tubuhku ini."


"Benarkah?"


Aroon mengangguk sambil tangannya menepuk - nepuk kasur agar Cyra segera ikut bergabung.


Cyra tersenyum. Ia membuka pakaiannya satu persatu. Aroon yang awalnya berbaring jadi terbangun dan akan segera menghampiri istrinya yang menggoda.


"Eit.. Diam di tempatmu sayang. Bukankah hari ini aku, kau beri kesempatan pegang kendali dalam permainan ini?" Cyra berdiri di tempatnya, ia belum mendekati Aroon.


"Ayolah, naiklah kesini." rengek Aroon.


"Salah siapa kau memainkan permainan ini. Aku hanya mengimbanginya saja sayang."


"Cepatlah Cyra. Ayo cepat kemari."


Cyra tersenyum geli. Ia dengan perlahan berjalan mendekati Aroon dan naik ke atas tempat tidur. Cyra membelai lembut tubuh suaminya yang membuat Aroon memejamkan mata. Cyra mulai mencium Aroon. Akan tetapi___.


"Kenapa berhenti sayang?" tanya Aroon.


"Kamu bau." jawab Cyra sambil menutup hidungnya. "Kamu mandi dulu sana gih." perintahnya sambil menjauh.


"Yah.." Aroon kecewa. "Ayolah sayang, aku sudah on."


"Iya tapi aku jadi kepingin muntah dan kepalaku pusing dengan aroma tubuhmu. Ini benar - benar bau." Cyra terus menutup hidungnya. "Kamu sudah tidak mandi berapa hari?"


"Ya tuhan sayang, aku mandi terus. Kan kau juga lihat sendiri aku mandi. Kita selalu mandi bersama - sama. Apa kamu lupa?"


"Iya tapi tumben kamu bau." lanjut Cyra. "Ayolah Aroon kamu mandi dulu yang wangi. Aku menginginkanmu. Jadi di lanjutkan tidak?"


"Oke.. Oke.. Oke.. Aku mandi." jawab Aroon cepat.


Aroon segera beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Walaupun sebenarnya ia sangat malas tapi tetap ia lakukan demi permintaan istrinya. Ia memakai sabun dan parfum. Setelah di rasa sangat wangi ia segera keluar.


"Bagaimana? Aku sudah wangi kan?" tanya Aroon. Tapi sama sekali tidak ada tanggapan dari istrinya. Aroon mengecek Cyra yang terbaring di atas tempat tidur.


"Ya tuhan sayang kau tidur?" Aroon tepok jidat melihat istrinya yang tertidur. "Cyra ayolah bangun. Aku sudah tidak tahan." Aroon mengguncang - guncang tubuh Cyra.


"Hmmm.. Sayang." hanya itu yang keluar dari mulut Cyra tapi matanya masih terpejam.


Aroon menghela napas. Ya sudah kalau kamu tidur, biar aku saja yang bekerja. Aku sudah tidak tahan." bisik Aroon.


"Hmm..." hanya itu jawaban Cyra.

__ADS_1


Aroon segera menikmati tubuh istrinya walaupun dalam keadaan tidur tapi ia tetap menyukai permainan ini.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2