
Pagi ini Cyra begitu bersemangat karena akan lepas perban dan juga jahitan. Itu artinya ia tidak akan bergantung pada Aroon lagi.
"Senang?"
"Tentu saja. Aku sudah sembuh dan bisa beraktivitas kembali."
"Sementara waktu kalian belajar jangan di perkebunan dulu. Aku takut kalau ada anjing liar lainnya." saran Aroon.
"Aku juga merasa begitu. Tapi apa Gio tidak akan bosan?"
"Beberapa hari ini aku merasa kalau Gio sebenarnya sudah siap untuk bersekolah. Ia sudah memilikimu."
"Kenapa pemikiran kita sama ya?" Cyra tersenyum. "Aku sudah mencari informasi sekolah yang cocok dengan kepribadiannya."
"Itu artinya kita jodoh." ucap Aroon sambil mempersiapkan apa - apa yang perlu di bawa.
Cyra menjadi salah tingkah mendengar jawaban suaminya.
"Ayo berangkat."
Cyra dan Aroon melangkah keluar dari kamar. Mereka.berdua menuju ke rumah sakit.
Tak berapa lama mereka sampai dan segera mendapat penanganan dari dokter
"Nyonya Cyra, anda beruntung sekali memiliki suami seperti tuan Aroon. Lihat ini luka anda cepat kering dan sembuh dengan cepat."
"Iya dok, saya sangat bersyukur."
"Sudah kewajiban saya menjaganya." sahut Aroon.
Lagi - lagi jawaban itu yang keluar dari mulut Aroon, membuat Cyra sedikit kecewa. Apa mungkin dugaannya benar bahwa rasa cinta yang di tujukan padanya sudah sedikit berkurang. Itu terjadi karena sikap Cyra yang tak kunjung menunjukkan rasa suka.
"Nah sudah selesai." kata dokter. "Saat ini saya tidak meresepkan obat apa - apa. Hanya satu pesan saya, hindari binatang - binatang liar. Mereka terkadang mengandung rabies karena makan sembarangan."
"Baik dok." jawab Cyra.
"Kalau begitu kami permisi." Aroon dan Cyra keluar dari ruangan dokter.
"Kau bisa setir mobil?"
"Tentu saja tidak. Kamu ini bercanda, mobil saja aku tidak punya bagaimana bisa aku setir mobil."
"Kamu harus latihan."
"Buat apa?"
"Nanti kalau Gio sudah sekolah aku mau kamu yang mengantarnya. Aku tidak percaya dengan orang lain." jawab Aroon. "Apalagi sepertinya musibah yang datang mengarah pada kalian berdua."
"Baiklah, nanti aku akan kursus."
"Tidak perlu. Aku yang akan mengajarimu."
"Iya, tapi kau harus sabar."
"Aku sabar. Bahkan menunggu satu tahun saja aku sabar." sindir Aroon. Ia melirik ke arah Cyra. Sedangkan Cyra tertunduk malu mendengar suaminya mengatakan itu. Ia memainkan jari tangannya dan sesekali melihat ke arah jendela.
Tak perlu memakan waktu lama mereka akhirnya sampai dan di sambut dengan Gio.
"Mae benar - benar sudah sembuh?"
"Iya lihat ini." Cyra memperlihatkan tangan dan kakinya yang sudah tidak diperban lagi.
"Kita bisa main di luar lagi."
"Tidak Gio." larang Aroon. "Phoo mau bicara padamu."
"Wow serius sekali. Pembicaraan orang dewasa?"
__ADS_1
"Iya. Ayo kita kesana."
Aroon, Cyra dan Gio duduk di taman samping.
"Ada apa Phoo?"
"Tadi Phoo dan Mae sudah berdiskusi mengenai sekolahmu. Phoo rasa kamu harus mulai sekolah di tempat umum. Kau perlu bersosialisasi dengan dengan anak sebayamu. Nanti di sekolah umum kau akan lebih banyak mengenal hal - hal yang tidak kau dapatkan di perkebunan."
"Yang di katakan Phoo mu benar. Kau perlu keluar dari perkebunan ini. Banyak hal yang akan kau pelajari di sana. Bukankah Phoo sekarang sudah menjadi milikku. Kau tidak perlu khawatir guru - guru itu akan menggoda Phoo." sahut Cyra. "Kalau berani - berani mereka akan merasakan tendangan mautku."
"Hahahhahh.." Gio tertawa terbahak - bahak melihat tingkah Cyra. "Yah, sekarang aku tidak perlu khawatir lagi. Ada Mae yang akan menjaga Phoo dan aku." ucap Gio. "Baiklah aku mau."
"Good, that my boy." Aroon memeluk Gio dengan erat. "Dan satu lagi. Mae nanti yang akan memgantarmu ke sekolah. Kau senang?"
"Yeeaayyy..." sorak Gio.
🍀🍀🍀🍀
Aroon memanggil Sulaiman dan Syamsudin di ruang kerjanya.
"Tuan memanggil kami."
"Ya, duduklah." perintah Aroon. Ia kemudian mengambil sesuatu dari lacinya. Ia kemudian meletakannya di meja. "Aku menemukan ini kemarin ketika aku membawa Cyra jalan - jalan di perkebunan."
"Apa ini tuan?" tanya Syamsudin.
Aroon menyalakan alat itu dan muncullah suara. "Guuukkk! Guuukkk!"
"Itu suara anjing tuan." ucap Sulaiman.
"Yah kamu benar itu suara anjing. Suara itu bisa ada di tempat dekat Cyra duduk. Dan saat itu aku tidak ada. Begitu aku mendengar suara itu aku langsung kembali menghampiri Cyra yang ketakutan. Pasti ada orang yang sengaja menakutinya." Aroon menceritakan panjang lebar. "Apa kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan saat menggeledah semua ruangan di perkebunan?"
Sulaiman dan Syamsudin saling berpandangan. Mereka tampak ragu apakah akan mengatakan hal itu pada tuannya.
"Kenapa diam? Kalaian pasti menemukan sesuatu."
"Dimana kau menemukan ini?" tanya Aroon.
"Di kamar nona Denisha."
"Denisha? Tidak ini tidak mungkin. Bagaimana mungkin Denisha melakukan ini?"
"Ada satu lagi tuan. Tapi ini belum cukup bukti." ucap Syamsudin.
"Apa?"
"Tika pernah mendengar saat nona Denisha menelepon seseorang bahwa ia dalang dari penculikan nyonya Cyra."
"Hei Syam. Kau jangan bercanda, kalau ini fitnah bisa merusak nama baik orang. Dan lagi Denisha adalah orang berpendidikan, adik dari Davira istriku tidak mungkin dia melakukan hal kotor seperti itu."
"Itulah sebabnya kami tidak gegabah melaporkan ini pada tuan. Karena kami belum cukup bukti."
"Kalian harus menyelidiki hal ini sampai tuntas. Jika memang Denisha yang melakukan itu maka aku tidak segan untuk menjebloskannya di penjara."
"Baik, kami akan melaksanakan tugas ini."
Sulaiman dan Syamsudin segera keluar dari ruang kerja Aroon. Saat itu hujan lebat datang.
"Syam, kita harus ke perkebunan."
"Kenapa?"
"Hari ini pengiriman sawi ke Korea. Kalau badai seperti ini kasihan para pekerja."
"Oke, kau duluan ke sana aku akan melapor pada tuan." Syamsudin kembali lagi masuk ke ruang kerja Aroon dan menceritakan masalah pengiriman sawi ke Korea. Aroon bergegas menuju ke perkebunan.
Aroon menerjang hujan dan mengarahkan beberapa pekerja. Ia juga membantu membawa kotak - kotak berisi sawi yang siap dikirim. Selama menjadi pemilik perkebunan Aroon selalu bertanggung jawab dengan para pekerjanya.
__ADS_1
Hujan kali ini tidak main - main, bahkan angin kencang merusak beberapa hasil perkebunan.
"Tuan, hujannya sangat lebat. Kita menepi sambil menunggu hujan reda!" teriak Syamsudin di tengah guyuran air.
"Tidak bisa Syam! Aku harua menyelesaikan ini atau sayurannya akan rusak. Aku tidak bisa mengirim barang yang tidak berkualitas."
Aroon tipe yang keras kepala. Dengan susah payah ia akan mengutamakan kepentingan customer. Oleh sebab itu perkebunannya terkenal dengan saturan dan buah yang berkualitas.
Sementara itu...
"Hujannya deras banget." gumam Cyra sambil melihat ke arah jendela. Petir tampak menyambar. Ia memutuskan untuk ke kamar Gio melihat kondisinya.
"Hei jagoan kau tidak takut kan?"
"Tidak Mae. Ada Omar dan Olif."
Cyra memastikan lagi bahwa anak laki - lakinya itu tidak ketakutan.
"Mana Phoo?"
"Aku tidak tahu. Dia tadi pamit ke ruang kerjanya." jawab Cyra. "Lebih baik saat hujan seperti ini jangan bermain handphone."
"Kenapa?"
"Berbahaya, sinyalnya bisa menarik petir."
"Baiklah." Gio meletakkan handphonenya dan lebih memilih membaca bukunya.
"Omar, Olif tolong jaga Gio. Aku akan kembali ke kamar."
"Baik bu Cyra."
Cyra keluar dari kamar Gio dan kembali lagi ke kamarnya. Ia menutup gorden dan menyalakan lampu. Tak lama kemudian pintu terbuka.
"Aroon."
"Ya, ini aku." jawab Aroon.
"Ya tuhan kenapa kamu bisa basah kuyub begini." Cyra tampak Kuatir dengan kondisi suaminya. Ia segera mengambilkan handuk.dan mengeringkan tubuhnya. "Lap sampai kering. Aku akan menyiapkan air hangat untuk mandi."
"Tidak perlu."
"Eh jangan begitu. Nanti kamu bisa masuk angin." Cyra tidak menghiraukan ucapan suaminya dan tetap memyiapkan air hangat. Tak lama kemudian ia keluar. "Air hangatnya sudah siap. Mandilah, jangan lupa keramas."
"Iya."
"Aku akan membuatkanmu sup hangat." Cyra segera keluar dari kamar menuju ke dapur.
Aroon masuk ke dalam kamar mandi. Ia melaksanakan apa yang di minta oleh istrinya. Ia sedang sangat lelah. Setelah selesai ia keluar. Disana ia sudah mendapati istrinya yang membawakannya sup hangat dan air jahe.
"Sini aku keringkan rambutmu."
Aroon tampak terkejut tapi ia tidak banyak bertanya. Dengan cekatan Cyra mengeringkan rambutnya dengan hairdyrer.
"Kalau tidak di keringkan nanti bisa flu. Nah sekarang kau minum sup dan air jahe itu. Pasti tubuhmu akan merasa hangat."
Aroon mengikuti perintah istrinya. Ia menikmati pelayanan yang di berikan untuknya.
"Terima kasih." ucap Aroon lirih.
"Iya." jawab Cyra. "Ini sudah kering, sekarang istirahatlah."
Aroon berbaring di sofa dan Cyra segera menyelimutinya. Tanpa menunggu lama Aroon tertidur lelap karena kecapekan. Melihat suaminya yang tertidur Cyra segera naik ke atas tempat tidurnya.
Malam itu Cyra tidur dengan nyenyak hingga suara rintihan membangunkannya. Ia melihat ke arah Aroon yang terlihat tidak nyaman dengan tidurnya.
Cyra menghampiri suaminya itu, dilihatnya Aroon mengeluarkan banyak keringat. Dengan perlahan ia memegang kening Aroon. "Ya tuhan kamu demam."
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀