
Cyra baru saja mengajar Gio di saat keributan itu di mulai. Denisha berteriak - teriak dan menangis sedangkan Billy berusaha menenangkannya. keributan itu membuat Aroon yang sedang istirahat memutuskan untuk keluar dari kamar.
"Ada apa ini?" tanyanya sambil memeganggi perutnya.
"Aroon.. Aroon kau harus membantuku." Denisha berbicara sambil menangis.
"Tenangkan dirimu dulu."
"Aku.. Aku kehilangan perhiasanku."
"Perhiasan? Hilang? Bagaimana bisa? mungkin kau lupa meletakkannya."
"Tidak mungkin aku lupa. Perhiasan itu selalu ada di kotak perhiasan."
"Apa saja yang hilang?"
"Kalung, cincin, gelang dan juga bros peninggalan Davira." jawab Denisha. "Aku tidak mempermasalahkan nilai uangnya tapi kenangan yang sudah aku lalui bersama terutama bros itu."
Aroon terdiam beberapa saat. "Tidak mungkin dirumah ini ada pencuri." gumamnya tapi cukup bisa di dengar oleh Davira.
"Itu bisa saja, jika orang itu butuh uang."
"Selama aku tinggal dirumah ini, tidak pernah ada cerita tentang kehilangan barang. Jadi mustahil perhiasanmu di curi. Coba kau ingat - ingat lagi dimana terakhir kau menaruhnya."
"Ya tuhan Aroon. Sudah aku katakan berkali - kali bahwa aku tidak lupa menaruhnya. Barang itu hilang."
Saat ini banyak orang yang datang berkerumun karena terganggu dengan teriakan Denisha.
"Bagaimana kalau tuan menggeledah kamar mereka satu persatu." usul Billy.
"Pekerjaku tidak ada yang bermental pencuri karena semua kebutuhan aku cukupi. Kau jangan sembarangan menuduh." tegas Aroon.
"Billy tidak bermaksud seperti itu Aroon. Mungkin dulu semua pekerjamu baik, tapi seiring berjalannya waktu banyak pekerjamu yang baru." Denisha melirik Cyra.
"Yang baru disini banyak nona Denisha termasuk anda dan Billy hitam legam." sahut Omar.
"Dasar kurang ajar! Mau aku robek mulutmu!" teriak Billy.
"Hei! Hei! Stop! Tolong hargai aku sebagai pemilik rumah." teriak Aroon.
"Aroon, aku harus lapor polisi untuk menggeledah seluruh kamar pekerja. Perhiasan itu harus ketemu." Denisha terus mendesak Aroon.
"Baiklah, aku akan menggeledah kamar satu persatu. Jika perhiasan tidak di temukan di kamar mereka semua, aku minta kau minta maaf pada mereka."
"Oke. Aku siap."
"Omar panggil Syamsudin dan Sulaiman kemari."
"Baik tuan." Omar bergegas pergi menuju ke pondok Sulaiman dan Syamsudin. Sejatinya ia geram dengan apa yang dilakukan oleh Denisha dan Billy. Ada saja keributan yang mereka buat. Perkebunan menjadi tidak tenang.
Tak berapa lama Omar datang bersama Syamsudin dan Sulaiman.
"Tuan memanggil kami?"
"Iya. Aku ingin kalian menggeledah semua kamar yang ada disini satu persatu." perintah Aroon.
"Kalau boleh kami tahu ada apa tuan?"
"Denisha kehilangan perhiasan. Kalung, gelang, cincin dan sebuah bros."
Tampak dari raut wajah Syamsudin dan Sulaiman yang terkejut mendengar penjelasan Aroon. Ada pencuri di rumah ini. Tapi mereka berdua tetap melaksanakan perintah Aroon. "Baik akan kami periksa."
"Aroon kamarmu tidak perlu di geledah buat apa?" ucap Denisha. "Mustahil kau mencuri perhiasanku bukan.
"Aku adil Denisha. Aku menjaga perasaan pekerjaku disini. Mengerti?!"
Denisha hanya diam saja mendengar penjelasan Aroon.
Sulaiman dan Syamsudin mulai memeriksa dari kamar Aroon terlebih dahulu. Dan semuanya bersih, perhiasan itu tidak di temukan. Mereka semua menunggu dengan tegang. Terlihat wajah Aroon yang sedikit berkeringat dan sesekali tampak meringis menahan sakit.
"Gio, aku hampiri ayahmu dulu. Ia tampak kesakitan." bisik Cyra di telinga Gio.
"Baik bu."
Cyra segera menghampiri Aroon. "Tuan kita duduk di sana dulu, anda tidak boleh terlalu lama berdiri." ucap Cyra yang bersiap memapah Aroon.
"Yah kau benar. Luka ku terasa perih."
"Apa mau saya lihat lukanya siapa tahu berdarah lagi?"
"Boleh."
Cyra menaruh tangan Aroon di pundaknya. Belum sampai mereka berjalan tangan Cyra di tarik oleh Denisha.
"Aaauuww!!!" teriak Cyra. Hampir saja tubuh Aroon terhuyung hilang keseimbangan jika tangan Cyra yang satunya lagi tidak dengan cepat menahannya.
"Denis! Apa yang kau lakukan?!" teriak Aroon marah.
__ADS_1
"Maaf Aroon, aku hanya mau melindungimu dari dia." ucap Denisha ketakutan.
"Cyra justru mau membantuku bukan mencelakakanku! Jangan kau selalu berprasangka buruk dengan orang." Aroon sangat marah.
"Sudah tuan.. jangan membuat suasana tambah tegang. Mari tuan duduk disana." Cyra segera menengahi agar suasana bisa tenang. Ia kembali memapah Aroon dan mendudukkannya di sofa. Gio juga menghampiri ayahnya. "Biar saya lihat lukanya tuan." Cyra segera membuka dan melihat perban itu dalam keadaan bersih. "Sepertinya lukanya tidak apa - apa."
"Terima kasih Cyra."
Dari kamar Aroon, Syamsudin dan Sulaiman beralih ke kamar Gio, Olif dan Omar. Hasilnya sama seperti di kamar Aroon. Perhiasan itu tidak ada. Sesuai perintah Aroon semua kamar akan di geledah. Mereka berlanjut ke kamar bik Tika dan Jono, mereka tinggal dalam satu kamar.
"Tidak ada tuan." Sulaiman melaporkan.
"Tuh, saya bukan pencuri." ucap bik Tika penuh emosi.
"Hei! saya tidak menuduh siapa - siapa ya." Denisha menjawab dengan suara tinggi.
"Terus menyuruh tuan menggeledah semua kamar itu maksudnya apa kalau tidak nona curiga pada kami."
"Aroon, dengar itu. Pekerjamu sama sekali tidak menghormatiku." rengek Denisha.
"Sudah.. Sudah jangan ribut kita tunggu saja hasil penggeledahan Syam dan Sulaiman." ucap Aroon.
Penggeledahan terus berlanjut, mereka menuju ke kamar Fahri dan ternyata kamar itu di kunci.
"Mana Fahri?" tanya Aroon.
"Bukankah tuan menyuruhnya mengantarkan sayur." jawab Syamsudin.
"Ah ya aku sampai lupa." ucap Aroon. "Tika ambilkan kunci duplikat."
"Baik tuan." bik Tika datang dengan membawa kunci duplikat kamar Fahri. "Ini tuan."
Syamsudin dan Sulaiman kemudian membuka kamar Fahri dan hasilnya pun sama, mereka tidak menemukan apa - apa. "Nihil tuan, perhiasan itu tidak ada."
"Nah Denis, kau lihat dan dengar sendiri kan kalau perhiasanmu itu tidak ada di kamar mereka." ucap Aroon. "Jadi sekarang minta maaflah pada mereka dan jangan membuat kekacauan lagi."
"Tunggu dulu tuan."
"Ada apa Billy?"
"Bukankah masih ada satu orang lagi yang kamarnya belum digeledah."
"Siapa?"
"Bu Cyra."
"Tidak mungkin dia."
Aroon terdiam. Ia seperti membenarkan perkataan Denisha. Ia harus bersikal adil. "Baiklah. Geledah kamar Cyra." Aroon beranjak dari tempat duduknya, dengan sigap Cyra langsung memapahnya. Semua mengikuti kemana Aroon pergi.
"Bukankah ini rumah pertama tuan?" tanya Sulaiman.
"Yah kamu benar. Sementara Cyra tinggal di sini." jawab Aroon
"Pak Uo dan pak Sulaiman, kamar saya ada di sebelah sana." tunjuk Cyra dengan tenang.
Mereka berdua segera menggeledah kamar itu dan benar saja mereka menemukan perhiasan Denisha yang hilang. Tangan Syamsudin gemetar.
"Tenang Syam, aku yakin keponakanmu itu di jebak."
"Apa yang harus kita lakukan? Bagaimana nasib keponakanku nanti?"
"Kita lapor pada tuan dulu, setelah itu kita akan selidiki." saran Sulaiman.
"Baiklah ayo kita keluar."
Mereka berdua keluar dengan perhiasan di tangannya.
"Oh, itu perhiasanku." pekik Denisha. "Ya tuhan akhirnya ketemu." ucapnya senang. Sedangkan Cyra tampak tidak percaya bagaimana bisa perhiasan itu ada di sana.
Cyra menatap Aroon. "Tuan saya tidak mengambilnya." ucap Cyra lirih.
"Iya Phoo tidak mungkin bu Cyra mengambilnya." ucap Gio.
"Hahahahhh.. Terbukalah sekarang topengmu. Ternyata kau seorang pencuri." cibir Billy.
"Tidak! aku tidak pencuri." Cyra menegaskan. "Pasti ada yang menjebakku."
"Hei pencuri! Tidak ada yang menjebakmu." ucap Billy. "Bagaimana bisa menjebak tempat tinggalmu saja baru kami ketahui sekarang. Sudahlah kalau memang mencuri bilang saja mencuri. Dasar sok polos." cibir Billy.
"Stop! Hentikan." teriak Aroon sambil menggebrak meja karena emosi. Semuanya terdiam karena emosi Aroon. "Syam! Sulaiman! Kalian segera selidiki hal ini."
"Aroon, apalagi yang harus diselidiki, sudah jelas perhiasan ini ada padanya. Kalau aku lapor polisi sudah di pastikan dia masuk penjara. Tapi aku tidak sekejam itu, Gio sangat sayang padanya jadi aku maafkan demi keponakanku." ucap Denisha. "Tapi apakah kau akan menggunakan seorang pencuri untuk mengajari putramu?"
"Maaf, bu Cyra bukan seorang pencuri." teriak Fahri yang tiba - tiba datang. Semua mata tertuju pada Fahri.
"Hei! Kau tidak tahu apa - apa. Sudah jelas bukti ada." ucap Billy.
__ADS_1
"Maaf tuan saya datang terlambat, Saya punya bukti bahwa bu Cyra tidak bersalah." Fahri menyerahkan sebuah video pada Aroon. Setelah melihat video itu ia tampak tambah geram.
"Billy! Kenapa kau menjebak Cyra!" teriak Aroon.
"Sssaya.. Saya tidak menjebak tuan." jawab Billy. "Kok jadi tuan menuduh saya. Padahal sudah jelas Cyra pencurinya."
"Ini apa? Jawab!" Aroon memperlihatkan video dimana Billy mengendap - endap masuk ke dalam rumah Cyra.
"Itu.. itu.." Billy gemetar dan tidak bisa berkata apa - apa.
"Apa motifmu?! Cepat katakan!."
"Ssaya.. Saya.." Billy memandang Denisha seolah - olah meinta bantuan. Sedangkan Denisha tampak kebingungan.
"Katakan Billy!" desak Aroon.
"Maaf tuan, saya tidak yang melihat Cyra menyakiti hati nina Denisha." jawab Billy.
"Kapan aku menyakiti nonamu?" tanya Cyra.
"Banyak, kau sering memanfaatkan tuan Aroon." tuduh Billy.
"Aku tidak pernah."
Denisha menghampiri Aroon. Ia memegang lengannya. "Aroon, tolong maafkan sikap bodoh asistenku ini. Di sini aku hanya punya dia. Please."
Aroon menghela napas. "Minta maaf pada Cyra."
"Tapi tuan___." protes Billy.
"Minta maaf atau keluar dari rumah ini!" perintah Aroon tegas.
"Baiklah." ucap Billy. Ia menghampiri Cyra. "Cyra maafkan sikap bodohku."
Cyra terdiam beberapa saat, sejatinya ia sangat jengkel karena di tuduh sebagai pencuri. "Jangan ulangi lagi Billy, perbuatanmu itu bisa berakibat fatal. Seseorang bisa masuk penjara karena perbuatanmu itu, padahal ia tidak bersalah."
"Iya maafkan aku." peluk Billy.
"Tidak usah berpelukan!" teriak Aroon. "Kau laki - laki tidak pantas memeluk seorang gadis!"
"Maaf tuan." ucap Billy.
"DSekarang kamu Denis, kamu juga harus minta maaf pada Cyra."
"Tapi Aroon___."
"Minta maaf atau kau kembali ke Perancis."
Tangan Denisha mengepal geram, ia menarik napas panjang. "Baiklah." ucapnya sambil berusaha tersenyum. "Cyra tolong, maafkan asistenku." Denisha memeluk Cyra. Dan mau tidak mau Cyra membalasnya.
"Tidak apa - apa nona."
"Semua sudah terselesaikan, sekarang bubar."
"Baik tuan." jawab mereka bersama - sama.
Cyra bernapas lega karena namanya bersih, bebas dari tuduhan. sebenarnya ia tahu jika Denisha pasti terlibat dengan ini semua. Tapi ia sangat pintar bersembunyi di balik Billy. Aku harus berhati - hati.
🍀🍀🍀🍀
Pagi itu Denisha keluar menuju ke taman samping, ia tampak menelepon seseorang. Ia berjalan mondar mandir menunggu orang itu datang. Setelah kejadian perhiasan hilang, Denisha menjadi bersikap baik dengan Cyra. Tapi itu hanya untuk taktik semata. Ada maksud di balik itu semua.
"Nona."
"Terima kasih Cyra kau sudah mau datang." Denisha tersenyum sangat manis.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Cyra. Ia tetap berhati - hati. Bisa saja ini adalah akal - akalan Denisha.
"Aku ingin membeli beberapa baju untuk Gio, kamu temani aku ya?"
"Tapi saya masih harus mengajar Gio hari ini."
"Hmm.. Begini saja, aku akan ijin Aroon. Kalau dia mengijinkan kau temani aku, kalau tidak ya terpaksa aku pergi sendiri.
Cyra mengangguk setuju, mereka mencari Aroon yang ternyata sedang ada di perkebunan sawi.
"Ada apa?"
"Aku ingin membelikan baju Gio, jadi aku minta ijin mengajak Cyra untuk membantuku."
"Baiklah, malam kalian berdua sudah ada di rumah."
"Tenang Aroon."
"Bawa Fahri untuk menemani kalian."
"Baiklah."
__ADS_1
Setelah mendapatkan ijin Denisha tampak sangat bahagia. Aku akan mengantarmu ke neraka Cyra ucap Denisha dalam hati sambil tersenyum smirk.
🍀🍀🍀🍀