My Love Teacher

My Love Teacher
Geram


__ADS_3

"Bodoh!!!" teriak Biantara. Ia membanting handphonenya ke lantai. "Panggil Leo! Cepat!"


Leo dengan cepat segera datang menghadap Biantara.


Doorrr!!! Biantara melepaskan tembakan dan hampir mengenaik kaki Leo.


"Siapa orang yang kau suruh menculik gadis itu?!"


"Maaf tuan, saya menyuruh anak buah kita yang ada di kantor Surabaya."


"Oh pantas ia tidak tahu apa - apa! Kenapa tugas sepele seperti ini tidak becus mereka selesaikan!" Biantara menendang handphone yang tadi ia banting ke hadapan Leo.  Dengan segera ia melihat handphone yang layarnya sudah retak tapi masih bisa melihat sebuah foto yang ada di sana.


"Tuan Aroon, Bagaimana bisa?"


"Kau bertanya padaku?! Dasar bodoh!" dengan kasar Biantara menendang perut Leo.


"Aaagghh! Ampun tuan."


"Mereka memang berhasil menculik Cyra, tapi kenapa bisa bersama Aroon! Jelas mereka bisa melarikan diri."


"Tuan harus menanyakan hal itu pada nona Denisha, karena ia yang memberitahukan kalau Cyra pulang kampung ke Surabaya."


Biantara tampak diam.


"Menurut tuan apakah ini tidak disengaja oleh nona Denisha untuk menjebak tuan." ucap Leo hati - hati.


"Kau benar." gumam Biantar. "Bereskan kekacauan di luar sana. Keluarlah."


"Baik tuan."


Setelah kepergian Leo dari ruangannya, Biantara tampak melakkan panggilan untuk seseorang.


"Halo."


"Bagaimana bisa Aroon bersama dengan Cyra?" tanya Biantara tiba - tiba.


"Apa maksudmu aku tidak mengerti?"


"Cyra gagal aku bunuh karena ada Aroon di sana. Kau sama sekali tidak memberitahuku akan hal itu! Kau menjebakku!"


"Tunggu.. Tunggu. Aroon bersama dengan Cyra. Bagaimana bisa? Aroon dan Gio sedang berlibur." ucap Denisha tidak percaya.


"Mana aku tahu."


"Aku berani bersumpah, tidak tahu menahu akan hal itu Bi. Yang aku tahu dari para pembantu disini Aroon dan Gio sedang berlibur."


"Mereka berlibur di rumah gadis itu bodoh!"


Denisha mengeratkan genggamannya. Tubuhnya bergetar hebat karena menahan emosi. Urat - urat wajahnya tampak menegang. Kurang ajar, ternyata mereka ikut Cyra pulang pikir Denisha geram. "Kau gagal?"


"Tentu saja. Jika gadis itu sendirian sudah aku jamin ia tinggal nama. Tapi saat itu ia bersama dengan Aroon."


"Huh, ternyata kau yang tidak becus, Bi!"


"Diam!"


"Aku sudah melakukan apa yang kau minta, tapi ternyata kau sendiri yang mengingkari perjanjian kita. Jangan salahkan aku jika kau akan mendapat masalah dari kegagalanmu ini." ancam Denisha.


"Kau mengancamku?"


"Terserah kau menyebutnya apa."


"Aku tidak suka diancam - ancam Denis. Ingat aku memegang kartu merahmu."


"Baiklah, aku beri kau kesempatan. Jangan gagal Bian."


Panggilan diakhiri. Denisha tampak sangat emosi. "AAAACCCCHHHH!!!!" ia berteriak sejadi - jadinya. Membanting semua benda yang ada di sana. "Sialan kau Cyra!!!"


🍀🍀🍀🍀


Cyra sangat bersyukur bahwa mereka bisa terlepas dari para penculik itu. Tapi yang membuatnya keheranan adalah kenapa ia diculik dan akan di bunuh. Siapa dalang di balik ini semua. Yang membencinya saat ini ada dua orang Devano dan Denisha. Tapi ia sama seklai tidak mendapat petunjuk atau bukti apa - apa. Jadi singkat cerita semuanya buntu.

__ADS_1


Aroon mendapatkan enam jahitan, beruntung luka tusukan itu tidak sampai mengenai organ vitalnya. Walaupun termasuk ringan tetap harus dirawat agar tidak infeksi. Kejadian yang menimpa mereka membuat keluarga cemas terutama ibu dan Gio yang tidak mau kehilangan Cyra mau pun Aroon. Hampir semalaman mereka cemas karena mereka menghilang dan hanya di temukan sepeda motor yang tergeletak di tempat penculikan. Bahkan keluarga sudah melapor ke pihak yang berwajib. Mereka baru akan menindaknya setelah dua puluh empat jam.


Pagi ini Aroon memutuskan untuk pulang ke Bogor. Ia tidak bisa meninggalkan perkebunannya terlalu lama. Ia akan mendapat perawatan lanjutan di Bogor sampau lukanya mengering. Semua bersyukur karena kejadian yang menimpa Aroon dan Cyra tidak sampai memakan korban.


"Terima kasih jenangnya ibu." peluk Omar.


"Ealah, kok pakai peluk - peluk segala nak Omar." ucap ibu canggung.


"Itu tandanya sayang." ucap Olif. "Aku juga mau meluk." Olif segera ikut bergabung memeluk ibu.


"Sudah.. Sudah ibu tidak bisa bernapas."


Omar dan Olif melepaskan pelukannya. Sekarang ganti Gio yang memeluk ibu. "Terima kasih Yay."


"Apa itu Yay?" tanya ibu.


"Itu dalam bahasa Thailand sebutan untuk seorang nenek." jawab Aroon.


"Oalah, ibu ini gaptek." ucap ibu malu. "Iya nak Gio, jaga ayahmu dan jadi anak yang pintar." pesan ibu. Gio mengangguk.


"Ibu, ayah aku pamit pulang." Cyra memeluk ayah dan ibunya.


"Iya hati - hati dijalan, jaga tuan Aroon." pesan ayah.


"Saya juga pamit." ucap Aroon. "Maaf merepotkan bapak dan ibu."


"Tidak apa - apa tuan Aroon, kami sangat senang. Saya harap tuan Aroon segera sembuh." ucap Ayah.


Setelah semua berpamitan mereka segera menuju ke bandara.


"Tuan mau naik kursi roda?"


"Tidak usah Cyra, lukaku baik - baik saja."


"Maksud saya, sesuai dengan pesan dari dokter agar tuan jangan banyak bergerak dulu."


"Tidak usah, nanti kalau aku perlu aku akan memintanya."


"Baik tuan."


"Aaauuww."


"Ada apa tuan?"


"Lukaku terasa sakit."


Cyra langsung panik dan menghampirinya. "Tadi kan sudah saya bilang pakai saja kursi roda, tapi tuan malah menolaknya. Ternyata tuan lebih keras kepala dari Gio."


"Maaf." gumam Aroon lirih. Ia suka melihat Cyra yang panik karenanya. "Jangan marah.'


"Saya tidak marah tuan, hanya sedikit jengkel. Saya khawatir dengan keadaan tuan." Cyra bersiap memapah Aroon.


"Eh tunggu bu Cyra."


"Ya Omar."


"Lebih baik bu Cyra jaga tuan muda, biar saya yang memapah tuan Aroon. Tubuh saya jauh lebih kuat." ucap Omar. Cyra mengurungkan untuk memapah Aroon.


"Tidak!" tolak Aroon. "Tubuhmu bau, bisa - bisa aku pingsan sebelum sampai rumah."


Omar mengendus - endus tubuhnya. "Tidak bau tuan."


"Kalau aku bilang bau ya bau." jawab Aroon.


"Sudah.. Sudah.. Biar aku saja. Tolong kau jaga Gio, Omar."


"Baiklah bu Cyra." jawab Omar. "Saya tidak bau tuan." ucap Omar lagi.


Gio dan Olif tersenyum melihat tingkah Omar.


Cyra menaruh tangan Aroon di pundaknya, dengan perlahan ia memapah Aroon.

__ADS_1


"Habis keramas?"


"Iya. Darimana tuan tahu?"


"Tercium sampai sini."


"Oh." hanya itu yang keluar dari mulut Cyra.


"Aku senang kau bertanggung jawab." Aroon membuka percakapan lagi.


"Tanggung jawab apa tuan?"


"Yah aku luka begini kan juga demi kamu."


Cyra menghela napas panjang. Wah sepertinya aku mencium aroma pembullyan pikir Cyra. Pasti dia kan memintaku merawatnya. Mengalah sajalah toh yang dia katakan juga ada benarnya. "Iya tuan, tentu saja saya akan bertanggung jawab."


"Apa bentuk tanggung jawabmu?"


Nah kan benar apa yang ada dalam pikiranku duga Cyra dalam hati. "Saya akan merawat tuan sampai sembuh."


"Bagus." Senyum Aroon mengembang sempurna.


Mereka berjalan cukup jauh. Akhirnya Cyra mendudukkan Aroon di sebuah kursi. "Pak Uo bisa carikan tuan kursi roda?"


"Tunggu sebentar."


"Ada apa tuan?"


"Tidak perlu." jawab Aroon. Jika ia memakai kursi roda bisa kehilangan kesempatan untuk berdekatan dengan Cyra.


"Tidak bisa, tuan harus memakai kursi roda. Lihat itu luka tuan berdarah lagi." Cyra segera memnuka baju Aroon tanpa meminta ijin terlebih dahulu. Perban yang membalut luka itu merembes oleh darah. "Sampai rumah tuan harus ganti perban lagi." Cyra tampak cemas.


Kesempatan itu digunakan oleh Aroon untuk bersikap sedikit manja.


Tak lama kemudian Pak Uo datang dengan membawa kursi roda.


"Silahkan naik tuan, biar saya dorong." ucap Cyra


"Terima kasih."


Aroon naik kursi roda dengan didorong Cyra. Setelah masuk ke dalam pesawat mereka semua sudah lebih tenang karena akan sampai di Bogor.


Sementara itu...


Billy berlari menghampiri Denisha yang sedang bersantai di ruang keluarga. "Nona! Nona!"


"Ada apa?"


"Tuan Aroon sudah pulang."


"Benarkah?" Denisha segera beranjak dari duduknya, ia merapikan baju dan riasannya sebentar sebelum keluar menyambut kedatangan Aroon. "Ayo kita keluar."


"Baik nona."


Denisha keluar untuk menyambut Aroon. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Aroon yang sedah di papah oleh Cyra. Tangannya mengepal hingga ia bisa merasakan sakit terkena kukunya sendiri. "Kurang ajar." ucapnya geram. Semua rasa geram itu ia singkirkan agar tidak timbul kecurigaan.


"Aroon." Denisha menghambur memeluk Aroon membuat Cyra tersingkir. "Apa yang terjadi?"


"Tidak apa - apa."


"Tidak apa - apa bagaimana? Ini kamu terluka dan berdarah Aroon." ucap denisha pura - pura khawatir. "Kalian ini semua bagaimana sih, menjaga tuannya saja tidak bisa. Dasar pembantu tidak berguna!"


Omar dan Olif mencibir mendengar ucapan Denisha.


"Ayo aku antar kamu ke kamar, kamu harus istirahat Aroon."


"Tapi____." Aroon menoleh ke arah Cyra.


"Tuan istirahat saja, saya akan mengantar Gio ke kamar."


"Baguslah kalau kamu tahu tugasmu." Denisha melirik Cyra dengan tatapan sinis.

__ADS_1


Aroon yang merasa tubuhnya belum begitu fit memutuskan diam dan pasrah saja. Sebenarnya ia ingin Cyra yang merawatnya bukan orang lain.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2