
Mobil sudah sampai di depan rumah sakit dengan cepat Omar membuka pintu. Aroon keluar sambil membopong Cyra.
"Dokter! Tolong!"
Beberapa orang perawat datang menghampiri mereka dengan membawa brankar. Aroon menaruh tubuh istrinya di atas brankar. Perawat langsung mendorongnya masuk ke ruang IGD.
"Maaf, bapak tunggu disini. Kami akan menangani pasien."
"Saya ingin melihat istri saya."
"Maaf pak, ini prosedur dari rumah sakit. Biarkan dokter yang menangani pasien."
Syamsudin berusaha menenangkan Aroon. "Tuan lebih baik kita tunggu disini saja. Saya takut keberadaan kita di dalam akan menghambat dokter dalam menangani Cyra."
"Baiklah aku tunggu disini." Aroon berdiri di depan pintu dan tak bergeming. Syamsudin tahu Aroon sangat mengkhawatirkan keadaan Cyra. Tapi saat ini yang bisa di lakukan adalah tenang dan berdoa agar semua berjalan dengan lancar.
"Omar kau ambilkan baju ganti untuk Aroon."
"Baik pak Syam, aku pergi dulu." pamit Omar.
Seorang perawat keluar dari ruang IGD. "Dengan keluarga bu Cyra."
"Saya suster." Aroon segera menghampiri perawat tadi.
"Dokter ingin bicara sebentar silahkan masuk."
Aroon mengikuti perawat tadi, ia bisa melihat istrinya masih terbaring dan beberapa perawat sedang membersihkan lukanya.
"Maaf dengan bapak siapa?"
"Saya Aroon, suaminya."
"Apa yang terjadi dengan pasien hingga mendapatkan luka yang begitu parah?"
"Ada anjing liar masuk ke perkebunan kami, dan tiba - tiba saja menyerang anak dan istri saya. Anak saya baik - baik saja tapi berbeda dengan istri saya."
"Baiklah, kami akan menjelaskan kondisi istri bapak saat ini." ucap dokter itu. "Jadi saat ini bu Cyra kehilangan banyak darah. Beruntung anda membawanya kemari secepat mungkin. Golongan dara yang dibutuhkan oleh istri anda adalah O dan kebetulan juga stok darah di rumah sakit kami ada."
"Syukurlah."
"Tapi terkait luka - lukanya kami akan memberi suntikan anti rabies. Berdasarkan dari keterangan anda bahwa ia baru saja di serang anjing liar maka suntikan ini sangat perlu. Kami juga akan menjahit luka - lukanya karena terdapat beberapa robekan. Dan beruntung tidak sampai mengenai sarafnya."
"Istri saya bisa di selamatkan kan dokter?"
"Bisa, bapak tenang saja. serahkan semuanya pada kami." jawab dokter. "Hanya saja proses penyembukannya hingga luka kering butuh waktu dua minggu. Dan juga otomatis peristiwa ini akan menimbulkan traumatik pada pasien. Jadi itu yang perlu anda perhatikan."
"Baik, terima kasih bantuannya dokter."
"Silahkan bapak urus semua administrasinya agar kami bisa memulai operasinya."
"Baik dokter." Aroon segera keluar menuju administrasi. Begitu ia keluar Syamsudin segera menghampirinya.
"Bagaimana keadaan Cyra tuan?"
"Beruntung kita membawanya tepat waktu hingga ia tidak kehilangan banyak darah." jawab Aroon. "Aku akan mengurus administrasinya."
"Biar saya saja tuan. Lebih baik tuan ganti baju dulu. Akan tidak baik jika darah yang ada di tubuh tuan di lihat banyak orang." Syamsudin menyerahkan kantong berisi baju bersig yang tadi di bawa oleh Omar.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan membersihkan diri dulu." Aroon menuju ke kamar mandi sedangkan Syamsudin segera ke bagian administrasi.
Di dalam kamar mandi Aroon melihat di kaca tubuhnya yang berlumuran darah. "Kamu hatrus sembuh Cyra." gumam Aroon. Matanya berkaca - kaca. Dengan cepat ia membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya dengan yang baru. Ia ingin segera kembali ke ruang operasi Cyra.
Ketika keluar ia sudah menemukan Gio berada di sana.
"Phoo." ia menghambur memeluk Aroon. "Bagaimana bu Cyra?"
"Tidak apa - apa, ia sudah ditangani dengan baik oleh dokter. Kamu tidak perlu khawatir. Kita tunggu disini sampai operasinya selesai." Aroon mengajak Gio untuk duduk di ruang tunggu.
Mereka berdua menunggu dalam diam.
"Phoo." panggil Gio memecah keheningan.
"Ya Gio."
"Maafkan aku."
"Maaf? Soal apa?"
"Soal kejadian yang menimpa bu Cyra."
"Phoo tidak mengerti."
Gio memeluk Aroon. Dengan penuh kasih sayang Aroon membalas pelukan Gio.
"Bu Cyra seperti ini karena aku. Ia tidak mau Phoo sedih karena sesuatu menimpa diriku. Phoo sudah kehilangan mae Davira dan bu Cyra juga tidak ingin Phoo kehilangan aku." Gio bercerita sambil terisak. "Aku takut terjadi apa - apa dengannya."
"Hei tenanglah. Tidak akan terjadi apa - apa dengannya. Phoo pasti akan terpukul sekali jika kehilangannya." Aroon berusaha menenangkan Gio. "Bu Cyra sangat mencintaimu Gio. Dia mau berkorban untukmu. Jadi tidak alasan lagi kau membencinya. Aku sangat menyanyangimu dan juga bu Cyra. Kalian mendapatkan kasih sayang dan cinta seutuhnya dariku. Aku tidak pernah membeda - bedakannya."
"Dia tidak pernah sakit hati Gio. Kau yang terlalu berpikir berlebihan. Harusnya kau tahu betapa kerasnya ia berusaha mengambil hatimu."
"Aku merasa bersalah padanya."
"Tidak perlu merasa seperti itu. Jika dia bangun nanti Phoo ingin kau baik dengan bu Cyra."
"Itu pasti Phoo."
"Good boy. Phoo bangga padamu."
Aroon memeluk erat putra semata wayangnya itu. Matanya berkaca - kaca karena haru. Cyra bangunlah, kau harus lihat ini. Gio memaafkanmu dan berjanji akan menyayangimu doa Aroon dalam hati.
"Dengan keluarga bu Cyra." panggilan seorang perawat menyadarkan Aroon dalam lamunan.
"Ya saya."
Seorang dokter keluar dari ruang operasi. "Operasi berjalan dengan lancar dan keadaan bu Cyra juga baik."
"Sykurlah."
"Setelah ini kami akan membawanya ke ruang inap. Anda bisa menunggu di sana."
"Terima kasih dokter." ucap Aroon. "Kira - kira kapan istri saya akan sadar."
"Kalau normal sekitar dua atau tiga jam. Begitu dia sadar anda bisa memanggil perawat untuk memastikan kondisinya lagi sebelum anda memberinya makan atau minum."
"Baik dokter."
__ADS_1
"Kalau begitu saya pemisi dulu."
Aroon memeluk Gio. "kau dengar itu, bu Cyra baik - baik saja."
'Iya. aku senang Phoo."
🍀🍀🍀🍀
"Dimana aku." gumam Cyra. "Tempat apa ini." Cyra melangkahkan kakinya di sebuah hamparan padang yang luas. Padang itu seperti tidak memiliki ujung. Sayup sayup ia mendengar suara yang sangat ia kenal.
"Please jangan tinggalkan aku Cyra. Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku."
Itu suara Aroon. "Aroon! Aroon!" panggilnya berulang kali.
"Hei! Hei! Hei! Ini aku." bisik Aroon dengan suara lembut.
Perlahan Cyra membuka matanya. Ia melihat Aroon suaminya sedang menggenggam tangannya.
"Aku dimana?"
"Kamu di rumah sakit."
"Anjing itu." Cyra terhenyak kaget.
"Sssttt, sudah tidak ada. Kamu aman bersamaku." Aroon memeluk lembut istrinya.
"Gio?"
"Dia juga aman." jawab Aroon. "Terima kasih sudah melindunginya."
Cyra mengangguk lemah.
"Ia sedang keluar membeli makanan bersama Omar dan Olif. Dari tadi menanyakan kapan kamu akan sadar." ucap Aroon. "Aku panggilkan perawat dulu."
"Jangan tinggalkan aku."
"Tidak akan. Aku hanya memanggil perawat sebentar."
Tak lama kemudian perawat masuk dan segera memeriksa kondisi Cyra. Setelah dinyatakan semuanya baik mereka keluar. Bersamaan dengan itu Gio masuk bersama Omar dan Olif.
"Bu Cyra sudah sadar!" teriak Omar. Ia sangat senang begitu juga dengan Olif. Gio berjalan menghampiri Cyra yang terbaring.
"Mae Cyra sudah sadar?"
Cyra tampak terkejut mendengar perkataan Gio. "Kau memanggilku apa?" tanyanya lirih.
"Mae. Karena kau sekarang ibuku."
"Kau sudah tidak marah lagi padaku?"
"Tidak Mae."
Cyra menitikkan airmata. "Terima kasih sudah mau menerimaku Gio." dengan tangan mungilnya Gio mengusap airmata Cyra.
"Jangan menangis, setelah ini aku yang akan melindungi Mae."
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1