
"Billy!"
"Ampun tuan."
"Apa yang kau lakukan? Jawab!"
"Saya tidak melakukan apa - apa tuan."
"Bohong! Aku melihatmu tadi di bawah mobil."
"Tidak tuan. Ampun. Saya hanya mengambil barang saya yang jatuh." Billy merengek minta ampun. "Tolong lepaskan saya tuan."
Masih dengan mengunci tangannya. Aroon memaksa Billy untuk berdiri. Dari kejauhan datang Syamsudin dan Sulaiman yang berlari ke arahnya. Mereka mendengar keributan karena teriakan tuan Aroon.
Sementara itu dari kejauhan sepasang mata cantik sedang memperhatikan dari kejauhan. "Dasar Billy bodoh. Hal semudah itu saja tidak becus melakukannya!" ia geram dan mengepalkan tangannya. "Awas saja kalau bawa - bawa namaku." Denisha segera masuk ke dalam kamar.
"Ada apa tuan?" tanya Sulaiman.
"Aku tadi melihatnya melakukan sesuatu dengan mobil itu."
"Akan saya lihat tuan." ucap Sulaiman. Ia bergegas menuju ke mobil yang akan di pakai oleh Cyra.
"Tuan biar saya yang memegangi Billy." Syamsudin menawarkan.
Aroon menyerahkan Billy dengan Syamsudin. Dia juga segera mengikuti Sulaiman.
Beberapa kali Syamsudin menonyor kepala Billy. "Dasar banci. Bisanya bikin ulah!" umpat Syamsudin.
"Diam kau pria tua. Kalau nonaku dengar kau akan tahu rasa."
"Hahahahah.. Sebelum nonamu dengar kau akan aku habisi jika terbukti akan mencelakai keponakanku itu! Mengerti!" gertak Syamsudin. Ia mendorong tubuh Billy agar berjalan menuju mobil di parkir.
Sulaiman segera melihat ke body bawah mobil. Dan ia menemukan kabel rem yang terputus. Dan itu di lakukan dengan sengaja menggunakan tang.
"Kabel remnya sengaja di putus tuan." lapor Sulaiman.
Billy yang mendengar berubah menjadi pucat pasi. Tubuhnya gemetar. Dengan mata merah Aroon menghampiri Billy dan melayangkan beberapa tinju ke muka dan perut Billy.
"Ampun tuan.. Maafkan saya." rengeknya.
"Maaf! Kau akan mencelakai istriku! Dan kau menyelesaikan dengan kata maaf!" teriak Aroon. Ia meninju perut Billy lagi hingga ia terkapar lemes. Billy bersimpuh. "Yang kau lakukan itu bisa membahayakan nyawa orang!" bentak Aroon. "Siapa yang menyuruhmu?! Katakan!"
Billy masih diam. Ia muntah karena pukulan Aroon di perutnya. Di sudut bibirnya juga mengeluarkan darah.
Aroon menarik kerah baju Billy dan memaksanya untuk berdiri. "Hei banci!!! Kau dengar ucapanku!!!" lagi - lagi Aroon meninju Billy bertubi - tubi. Hingga Billy terkapar lemas di lantai. Napasnya tersengal - sengal tak berdaya.
Sulaiman dan Syamsudin berusaha mencegah Aroon agar tidak bertindak anarkis. Memang tidak bisa di pungkiri kalau di posisi Aroon pasti akan marah besar karena istri pertamanya juga meninggal. Tapi jika masalah ini tidak diatasi dengan kepala dingin yang ada justru Aroon akan jadi tersangka karena main hakim sendiri.
"Tuan, saya mohon tenang." ucap Syamsudin.
"Bagaimana aku bisa tenang! Dia mau mencelakai istriku Syam."
"Iya saya tahu tuan. Tapi kalau anda emosi seperti ini ia akan mati."
Dari dalam keluarlah Cyra yang kaget melihat telah terjadi keributan.
"Ada apa ini?"
Aroon menoleh ke arah istrinya dan segera memeluk Cyra dengan erat. "Syukurlah kau tidak jadi naik mobil itu."
"Memangnya apa yang terjadi? Aku tidak mengerti?"
__ADS_1
Aroon melepaskan pelukannya. Ia menangkupkan kedua tangannya pada pipi Cyra. "Banci itu mau mencelakaimu. Lihat itu ia memotong kabel rem."
"Ya tuhan." Cyra terkejut tidak menyangka. Ternyata tuhan sudah menunjukkan segalanya siapa - siapa orang yang mau mencelakainya. Dan ia yakin pasti Denisha dalang di balik ini semua. "Apakah dia melakukan sendiri atau ada yang menyuruhnya?" tanya Cyra.
Pertanyaan itu kembali membangkitkan emosi Aroon. "Syam ambil air! Siramkan ke tubuhnya!"
"Baik tuan."
"Aroon apa itu tidak membuatnya mati?"
"Tidak, justru ia akan sadar. Kita bisa menginterogasinya. Kamu tenang saja."
Perlahan Billy sadar kembali. Sulaiman mengangkat tubuhnya hingga ia terduduk di lantai.
"Ampun tuan.. Ampun." gumam Billy dengan wajah penuh lebam. Cyra sebenarnya kasihan juga melihatnya.
Aroon mendekat. Ia mencengkeram rahang Billy hanya dengan satu tangan. "Siapa yang menyuruhmu? Jawab!"
"Tidak ada." jaqab Billy dengan suara lirih.
"Oh mau aku pukul sampai mati rupanya!" ancam Aroon yang tangannya sudah bersiap meninju wajahnya.
"Ampun tuan." gumam Billy lagi. "Baiklah saya akan bicara."
"Bagus." ucap Aroon. "Jadi siapa yang menyuruhmu?"
"Nona Denisha."
"Hei! Jangan bohong kau banci!"
"Saya berani bersumpah tuan bahwa saya disuruh nona Denisha."
Aroon terdiam. "Apa saja yang disuruhnya?"
"Kurang ajar!!!" teriak Aroon sambil mengayunkan tangannya tapi di cegah oleh Syamsudin dan Sulaiman yang sangat kewalahan karena tubuh Aroon yang besar.
Tiba - tiba...
"Hentikan semuanya!"
Aroon, Syamsudin dan Sulaiman menengok ke belakang. Di sana ada Denisha yang membawa senjata api dan di todongkan di kepala Cyra. Tangan kirinya mengunci leher Cyra.
"Diam semuanya! Atau dia akan mati!" teriak Denisha histeris.
"Denis, apa yang kamu lakukan! Lepaskan istriku!"
"Lepaskan? Hahahahhh.. Jangan mimpi Aroon. Dia musuhku dan harus musnah di tanganku!"
"Oke... Oke.. Kamu tenang." Aroon menurunkan nada bicaranya, demi keselamatan Cyra. "Kita bisa bicara baik - baik. Apa maumu?"
"Baik - baik? Kita tidak akan bisa bicara baik - baik. Kau tidak pernah memandangku Aroon!"
"Oke.. Aku yang salah. Aku minta maaf." Aroon nerusaha mengambil hati Denisha. Ia berbicara selembut mungkin agar Denisha luluh dan bisa melepaskan istrinya. "Ayo kita bicara." Aroon mengulurkan tangannya.
Denisha memandang Aroon. Hampir saja ia percaya dengan ucapannya. "Kkau sungguh - sungguh mau mendengarkan aku?"
"Iya tentu saja. Kemarilah." rayu Aroon.
Tiba - tiba Denisha terdiam tanpa ekspresi. Tapi kedua tangannya tetap pada posisi semula. Napas Cyra tampak tersengal - sengal karena tangan Denisha yang terus menekan lehernya. "Aku sangat mencintaimu Aroon. Aku mencintaimu sejak lama. Bahkan sebelum kakakku bersamamu. Tapi kenapa kau sama sekali tidak memandangku sebagai seorang wanita tapi justru seorang teman." Denisha mulai berbicara.
"Denis, aku kita bicara di sana. Akan lebih leluasa bukan?" Aroon masih terus membujuk Denisha.
__ADS_1
Denisha menggeleng. "Pernahkah kau memiliki perasaan terhadapku?" tanyanya.
Aroon terdiam, bagaimana ia harus menjawab. Tapi demi keselamatan Cyra. "Iiya.. Aaku menyukaimu."
"Hahahahhhh..." tiba - tiba Denisha tertawa keras sekali. "Kau bohong Aroon.. Kau bohong!" teriaknya sambil matanya melotot. "Billy.. Billy.. Bangun!"
Dengan perlahan Billy berusaha bangun. Tapi Syamsudin dan Sulaiman masih memegangi tangannya.
"Lepaskan dia tua bangka!"
Aroon memberi tanda untuk melepaskan Billy karena nyawa Cyra taruhannya. Setelah Billy lepas Denisha menyuruhnya untuk mendekat. "Sini."
Dengan langkah menyeret Billy mendekati Denisha. "Ambil kunci mobil di saku ku. Cepat!" perintahnya.
Billy segera melakukan perintah Denisha. "Bawa mobilnya kemari."
Billy menahan sakit sambil melakukan perintah Denisha. Ia juga ingin lari dari masalah ini secepatnya. Ia tidak mau masuk penjara.
Setelah sampai Billy mengendarai mobil itu. Dan memarkirnya dekat dengan Denisha.
"Kamu di dalam saja! Biarkan mesinnya menyala." perintah Denisha. Perhatian Denisha kembali beralih pada Aroon. "Sayang sekali Aroon semuanya sudah terlambat. Aku tahu kamu sama sekali tidak memiliki perasaan apapun padaku."
"Denisha, kamu masih punya kesempatan merubah diri. Kalau kamu menyerah hukuman tidak akan berat."
"Hahahahahhh... Jangan mimpi. Kau hanya memperdulikan istri busukmu ini!" Denisha berjalan mundur ke arah mobil yang di parkir Billy. Posisi tangannya sama sekali tidak berubah. Ia tetap menodongkan pistol di kepala Cyra. "Diam di tempat! Jika kau tidak ingin istrimu mati dihadapanmu jangan ikuti aku!"
Aroon memberi kode pada Syamsudin dan Sulaiman agar mereka diam.
Cyra masih menunggu saat yang lengah untuknya melarikan diri. Beberapa kali Denisha menengok ke arah mobil. Ia jadi berjalan agak kesulitan karena juga membawa Cyra. Kesempatan itu di manfaatkan untuk menginjak kaki Denisha dan dengan keras menyiku perutnya.
"Aauuww!!! Kurang ajar!" Denisha terjerembab ke belakang. Itu di manfaatkan dengan baik oleh Cyra untuk lari.
Melihat itu Denisha dengan cepat mengambil pistol yang sempat terjatuh dan mengarahkan pada Cyra.
"Door!!!"
"Cyra awas!!!"
Dengan cepat Cyra menunduk dan tembakan itu meleset. Tahu bahwa ia gagal, Denisha segera masuk ke dalam mobil yang di kendarai oleh Billy. "Jalan!"
Billy mengendarai mobil dengan kecepatan penuh.
"Kejar mereka!" perintah Aroon. Ia menghampiri Cyra. "Kamu tidak apa - apa?"
"Aku tidak apa - apa. Kejarlah Denisha."
Aroon mengangguk. Ia segera ikut mobil yang di kendarai Syamsudin dan Sulaiman hingga terjadi kejar - kejaran.
"Cepat Billy!" teriak Denisha kesetanan.
Billy yang saat itu kondisinya babak belur akibat pukulan Aroon sedikit kabur pandangannya. Beberapa kali ia memicingkan matanya yang bengkak akibat di pukul Aroon. Bahkan ada darah yang masuk ke dalam matanya.
"Billy! Kamu bisa nyetir nggak!" teriak Denisha. Billy berusaha sebaik - baiknya mengendalikan laju mobil. Tapi karena ini daerah pegunungan yang jalannya terjal dan belokan tajam membuatnya kesulitan hingga___.
"Billy!!!"
Mobil yang dikendarai mereka jatuh ke jurang dan Duuaarr!!! Terbalik dan meledak.
Aroon menghentikan laju mobilnya dan melihat mobil yang dikendarai Denisha terbakar di tebing bawah. Bisa di pastikan Denisha dan Billy yang berada di dalam akan ikut terbakar. Syamsudin dan Sulaiman segera menelepon pihak berwajib.
Aroon terdiam. Maafkan aku Davira aku sama sekali tidak bisa menjaganya. Ia justru berbuat kejahatan yang tidak bisa aku maafkan. Mungkin ini balasan yang tepat atas semua hal yang diperbuatnya ucap Aroon dalam hati.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀