My Love Teacher

My Love Teacher
Step by Step


__ADS_3

Aroon meletakkan tubuh Cyra di atas sofa di dalam kamar.


"Mana yang sakit?"


"Saya tidak apa - apa tuan."


"Mana yang sakit? Kaki? Atau tanganmu?" tampak Aroon begitu mencemaskannya.


"Tidak ada yang sakit tuan. Saya tidak apa - apa." jawab Cyra. "Lihat ini saya bisa berdiri tegak kan?" Cyra berjalan sambil berputar - putar.


"Kamu pura - pura?" Aroon bertanya sambil berkacak pinggang.


"Terpaksa."


"Kenapa? Apa Denisha membuatmu kesal?"


"Iya dan juga tuan."


"Aku?" mata Aroon terbelalak tidak percaya. "Kok bisa."


"Tuan menyuruh Denisha menemui saya tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Dia emosi mengira kita mempermainkannya."


"Cyra.. Tadi Denisha menemuiku ketika aku sedang terburu - buru. Memang aku menyuruhnya menemuimu tujuannya agar dia mulai menganggapmu sebagai istriku di sini." Aroon menjelaskan. "Maaf."


"Hei.. Tuan jangan menganggapnya serius. Aku hanya bercanda tadi. Tidak perlu minta maaf." ucap Cyra sambil tersenyum. "Saya tahu tuan melakukan itu untuk saya. Terima kasih."


"Oke." Aroon tersenyum. "Oya kau mengijinkan Billy tinggal di sini lagi? Kau tidak takut kalau dia akan mengadu domba keluarga ini lagi?"


"Tidak tuan, saya yakin keluarga ini akan baik - baik saja."


"Baiklah, terserah padamu saja. Kalau itu membuatmu nyaman aku tidak masalah."


"Terima kasih tuan." jawab Cyra. "Oya tuan mau mandi, semuanya sudah aku siapkan."


"Yah kamu benar. Aku memang butuh mandi karena tubuhku lengket."


Aroon segera masuk ke dalam kamar mandi. Cyra melihat perubahan yang begitu besar pada diri Aroon. Lebih sabar, lebih mengalah dan juga perhatian. Apa dia melakukan itu untuk mengambil hatinya. Hanya saja Cyra masih ragu dengan perasaannya.


Cyra kemudian menata sofa dengan selimut dan bantal. Malam ini ia lebih baik yang tidur di sofa. Semalam waktu terbangun ia merasa kasihan dengan Aroon. Tubuhnya yang besar dan tinggi membuatnya tidak nyaman di posisi itu.


"Melamun?"


"Eh tuan sudah selesai." Cyra membalikkan badannya akan tetapi ia segera berbalik lagi.


"Kenapa?"


"Tuan tidak mengenakan baju." wajah Cyra memerah.


"Pria memang biasa seperti ini."


"Ya memang, cuma ini kan di dalam kamar."


"Memang kenapa? Toh kita sudah suami istri." Aroon berjalan mendekati Cyra. Cyra tahu bahwa laki - laki yang sekarang menjadi suaminya ada di belakangnya. Tercium harum dari tubuhnya sehabis mandi.


"Ssaya minta waktu satu tahun tuan. Bukankah itu perjanjian kita."


"Tapi melihatmu malu - malu seperti ini begitu menggemaskan." bisik Aroon.


Cyra memejamkan mata, ia bisa merasakan hembusan napas Aroon di telinganya. Napas berbau mint itu sepintas mengalihkan dunia Cyra hampir membuatnya tidak sadarkan diri.


Hey Cyra sadar, ingat misimu. Kau harus bisa mengungkap kejahatan Denisha.


"Hmmm.. Saya ke kamar mandi dulu tuan." dengan setengah berlari Cyra menghindari. Aroon yang melihat itu tersenyum penuh kepuasan.


"Cepat atau lambat kau akan jadi milikku Cyra." gumamnya. Ia duduk di sofa yang sudah di sulap istrinya itu menjadi tempat tidur. Yah sepertinya malam ini aku harus rela sakit pinggang lagi.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi itu setelah kegiatan rutin yaitu menyiapkan mandi, sarapan untuk suaminya itu Cyra menuju ke dapur untuk ngobrol sebentar dengan bik Tika.


"Kenapa nyonya membiarkan Billy kembali ke sini?"

__ADS_1


"Nah itu yang mau aku jelaskan ke bik Tika." jawab Cyra. "Dengar ya bik, aku itu sebenarnya sudah malas melihat wajah Billy. Tapi demi melancarkan rencana menjebak kita, aku terpaksa harus membawanya bergabung dengan Denisha. Kita akan lebih mudah untuk menjebak mereka berdua dan juga menemukan bukti - bukti."


"Kapan kau akan mengatakan hal ini pada Pak Uo mu?"


"Secepatnya, aku akan memancing mereka terus. Dan aku yakin saat ini mereka pasti sudah merencanakan sesuatu."


"Nyonya hati - hati. Berjanjilah padaku kau tidak akan berbuat sembrono."


"Aku janji bik." jawab Cyra. "ya sudah bik, aku akan menemui Gio."


"Tuan muda masih marah padamu?"


"Yah begitulah, dia masih belum menerima kehadiranku."


"Ah, aku ada cara."


"Apa itu bik?"


"Buatkan dia adik."


Uhuk.. Uhuk.. Uhuk.. Cyra terkaget hingga tersedak. "Bik Tika ini ada - ada saja." Cyra segera pergi meninggalkan dapur. Ia menuju kamar Gio. Di sana sudah menunggu Omar dan Olif yang siap untuk menjalankan rencana Cyra.


"Pagi Omar, Olif." sapa Cyra.


"Selamat pagi bu Cyra."


"Kalian sudah siap."


"Kami Siiiaapppp!!!" teriak Omar. Ia sengaja melakukan itu untuk menarik perhatian Gio. Dan benar saja begitu mendengar teruakan Omar Gio langsung beranjak dari tempat tidurnya. Omar memberikan tanda bahwa ia berhasil menarik perhatian Gio.


"Baiklah, kita akan belajar bahasa Inggris. Kita akan keliling rumah ini sambil berbahasa Inggris. Kalian harus mengenaal barang - barang yang ada di rumah ini."


"Oh.. Itu gampang bu." Omar meremehkan.


'Heleh... Sesumbar kau." Cibir Olif.


"Tidak masalah yang penting percaya diri."


"Houueekkk." Olif menjulurkan lidahnya seperti orang muntah.


Cyra mengajak mereka berkeliling rumah sambil terkadang memberi pertanyaan mengenai barang - barang dengan menggunakan bahasa Inggris. Gio yang berada di belakangΒ  memperhatikan setiap perkataan yang keluar dari mulut Cyra. Perbendaharaan kata Inggrisnya bertambah. Gio sangat menikmati hal itu walaupun dilakukan secara sembunyi - sembunyi.


"Bu Cyra capek."


"Kalian capek atau pusing?" Cyra tersenyum melihat wajah mereka berdua. Memang sulit tapi dengan kemampuan yang dimiliki Gio, Cyra yakin ia pasti bisa.


"Puyeng bu." keluh Olif.


"Ya sudah kalau begitu, kita berhenti dulu dan lanjutkan besok."


Tiba - tiba


"Kenapa berhenti?" teriak Gio tanpa sadar, itu karena keinginannya lebih kuat hingga dia mengeluarkan kata itu di bawah alam sadarnya. Mereka bertiga menoleh.


"Gio." panggil Cyra. "Kau mau ikut bergabung bersama kami?" Cyra menawarkan. "Kemarilah."


Gio tampak ragu, kakinya sudah melangkah satu langkah. Tapi kemudian ia urungkan. Gio terdiam sesaat dan kemudian berbalik lari meninggalkan mereka.


"Wah padahal kurang sedikit lagi bu Cyra." Omar tampak kecewa.


"Tidak apa - apa. Kuncinya harus bersabar. Aku yakin ia akan menerimaku."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


"Nona, aku punya ini."


"Apa itu Bil?"


"Obat pencuci perut. Kita tuangkan ke dalam masakan Cyra. Kalau tuan memakannya tentu saja ia salah di mata tuan. Bagaimana ideku brilian kan?"


"Lumayan."

__ADS_1


Tanpa mereka sadari bik Tika mendengarnya. Oh banci kaleng itu mau main - main dengan nyonya pikir bik Tika. Ia segera memvideokan aksi Billy menaruh sesuatu di makanan tuan. Bik Tika langsung mengirimnya ke Cyra.


Cyra hanya tersenyum melihat rekaman itu. Huh permainan anak kecil cibir Cyra. Setelah melihat rekaman itu sampai selesai. Ia menunggu Aroon keluar kamar mandi sambil melihat video yang lucu.


"Kenapa senyum - senyum?" tanya Aroon sambil.mengeringkan rambutnya


"Ini lihat video lucu."


"Oya. Tentang apa?"


"Ini ada sepasang kekasih sedang kencan di kebun binatang. Waktu mereka mau ciuman malah di ganggu monyet. Hahahahhh.."


"Seperti apa ciumannya?" goda Aroon.


"Itu ciuman di bi___." Cyra tidak melanjutkan perkataannya. Sadar bahwa ia telah di kerjai oleh Aroon langsung tersipu malu. "Kalau sudah selesai ayo kita ke meja makan."


"Kau belum menyelesaikan ucapanmu. Ciuman yang bagaimana?"


"Aahh.. Jangan di bahas lagi. Saya malu tuan. Ayo kita makan."


"Hahahahh.." Aroon tertawa terbahak - bahak melihat istrinya itu. "Baiklah ayo."


Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke ruang makan. Di sana Denisha dan Billy sudah menunggu.


"Aroon kau tidak keberata kan kalau Billy ikut melayaniku disini?"


"Tidak, asalkan Cyra tidak keberatan maka aku juga sama."


"Terima kasih Cyra."


"Iya sama - sama. Ayo kita makan."


Cyra mengambilkan nasi untuk Aroon. "Kau yang memasak?"


Cyra mengangguk. "Kau suka yang mana?"


"Hmmm.. Sayur, ayam dan telur."


"Oya maaf, telurnya tadi ke asinan. Aku terlalu banyak memberinya garam." Cyra memberikan penjelasan. "Aku ganti lauk yang lain bagaimana?"


Billy yang melihat Aroon tidak jadi makan telur segera memutar otak agar Aroon mau makan telur itu.


"Benarkah keasinan? Kelihatannya telurnya enak. Benar - benar menggiurkan, iya kan nona?"


"Iya. Cobalah dulu Aroon siapa tahu Cyra keliru. Bukankah kau suka telur."


"Aku tidak keliru Denis. Coba saja jika kau tidak percaya." Cyra menyodorkan telur itu pada Denisha. Hal itu sontak membuat Denisha menjadi panik. Ia tahu makanan itu sudah di beri obat. Kalau ia makan itu namanya senjata makan tuan.


"Aku tidak tahan dengan rasa asin. Hmmm kau saja yang mencoba Billy."


"Tttapi nona." gantian Billy yang pucat.


"Iya cobalah Billy. Tadi kau kan juga tidak percaya." desak Cyra. Ia menahan tawa melihat wajah Billy yang hitam itu pucat. "Kenapa diam? Kau juga tidak tahan rasa asin? Atau jangan - jangan____."


"Jangan - jangan apa? Jangan asal menuduh." sahut Denisha.


"Denisha jangan bicara dengan nada tinggi di meja makan." Aroon memperingatkan.


Denisha memberi kode agar Billy segera memakannya agar tidak timbul kecurigaan. Tangan Billy gemetar ketika menyendokkan telur ke dalam mulutnya. "Ayo makan." desak Denisha tidak sabar. Dan akhirnya masuk ke dalam mulut Billy.


"Bagaimana asin kan?" tanya Cyra.


Billy hanya mengangguk saja karena ia sudah tidak bisa fokus dengan pertanyaan Cyra. Ia lebih fokus pada perutnya yang akan sakit dan harus bolak balik kamar mandi.


"Nah Aroon sekarang kau tahu kan kalau telurnya benar - benar asin. Makan yang lain saja ya."


"Baiklah. Terserah kamu saja."


Cyra tersenyum penuh kemenangan. Sedangkan tangan Denisha mengepal di bawah meja. Sial!!! Gagal lagi!


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


__ADS_2