My Love Teacher

My Love Teacher
Aku Tidak Mau Kehilangan Kalian


__ADS_3

Denisha sudah kembali dari tempat penangkaran binatang buas milik John. Orang perkebunan tidak tahu dengan apa yang dilakukannya karena ia memang sering jalan - jalan keluar.


Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt...


"Siapa yang telepon?" tanya Denisha yang masih fokus menyetir.


Billy mengambil handphone Denisha dan melihat ke layar. "Tuan Dirgantara."


"Kenapa pria brengsek itu menelepon setelah apa yang dia lakukan padaku." Denisha tampak geram dan kesal.


"Bagaimana nona? Angkat atau tidak?"


"Biarkan saja."


"Baiklah." Billy meletakkan handphone Denisha kembali.


Drrrttt.. Drrrtt.. Drrrttt Handphone itu kembali berdering.


"Nona dari tuan Dirgantara lagi."


"Apa sih maunya? Ya sudah kau angkat saja." perintah Denisha. "Loudspeker."


"Bbbaik." jawab Billy. "Halo."


"Mana Denis?"


"Tidak ada tuan."


"Oh sudah berani bohong kau rupanya. Dia sedang menyetir?"


Pertanyaan dari Dirgantara membuat Denisha kaget. Darimana ia tahu kalau Denisha sedang menyetir. Hal itu membuatnya mau tidak mau ikut berbicara.


"Ada apa?" tanya Denisha.


"Siapa yang mau kau bunuh?"


"Apa maksudmu aku sama sekali tidak mengerti? Jangan asal bicara!"


"Hahahahhh.. Tidak ada yang bisa kau sembunyikan dariku Denis." jawab Dirgantara. "Anjing Pit Bull ras Amerika, keganasannya sudah tidak diragukan lagi. Dan kau membelinya? Kalau tidak untuk membunuh buat apa lagi."


"Darimana kamu tahu aku membeli anjing itu? Jawab!"


"Kau lupa. Aku juga menyukai binatang buas sayang. Dan John adalah temanku."


Denisha mengeratkan pegangannya pada setir mobil. Giginya bergemeretak karena menahan amarah. "Bukan urusanmu!"


"Cyra kah targetmu?"


"Diam kau brengsek! Jangan ikut campur!"


"Ah sepertinya aku benar." ucap Dirgantara. "Baiklah semoga berhasil sayang." panggilan diakhiri.


"Halo! Halo! Dirga!" teriak Denisha.


"Sudah dimatikan nona." ucap Billy.


"Brengsek! Sial! Kenapa dia bisa tahu."


"Apa lebih baik kita urungkan saja rencana kita nona?'


"Kamu ini bagaimana? Kau tahu kan aku tidak akan mundur sedikit pun. Mengerti!"


Denisha mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Dan tak lama kemudian mereka sampai juga di perkebunan. Setelah menaruh mobilnya ia segera turun dan berjalan menuju ke kamarnya. Di lorong ia bertemu dengan Cyra.

__ADS_1


"Dari mana Denis?"


'Bukan urusanmu!"


"Yah memang bukan urusanku, tapi karena aku nyonya rumah di sini jadi aku berhak tahu kemana saja penghuni rumah ini pergi."


"Bersenang - senang."


"Jangan pulang terlalu malam, berbahaya."


"Terserah mau aku apakan diriku itu adalah hak ku. Mengerti."


"Baiklah kalau itu maumu. Aku tidak akan mengganggumu lagi." ucap Cyra. "Suamiku sudah menungguku di kamar, aku permisi." pamitnya sambil tersenyum smirk.


Denisha memandang tajam kepergian Cyra, matanya memerah menahan amarah. "Nikmati hidupmu Cyra. Sebentar lagi aku akan mengirimmu ke neraka berkumpul bersama dengan kakakku tercinta. Berkumpullah dengan orang - orang yang sudah mengganggu hidupku ucap Denisha dalam hati.


🍀🍀🍀🍀


Pagi ini sesuai dengan janji Cyra mereka belajar matematika di kandang kuda. Omar dan Olif begitu antusias.


"Bu Cyra memang di kandang kuda ini kita bisa belajar apa?"


"Banyak Olif, matematika pun bisa."


"Huh ketahuan kalau bodoh." sindir Omar.


"Memangnya kamu juga tidak bodoh." Olif menonyor kepala Omar.


"Sudah tidak perlu bertengkar." lerai Cyra. 'Kamu sudah siap belajar Gio."


"Sudah."


"Oke kita mulai saja pelajarannya." ucap Cyra. "Kalian lihat ini apa?"


"Apa fungsinya?"


"Untuk mengukur panjang pendek benda." jawab Gio tak kalah antusias.


"Good job Gio." puji Cyra. "Nah meteran ini panjangnya ada lima meter dan satu meter ini ada seratus centimeter. Berarti total ada berapa centi meter pada meteran ini."


Gio, Omar dan Olif mulai berhitung. Tak berapa lama Gio menjawab. "Lima ratus centimeter."


"Benar jawabanmu Gio."


"yah kalah cepat kita." sesal Omar.


"Heleh kalah cepat atau memang tidak bisa menghitung." cibir Olif. Cyra dan Gio tertawa mendengarnya.


"Tenang masih ada kesempatan Omar."


"Siap bu, saya akan mengalahkan tuan muda."


Cyra kembali melanjutkan pelajarannya. "Kali ini yang dibutuhkan adalah kerja sama. Gio akan kesulitan jika tidak kalian bantu." ucap Cyra. "Nah sekarang aku ingin kalian mengukur berapa keliling kandang kuda ini menggunakan meteran ini." perintah Cyra. "kalian sanggup?"


"Sanggup bu." jawab mereka bertiga serempak. Gio tampak antusias dalam kegiatan itu dan mulai mengukur keliling kandang kuda.


Cyra memperhatikan kegiatan mereka, ia senang karena Gio sudah mau berinteraksi dengan. Bahkan tanpa sadar ia sering bertanya apakah yang dia lakukan sudah betul.


Tampak dari kejauhan Denisha dan Billy memperhatikan mereka.


"Nona sepertinya tuan muda sudah mau berinteraksi dengan Cyra. Bisa gawat kalau mereka kembali dekat."


"Memang gadis itu tidak bisa aku anggap remeh, akalnya sangat pintar dalam menarik perhatian Gio. Kalau seperti ini bisa - bisa aku tidak akan mendapatkan apa - apa."

__ADS_1


"Iya nona benar."


"Ach.. aku ada ide." Denisha membisikkan sesuatu di telinga Billy dan dengan segera Billy melakukan perintah Denisha. Ia berjalan cepat sambil sesekali melihat situasi. Di kandang kuda ini tidak banyak yang bekerja karena hanya terdapat tiga kuda biasa dan satu kuda poni. Hal itu di manfaatkan oleh Billy untuk masuk ke dalam kandang dengan leluasa. Dengan berlahan ia membuka kandang salah satu kuda yang berwarna hitam. Ia menusuk kuda itu dengan jarum hingga meringkik dengan keras.


"Suara apa itu?" ucap Cyra.


"Seperti ringikan kuda bu." jawab Omar.


Baru saja Cyra mau melihat ke dalam tiba - tiba dari dalam keluarlah kuda warna hitam yang tampak sedang mengamuk, berlari dengan kencang ke arah mereka sedang berkegiatan. Cyra panik begitu juga dengan Gio, Omar dan Olif. Cyra segera menarik tangan Gio untuk menghindar membuat mereka jatuh terguling - guling di tanah.


"Cyra! Gio!" teriak Aroon. Ia berlari sekuat tenaga, berusaha menenangkan kuda yang sedang mengamuk itu. Aroon berhasil menarik tali kekang dan dengan sekali lompatan ia bisa naik ke atas kuda. Dengan sekuat tenaga ia mengendalikan kuda hitam itu. Tak berapa lama kuda itu mulai tenang dan bisa di kendalikan. Setelah itu Aroon turun.


Dari kejauhan tampak dua orang pekerja berlari tergopoh - gopoh mendakati mereka. Aroon yang sudah dipenuhi amarah melihat mereka dengan mata menyala.


"Maaf tuan." ucap mereka.


"Kemana kalian tadi?!"


"Kami sedang mengambil jerami tuan."


"Kelalaian kalian bisa berakibat fatal. Ini bisa membahayakan anak dan istriku mengerti!"


"Maafkan kami tuan." mereka menunduk ketakutan.


"Aroon." Cyra menghampiri suaminya dan dengan lembut membelai lengannya. "Aku dan Gio tidak apa - apa. lihatlah kami." Cyra berusaha menenangkan emosi suaminya yang meluap - luap.


"Benar kalian tidak apa - apa."


"Iya kami tidak apa - apa. Iya kan Gio?"


'Iya Phoo, aku seorang laki - laki yang kuat, hanya jatuh saja tidak masalah buatku."


Aroon memeluk erat Cyra dan Gio bersamaan. "Ya tuhan aku tidak tahu harus berbuat apa kalau kuda itu menginjak atau menendang kalian."


"Terima kasih sudah selalu melindungi kami."


"Aku mencintai kalian dan aku tidak mau kehilangan kalian."


"Kami akan selalu ada disini Phoo."


Setelah puas memeluk istri dan anaknya. Aroon kembali menghampiri dua penjaga itu yang masih ketakutan. "Kali ini kalian aku maafkan. Tapi jika ini terjadi lagi kalian akan berhadapan denganku. Mengerti!"


"Mengerti tuan. Terima kasih."


Dua pekerja itu kembali membawa kuda masuk ke dalam kandangnya. Tak berapa lama salah satu dari mereka berlari keluar menghampiri Aroon yang masih ada di sana.


"Maaf tuan. Ada yang mau kami laporkan."


"Tentang apa?"


"Ini tuan." pekerja itu menyerahkan sebuah jarum. "Saya menemukan ini tuan dan pintu kandang dalam keadaan terbuka."


Aroon menerima jarum itu. "Maksudmu ada yang sengaja melakukan ini?"


"Iya tuan. Kami berdua tidak pernah lupa menutup pintu kandang setiap kali kami pergi dan juga benda - benda seperti ini tidak pernah ada. Tuan bisa menanyakan ini pada pak Sulaiman, bagaimana kerja kami di kandang kuda ini."


"Ya.. Ya.. aku mengerti. Kejadian seperti ini baru terjadi kali ini saja." ucap Aroon. "Aku akan menyelidikinya. Jika ada sesuatu yang mencurigakan lagi kau bisa segera melaporkannya padaku."


"Baik tuan."


Aroon segera meninggalkan tempat itu. Memang sangat aneh tiba - tiba saja kuda kesayangannya mengamuk tanpa sebab dan membahayakan istri dan anaknya.


Aroon segera menemui Sulaiman orang kepercayaannya untuk menyelidiki hal tersebut. Suatu kebetulan juga ketika kuda itu mengamuk Cyra dan Gio ada di sana. hanya saja ia belum tahu siapa yang di targetkan oleh musuhnya. Cyra atau Gio anaknya

__ADS_1


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2