
Cyra menikmati sore hari dengan menemani Gio yang sedang belajar di taman samping. Walaupun kondisi hamil ia tidak pernah mengabaikan Gio.
Aroon ikut bergabung bersama mereka. Ia membawakan Cyra susu dan potongan buah.
"Terima kasih sayang."
Aroon mencium perut Cyra yang semakin membesar. Menurut perkiraan dokter ia akan melahirkan bulan depan. Walaupun ini kehamilan pertamanya ia berusaha untuk tidak stres.
"Hai boy, baik - baik di perut Mae ya." bisik Aroon. Ia selalu mengajak anaknya berkomunikasi. "Kau sudah belanja semuanya?"
"Sudah, aku tidak membeli baju terlalu banyak. Kata orang - orang bayi itu cepat besar." Cyra mengambil potongan buah dan memasukkannya ke dalam mulut.
"Gio kamu mau?"
"Nggak Mae, aku maunya kue kering buatan Mae."
"Baiklah besok aku buatkan. Mau yang manis atau gurih?"
"Dua - duanya."
"Eh Gio jangan banyak - banyak, nanti Mae capek." Aroon memperingatkan
"Nggak apa - apa, yang penting semangat belajarnya." Cyra bersandar pada dada bidang milik suaminya. Itu tempat ternyaman saat punggungnya merasa pegal. Ia beruntung memiliki Aroon yang masuk dalam kategori suami siaga.
"Cyra."
"Hmm." jawab Cyra karena mulutnya sibuk mengunyah buah.
"Aku ada perjalanan bisnis ke Bali."
Cyra memghentikan kegiatannya. Ia membalikkan badannya menghadap suaminya. "Ke Bali? Kok mendadak."
"Sebenarnya penawaran kerja sama ini sudah dari bulan lalu. Tapi aku masih ragu bercerita kepadamu. Saat ini kamu sedang hamil dan butuh perhatianku."
Cyra terdiam. Ia berusaha tenang. "Bisnis apa?"
"Beberapa hotel di sana meminta kita sebagai pemasok tetap buah dan sayur." jawab Aroon. "Di Bali hotel ini termasuk hotel bintang lima. Jadi memang mengutamakan kualitas makanannya. Aku juga sudah memperhitungkan keuntungan yang akan kita peroleh." ucap Aroon. "Tapi jika kamu tidak mengijinkan tidak apa - apa. Tidak akan ada pengaruhnya dengan perkebunan kita."
Cyra tahu suaminya itu pasti ingin mengembangkan bisnisnya. Ia tidak mungkin egois toh perginya paling hanya sebentar. "Berapa lama?"
"Hanya tiga hari."
"Baiklah. Tapi hanya tiga hari ya. Kalau terlalu lama nanti aku rindu." ucap Cyra manja
"Iya. Setelah penandatanganan kontrak selesai aku akan langsung pulang."
"Sendirian?"
"Tidak, aku bersama Sulaiman."
"Kalau kamu ada temannya aku tidak terlalu khawatir kamu di sana." ucap Cyra.
__ADS_1
"Khawatir aku di gaet bule pake bekini."
Cyra memukul pelan lengan Aroon. "Awas ya kalau berani. Ingat sudah punya dua anak. Jangan macam - macam."
"Tidak sayang. Percaya padaku." Aroon memeluk tubuh istrinya.
🍀🍀🍀🍀
Aroon mencium Cyra yang tertidur pulas setelah pertempuran mereka. Kondisi Cyra yang berperut besar membuatnya terbatas dalam bergerak. Dokter juga menyarankan agar mengurangi kegiatan di ranjang karena bisa menimbulkan kontraksi ringan. Mereka memilih kegiatan malam yang aman dengan konsultasi pada dokter.
"Oaham.." Cyra menguap. Ia tersenyum melihat suaminya itu ada di sampingnya. "Kau sudah mau berangkat?"
"Iya." Aroon membelai lembut rambut istrinya. Ia menyingkirkan anak rambut yang menghalangi wajah Cyra. "Capek?"
"Tidak." jawab Cyra. Ia bangun dari tidurnya. "Tunggu, aku mandi dulu."
Aroon mengangguk. Ia mulai memastikan lagi barang - barang yang akan dia bawa. Cyra sudah menatanya aejak tadi malam. Istrinya itu tahu apa saja yang akan di butuhkan suaminya di sana. Setelah semuanya lengkap Aroon kemudian menutup koper dan menaruhnya di depan.
Cyra keluar dari kamar mandi dengan wajah lebih segar. "Aku pasti akan merindukanmu." ucapnya sambil memeluk manja suaminya.
"Aku yang lebih rindu." Aroon mencium bibir Cyra cukup lama. Tak lupa juga mengusap perut istrinya. "Hei boy jangan rewel. Jaga Mae oke."
"Kau sudah pamitan dengan Gio?"
"Belum."
"Ayo."
Mereka keluar dari kamar. Koper di bawa oleh Omar dan di masukkan ke dalam mobil. "Gio, jaga Mae."
"Thank's boy." Aroon memeluk erat anak laki - lakinya yang semakin dewasa.
Aroon akhirnya pergi bersama dengan Sulaiman. Awalnya ia tiga hari berada di sana. Tapi begitu pisah dari anak istrinya dan merasa rindu ia berusaha dua hari sudah bisa pulang.
Aroon naik pesawat dan mendarat dengan selamat di Bali. Ia tidak lupa menghubungi Cyra yang saat itu sedang membuat kue kering untuk Gio melalui video call.
"Aku sudah sampai. Sekarang baru masuk hotel."
"Syukurlah. Kapan ketemu dengan klien?" tanya Cyra.
"Nanti sore. Aku akan mandi dulu dan bersiap."
"Kenapa tidak besok saja. Istirahatlah dulu."
"Aku mau cepat pulang jadi Sulaiman sudah menghubungi pihak klien agar mereka bisa bertemu nanti sore."
"Ya sudah. Aku dan anak - anak menunggumu di rumah."
Panggilan di akhiri. Sulaiman melihat banyak terjadi perubahan pada diri tuannya itu.
"Ah Sulaiman aku tidak menyangka akan berumah tangga lagi. Menemukan seorang wanita sekaligus ibu yang baik untuk anak - anakku. Kehadiran Cyra bisa aku anggap sebagai cahaya penerang dalam perjalanan gelapku."
__ADS_1
"Iya tuan, nyonya benar - benar berhati mulia."
"Aku tahu akan ada hikmah dalam setiap musibah yang kita alami." ucap Aroon. "Aku sangat bahagia sekarang."
"Iya tuan."
"Ayo kita segera penanda tanganan kontrak. Aku tidak mau berlama - lama di sini."
"Baik tuan." Sulaiman menghubungi pihak hotel di mana mereka akan menginap untuk menyediakan mobil. Mereka berdua rencananya akan meeting di daerah ubud.
Saat itu Bali dalam suasana mendung dan gerimis. Jalan yang mereka lalui adalah lereng perbukitan. Aroon sangat menikmati pemandangan di sana.
Tiba - tiba..
"Ciiiiitttt!!!" suara ban mobil yang tergelincir.
"Ada apa pak?" tanya Aroon.
"Jalanan licin. Tuan tenang saja." sopir berusaha menenangkan Aroon dan Sulaiman.
Aroon sepertinya sudah curiga ada yang tidak beres dengan mobil ini. Karena sopir menyetir dengan kewalahan.
"Mobilnya rusak? Sudah menepi saja dulu." perintah Aroon.
"Maaf tuan, ini saya juga baru berusaha menghentikan mobil."
"Apa?!" Aroon terkejut mendengar perkataan sopir. Ia kemudian maju ke depan berusaha mengambil alih kemudi. "Geser." perintahnya pada sopir. Dengan cepat sopir bergeser ke jok penumpang. Aroon memegang setir.
"Tuan bagaimana?"
"Remnya blong. Hand rem nya juga rusak."
Aroon berbelok ke kanan dan ke kiri agar laju mobil melambat. Tapi nihil karena mobil melaju cukup kencang.
"Sulaiman keluar! Lompat!"
"Tidak tuan saya tetap disini menemani tuan."
"Jangan bodoh! Aku perintahkan lompat kau harus lompat!"
"Tidak tuan."
Aroon membuka kunci mobil. Ia sudah menyuruh sopir mobil untuk lompat dan dia sudah lompat keluar.
"Aku baru berusaha mengendalikan mobil ini. Lompatlah!"
"Tidak tuan."
"Baiklah kalau itu maumu." Aroon membanting setir ke kiri hingga pintu mobil terbuka dan membuat Sulaiman terpelanting keluar. Tubuhnya berguling - guling di atas batu. Dan Sulaiman selamat. Kini tinggal Aroon sendiri di dalam mobil.
Aroon masih terus berusaha mengendalikan mobil di jalan yang berliku dan sempit. "Ya tuhan selamatkan aku. Aku tidak bisa meninggalkan istri dan anakku." doa Aroon. Ia terus berjuang hingga salah satu roda selip ke jurang. Mobil itu terpelanting berputar - putar hingga ke jurang bawah.
__ADS_1
"Tuannn!!!" teriak Sulaiman.
🍀🍀🍀🍀