
"Hei ada apa kalian berdua ini? Aku perhatikan dari tadi melamun terus." tanya bik Tika pada Sulaiman dan Syamsudin. Mereka sedang makan di dapur.
"Tika sudah berapa lama kau ikut tuan?" tanya Sulaiman
"Waduh berapa tahun ya. Aku kok lupa. Yang pasti sejak tuan tinggal di Indonesia."
"Kau setia pada tuan kan?" ganti Syam yang bertanya.
"Tentu saja. Kalian bisa melihat sendirikan kesetiaanku."jawab bik Tika tegas. "Ada apa sih? Kok kalian main tanya jawab begini."
Sulaiman dan Syamsudin saling berpandangan. Tak lama kemudian Sulaiman beranjak dari duduknya. Ia melihat keadaan sekitar dan di luar kemudian segera menutup pintu.
"Kami mau bicara." ucap Sulaiman.
"Bicaralah. Bukankah dari tadi kalian sudah berbicara." jawab bik Tika enteng.
"Kami seriusย Tika." tampak wajah Sulaiman yang kesal karena bik Tika seperti bercanda.
"Iya.. Iya.. Maaf." bik Tika akhirnya duduk bersama dengan mereka.
"Aku rasa yang membawa anjing ke perkebunan sehingga membuat nyonya celaka adalah nona Denisha." Sulaiman berkata dengan setengah berbisik agar pembicaraan mereka bertiga tidak ada yang mendengar.
Bik Tika mendengar perkataan Sulaiman dengan ekspresi datar tanpa terkejut sama sekali.
"Kok kau tidak terkejut?" Syamsudin keheranan.
Bik Tika menghela napas. "Apa bukti kalian?"
"Lihat ini." Syamsudin memperlihatkan foto sebuah makanan anjing untuk jenis Pit Bull. "Kami menemukan ini di dalam kamar nona Denisha. Ini makanan untung Anjing Pit Bull." ucap Syamsudin. "Sekarang buat apa coba makanan ini kalau bukan buat anjing yang menyerang Cyra. Dan kebetulan Cyra takut dengan anjing. Semua serba kebetulan di sini."
"Tapi kami berdua belum memberi tahu tuan. Mengingat nona Denisha adalah keluarga. Kami sedang mencari bukti yang lebih kuat lagi. Misalnya buktiย atau sertifikat pembelian anjing." sahut Sulaiman.
Bik Tika masih terdiam. "Ada sesuatu yang akan aku ceritakan pada kalian." bik Tika memasang wajah serius. "Aku rasa kalian justru yang akan terkejut mendengar ceritaku." bik Tika menarik napas panjang sebelum memulai ceritanya.
"Sebelum tuan dan nyonya menikah aku mendengar sendiri pembicaraan nona denisha dengan Billy di telepon."
"Bicara apa?"
"Bahwa nona Denisha adalah dalang penculikan nyonya beberapa waktu yang lalu. Ia juga berniat membunuhnya."
"Kurang ajar!" teriak Syamsudin sambil menggebrak meja. "Kenapa kau tidak cerita padaku?!"
"Nyonya melarangnya. Nanti ia sendiri yang akan menceritakannya pada kalian."
"Tenang Syam. Duduklah dulu." Sulaiman berusaha menenangkan sahabatnya itu.
"Bagaimana aku bisa tenang! Penculikan itu mengakibatkan keponakanku hilang keperawanan karena tuan!" Emosi Syamsudin tak terbendung lagi. "Keponakanku sampai mengalami trauma berkepanjangan! Dasar wanita ******!ย Aku pastikan ia masuk penjara dalam waktu yang lama!"
"Hhhilang keperawanan? Mmmaksudmu ttu.. ttuan memperkosa nyonya?" wajah bik Tika pias mendengar perkataan Syamsudin.
"Iiittu tidak mungkin Syam. Tttuan orang yang baik."
__ADS_1
"Orang yang baik pun kalau sudah di suntik obat perangsang pasti akan berbeda dengan aslinya." Syamsudin terduduk lemas.
"Pantas saat itu nyonya sangat terpukul dan ketakutan hingga minta pulang ke Surabaya." gumam bik Tika.
Mereka bertiga terdiam. Mereka dalam pemikirannya masing - masing. Mereka kalut dan tidak habis pikir dengan kejadian yang tak terduga ini.
"Kita tidak bisa seperti ini terus." ucap Sulaiman. "Kita harus segera bertindak, mengumpulkan bukti - bukti agar wanita penyihir itu tidak kembali menyakiti keluarga kecil tuan."
๐๐๐๐
Cyra berusaha turun dari tempat tidurnya dengan pelan - pelan. Ia merasa bosan dan ingin pergi keluar menghirup udara segar. Luka di kakinya sudah tidak terasa sakit. Besok pagi ia akan kembali ke rumah sakit, begitu dokter menyatakan lukanya mengering ia akan lepas perban. Ia akan merasa terbebas tanpa harus merepotkan orang lain.
Apalagi semalam ia bermimpi sangat aneh tapi membuatnya ketagihan. Karena terbiasa Aroon memandikannya. Merasakan sentuhan - sentuhan yang membuatnya selalu merindukan. Bahkan di dalam mimpinya ia mandi bersama dengan suaminya itu. Dengan lembut Aroon mencium punggungnya dan tentu saja menimbulkan rasa yang aneh geli seperti ada ribuan kupu - kupu dakam perutnya.
Cyra menarik napas panjang, kenapa ia bisa bermimpi seperti itu. Aku harus fokus pada misi awal yaitu mencari bukti kejahatan Denisha.
"Mau kemana?"
"Oh, kau mengagetkanku." Cyra menoleh ke sumber suara. "Aku mau keliar sebentar, bosan di kamar terus."
"Kenapa tidak memanggilku?"
"Aku takut merepotkan."
"Aku tidak merasa di repotkan." jawab Aroon. "Kau mau jalan - jalan kemana?"
"Hmmm, ke perkebunan mungkin."
"Baiklah aku akan mengantarmu kesana." Aroon bersiap membopong Cyra.
"Lukamu?"
"Kayaknya sudah kering. Sudah tidak terasa sakit lagi."
"Yakin?"
Cyra mengangguk.
"Baiklah, aku buka pintunya." Aroon dengan cepat membuka pintu agar lebih lebar. Cyra berjalan pelan - pelan. Aroon kembali menutup pintunya.
Mereka berdua berjalan menuju ke perkebunan. Walaupun berjalan pelan bagi mereka berdua terasa sangat cepat.
"Mau duduk di gazebo?"
"Iya, aku mau duduk di sana."
"Ayo." Aroon menggandengan tangan Cyra karena letaknya agak menanjak. Tujuannya agar istrinya itu tidak jatuh. "Benar besok jadwal pelepasan perbanmu?" tanya Aroon setelah Cyra berhasil duduk di gazebo.
"Iya, aku sudah lihat jadwal kontrolnya."
"Sudah daftar?"
__ADS_1
"Sudah, lewat online."
"Kenapa tidak memberitahuku?"
"Ini kan masalah sepele." ucap Cyra. "Aku tidak mau merepotkanmu. Lihat pekerjaanmu jadi terbengkelai kan?"
"Tenang saja Cyra. Kan sudah aku bilang ada Sulaiman dan Syamsudin yang membantuku."
Cyra tersenyum, ia menghirup udara di perkebunan dalam - dalam. "Hmmm.. Segarnya."
"Kau suka?" tanya Aroon.
"Cyra mengangguk. "Sangat suka."
Drrrtt.. Drrttt.. Drrrtt.. ada panggilan masuk di handphone Aroon.
"Halo." jawabnya. "Oh sudah datang, oke aku kesana." panggilan di akhiri. "Cyra aku akan ke perkebunan jeruk sebentar. Jangan pergi kemana - mana oke."
"Iya.. Iya.. siap bos." Cyra tertawa melihat betapa panik suaminya.
Melihat Cyra yang tertawa lepas membuatnya bahagia. "Baiklah, aku tinggal dulu."
"Hati - hati."
Cyra mengedarkan pandangannya pada hamparan tumbuhan hijau yang menyejukkan mata. Rasa bosannya tiba - tiba berangsur - angsur hilang. Ia berulang kali menghirup udara segar sambil menyimpannya dalam dada.
"Guukk.."
Hah suara apa itu. Apakah itu anjing tanya Cyra dalam hati. Wajahnya berubah menjadi panik dan keringat dingin yang membasahi dahinya.
"Guuukk.." suaraย itu terdengan lebih keras.
Ya tuhan jangan anjing lagi. Aku benar - benar ketakutan doa Cyra. Ia memejamkan mata, pasrah dan tidak mau melihat apakah ada anjing atau tidak.
"Guuukk."
"Tidak.. Tidak.. Tidak ada anjing Cyra. Itu hanya ilusi saja." gumamnya sambil terus menutup mata.
Dan tiba - tiba saja ada tangan yang menyentuh telinganya dan mengatupkan tangannya di kedua telinga Cyra. ia melakukan itu agar Cyra tidak bisa mendengar suara anjing itu.
"Hei tenanglah ada aku." ucap Aroon.
Cyra bernapas lega. "Aroon." peluknya erat. "Aku takut." ucap Cyra. "Apakah anjing itu sudah pergi?"
"Tidak ada anjing, mungkin itu hanya suara tiruan."
Cyra memeluk erat tubuh kekar milik suaminya. "Jangan tinggalkan aku lagi. Aku benar - benar takut."
"Tidak akan. Ingat kau bisa mengandalkanku Cyra." belai Aroon di rambut Cyra.
Cyra memejamkan mata merasakan pelukan hangat dari Aroon. Ia benar - benar menikmati. Sekarang tangannya sudah terbiasa dengan badan kekar milik Ariin. Cyra membelai punggung Aroon. Itu membuat Aroon terkejut sekaligus senang.
__ADS_1
"Kau nakal Cyra." gumamnya
๐๐๐๐