My Love Teacher

My Love Teacher
Melahirkan


__ADS_3

Syamsudin duduk termenung di sebuah batu. Ia istirahat sebentar bersama tim penyelamat yang lain. Setelah melakukan panggilan dengan Cyra, ia tampak terdiam. Wajahnya yang letih, keringatnya yang membasahi tubuhnya demi mencari suami keponakannya.


"Minum dulu pak Syam."


"Terima kasih Fahri."


Syamsudin meneguk air minum yang di berikan oleh Fahri.


"Kira - kira kemana tuan. Padahal mobilnya sudah di temukan."


"Aku yakin kita pasti melewatkan sesuatu. Kalaupun tuan terpental keluar pasti kita menemukannya di dekat bangkai mobil."


"Sabar pak Syam. Kita pasti menemukannya."


"Aku hanya kasihan melihat Cyra. Ia hamil tua, sudah mau melahirkan tapi belum mendapat kabar yang pasti dari keberadaan tuan." ucap Syamsudin sambil menerawang jauh. "Apalagi ini sudah dua hari. Jika tuan masih hidup bagaimana dengan makan dan minumnya."


"Aku tadi dengar dari tim penyelamat mereka menemukan ada anak sungai di sekitar sini. Rencananya besok mereka akan menyusuri sungai. Kemungkinan tubuh tuan hanyut karena alirannya cukup deras."


"Kalau seperti itu ceritanya kita akan makin kesulitan menemukan tuan. Kita ini di kejar oleh waktu. Dan kemungkinan tuan hidup sangat tipis." ucap Syamsudin. "Kalau benar itu terjadi bagaimana aku harus menjelaskan pada Cyra."


Fahri menepuk - nepuk punggung Syamsudin. Ia tahu pria berusia hampir setengah abad itu sedang di landa kebingungan.


Ada aba - aba dari ketua tim penyelamat untuk melanjutkan pencarian. Saat ini sudah sore jika malam maka pencarian akan di lanjutkan keesokan paginya.


Syamsudin selalu berdoa agar bisa segera menemukan tuannya.


"Tuan! Tuan Aroon!" panggilnya berulang kali. Fahri juga membantu memanggil majikannya itu.


Sementara itu..


Ya tuhan aku tidak bisa bergerak sama sekali. Cyra pasti mencemaskanku, aku tidak bisa berpikir jika ia terus menangis padahal sebentar lagi akan melahirkan pikir Aroon. Air matanya mengalir dari kedua sudut matanya. Ia berusaha mengumpulkan tenaganya untuk keluar dari himpitan batu itu.


Sayup - sayup ia mendengar seseorang memanggilkan namanya.


"Tuan! Tuan Aroon!"


"Tuan! Tuan Aroon!"


"Siapa yang memanggilku." gumamnya. "Itu.. Itu suara Syam." mendengar ada yang mencarinya. Kekuatan dari dalam diri Aroon muncul. Ia berteriak sekeras mungkin menjawab.


"Tolong! Aku disini!" teriaknya berulang - ulang.


"Tolong! Aku disini!" teriaknya lagi. Ia tidak putus asa untuk terus berusaha agar di temukan oleh tim penyelamat.


"Tolong! Aku disini!" teriaknya lagi dan lagi.


Fahri yang berada paling belakang dari rombongan seperti mendengar sesuatu. Ia ragu tapi ia harus memberitahu Syamsudin.


"Pak Syam.. Pak Syam."


"Ada apa Fahri?"


"Aku seperti mendengar suara tuan."


"Benarkah?"


"Iya. Sayup - sayup aku mendengarnya."


"Oke tunggu sebentar." Syamsudin kemudian berteriak. "Tolong berhenti dan jangan membuat suara." teriaknya pada rombongan


"Ada apa pak Syam?" tanya ketua tim penyelamat.


"Saya seperti mendengar seseorang minta tolong. Mungkin itu tuan Aroon."


"Oke." jawab ketua tim. "Tolong kalian berhenti dan jangan membuat suara."


Mereka semua menuruti intruksi dari ketua tim penyelamat. Mereka sama sekali tidak membuat suara dan suasana benar - benar hening.


Syamsudin mulai berteriak agar mendapat jawaban dari Aroon jika itu memang benar - benar Aroon.


"Tuan! Tuan Aroon!" teriaknya.

__ADS_1


Sayup - sayup terdengar jawaban.


"Syam! Aku disini! Tolong aku!"


Syamsudin dan yang lainnya tersenyum. Wajah yang mulai putus asa terlihat kembali bersemangat. Mereka memiliki harapan menemukan Aroon.


"Tuan dimana! Tolong beri kami petunjuk!"


"Aku terhimpit batu besar! Aku tidak bisa bergerak!"


"Apa ada tanda yang lebih spesifik tuan!"


Aroon melihat sekelilingnya. Siapa tahu ada tanda yang bisa ia jadikan petunjuk. Akhirnya ia menemukannya. "Ada dua pohon kelapa di sini."


Ketua tim penyelamat segera tahu. "Yah aku tahu, jika tuan Aroon terhimpit batu itu dan ada pohon kelapa di sekitarnya artinya ia ada di sekitar itu." tunjuk ketua tim. "Ayo kita kesana."


Tim segera menuju ke bukit batu yang tadi sempat mereka lewati. Mungkin karena posisi terhimpit jadi Aroon tidak terlihat oleh tim.


"Cari yang teliti." perintah ketua tim. Tiba - tiba ada teriakan dari salah satu anggota tim.


"Aku menemukannya! Di sebelah sini!"


Mereka melihat ada sepasang kaki dan ternyata benar itu Aroon. Dengan sekuat tenaga mereka menyingkirkan batu itu. Dan akhirnya berhasil. Aroon selamat.


"Ya tuhan. Syukurlah tuan masih hidup." peluk Syamsudin.


Aroon segera mendapat pertolongan pertama dan berhasil di bawa ke atas. Ia segera di larikan ke rumah sakit karena dua hari tanpa makan dan minum. Tak terasa air mata Syamsudin menetes. Ia tahu keponakannya akan senang mendengar berita ini.


Cyra suamimu selamat, kau tidak perlu khawatir lagi ucap Syamsudin dalam hati.


🍀🍀🍀🍀


Aroon sudah memmndapatkan perawatan di rumah sakit. Tubuhnya masih lemah dan kakinya terkilir sehingga ia masih harus mendapat perawatan dari pihak rumah sakit.


"Bagaimana kabar Cyra?"


"Kandungannya baik. Tapi kata Tika, nyonya tidak bisa tidur tuan."


"Sangat tuan. Cyra memaksa ingin ikut kemari. Ia ingin memastikan keadaan tuan. Tapi dokter kandungan tidak menyarankan ia melakukan perjalanan udara jadi ia hanya bisa menunggu kabar dari saya."


Aroon tersenyum. "Keponakanmu keras kepala."


"Itu karena dia sangat mencintai tuan."


"Mana handphone mu? Aku akan meneleponnya. Aku tidak mau membuatnya cemas."


Syamsudin tersenyum sambil menyerahkan handphonenya.


Sementara itu..


"Nyonya kenapa keringatnya banyak sekali." bik Tika mengusap keringat yang ada di kening Cyra.


"Entahlah bik. Perutku dari tadi sakit. Terasa kencang seperti kontraksi."


"Itu karena nyonya tidak tidur dan istirahat."


"Bagaimana aku bisa tidur dengan tenang sementara suamiku belum tahu kabarnya."


Bik Tika mengurut perut dan punggung Cyra dengan baby oil. "Bagaimana nyonya, masih sakit?"


"Lumayan bik."


Drrrttt.. Drrrttt.. Drrrttt


"Nyonya handphonenya berdering."


Dengan cepat Cyra menyambarnya. "Halo Pak Uo. Ada kabar dari suamiku?"


Hening. Tidak ada jawaban dari Syamsudin.


"Pak Uo. Kenapa diam? Apa yang terjadi dengan suamiku?" desak Cyra dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Sayang. Kau rindu padaku?"


Cyra terdiam. Ia tidak bisa berkata - kata setelah mendengar siapa yang berbicara dengannya di telepon.


"Sayang." panggil Aroon lagi.


"Aroon. Kaukah itu?"


"Ini aku. Siapa lagi?"


"Ya tuhan kamu selamat." Cyra terisak dan menangis sejadi - jadinya. "Terima kasih tuhan." ucapnya. "Kamu di mana sekarang? Biarkan aku menyusulmu."


"Tidak sayang. Besok aku akan pulang."


"Aroon aku merindukanmu. Janji jangan tinggalkan aku seperti ini."


"Tidak, tidak akan Cyra. Aku janji." ucap Aroon. "Bagaimana kabar bayi kita?"


"Baik." jawab Cyra. "Aduuhh!" teriaknya tiba - tiba.


"Ada apa Cyra?"


"Dia menendang. Sepertinya ia ikut bahagia, tahu kalau Phoo nya selamat."


Aku merindukanmu. Aku merindukan kalian."


"Aku tahu cepatlah pulang." ucap Cyra. "Aduuhh!" teriaknya lagi.


"Ada apa?"


"Entahlah. Perutku seperti kontraksi." ucap Cyra. Ia berdiri dari duduknya dan ia menjatuhkan handphonenya demi memegangi perutnya yang terasa sakit.


"Ya tuhan nyonya." teriak bik Tika. "Ketubannya pecah."


"Halo! Halo! Halo! Cyra apa yang terjadi?" teriak Aroon dari seberang.


Tidak ada jawaban dari Cyra karena ia memegangi perutnya.


Bik Tika segera mengambil handphone yang terjatuh. "Tuan sepertinya nyonya mau melahirkan. Saya akan membawanya ke rumah sakit." bik Tika mengakhiri panggilan.


Ia segera memanggil bantuan. Dengan bantuan Jono ia berhasil membawa Cyra masuk ke dalam mobil dan membawanya ke rumah sakit. Gio, Omar dan Olif juga ikut menemani ke sana.


Sementara itu..


"Cyra mau melahirkan Syam." ucap Aroon panik.


"Bukankah masih tiga minggu lagi tuan?"


"Entahlah aku tidak tahu. Cepat bawa aku pulang."


"Tidak ada penerbangan jam segini tuan."


"Cari cara. Malam ini aku harus sudah sampai Bogor."


Syamsudin terdiam ia bingung harus bagaimana. Tapi ia kemudian teringat oleh sesuatu. "Ah tunggu sebentar tuan." ia keluar dari ruangan Aroon. Tak lama kemudian ia kembali.


"Bagaimana?"


"Bisa tuan."


"Naik apa?"


"Helikopter tim penyelamat tuan. Tadi saya sudah menghubungi ketua tim dan memperbolehkan membawa tuan pulang ke Bogor malam ini."


"Bagus ayo."


Aroon naik di atas kursi roda karena kondisi kakinya yang terkilir. Karena kondisi darurat pihak rumah sakit memperbolehkan ia pulang. Karena tubuh Aroon sudah membaik.


Cyra tunggu aku pulang ucap Aroon dalam hati..


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2