
Cyra dan Denisha pergi ke pusat perbelanjaan dengan diantar Fahri. Cyra sedikit lebih tenang karena ada Fahri yang menemaninya. Sejujurnya ia belum terlalu percaya dengan denisha yang berubah sikap menjadi baik. Apalagi perasaannya yang nggak enak.
"Cyra ayo kita turun."
"Oke."
"Fahri, kamu tunggu disini saja. Kamu pasti bosan kan mengikuti kami belanja."
"Baik nona." Fahri menuruti perintah Denisha.
Cyra dan Denisha mulai masuk ke beberapa toko baju. Mereka asiyk memilih. Beberapa kali Denisha menanyakan ukuran Gio karena menurutnya Cyra lebih tahu ukuran dan selera Gio.
"Apakah ini bagus?"
"Bagus, tapi Gio tidak suka warna merah."
"Apa yany dia suka?"
"Biru, hitam atau putih."
"Hmm bentar aku tanyakan pada pelayan tokonya dulu." ucap Denisha. "Mbak apakah model ini ada yang warnanya biru atau hitam mungkin?"
"Sebentar kami carikan dulu." jawab pelayan toko.
Sambil menunggu pelayan toko, Denisha menghampiri Cyra. "Ada yang mau kamu beli?"
"Tidak ada nona."
"Kenapa kau seperti kurang nyaman pergi denganku?"
"Oh tidak nona. Saya nyaman."
"Cyra, boleh aku tanya mengenai Gio."
"Boleh, silahkan."
"Apakah dia tidak ingin memiliki seorang ibu?"
"Untuk saat ini ia hanya menginginkan cinta dan kasih sayang dari tuan Aroon. Gio belum menginginkan kehadiran ibu baru yang mengganti sosok nyonya Davira."
"Kau begitu dekat dengannya, apa dia tidak menginginkanmu menjadi ibunya?"
"Tidak nona, saya hanya guru saja di mata Gio."
"Kau mungkin sudah tahu kalau aku menyukai Aroon. Jadi aku sangat ingin dekat dengan Gio. Tapi mendengar ceritamu tentang Gio yang tidak menginginkan sosok ibu membuatku harus mundur."
Cyra hanya diam saja, ia tidak berani menjawab. Kedatangan pelayan toko membuat pembicaraan mereka harus berhenti. Ternyata baju dengan model itu berwarna biru ada, Denisha langsung membayar dan keluar dari toko.
Setelah lelah berbelanja mereka makan dulu di sebuah cafe. Cyra hanya memesan Caffe Latte dan Croisant. Denisha terus mengorek berbagai keterangan dari Cyra. Tapi Cyra dengan hati - hati menjawab.
"Sudah sore, kita pulang. Aku takut Aroon marah.'
"Baik nona."
Mereka menuju ke tempat parkir, Cyra menawarkan membawa belanjaan untuk di masukkan dalam bagasi mobil. Denisha memberikan tas belanjaan pada Cyra dan kemudian masuk ke dalam mobil. Fahri sedang menyalakan mobil sebelum mereka pulang. Saat itu Cyra sedang menata tas belanjaan hingga tiba - tiba seseorang menyeret dan membekap mulutnya.
"Emmmhhhh.." hanya itu yang keluar dari mulutnya. Ia meronta - ronta berusaha melepaskan diri dari pria itu.
"Diam!" teriak pria itu.
Cyra berusaha mencari cara untuk melarikan diri. Ia menginjak kaki pria itu sekeras - kerasnya dan memukul perut pria itu sikunya. Bughh!!!
"Aaauuww!!!" pria itu melepaskan tangannya. Dengan cepat Cyra berlari dan berteriak
"Fahri tolong!!! Fahri tolong."
Beruntung teriakan Cyra di dengan oleh Fahri. Fahri yang saat itu sedang menyalakan mesin mobil bergegas keluar. Ia melihat Cyra yang berlari ke arahnya tapi dengan cepat pria yang terkena pukul tadi meraih rambutnya hingga membuat Cyra tertangkap lagi.
"Hei! lepaskan wanita itu!"
"Tidak akan kami lepaskan!"
Fahri mengambil ancang - ancang untuk berkelahi dengan pria itu, akan tetapi dari arah belakang ada tiga pria berbadan besar dengan mengenakan pakaian serba hitam dan masker. Sedangkan Denisha keluar karena mendengar kegaduhan. Ia sebenarnya terkejut karena Cyra tadi berhasil melepaskan diri. Hampir saja rencananya gagal.
"Serang dia!" teriak pria yang menyandera Cyra.
Terjadilah perkelahian antara Fahri dan ketiga penculik itu.
"Awas Fahri!" teriak Denisha seolah - olah ikut panik dengan penculikan itu padahal ia adalah dalang dari semuanya.
Salah seorang dari penculik itu mengeluarkan sebuah pisau lipat. Yang satu lagi berhasil mengunci tangan Fahru ke belakang. Dengan satu tusukan Fahri berhasil di lumpuhkan.
"Aacchhh!!! Fahri!!!" teriak Denisha yang segera berlari menghampiri Fahri yang terjatuh bersimpuh. Denisha juga memberikan kode agar penculik itu juga melukainya. Salah satu dari mereka menarik tangan Denisha. "Hei! Lepaskan aku!" teriaknya sambil pura - pura meronta - ronta.
Penculik yang memegang pisau tadi melukai sedikit lengan Denisha hingga berdarah. Itu semua agar terlihat Denisha juga terluka dalam insiden penculikan ini. Ia berusaha mengaburkan perbuatannya bahwa ia dalang semua ini.
Setelah melukai lengan Denisha, penculik itu langsung melempar tubuh Denisha hingga tersungkur di dekat dekat tubuh Fahri yang sudah tidak sadarkan diri.
"Ayo kita pergi dari sini!" teriak pencuri yang membekap mulut Cyra. Kejadian itu membuat Cyra menangis tanpa bisa mengeluarkan kata - kata. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Fahri. Cyra di seret masuk ke dalam mobil dengan badan telungkup penculik itu memnutup mulutnya dengan kain, mengikat tangan dan kakinya.
Cyra sangat panik karena penculikan kali ini ia sendiri tanpa ada Aroon. Ya tuhan selamatkan aku doanya dalam hati.
__ADS_1
Sementara itu...
Denisha berteriak minta tolong seolah - olah ini memang benar - benar murni kecelakaan. Orang - orang yang berada di sekitar parkir segera datang dan memberikan pertolongan. Mereka membawa Denisha dan Fahri ke rumah sakit.
Fahri mendapat segera mendapat perawatan akibat lukanya yang serius sedangkan Denisha hanya luka gores biasa.
Tak lama setelah mendapat perawatan handphone Denisha berdering.
"Halo."
"Dimana kalian? Kenapa sudah malam belum pulang?"
"Maaf Aroon." Denisha mulai terisak.
"Apa? Apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?"
"Aku.. Aaakku di rumah sakit Aroon."
"Rumah sakit? Ya tuhan apa yang terjadi? Rumah sakit mana?"
"Rumah sakit Azra."
Panggilan di akhiri.
Sekitar dua puluh menit Aroon sampai ke rumah sakit bersama dengan Syamsudin dan Sulaiman. Ia menuju ruang IDG,
"Mana Cyra?" tanya Aroon begitu sampai di rumah sakit. Pertanyaan yang di lontarkan Aroon membuatnya geram. Tapi perasaan itu ia pendam karena sebentar lagi Cyra tinggal nama.
"Cyra di culik."
"Apa? Bagaimana bisa!?" teriak Aroon. "Mana Fahri? Dasar tidak becus bekerja!"
Fahri sedang di ruang operasi, ia terkena tusukan pisau di bagian perut karena menolong Cyra. Bahkan lenganku juga ikut luka Aroon. Lihat ini."
"Ya tuhan." Aroon mengacak - acak rambutnya. "Seharusnya tidak aku ijinkan dia keluar." Aroon tampak frustasi. "Siapa yang menculiknya?!"
"Aku tidak tahu Aroon."
"Bisakah nona menceritakan ciri - ciri penculiknya?" tanya Syamsudin dengan tangan gemetar.
"Aku benar - benar tidak tahu, kejadian itu begitu cepat." ucap Denisha. "Mereka ada empat orang."
"Ya tuhan aku tidak akan bisa memaafkan diriku jika terjadi apa - apa dengan Cyra." gumam Aroon sambil berjalan mondar mandir.
"Tuan tenanglah, silahkan duduk dulu. Ini rumah sakit." Sulaiman berusaha menenangkan tuannya itu. "Bagaimana luka tuan?"
"Tidak apa - apa, luka ini sudah mulai mengering. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Khawatirkan saja Cyra. Bagaimana keadaannya sekarang?"
"Kenapa targetnya Cyra terus, Sulaiman?"
"Mungkin Cyra punya musuh tuan?"
"Darimana dia punya musuh? Dia pendatang di perkebuanku." ucap Aroon. "Ah sekarang aku ingat."
"Apa tuan?"
"Selidiki kekasihnya di saat dia sekolah. Hmmm namanya Devano dan satu lagi musuh ku Biantara. Kau lihat CCTV di tempat parkir juga siapa tahu ada petunjuk di sana."
"Baik tuan." ucap Sulaiman. Syamsudin di rumah sakit bersama Aroon menunggu hasil operasi Fahri karena dia saksi kunci penculikan Cyra.
Denisha sedikit cemas, ia lupa memperhitungkan CCTV yang ada di tempat parkir. Kalau penculiknya tertangkap pasti mereka akan menyeret namanya. Mudah - mudahan saja anak buah Bian setia dan tutup mulut doanya dalam hati.
Setelah menunggu hampir dua jam operasi akhirnya selesai. Akan tetapi Fahri belum sadarkan diri. Masih membutuhkan waktu untuk pemulihannya. Apalagi luka tusukannya sangat dalam.
"Aroon, lebih baik kita pulang." ucap Denisha yang sudah mulai bosan.
"Pulanglah dulu, aku masih menunggu Fahri sadar. Aku harus tahu semua tentang penculikan ini dari mulutnya."
"Baiklah kalau begitu aku akan pulang dulu." ucap Denisha.
"Akan saya antar nona." Syamsudin menawarkan.
"Tidak perlu. Aku akan naik taxi." Denisha segera meninggalkan rumah sakit. Di dalam taxi ia tampak menelepon seseorang.
"Bagus Bian, aku puas dengan kerjamu kali ini."
"Benarkah?"
"Iya, aku akan memberi tambahan uang jika kau bisa menghilangkannya."
"Hahahahh.. Sudah berapa kali aku bilang aku tidak membutuhkan uang sayang." ucap Biantara. "Aku hanya butuh informasi yang benar."
"Hei aku sudah memberimu informasi penting."
"Hahahahhh... Informasi itu palsu. Kau sudah masuk jebakan Aroon. Kau masih bodoh seperti biasanya." ucap Biantara menahan amarahnya karena merasa di tipu oleh Denisha.
"Aku bersumpah aku tidak tahu apa - apa, Bian. Berkas itu aku dapatkan dari brankas di mana dia sering menyimpan surat - surat pentingnya."
"Kau tahu, aku menderita kerugian yang cukup banyak. Bahkan kau bayar dengan tubuhmu itu tidak akan bisa membayar kerugian yang aku tanggung."
"Bian.. Bian aku akan bertanggung jawab. Aku janji akan mendapatkan kontrak itu." ucap Denisha.
__ADS_1
"Baiklah aku beri kau satu kesempatan lagi."
"Terima kasih Aroon, tapi aku minta segera hilangkan dia."
"Oke."
Panggilan di akhiri.
Tangan Denisha gemetar setelah percakapannya dengan Biantara. Bagaimana bisa kontrak itu palsu? Jangan - jangan Aroon tahu kalau dia membuka brankasnya. Tapi kalau seandainya tahu ia pasti sudah di usir dari rumah sejak kemarin. Dalam pikiran Denisha berkecamuk berbagai pertanyaan.
Aku harus bisa mengambil berkas yang asli malam ini, tekad Denisha.
Tak berapa lama taxi sudah sampai di depan perkebunan. Denisha masuk ke dalam rumah kamar dan bertemu dengan Billy.
"Kenapa nona tampak panik? Bukankah rencananya berhasil?"
"Ini masalah lain. Berkas yang aku kirim ke Biantara itu ternyata palsu. Dia menyalahkanku."
"Padahal kita kesusahan mengambil berkas itu." keluh Billy.
"Berarti berkas itu tidak ada di brankas di ruang kerja.ย Mungkin di kamarnya, kita harus dapat malam ini." tekad Denisha. "Ayo kita kesana, mumpung Aroon di rumah sakit."
"Baik nona."
Mereka berdua melangkah menuju kamar Aroon dengan sangat hati - hati, tapi alangka terkejutnya ketika di dalam kamar itu ada Gio yang sedang tidur di sana ditemani Omar dan Olif.
"Gio."
"Mau apa aunty Denisha ke kamar Phoo?"
"Hmm.. aku.. aku mau mengambil obat Phoo yang ketinggalan."
"Phoo masih di rumah sakit?"
"Masih."
"Bagaimana bu Cyra?" ucap Gio dengan lirih. Ia tampak sangat sedih.
"Pasti Phoo mu akan menemukannya." ucap Denisha sambil pergi meninggalkan kamar Aroon d an kembaliย menuju kamarnya. Di dalam kamar ia membanting seluruh barang yang ada karena kesal bahwa rencananya tidak berjalan dengan lancar.
๐๐๐๐
Waktu sudah berganti pagi akan tetapi Fahri juga belum sadar.
"Bagaimana ini Syam? Kita belum mendapatkan petunjuk apa - apa."
"Tenang tuan. Saya yakin Cyra masih baik - baik saja."
"Aku tidak bisa tenang ini sudah hampir dua puluh empat jam Cyra di culik. Bahkan penculiknya tidak menelepon untuk meminta tebusan itu artinya mereka menginginkanย nyawanya."
"Saya juga sempat berpikir ke arah sana tuan. Tapi mari kita berdoa semoga Cyra berhasil melarikan diri dari pencuri."
Aroon terdiam menatap jendela rumah sakit. Wajah dan penampilannya tampak kusut karena semalam ia tidak bisa tidur. Aku akan mencarimu sampai ke ujung dunia Cyra. Aku harus menemukanmu.
"Air.. Air.." gumam Fahri lirih.
Aroon segera menoleh ke arah Fahri yang terbaring. Ia melihat tangan Fahri bergerak - gerak. Ia segera menghampirinya.
"Fahri kau dengar aku."
"Air.. Air.."
"Syam cepat panggilkan dokter, Fahri sudah siuman."
"Baik tuan." Syamsudin segera membawa dokter masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan Fahri. Dan dokter mengatakan kalau ia sudah melewati masa kritis. Aroon dan Syamsudin bisa bernapas lega. Mereka menunggu sampai Fahri benar - benar sadar.
Aroon memberi Fahri minum.
"Aku bersyukur kau sudah sadar."
"Maafkan saya tuan, saya tidak bisa menjaga Cyra dan nona Denisha."
"Tidak apa - apa."
"Apakah penculiknya sudah di tangkap?"
"Belum mereka membawa Cyra pergi."
"Ya tuhan."
"Fahri."
"Ya tuan."
"Apakah kamu memiliki petunjuk atas penculikan itu?" tanya Aroon hati - hati karena kondisi Fahri yang masih lemah.
"Mereka berempat tuan, menggunakan mobil van hitam dengan no plat polisi F 9812 ABK. Hanya itu yang saya ingat tuan."
"Tidak apa - apa, ini informasi yang sangat penting. Istirahatlah." ucap Aroon. Setelah mendengan informasi dari Fahri, Aroon segera memerintah Syamsudin untuk menyelidiki mobil Van warna Hitam dengan no plat polisi F 9812 ABK.
Cyra aku pasti bisa menyelamatkanmu.
__ADS_1
๐๐๐๐