My Love Teacher

My Love Teacher
Pit Bull


__ADS_3

Cyra menghampiri Gio. "Kamu tidak apa - apa?"


"Aku tidak apa - apa." jawabnya.


Cyra memeriksa badan Gio siapa tahu ada yang lecet. Ternyata hanya baju nya saja yang kotor terkena tanah. "Belajarnya kita hentikan dulu, mungkin untuk sementara waktu kita menghindari belajar di outdoor."


"Yah kalau di dalam rumah bosen bu." Omar protes.


"Iya, tapi kalau kejadian seperti tadi gimana?"


"Itu tadi kan kecelakaanmu, tidak setiap waktu terjadi."


"Tapi tetap saja kita harus waspada. Aku minta maaf karena kurang hati - hati dalam memilih tempat untuk belajar. Lain kali aku akan mengecek keadaannya terlebih dahulu."


"Bu Cyra jangan merasa bersalah begitu. Kami tidak apa - apa bu. Ini kan juga tidak sengaja. Salah kudanya tuh tiba - tiba ngamuk." ucap Olif sambil memeluk Cyra.


"Seperti kamu kan." sindir Omar.


"Enak saja." lagi - lagi Olif menonyor kepala Omar.


"Sudah jangan bertengkar." lerai Cyra. "Omar, Olif kalian bawa Gio mandi ya, badannya kotor."


"Siap bu." jawab mereka serempak.


Sebelum Omar meninggalkan Cyra ia sempat melihat baju Cyra di bagian siku robek. "Bu Cyra, bajunya robek."


"Oya. Benarkah?" Cyra melihat bagian yang ditunjuk oleh Omar.


"Ya tuhan kelihatannya berdarah bu." tambah Olif.


Cyra menggulung bajunya hingga terlihat sikunya. Memang sedikit lecet. Pantas saja tadi ia merasa perih. "Hanya lecet sedikit. Tidak apa - apa."


"Segera di obati bu, nanti bisa infeksi."


"Iya, nanti aku obati." jawab Cyra. "Sudah kalian antar Gio mandi dulu. Aku juga akan mandi."


Cyra segera pergi menuju ke kamarnya. Mengganti baju dan juga membersihkan luka. Ia tadi sempat melihat salah satu pekerja di kandang kuda menyerahkan sesuatu pada Aroon. Apakah yang terjadi dengannya adalah suatu kecelakaan atau kesengajaan. Kalau memang kesengajaan itu pasti perbuatan Denisha, sayang sekali ia tidak punya bukti atau saksi.


Tok! Tok! Tok!


"Cyra. Kau di dalam?" tanya Aroon sambil mengetuk pintu kamar mandi.


"Iya aku di dalam. Sebentar aku keluar." tak lama kemudian Cyra keluar sudah dalam keadaan bersih. "Ada apa?"


"Duduklah." Aroon menarik tangan Cyra dan membimbingnya untuk duduk di sofa.


"Ada apa sih? Jangan macam - macam. Ingat one hug, one kiss."


"Hahahahahhh.. Pikiranmu kotor sekali." Aroon tertawa terbahak - bahak karena Cyra mengatakan itu dengan mimik yang panik. "Atau jauh di dalam hatimu kau mau itu."


"Nggak."


"Hahahahhh.. Oke.. Oke.. Aku tidak akan bercanda." Aroon duduk bersebelahan dengan Cyra. Di meja sudah terdapat kotak obat. "Tadi Gio bilang tanganmu lecet. Dia memberikan ini padaku." Aroon menunjukkan sebuah plester dengan motif anak - anak.


"Gio memberikan ini untukku? Dan dia juga memberitahumu kalau siku ku luka?"


Aroon mengangguk. Dan Cyra tersenyum bahagia, bahkan matanya sampai berkaca - kaca. "Senang?" tanya Aroon.


"Iya. Aku hampir saja menangis."


"Terima kasih kau tadi sudah menyelamatkan Gio."


"Tidak, kau tidak perlu berterima kasih. Itu sudah kewajibanku." jawab Cyra. "Justru kamilah yang harusnya berterima kasih padamu, bagaimana kau dengan susah payah membuat kuda itu tenang."

__ADS_1


"Sudah kewajibanku melindungi orang - orang yang aku cintai." jawab Aroon. "lain kali jangan menempuh resiko yang berbahaya itu lagi. Oke."


"Iya." Cyra tertunduk karena tersipu malu mendengar perkataan Aroon.


"Sini aku obati lukamu. Kalau aku hanya diam Gio pasti marah padaku." Aroon meraih tangan Cyra ia melihat luka lecet yang tidak begitu dalam. "aku bersihkan dulu, kalau sakit teriak saja."


"Iya."


Aroon dengan hati - hati mulai membersihkan luka Cyra.


"Aaauuww." teriak Cyra. "Pelan - pelan."


"Iya." Aroon meniup luka Cyra untuk mengurangi rasa perihnya. "Kalau kau teriak seperti itu aku jadi ingat teriakanmu waktu di villa itu." gumam Aroon, walau lirih tapi Cyra bisa mendengar dengan jelas.


"Sudah jangan di bahas lagi." ucap Cyra.


"Maaf." Aroon kembali mengobati luka Cyra. Dengan tatapan penuh arti Cyra terus memperhatikan suaminya yang telaten mengobati lukanya. Ada rasa bahagia dan tenang dalam hatinya. Ia merasa aman bila di dekat Aroon. "Nah sudah selesai." Aroon menempel plester yang tadi di berikan oleh Gio. Sontak saja Cyra tersadar dari lamunannya.


"Terima kasih."


"Iya. Istirahatlah. Aku akan kembali ke kebun."


"Aroon."


"Ya."


"Apakah kecelakaan tadi suatu kesengajaan?"


Tampak Aroon yang kaget dengan pertanyaan Cyra. Tapi wajahnya segera kembali tenang seperti semula, agar Cyra tidak terlalu cemas. "Baru aku selidiki." jawab Aroon. "Kau tenang saja."


"Baiklah, aku percaya padamu."


Aroon segera pergi meninggalkan Cyra.


🍀🍀🍀🍀


Billy tergidik ngeri melihat anjing itu terus menyalak dan juga air liurnya yang menetes sunggu sangat menjijikkan. Anjing itu cukup besar dengan berat badan sekitar empat pulu kilo.


"Saya akan membawa anjing ini. Terima kasih tuan John."


"Saya sarankan anjing ini diberikan makan secara rutin. Kecuali kalau memang akan anda pergunakan untuk mencelakakan orang lebih baik tidak usah di kasih makan selama dua hari."


"Maaf, saya keberatan anda mengatakan hal seperti itu."


"Oke. Baiklah saya tidak akan menyarankan apa - apa."


"Bagus karena kerja sama kita berakhir disini."


"Senang bisa bekerja sama dengan anda nona." John kemudian pergi meninggalkan Denisha dan Billy.


Denisha melihat lagi anjing itu. "Kau akan menjadi mesin pembunuh yang terbaik." gumam Denisha. "Billy."


"Ya nona."


"Sudah kau siapkan tempat untuk anjing ini?"


"Sudah nona. Ada sebuah rumah kosong di dekat perkebunan. Rumah itu di kelola oleh seorang preman di sekitar tempat itu."


"Bagus. Kondisikan agar dia bisa membawa anjing itu ke perkebunan dengan aman."


"Kemarin saya sudah mempelajari kapan saat perkebunan itu kosong tanpa penjagaan."


"Baiklah, aku cukup puas dengan hasil kerjamu. Besok kita akan melaksanakan rencana kita."

__ADS_1


"Baik nona."


"Ingat jangan sampai gagal."


🍀🍀🍀🍀


Pagi ini Cyra sudah mulai belajar di outdoor lagi. Tapi tidak di kandang kuda seperti kemarin, melainkan di perkebunan teh. Mereka belajar menggambar pemandangan. Cyra mencari tempat yang agak nyaman di bawah pohon yang cukup rindang. Pohon itu dulu memang sengaja di tanam oleh Aroon untuk berteduh para pekerja. Ada beberapa pohon yang tertanam.


"Omar aku haus."


"Aduh tuan muda gambar saya belum selesai, nanggung nih." keluh Omar.


"Kalau begitu biar aku saja yang ambil. Kau mau camilan juga?" tanya Cyra.


"Aku mau."


"Baik tunggu sebentar ya." Cyra mau beranjak dari duduknya.


"Eh jangan bu Cyra." cegah Olif. "Bu Cyra disini saja, biar kami yang ambil minum dan camilan."


"Nggak apa - apa. Kalian teruskan saja menggambar."


Olif menendang Omar. "Nggak bu, biar saya dan omar saja." Olif menarik kerah baju Omar agar ia berdiri. "Ayo Omar."


"Iya.. Iya.. Sebentar."


Mereka berdua pergi menuju ke rumah besar. Tinggalah Cyra dan Gio sendiri.


"Kamu gambar apa?" tanya Cyra untuk memecah keheningan.


"Perkebunan Phoo, bagus kan?"


Cyra melihat apa yang di gambar oleh Gio. "Hmmm.. Ternyata kau berbakat juga dalam menggambar." puji Cyra. "Bagaimana kalau besok kita belanja peralatan buat melukis, seperti kanvas, kuas, cat air."


"Iya aku mau." jawab Gio. "Bu Cyra aku mau ke sana. Sepertinya pemandangan yang di sana lebih bagus."


"Kamu benar\, ayo aku antar." Cyra mengantar Gio ke tempat yang dia inginkan. Letaknya tak jauh dari pohon yang mereka tempati tadi. Gio kembali melanjutkan kegiatan menggambarnya hingga___


"Ggrrrr.. Gggrrr.. Guuukk! Guuukkk!"


Seketika pucat wajah Cyra ketika mendengar suara anjing itu.


"Gio, kau dengar itu?"


"Iya aku dengar. Itu suara anjing."


"Oke.. Tenang.. Kita jangan membuat gerakan yang mencuri perhatiannya." bisik Cyra. Ia memegangi tangan Gio. Cyra membalikkan badannya dan ia sangat terkejut melihat anjing yang sangat ganas berada beberapa meter di depannya.


"Bu Cyra anjing itu menakutkan."


"Tenang.. Tenang.."


"Bukankah bu Cyra takut dengan anjing."


Cyra hanya terdiam. Kakinya tiba - tiba saja menjadi kaku. Napasnya sesak dan terlintas ia teringat dengan kejadian waktu kecil yang menimpanya. Anjing itu mirip sekali dengan anjing yang pernah menyerangnya dulu. Keringat dingin mulai membasahi dahi Cyra.


"Bu Cyra. aku takut."


Suara Gio yang ketakutan seolah menyadarkannya bahwa ia harus menghadapi anjing itu dengan berani. Ada Gio yang harus ia jaga dan selamatkan.


"Tenang Gio, ibu juga takut tapi kalau kita tetap bersama - sama aku yakin tidak akan terjadi apa - apa." Cyra berusaha menenangkan Gio.


"Ggrrrr.. Gggrrrr.. Guuk! Guuk!" anjing Pit Bull itu terus menyalak dan tiba - tiba saja berlari ke arah mereka.

__ADS_1


"Lari Gio!!!" teriak Cyra.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2