
Cyra menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Ia sudah mengenakan pakaian biasa.
Aroon keluar dari kamar mandi dengan mengalungkan handuk di lehernya sembari sesekali mengeringkan rambutnya yang basah.
"Bisa aku bicara?"
"Bukankah saat ini kau sudah bicara."
"Kau marah padaku?"
"Bukan marah tapi kesal dengan diriku sendiri."
"Aku minta maaf soal yang tadi. Tidak seharusnya aku marah seperti itu. Apalagi sampai menyinggung soal Kannika sahabatmu."
"It's okay." Aroon mengambil kaos dan mengenakannya. Ia kemudian menyisir rambutnya.
"Dan satu lagi?"
"Apa?"
"Soal pakaian yang aku kenakan waktu ke pantai. Awalnya aku sempat kesal karena kau melarangku. Tapi ternyata apa yang kamu katakan betul. Banyak bahaya di luar sana."
"Baguslah kalau kau mengerti. Itu aku lakukan demi kebaikanmu."
"Terima kasih sudah mau mendengarkan aku."
"Cyra." Aroon berbalik menghadap Cyra. Ia kemudian duduk di sofa.
"Ya."
"Kau tahu kan tentang perasaanku? Aku mencintaimu. Tapi aku tidak tahu dengan apa yang kau rasakan padaku. Apakah sama dengan yang aku rasakan?"
"Aku.. Aku bingung." Cyra tiba - tiba saja gugup di cerca pertanyaan seperti itu oleh suaminya.
"Aku sangat berharap kau memberikan kepastian padaku. Aku sebenarnya juga bingung dengan rumah tangga kita. Aku ingin memberikan keluarga yang terbaik untuk anakku. Kalau seandainya aku sudah tidak memiliki harapan untuk itu, tolong katakan sekarang. Aku hanya kasihan dengan Gio kalau pada akhirnya kau akan pergi meninggalkan kami." ucap Aroon panjang lebar.
"Aroon bukankah kau bersedia menunggu untuk satu tahun lagi?"
"Ya, aku bersedia menunggumu bahkan sampai waktu yang tak terhingga. Tapi bagaimana dengan perasaan Gio. Dia tidak tahu tentang hal ini Cyra. Yang dia tahu kita menikah dan bahagia. Aku sendiri tidak tahu tentang perasaanmu. Jika seandainya kamu tidak mencintaiku bahkan sampai satu tahun kemudian seperti perjanjian kita, bukankah aku akan berdosa padamu karena memaksamu terikat dengan pernikahan ini. Aku tidak ingin memaksamu. Aku ingin kau bahagia dengan siapa kau memutuskan untuk bersama nantinya."
"Aku benar - benar bingung Aroon."
"Oke.. Aku tahu apa yang kamu rasakan." Aroon beranjak dari duduknya. "Aku keluar dulu. Ada teman lamaku mau bertemu."
Cyra terdiam dan hanya menjawab dengan anggukan.
Terus terang Cyra masih bingung dengan perasaannya. Ia memang memiliki perasaan dengan Aroon. Tapi ia masih butuh waktu lagi untuk memastikan perasaannya itu. Ia merasa berdebar - debar jika dekat dengan suaminya, ia akan senang di perlakukan istimewa, ia merasa aman bila dekat dengan Aroon. Bahkan ia merasa sangat cemburu jika suaminya itu dekat dengan perempuan lain, perasaannya sangat marah. Ia juga kesal jika Aroon perhatiannya teralihkan dan sama sekali tidak memperdulikannya. Apakah ini benar - benar cinta. Apakah Aroon adalah pelabuhan cintanya.
🍀🍀🍀🍀
Sudah dua hari sejak Aroon meminta kepastian pada Cyra. Selama itu pula komunikasi mereka berkurang. Hanya berbicara sekedarnya saja. Rindu rasa nya ia ingin berbincang tapi sepertinya Aroon masih sibuk dengan teman - temannya. Mungkin ia berusaha menyibukkan diri agar pikirannya tidak kalut dengan masalah rumah tangganya.
Hari ini mereka akan pergi ke Phuket Old Town dan beberapa kuil. Gio minta kali ini wisata kuliner. Setelah menikmati beberapa makanan unik khas Thailand mereka pergi ke kuil Wat Chalong, kuil ini merupakan kuil terbesar yang ada di Phuket.
Tidak hanya besar, kuil ini juga mempunyai ornamen yang indah.
Salah satu keunikan di sini adalah adanya kepercayaan melempar siem-sie atau stik yang berisi nomor. Setelah melemparkannya, bisa mengambil kertas yang berisi ramalan masa depan.
__ADS_1
Gio sangat bersemangat pergi ke sana. Ia ingin tahu tentang ramalan masa depannya.
"Cyra."
"Ya Mae."
"Aku lihat Aroon wajahnya murung. Kalian ada masalah?"
"Hmm.. Tidak ada." jawab Cyra berbohong. "Mae aku mau tanya?"
"Tanyalah."
"Bagaimana perjalanan cinta Mae?"
"Hahahahh.. Itu sudah terjadi sangat lama." nenek Busara menerawang mengingat kembali masa - masa bersama mendiang suaminya. "Kami berdua saling mencintai. Ketika salah satu tidak ada maka saling merindukan. Jika bersama kadang sering berselisih pendapat tapi itu mengasyikkan. Saling cemburu dan bahkan sampai suamiku meninggal aku selalu berdebar jika di dekatnya." kenang nenek Busara.
Nenek Busara memandang Cyra. "Cinta dalam pernikahan, bukan hanya sebatas perasaan, Cyra. Buatlah rasa cinta yang memiliki visi dan misi bersama, yang kelak akan melahirkan komitmen yang kuat bagi sebuah hubungan. Jagalah cinta itu dengan komitmen. Dan bersyukurlah kepada tuhan atas kehadiran cinta yang telah tuhan anugerahi kepadamu. Hargailah orang yang telah mencintaimu."
Cyra terdiam sambil meresapi apa yang dikatakan oleh mertuanya. Ia hanya ingin memastikan tentang perasaannya pada Aroon itu adalah sebuah cinta.
Setelah berbincang cukup lama Cyra kembali bergabung bersama mereka. Tapi yang membuatnya terkejut dan marah adalah ia melihat Aroon sedang menggendong Kannika.
Cyra mendekat ke arah mereka. Saat itu Kannika sedang pingsan. Okelah itu masih bisa di maklumi oleh Cyra karena Aroon membopong tubuh Kannika untuk menolongnya.
Perlahan Kannika sadar. "Aroon."
"Ya."
"Kepalaku pusing. Aku mau pulang." ucapnya lirih. Aroon menjawabnya dengan anggukan. Dan segera membopong tubuh Kannika lagi ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan Cyra melirik ke arah mereka. Aroon bahkan mengelap keringat di dahi Kannika. Dan itu menambah Cyra geram. Tak lama kemudian mereka sampai di rumah. Aroon menuntun Kannika masuk ke dalam kamar.
Cyra memutuskan untuk tidak masuk ke dalam rumah. Ia ingin jalan - jalan di sekitar taman. Ia naik ayunan sambil sesekali berayun kecil untuk menghilangkan rasa marahnya. Dan kebetulan hari sudah sore.
"Mae."
"Eh Gio. Kemari, ayo main ayunan bersamaku."
Gio mendekat. Ia mendorong Cyra hingga tubuh Cyra terayun ke depan dan ke belakang. Gio memulai obrolan dengan Cyra.
"Mae."
"Ya Gio."
"Mae, marah dengan Phoo?"
"Ttidak." Cyra gugup karena Gio tahu isi hatinya. Apa wajahku kelihatan ya pikir Cyra. Ia mencoba tersenyum.
"Mae, cemburukan?"
"Enggak. Tahu dari mana aku cemburu?"
"Dari sorot mata Mae."
Yah Cyra tidak bisa membohongi anak kecil yang polos.
"Oke, Mae mengaku. Mae memang cemburu."
__ADS_1
"Tidak perlu cemburu. Phoo selalu mencintai Mae." ucap Gio.
"Benarkah? Tahu dari mana?"
"Phoo selalu memperhatikan Mae, tapi Mae yang terkadang cuek dan tidak tahu." jawab Gio. "Aku tidak mau kalian bertengkar."
"Hmm.. Gio Mae mau tanya?"
"Soal apa?"
"Hmm.. Begini. Apakah kamu bahagia memiliki ibu seperti aku?"
"Tentu saja aku bahagia. Sangat bahagia. Apalagi setelah lama di tinggal Mae Davira, Phoo bisa membuka hatinya untuk Mae Cyra."
"Ia tidak pernah dekat dengan siapapun?"
"Tidak pernah. Mae wanita pertama yang dicintai Phoo setelah Mae Davira meninggal. Aku mau kita menjadi keluarga yang bahagia. Aku juga mau menjadi kakak nantinya." Gio mengatakan dengan senyuman yang lucu.
"Benarkah?"
"Iya benar."
"Baiklah Gio. Perkataanmu membuatku menjadi lega dan yakin." Cyra mencium Gio. "Sepertinya aku harus bertemu dengan Phoo."
Cyra beranjak dari ayunan. Ia setengah berlari mencari suaminya.
"Chai kau lihat suamiku?"
Chai menggeleng. Cyra mencarinya di kamar Kannika tapi ia tidak menemukannya. Ia kemudian mencari di dapur dan menanyakan pada Aom.
"Aom, kau lihat suamiku?"
"Mimi nay ying (tidak nyonya)."
Cyra kembali mencari suaminya di ruang tengah. Napasnya terengah - engah karena rumah itu sangat besar. Ia akhirnya bertemu dengan nenek Busara.
"Mae lihat Aroon?"
"Bukankah ia kembali ke kamar kalian."
"Oh baiklah." jawab Cyra. Kenapa tidak kepikiran dari tadi kalau Aroon di kamar, aduh bodohnya aku umpat Cyra dalam hati. Ia bergegas menuju ke kamar.
"Aroon." panggilnya sambil membuka pintu, ia tidak mendapati suaminya di sana. Cyra mendengar suara gemericik air, itu artinya suaminya sedang mandi. Cyra bergegas masuk.ke dalam kamar mandi tanpa malu - malu lagi.
"Cyra apa yang kau lakukan?" tanya Aroon yang terkejut bahwa istrinya masuk begitu saja ketika ia mandi dan tidak mengenakan apa - apa.
Cyra terdiam dan hanya memandang suaminya dengan tatapan tajam. Aroon yang masih dalam guyuran shower tampak canggung. Cyra berlahan maju mendekati suaminya.
"Cyra, please aku sedang mandi. Aku tidak mengenakan apa - apa." ucap Aroon.
Cyra masih diam dan terus mendekati Aroon hingga mereka tidak berjarak lagi. Tubuh Cyra juga ikut basah terkena guyuran shower. Kedua tangannya menangkup di kedua pipi suaminya. Sambil berjinjit ia menarik wajah suaminya hingga mendekat ke arah. Dengan lembut Cyra mencium bibir suaminya yang masih terkejut dengan apa yang di lakukan Cyra. Ia masih syok.
Cyra melepas ciumannya, ditatapnya Aroon dengan tatapan yang mendalam. "Aku mencintaimu Aroon." ucapnya. Aroon masih tak percaya dengan apa yang di dengarnya.
Lagi - lagi Cyra mencium bibir suaminya. Dan kali ini sangat lama. "Aku milikmu seutuhnya." ucapnya dengan suara serak.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1