My Love Teacher

My Love Teacher
Berkenalan Dengan Biantara


__ADS_3

"Grrrr.. Guk.. Guk.. Grrr!" seekor anjing besar berwarna hitam dengan mata menyala, memperlihatkan taringnya yang tajam siap untuk merobek kulit ada di hadapan Cyra. Dengan perlahan Cyra mundur kebelakang.


Keringat dingin mengalir deras di dahinya. "Tidak.. Jangan." gumamnya lirih.


Anjing itu terlihat sudah bersiap memangsa Cyra. Cyra terus saja mundur hingga tersandung sesuatu yang membuatnya terjerembab ke belakang. Dan tiba - tiba saja Anjing besar itu melompat ke arahnya.


"Tiidaaakkk!!!" teriak Cyra sekencang - kencangnya.


"Crya! Cyra! Hei ini aku." Aroon menepuk - nepuk pipi Cyra dengan lembut.


"Tuan." ucap Cyra lirih. Dengan spontan ia memeluk tuannya untuk mencari perlindungan. Bajunya basah oleh keringat. "Anjing besar itu mau menggigitku."


"Tidak akan ada anjing yang berani menggigitmu selama di perkebunan ini. Kau aman bersamaku Cyra." Aroon membalas pelukan Cyra dengan hangat. Dengan lembut ia membelai rambut Cyra. "Tenanglah."


Cyra mulai bisa bernapas dengan baik. Tidak tersengal - sengal seperti tadi. Setelah benar - benar tenang Cyra melepas pelukannya.


"Terima kasih tuan."


"Kau lapar?"


"Tidak."


"Makanlah sedikit. Setelah itu minum obatnya."


"Baiklah."


Aroon mengambil semangkuk bubur yang tadi sudah disiapkan oleh bik Tika. Ia memberikannya pada Cyra.


"Sudah agak dingin. Mau aku panaskan lagi?"


"Tidak perlu tuan. Ini masih hangat." Cyra menyuapkan ke dalam mulutnya.


"Enak?"


Cyra hanya mengangguk.


"Kalau begitu habiskan."


Cyra makan dengan pelan. Selera makannya tidak seperti biasa. Kejadian ketika ia berumur delapan tahun membuatnya tidak berselera makan. Ia masih teringat dengan darah yang mengucur pada tubuh temannya. Membuatnya terasa mual. "Sudah tuan." Cyra menyodorkan mangkuk itu.


"Sedikit lagi." pinta Aroon.


"Saya masih mual."


"Baiklah minum obatnya, setelah itu tidurlah."


Cyra menerima obat dari tangan Aroon dan segera meminumnya. Ia kembali membaringkan tubuhnya. "Mana Pak Uo, tuan?"


"Tadi dia kesini karena mengkhawatirkanmu. Aku menyuruhnya menyelidiki kenapa bisa ada Anjing di perkebunanku. Kenapa?"


"Saya.. Saya masih takut sendirian. Saya pikir Pak Uo bisa menemani 0saya disini."


"Tenang saja aku akan menemanimu."


"Tapi tuan juga harus istirahat."


"Tidak apa - apa."


"Terima kasih tuan."


"Kau bekerja untukku, kau tanggung jawabku."


"Iya saya tahu." ucap Cyra.


"Tidurlah."


Cyra kembali memejamkan mata. Obat yang diminumnya mengandung penenang. Aroon menyeka keringat yang ada di dahi. Kemudian mengompresnya dengan air. Saat ini tubuh Cyra masih demam.


☘️☘️☘️☘️


Pagi ini Cyra terbangun dengan tubuh yang lebih segar. Ia sudah tidak demam lagi. Dan itu semua berkat tuan Aroon.


"Bu Cyra." Gio masuk ke kamar Cyra dan langsung memeluknya. "Ibu tidak apa - apa?"


"Aku baik - baik saja, Gio. Beruntung ada ayahmu yang menolongku."


Omar, Olif dan bik Tika juga ikut menjenguk Cyra.


"Anjing itu sudah diusir keluar dari perkebunan. Phoo juga memperketat penjagaan."


"Bagaimana bisa ada anjing masuk ke perkebunan?" tanya Omar penasaran.


"Iya ya. Sejak aku tinggal disini tidak pernah ada binatang liar masuk ke perkebunan." ucap Olif.

__ADS_1


"Kata Syam dan Sulaiman itu Anjing peliharaan salah satu pekerja yang tidak sengaja ikut terbawa."


"Yah namanya juga musibah. Kita tidak tahu dari mana datangnya. Yang penting mulai sekarang kita harus hati - hati." ucap Cyra.


"Kamu juga harus hati - hati Olif sayang." Omar memperingatkan Olif.


"Apa? Sayang? Sayang sayang kepalamu peyang. Enak saja panggil sayang." cibir Olif. Ia menjitak kepala Omar hingga membuat yang lain tertawa.


"Hari ini kita akan belajar apa Gio?" tanya Cyra.


"Hari ini kamu libur mengajar." sahut Aroon yang tiba - tiba sudah berdiri di depan pintu.


"Tapi saya sudah sehat tuan."


"Tidak, aku beri kau waktu libur sehari."


"Maaf tuan saya tidak bisa. Kemarin saya baru saja ambil cuti tiga hari." bantah Cyra.


Aroon memegang dahi Cyra.


"Sudah tidak demam kan?"


"Heh baiklah. Dasar keras kepala."


"Yeayy kita belajar lagi." teriak Gio. "Aku mau belajar matematika."


"Baiklah, aku akan mandi dulu. Setelah sarapan kita akan mulai belajar."


Gio dan yang lainnya keluar. Setelah membersihkan diri Cyra segera menuju ke ruang belajar. Cyra berusaha melupakan kejadian kemarin. Walaupun terkadang suara lolongan Anjing itu masih terngiang di kepalanya. Ia masih teringat bagaimana temannya bersimbah darah sedangkan dia tidak bisa berbuat apa - apa. Jika terkadang ingat kejadian itu, Cyra memilih untuk melakukan kegiatan hingga ia lupa. Ia menyibukkan diri dengan mengajar Gio. Hari ini Gio sangat kooperatif karena ia tahu bu guru kesayangannya itu baru saja sakit.


☘️☘️☘️☘️


Hari ini adalah hari minggu, waktu libur Cyra dari mengajar. Rencananya ia akan jalan - jalan membeli beberapa buku, datang ke tempat wisata di Bogor dan juga mencicipi kuliner khas Bogor.


Setelah berkaca dan memastikan penampilannya cukup rapi Cyra segera keluar dari kamarnya. Ditengah lorong ia bertemu dengan bik Tika.


"Eh Cyra kebetulan."


"Kenapa bik?"


"Kamu dipanggil tuan."


"Ada apa ya? Ini kan waktuku libur."


Waduh jangan - jangan Gio minta ikut lagi. Kalau begitu ini namanya tidak memberi waktu aku libur pikir Cyra menduga - duga. Ia bergegas menuju ke ruang kerja Aroon.


"Selamat pagi tuan." sapa Cyra. "Tuan memanggil saya?


"Duduklah."


Cyra duduk di sofa. Perasaannya tidak enak.


"Kemana kamu hari ini akan pergi?"


"Hmmm, ke banyak tempat tuan. Saya ingin mengunjungi tempat wisata di Bogor."


"Baiklah, kamu jangan khawatir. Aku tidak akan menyuruh Gio ikut. Tapi Olif."


Cyra bernapas lega. "Olif?"


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk." perintah Aroon.


"Selamat pagi tuan, ada perintah?"


Aroon mengambil beberapa uang dan memberikannya pada Olif. "Tolong kamu hari ini temani bu Cyra keluar. Belikan ia beberapa baju baru. Biar Omar nanti yang menjaga Gio."


"Oh baik tuan. Serahkan semuanya pada saya. Saya jamin beres." ucap Olif percaya diri.


"Ayo bu Cyra."


"Tunggu dulu. Baju?" tanya Cyra.


"Iya, aku dengar pembicaraanmu dengan ibu waktu pulang ke Surabaya. Kamu menolak meninggalkan bajumu karena hanya sedikit. Belilah beberapa pakaian bersama Olif."


"Oh baiklah kalau begitu. Saya permisi dulu tuan."


Cyra kembali bernapas lega karena Gio tidak ikut. Kalau ada namanya bukan liburan. Cyra dan Olif mengendarai motor. Pertama mereka akan pergi ke Istana Bogor. Setelah itu pergi ke pusat perbelanjaan.


Cyra meminta bantuan Olif untuk mengambil beberapa gambar. Ada yang berfoto bersama rusa, ditaman dan juga istana. Ia mengirimkan foto itu ke ibu.


Setelah puas berfoto, mereka lanjut membeli jajanan ke kinian. Dari cilok, keripik talas, sampai es doger.

__ADS_1


"Ayo bu Cyra cepat."


"Iya sebentar."


"Keburu sore. Kalau pulang malam tuan pasti akan marah."


"Iya, iya ini parkirnya rame." Cyra memundurkan motornya akan tetapi. "Brraakk!!!"


"Bu Cyra!" teriak Olif.


Waduh kenapa bisa nabrak mobil. Wah parah nggak ya pikir Cyra. Setelah menyandarkan motornya Cyra melihat keadaan mobil yang tidak sengaja terserempet motornya. Memang keadaan parkir saat itu sangat padat mengingat ini weekend banyak orang pergi berlibur.


Tak berapa lama keluarlah dari dalam mobil seorang pria berkaca mata hitam, memiliki kulit yang putih bersih.


"Apa yang terjadi?"


"Maaf pak, tadi waktu memundurkan motor tanpa sengaja saya menyerempet bagian depan mobil." ucap Cyra menjelaskan. Ia tampak sangat panik. "Apa rusaknya parah?"


"Hmm tidak terlalu, masih bisa di bawa ke bengkel untuk di perbaiki."


"Oh, syukurlah." Cyra bernapas lega. "Kira - kira berapa biaya yang dibutuhkan, saya akan berusaha mengganti."


"Tidak usah, ini harus ke bengkel khusus."


Wah bengkel khusus. Ini pasti mobil mahal pikir Cyra dalam hati. Tapi aku harus bertanggung jawab.


"Oh, tapi saya juga ingin bertanggung jawab juga."


"Oh, santai. Nanti tagihannya akan saya kirimkan ke anda."


"Oya, nama saya Cyra. Dan ini no telp saya, anda bisa menghubungi saya jika tagihan dari bengkel sudah keluar."


"Saya Biantara." jawab pria itu sambil mengambil secarik kertas yang berisi no handphone Cyra.


Biantara, kenapa nama itu tidak asing. Dimana ya aku mendengarnya pikir Cyra berusaha mengingat - ingat.


"Baiklah pak Biantara kalau begitu saya permisi dulu."


"Oke, Cyra."


Cyra segera pergi meninggalkan pria itu, tampak dari seberang Olif berteriak mendekatinya.


"Ibu nggak apa - apa?"


"Nggak.apa - apa Olif. Ayo kita jalan lagi."


"Siapa pria tadi bu? Dia marah mobilnya keserempet."


"Ah aku beruntung dia tidak mempermasalahkan aku ke kantor polisi."


"Baik banget. Tapi kok kayak nggak asing."


"Katanya namanya Biantara."


"Apa! Biantara?!"


Cyra menganggung. "Ya betul."


"Aduh kenapa kita sampai punya masalah sih dengan dia."


"Memang kenapa?"


"Biantara itu musuh dunia akhiratnya tuan Aroon." jawab Olif.


"Oh iya aku sampai lupa. Pantas saja aku seperti pernah mendengar namanya."


"Bagaimana kalau tuan tahu jika kita berurusan dengan tuan Bian. Ia pasti marah besar."


"Kita ceritanya pelan - pelan. Aku juga takut karena masalah ini ijin liburku bisa di cabut."


"Kita pikirkan nanti caranya bilang ke tuan. Sekarang kita shoping dulu bu, takut kemaleman."


"Ayo." dengan cepat Cyra mengendarai motornya . Hanya perlu lima belas menit akhinya mereka sampai di usat perbelanjaan.


Tanpa ama - lama Olif mengambil beberapa baju untuk Cyra.


"Nggak salah kau membelikanku baju seperti ini."


"Nggak dong bu. Aku jamin pasti seksi."


Heh, pasti tuan marah jika aku mengenakan baju seperti ini. Tapi aku juga kasian Olif yang sudah membelikannya untukku pikir Cyra menghargai.


Setelah hampir dua jam akhirnya belanjaan mereka kelar. Cyra dan Olif segera pulang. Dan ini saatnya Cyra menyiapkan mental jika sewaktu - waktu tuan Aroon akan marah.

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️


__ADS_2