
Siang itu Cyra berusaha menemui Gio, ia sudah membuat skenario dengan Omar dan Olif. Ia sengaja berdiri di depan pintu kamar Gio, agar pembicaraannya terdengar oleh Gio.
"Omar, aku lihat kelinci pemberianku sangat kotor."
"Benarkah bu? Padahal aku selalu memandikannya."
"Mungkin cara memandikanmu yang tidak benar."
"Nah, apa aku bilang. Cara mandi hewan sama manusia itu beda." sahut Olif.
"Heleh sok tahu kamu." cibir Omar.
"Memang betul yang di katakan oleh Olif."
"Tuh kamu dengar sendiri kan dari ahlinya."
"Hahahhhh.. sudah kalian jangan bertengkar. Nanti suara kalian membangunkan Gio yang sedang tidur." Cyra berkata sambil melirik ke arah pintu kamar. Omar memberi tanda jempol karena ia bisa melihat Gio langsung tertarik dengan apa yang mereka bicarakan. Tampak ia yang serius mencuri dengar pembicaraan mereka. "Bagaimana kalau aku beri tahu bagaimana cara memandikan kelinci. Disamping kelincinya bersih dan bebas kutu, Gio pasti suka kalau kelincinya bersih."
"Siap bu Cyra. Let's go." teriak Omar dan Olif bersamaan.
Mereka bertiga keluar menuju ke kandang kelinci. Kelinci itu begitu kotor dan juga bulunya ada yang rontok. Cyra sempat melirik dan ia tahu kalau Gio mengikuti mereka dari belakang. Berhasil soraknya dalam hati.
"Sebelum kita mengerjakan apapun yang berhubungan dengan binatang, kita wajib menggunakan masker dan juga kaos tangan." Cyra memberikan mereka masker dan kaos tangan karet. "Bulu - bulu yang rontok itu agar tidak masuk ke hidung kita."
"Siap bu Cyra."
"Nah kita bersihkan dulu kandanganya." Cyra membuka kandangnya dan menaruh kelinci dalam wadah. "Omar, Olif air kencing kelinci ini bisa kita jadikan pupuk. Kalian ingat kan kotoran sapi juga bisa kita buat pupuk."
"Ingat dong bu Cyra."
Cyra memang sengaja mengeraskan suaranya biar Gio bisa mendengar. Ia sisipkan pelajaran - pelajaran tanpa Gio sadari. Cyra tahu jika Gio itu cepat menangkap hal - hal yang baru.
"Setelah kandangnya bersih, baru kelincinya kita mandikan dan itu pun kita menggunakan shampo khusus untuk hewan agar bulunya tidak rontok."
Omar mengerjakan seperti apa yang di perintah oleh Cyra. Memandikan dua kelinci itu dengan hati - hati. "Wah bulunya jadi lembut bu."
"Kalian tahu shampo itu selain membuat wangi juga untuk apa?"
"Membuat bulunya lembut." jawab Olif
"Betul. Tapi ada lagi yang lebih penting."
"Apa itu bu?"
"Untuk menghilangkan kutu dan juga kuman - kuman yang bisa merusak kulit kelinci."
"Memang ada bu?" tanya Omar.
"Ada. Namanya Scabies. Oleh sebab itu selain dimandikan secara rutin kelinci atau binatang peliharaan harus kita periksa ke dokter hewan."
__ADS_1
"Wah, kelinci ini belum pernah di periksakan ke dokter hewan." ucap Omar.
"Nah besok kalian bawa kelincinya ke dokter hewan. Minimal satu bulan sekali."
"Siap bu."
Setelah selesai dengan kegiatan memandikan kelinci meraka segera masuk ke dalam. Omar dan Olif kembali ke kamar Gio sedangkan Cyra pergi mandi karena hari sudah sore. Mungkin saja Aroon akan segera pulang. Lumayanlah hari ini Gio sudah mau mendengar penjelasannya tentang pengetahuan alam. Ia tahu anak itu sangat ingin bergabung dengan mereka tadi. Tapi gengsinya lebih tinggi dari keingainannya.
Sambil menunggu kedatangan Aroon Cyra duduk bersantai di ruang tengah sambil membaca beberapa buku referensi untuk Gio belajar. Rencananya buku itu akan dia berikan pada Gio melalui Omar.
"Sibuk."
Cyra mendongakkan kepalanya, ia melihat siapa yang sudah datang di hadapannya. "Denisha.. Hmmm tidak."
Denisha duduk di depannya. "Aku mau bicara."
"Bukankah kau sudah bicara." jawab Cyra, ia meletakkan buku di atas meja dan fokus dengan Denisha.
Tampak Denisha yang langsung emosi mendengar perkataan Cyra, tapi ia tahan sekuat mungkin. Denisha menarik napas panjang. "Kau tahu kan disini aku sudah tidak punya siapa - siapa."
"Kamu masih punya Aroon, Gio. Mereka itu saudara sama keponakanmu."
"Iya itu benar. Tapi adakah yang sekarang melayaniku."
'kau bisa meminta bik Tika."
"Bukan.. Bukan itu!" kesabaran Denisha tampak teruji disini. Dan itu Cyra sengaja.
"Aku mau Billy kembali kesini."
"Kenapa bilang kepadaku, bukankah yang menyuruhnya pergi adalah tuan Aroon." ucap Cyra enteng.
Braakkk!!! Denisha menggebrak meja.
"Jangan mempermainkan aku ya!" teriak Denisha. "Kalian berdua mempermainkan aku! Aroon bilang harus seijin darimu."
"Tenang jangan emosi." Cyra memang sengaja memancing emosi Denisha. Ia tahu kalau sebenarnya Denisha itu memiliki gangguan kejiwaan hanya saja ia pintar menyembunyikannya. "Baiklah kalau kamu ingin Billy kembali di sini."
Denisha tampak tidak percaya kenapa Cyra begitu mudahnya mengambil keputusan. Padahal kalau di lihat kebelakang Billy banyak mengganggu Cyra. "Yakin?"
"Yakin." jawab Cyra. "Kenapa sekarang kau menjadi ragu - ragu?"
"Setelah begitu banyak kesalahan yang Billy buat padamu kau masih mengijinkannya tinggal disini?"
"Bukankah itu kemauanmu? Sekarang kita ini saudara. Aku sudah menikah dengan Aronn jadi aku adalah saudaramu. Demi persaudaraan kita maka aku ijinkan Billy kembali ke sini." jawab Cyra. "Tapi ingat, jangan membuat masalah." ucap Cyra. Membuat Billy kembali ke perkebunan adalah bagian dari rencananya.
"Baiklah, aku akan menyuruhnya datang. Dan berjanji sendiri denganmu." ucap Denisha.
Denisha segera melakukan panggilan dengan Billy dan menyuruhya berkemas. Hampir satu jam Cyra menunggu kedatangan Billy dan akhirnya datang juga.
__ADS_1
"Selamat malam Cyra."
"Mungkin sekarang kau bisa memanggilku nyonya, aku tidak mau suamiku marah padamu."
Billy mengepalkan tangannya dengan erat dan Cyra tahu itu. "Selamat malam nyonya."
"Malam Billy. Duduklah."
"Terima kasih nyonya."
"Kamu pasti sudah tahu kan alasan kau di panggil kemari lagi."
"Iya nyonya."
"Aku lakukan ini demi Denisha karena ia saudara suamiku. Jadi aku mohon rubahlah sikapmu Billy."
"Iya nyonya saya berjanji."
Tiba - tiba saja Omar bersama Olif melintas dan mengetahui kalau Billy kembali lagi. "Eh ada banci item." goda Omar.
"Apa kamu bilang!" Billy mulai emosi.
"Lah kok protes, memang hitam kan."
"Awas kamu ya!" teriak Billy. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Omar yang menjulurkan lidahnya. Cyra tersenyum kalau sudah mental preman selamanya akan sulit di rubah. Walau kamu tenang sekalipun itu sangat kelihatan dari sorot matamu yang masih liar Billy.
"Billy sudah." Denisha memperingatkan. "Cyra, kenapa kau diam saja ketika Omar cari gara - gara dengan Billy!"
"Omar dan Olif hanya bercanda, Billy saja yang terlalu serius meladeninya." jawab Cyra. "Yang dikatakan Omar kan betul, memang Billy kulitnya hitam." Cyra pergi dan bersiap kembali masuk ke dalam kamarnya. "Aku capek mau istirahat."
"Kamu tidak bisa kemana - mana sebelum menyelesaikan kekacauan ini!" Denisha menarik tangan Cyra dan itu membuatnya terjatuh.
"Aaauuuwww!" teriak Cyra.
"Apa yang kau lakukan pada istriku Denis!" suara Aroon dari belakang terdengar sangat emosi. Ia langsung menghampiri Cyra yang masih terduduk di lantai. "Kamu tidak apa - apa?"
"Kakiku sakit." ucapnya lirih.
"Bisa berdiri?"
Cyra menggeleng.
Dengan cepat Aroon menggendongnya. Cyra melingkarkan kedua tangannya di leher Aroon. "Kita akan bicara besok pagi Denis." tatap Aroon tajam.
"Aku tidak bersalah Aroon, Dia yang jatuh sendiri." Denisha berusaha membela diri.
"Kau tidak mendengarkan ucapanku! Kita bicara besok pagi!" Aroon menegaskan lagi. Ia kemudian berbalik dan segera pergi meninggalkan Denisha dan Billy. Cyra melongok ke arah mereka berdua dan menjulurkan lidahnya tanda mengejek.
"Kau lihat itu Billy! Mulai kurang ajar dia!"
__ADS_1
"Tenang nona, saya sudah ada di sini sekarang. Akan kita balas perbuatannya hari ini!"
🍀🍀🍀🍀