My Love Teacher

My Love Teacher
Kedatangan Denisha


__ADS_3

Tak terasa sudah satu minggu sejak kejadian menakutkan itu terjadi. Berdasarkan keterangan dari pihak kepolisian para pria itu adalah pengedar narkoba. mereka biasa melakukan transaksi di daerah terpencil yang jarang ada penduduknya. Tujuannya agar tidak ada pelaporan kepada pihak berwajib atas aktivitas mereka. Menurut kesaksian, mereka bekerja sendiri. Tapi hal itu dibantah oleh Cyra yang mendengar dengan telinganya sendiri bahwa mereka memiliki bos.


Sudah beberapa hari polisi menyelidiki tapi mereka bungkam dan bersikukuh menyatakan kalau mereka bekerja sendiri. Sampai saat ini pihak kepolisian belum menemukan apa - apa.


Sore ini Cyra dan Olif duduk di Gazebo sambil menikmati camilan buatan Cyra.


"Bagaimana kakimu?"


"Besok sudah boleh lepas gips."


"Ah Syukurlah kita semua selamat."


"Aku juga tidak menyangka tuan akan datang menyelamatkan kita." ucap Olif. "Oya darimana ibu tahu dan yakin kalau akan ada yang menyelamatkan kita?"


"Pertama kita berdoa pada tuhan dan aku yakin pasti akan di tolong olehNya. Yang kedua___." Cyra tidak meneruskan kata - katanya.


"Apa yang kedua bu?"


"Sebenarnya waktu kita mau mandi di danau, tuan sudah bangun tapi ia mengurungkan niatnya karena kita memang punya rencana mau mandi. Mungkin tuan merasa tidak enak kalau kita tahu tuan sudah bangun kita tidak jadi mandi di danau. Jadi tuan saat itu masuk kembali ke dalam tenda."


"Jadi tuan sudah tahu kita mau mandi?"


"Betul. Karena posisi tuan sudah bangun, aku yakin tuan akan mendengar suara tembakan dari pria yang mengejar kita." ucap Cyra.


"Tapi dari mana tuan tahu lokasi kita?"


"Tuan sangat mengenal lokasi kita camping, apalagi dulu tuan sangat suka dengan alam. Jejak yang kita lalui tuan pasti tahu karena tidak ada orang lain selain kita. Tapi mungkin juga dia mendapat petunjuk dari tuhan untuk menemukan kita."


"Kita di takdirkan belum mati bu Cyra."


"Hahahahahh.. Iya kamu betul. Itu karena kita orang baik."


Cyra dan Olif sangat menikmati obrolan mereka. Dari kejauhan tampak bik Tika berjalan menghampiri mereka.


"Gawat! Gawat!" teriaknya panik.


"Ada apa bik?" tanya Cyra.


"Ah sepertinya kita tidak akan mendapat ketenangan lagi."


"Ketenangan apa yang bibik maksud?" tanya Olif.


"Nona Denisha mau pulang ke Indonesia, Lif."


"Wah kalau itu benar - benar gawat bik. Buat apa sih dia kembali lagi ke Indonesia?"


"Itu yang aku tidak tahu. Tadi tuan menyuruh Surti membersihkan kamar tamu yang ada di ujung. Terus aku tanya dan dia menjawab nona Denisha mau pulang."


"Memang selama ini nona Denisha tinggal dimana?"


"Seperti ceritaku dulu. Nona Denisha seorang model, Ia tinggal di Perancis. Entah kenapa ia tiba - tiba ingin pulang ke tanah air."


"Mungkin mau jadi ibu nya Gio." ucap Cyra asal.


"Hush! jangan bilang begitu. Aku tidak akan setuju jika dia menjadi ibunya tuan muda dan nyonya di perkebunan ini. Aku orang yang pertama akan menentang."


"Bik, ingat kita itu disini sebagai apa? Nggak mungkinlah suara kita akan di dengar oleh tuan." ucap Olif.


"Iya tapi minimal sikap kita bisa menunjukkan kalau kita menentang kehadiran nona Denisha disini." jawab bik Tika dengan penuh emosi.


"Bik.. Memang nona Denisha itu bagaimana? Kenapa bik Tika membencinya?"


Mata bik Tika seperti menerawang ke beberapa tahun yang lalu. Ia menghela napas panjang." Dulu waktu tahu tuan berkencan dengan nyonya Davira. Nona Denisha membuat ulah, ia memasukkan obat tidur ke dalam minuman nyonya hingga ia tidak sadarkan diri. Ia mulai memotret nyonya dalam keadaan tidak menggunakan sehelai benang pun. Foto itu tersebar di kalangan para pekerja. Tuan Aroon marah besar, tapi dengan kelicikan nona Denisha ia bisa terhindar dari masalah ini. Ia dinyatakan bersih."


"Terus dari mana bik Tika tahu?"


"Karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri dia yang memasukkan obat ke dalam minuman nyonya."


"Bik Tika tidak bilang tuan?"


"Sudah Cyra, tapi tuan lebih percaya perkataan manis nona Denisha. Apalagi ada seorang pekerja yang mengaku telah melakukan hal itu." mata bik Tika terlihat berkaca - kaca. Ia menggulung bajunya hingga terlihat sebuah luka bakar.


"Itu kena apa bik?" tanya Cyra, ia terkejut dengan bekas luka bakar di tangan bik Tika. Selama ini ia tidak tahu karena bik Tika selalu menggunakan pakaian lengan panjang.


"Iya bik, ini kena apa? Sudah lama dapat luka ini?" tanya Olif yang reaksinya sama dengan Cyra.

__ADS_1


"Ini perbuatan nona Denisha. Setelah ia tahu aku mengadu pada tuan ia melukai tanganku yang waktu itu sedang memasak di dapur. Ia juga akan mengancam memecatku, aku terdiam karena aku membutuhkan pekerjaan, Jono masih butuh uang untuk sekolah."


Cyra dan Olif memeluk bik Tika, memberinya semangat dan simpati.


"Sabar dan ikhlas bik."


"Iya Cyra."


"Kita harus hati - hati dengan keberadaan nenek sihir itu." ucap Olif penuh emosi. "Tenang, akan aku buat ia tidak nyaman berada di perkebunan ini." Olif mengepalkan tangannya.


"Hahahahhh..." Cyra tertawa karena lucu melihat ekspresi muka Olif.


"Bu Cyra jangan tertawa." ucap Olif sewot.


"Nggak Olif. Lebih baik kita jangan berbuat seperti itu. Kalau kita seperti itu, artinya kita dan dia sama saja jahatnya." Cyra menasehati. "Kita cukup waspada saja, kecuali kalau dia jahat dengan kita, baru kita ungkap kebenaran."


"Baiklah bu."


"BikΒ  Tika tenang saja dan tidak perlu khawatir berlebihan, ada kita yang akan selalu membela bik Tika."


"Terima kasih Cyra, Olif. Aku bahagia kalian ada disini."


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi ini Aroon memanggil Cyra ke ruangannya. Ada yang mau ia sampaikan. Cyra dengan segera menemuinya.


Tok.. Tok.. Tok..


"Masuk."


"Tuan memanggil saya?"


"Duduk."


Dengan patuh Cyra melakukan perintah Aroon.


"Kau pasti sudah dengar kalau adik istriku akan kembali ke Indonesia."


"Sudah tuan, nona Denisha bukan?"


"Ya tuan."


"Denisha itu terkadang masih seperti anak kecil. Aku harap kau jangan banyak berdebat dengannya. Bersabarlah dengannya."


"Saya tidak ada masalah dengan nona Denisha tuan. Jadi tuan jangan khawatir."


Aroon memandang tajam ke arah Cyra. Tidak seperti biasanya dia begitu patuh tanpa mendebat apa yang aku katakan pikir Aroon heran. "Ada yang mau kamu tanyakan?" pancing Aroon.


"Ada tuan."


Aroon tersenyum ternyata Cyra terpancing. "Apa?"


"Kita orang timur dan terkadang masih berpikir secara kuno. Yang saya heran adalah kenapa nona Denisha tidak pulang ke rumah orang tuanya tapi malah ke kakak iparnya?"


"Hahahahh.." Aroon tertawa terbahak - bahak.


"Ada yang lucu tuan?" Cyra keheranan dengan tawa Aroon.


"Oke.. Oke.. kau mengatakan seperti itu bukan karena mau menentang kehadirannya bukan?"


"Oh tidak tuan. Tuan jangan khawatir."


"Bagus. Memang aku akui banyak yang kaget dengan kepulangannya ke Indonesia. Orang tua istriku sudah meninggal Cyra. dengan kata lain mereka yatim piatu. Jadi sebagai orang terdekatnya aku ijinkan ia tinggal disini."


"Maaf tuan saya tidak tahu kalau orang tua nyonya Davira sudah meninggal."


"Aku harap kau bisa bekerja sama dengannya. Ia sangat mahir berbahasa asing. Gio pasti senang diajar oleh Denisha."


Duh kenapa kata - kata ini terdengar menyakitkan pikir Cyra. Apa aku takut jika perhatian Gio beralih. Perhatian Gio atau perhatian tuan pikirnya lagi. Ia menghela napas panjang.


"Ada yang mau kamu tanyakan lagi?"


"Tidak ada tuan."


"Bagus, kau boleh kembali."

__ADS_1


"Baiklah saya permisi tuan."


Cyra segera meninggalkan ruangan dan kembali dengan kegiatan rutinnya yaitu mengajar Gio. Gio sepertinya juga senang dengan kehadiran Denisha. Ia berulang kali ingin melihat wajah aunty nya itu apakah mirip dengan ibunya.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Pagi ini Fahri sudah di bandara menjemput kedatangan denisha. Semua anggota keluarga di rumah utama bersiap menyambut kedatangannya. Gio juga sudah menggunakan pakaian yang rapi. Tak berapa lama Denisha datang. Ia membawa juga asistennya.


"Hai Aroon." sapanya begitu turun dari mobil. Ia langsung memeluk Aroon dan memberinya kecupan di pipi. Hal itu membuat Gio kaget dan marah.


"Phoo!"


Cyra yang berada di sampingnya berusaha menenangkan dan mencegahnya berbuat sesuatu yang bisa membuat Aroon marah. "Gio jangan." bisik Cyra.


"Tapi bu___."


"Nanti ibu jelaskan oke."


Gio mengangguk setuju. Tapi kesan pertamanya terhadap aunty nya itu sudah negatif. Ia hanya anak kecil yang tidak ingin perhatian ayahnya diambil darinya. Wajar jika ia memasang mode waspada.


"Apa kabar?" tanya Aroon sambil melepas pelukan Denisha, ia merasa canggung.


"Aku baik." jawab Denisha. "Kau bertambah tampan dan tentu saja matang."


"Aku biasa saja masih seperti yang dulu." jawab Aroon. Ia memanggil Gio. "Gio kemarilah nak." dengan malas Gio melangkah mendekati ayahnya. "Ini aunty Denisha adik mae Davira."


"Hai Gio. kamu sudah besar ternyata. Sini aunty peluk." dengan muka datar Gio memeluk Denisha. Dari wajahnya ia agak kecewa.


Setelah memeluk Denisha ia segera berlari kembali ke sisi Cyra.


"Siapa wanita ini Aroon? Dia pengasuh Gio?"


"Oh aku perkenalkan dia guru home schooling nya Gio."


Cyra mengulurkan tangannya. "Cyra."


Dengan malas Denisha menerima uluran tangan Cyra.


"Oya Aroon, aku membawa asistenku untuk tinggal disini. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Denisha manja.


"Boleh."


"Terima kasih Aroon." ucap denisha. "Billy, ayo kesini." panggil Denisha. "Ini kakak iparku."


"Wow, ganteng banget. Hmmm badannya itu lo kekar banget." puji Billy. Ia seorang pria tapi bergaya bicara seperti wanita. Walaupun kulitnya hitam tapi penampilannya sangat modis. Wajarlah karena dia asisten seorang model.


"Oiy.. Oiy.. Si hitam manis." teriak Omar yang tiba - tiba menggoda. Ia tertawa melihat penampilan Billy yang tidak biasa. Omar bahkan berkelekar dengan menirukan gaya Billy.


"Hei! Hitam Curut. Awas kamu ya!" ancam Billy.


"Enak saja hitam curut, kamu itu yang hitam legam." jawab Omar tidak mau kalah.


"Oh ngajak bertengakar kau rupanya." Billy mengeluarkan tinjunya. Tapi karena gayanya yang lemah gemulai tinju itu seperti tidak bertenaga.


"Oh siapa takut!" Omar memperlihatkan otot lengannya.


"Eh sudah.. sudah." lerai Aroon. "Hentikan Omar kau harus sopan dengan tamu." perintah Aroon. Seketika ia menghentikan kelakuannya.


"Uuiihh, terima kasih tuan Aroon yang tampan. Muuahh." Billy memberi kecupan dari jauh.


"Hooekkk!" balas Omar.


Aroon kemudian memerintahkan Omar dan Olif untuk menunjukkan kamar untuk Denisha dan Billy. Dengan sikap ogah - ogahan Omar dan Olif melaksanakan perintah tuannya itu.


"Kamu kenapa Gio?"


"Aku tidak suka dengan aunty."


"Tidak boleh seperti itu, Gio. Dia adalah adik dari Mae Davira."


"DiaΒ  ingin dekat dengan Phoo."


"Tidak itu tidak betul."


"Tapi aku tetap tidak suka." Gio bersikukuh dengan pendapatnya.

__ADS_1


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


__ADS_2