
"Hmmm.. Sepertinya kau sudah sehat?" tanya Cyra yang melihat badan Aroon terlihat segar dan tentu saja tampan.
"Iya. Itu semua berkat kamu yang merawatku."
Cyra tersipu malu. Ia membersihkan tempat tidur sambil mengingat bahwa semalam ternyata di tertidur di dada bidang milik suaminya itu. Ternyata nyaman juga. Pantesan beberapa orang cepat - cepat ingin menikah.
"Hei kok melamun?" Aroon menjentikkan jarinya di depan Cyra.
"Ee.. Oh itu aku baru saja memikirkan sekolah untuk Gio."
"Kau sudah menemukan sekolah yang cocok untuknya."
"Sudah. Ada dua sih. Semuanya dia suka, tapi aku perlu pendapatmu untuk menentukan salah satunya." Cyra mengambilkan baju untuk Aroon.
"Terimakasih." Aroon segera mengenakan baju itu. "Mana brosurnya biar aku pelajari?"
"Sebentar aku ambil." Cyra menyimpan brosur itu di laci. "Ini."
Aroon duduk di sofa sambil melihat - lihat brosur yang di berikan oleh Cyra. "Ini yang terbaik?"
"Iya, sebenarnya ada tujuh. Tapi aku pangkas lagi menjadi dua. Dan itu yang paling unggul. Aku sudah menelepon ke pihak sekolah dan juga mencaro informasi dari internet."
Aroon mempelajari brosur itu dengan serius. Dan lagi - lagi itu membuat Cyra terpesona. Ketampanan pria itu makin lama makin matang. Entah kenapa akhir - akhir ini aku jadi ingin berdekatan dengannya.
"Aku pilih yang ini saja. Bagaimana menurutmu?"
Cyra hanya diam dan pikirannya masih tidak fokus dengan apa yang dibicarakan suaminya.
"Cyra kau mendengarkanku?" tanya Aroon.
"Oh.. Ya.. Ya.. Aku mendengarkan. Jadi kau suka yang mana?"
"Yang ini." Aroon menyodorkan brosur SD pilihannya. "Bagaimana menurutmu?"
"Bagus. Ini sekolah yang cocok untuk Gio. Banyak sekali kegiatan yang di lakukan di luar sekolah. Tentunya itu tidak akan membuatnya bosan." Cyra menjelaskan panjang lebar. "Apa pertimbanganmu memilih sekolah ini?"
"Karena menurutmu bagus maka aku yakin itu bagus. Dan juga jaraknya paling dekat dengan rumah."
"Baiklah, aku akan mempersiapkan semuanya. Bulan depan mungkin baru bisa daftar karena tahun ajaran baru."
"Kau atur saja." jawab Aroon. "Kapan kau akan belajar menyetir?"
"Hahahahh.. Kau yakin aku bisa?"
"Bisa. Gampang kok."
Cyra tampak terdiam.
"Kenapa diam?"
"Yah aku tidak menyangka saja bahwa aku akan bisa menyetir mobil sendiri. Dulu waktu kuliah di Surabaya banyak teman - teman kampusku yang memandang sebelah mata. Oleh sebab itu aku tidak punya banyak teman."
"Hei, kau sekarang istriku. Aku suami yang bisa di andalkan."
"Iya.. Iya.. Aku percaya." Cyra mengacungkan kedua jempolnya. "Aku menunggu waktumu luang saja."
"Nanti sore?"
"Baiklah."
Aroon keluar kamar menuju meja makan untuk sarapan bersama.
Pagi ini Cyra melakukan kegiatan bersama ia juga sudah memberitahu Gio tentang sekolah yang sudah di pilih oleh ayahnya. Dan tentu saja Gio senang walaupun harus menunggu tahun ajaran baru.
Sesuai dengan yang di janjikan oleh Aroon, sore ini mereka berdua akan belajar setir mobil.
"Sudah siap?" tanya Aroon.
"Sudah." jawab Cyra. "Siapa yang akan mengajariku?"
__ADS_1
"Aku."
"Apa? Kamu? Yakin kamu guru yang baik?"
"Hahahahh.. Kau meragukanku? Aku orang yang sabar Cyra."
"Hmmm, benarkah?" cibir Cyra. "Kesabaranmu setipis tisu."
"Hei, jangan menghina. Ayo kita buktikan saja."
"Baiklah. Tapi kalau aku keliru jangan marah - marah, oke?"
"Iya.. Iya.. Sudah percaya saja."
Mereka berdua naik ke dalam mobil. Aroon menjelaskan dasar - dasarnya terlebih dahulu sebelum Cyra mulai. Ia harus tahu terlebih dahulu mengenai kegunaan dari alat - alat yang ada di dalam mobil. Beruntung Cyra orang yang cerdas. Ia sudah bisa sedikit tahu fungsinya masing - masing.
"Nah kita gantian kau duduk di sini dan aku di sana."
Cyra mengangguk dan segera tukar posisi. Ia duduk di kursi sopir sambil menarik napas panjang.
"Sekarang nyalakan mesinnya. Urutannya kamu ingat kan?"
"Iya aku ingat." Cyra menyalakan mesin. Ia mengatur tempat duduk, mengenakan seat belt, mengatur spion dan menyalakan AC. "Sudah."
"Nah sekarang injak kopling."
"Hmm.. Yang ini?"
"Iya betul." jawab Aroon. "Setelah itu kau bisa pindah giginya."
Cyra menekan kopling dan memindah giginya. Diangkat kakinya pelan - pelan dan berpindah. Mobil itu berjalan pelan.
"Injak gasnya."
Tanpa ragu Cyra menginjak gasnya hingga mobil melaju dengan cepat. Cukup mengagetkan. "Huuaa..!!!" teriaknya. Tapi dengan sigap Aroon menarik hand rem hingga mobil terhenti. "Mmaaf.. Mmaaffkan aku. Aku terlalu tegang."
"Oke.. Tenang.. Kau harus tenang Cyra." Aroon berusaha menenangkan istrinya.
"Buat apa marah. Namanya juga latihan." jawab Aroon. "Hmm begini saja, aku akan duduk di sana. Dan kau di depanku dengan begitu aku bisa dengan mudah memandumu."
Wah.. Wah.. Ini namanya modus pikir Cyra. Jadi kayak pangku - pangkuan dong. Tapi iya ajalah daripada nanti nabrak lagi. Ia tidak punya cukup uang jika harus membawa mobil ke bengkel.
"Kok diam?"
"Enggak kok.. Ya sudah."
Aroon segera pindah dan duduk di bagian sopir. Kursi ia mundurkan karena di depannya akan ada Cyra.
"Ayo duduk sini."
"Iya.. Iya.." Cyra segera duduk satu kursi dengan Aroon. Posisinya ia duduk di antara dua paha suaminya itu. Tangan Aroon kemudian seperti memeluknya dari belakang.
"Nah kalau begini kamu akan lebih rileks dan aku bisa menghandle kalau kamu tiba - tiba hilang kendali seperti tadi."
Rileks apa? Aku justru semakin tegang pikir Cyra.
"Ayo kita mulai."
"Baik." Cyra memulai dari awal lagi. Kali ini ia lebih berhati - hati. Dan benar saja dengan adanya Aroon di belakangnya ia bisa dengan cepat mengatasi kalau Cyra melakukan kesalahan. Hampir tiga jam mereka latihan, Cyra sudah bisa mengendarai mobil walaupun pelan dan masih butuh latihan lagi. Tapi nilai plusnya adalah lagi - lagi ia nyaman dalam dekapan suaminya.
"Mae sudah bisa setir mobil?" tanya Gio saat makan malam.
"Sedikit. Masih perlu latihan lagi."
"Boleh aku ikut?"
"Boleh, tapi nanti kalau aku sudah mahir seperti Phoo."
"Sabar Gio, Mae ini juga penakut." sindir Aroon yang ketika gagal Cyra pasti mengeluarkan teriakan kepanikan.
__ADS_1
"Eh siapa bilang? Nyatanya aku bisa nyetir kan?"
"Iya, tapi awalnya teriak huaaa.. huaaa.." Aroon memberi contoh ekspresi Cyra ketika berteriak dan itu membuat Gio, Omar dan Olif tertawa terbahak - bahak. Suasana di meja makan menjadi lebih hidup.
"Nanti aku mau tidur dengan kalian."
"Kamu kan sudah besar Gio."
"Iya tapi aku ingin mendengar cerita Phoo mengenai Mae yang tadi latihan setir mobil."
"Dengan senang hati Phoo akan bercerita oadamu." Aroon mengerlingkan matanya.
Huh.. Tidur bersama lagi deh keluh Cyra dalam hati. Hmm mengeluh atau justru suka.
Sementara itu..
"Kurang ajar! Aroon sudah memberi dia wewenang di rumah ini. Sampai - sampai dia bisa menggunakan fasilitas yang ada di rumah ini termasuk mobil!"
"Iya nona, ia menjadi semakin angkuh!"
"Kita tidak bisa tinggal diam! Kita harus menyusun rencana!"
"Nona tidak berpikir akan mencelakakannya kan?"
Denisha terdiam, ia kemudian tertawa terbahak - bahak. Membuat Billy menjadi bingung.
"Billy.. Billy.. Kamu itu terkadang tanpa sadar memberiku ide yang sangat brilian."
"Brilian saya tidak mengerti maksud nona?"
"Kemari." Denisha membisikkan sesuatu di telinga Billy.
"Apa! Saya tidak berani nona."
"Kau membantah perintahku?!"
"Bbukan itu mmaksud saya."
"Sudah kau lakukan saja perintahku itu. Lakukan saat Aroon tidak ada. Mengerti!"
"Iiya nona."
🍀🍀🍀🍀
Tanpa terasa sudah tiga hari Cyra latihan setir mobil dan sekarang ia sudah cukup mahir. Pagi ini rencananya ia akan keluar perkebunan dengan mengendarai mobil. Sedangkan Aroon akan mengikutinya dari belakang menggunakan motor. Sejatinya ia belum bisa membiarkan istrinya pergi sendiri tapi apa boleh buat tinggal di perkebunan harus mandiri.
"Mobilnya sudah kau panasi?"
"Ya tuhan aku lupa." Cyra menepuk jidatnya sendiri.
"Ya sudah biar aku saja. Kau bersiap - siap."
"Oke."
Aroon keluar dari kamar. Ia pergi ke depan dan akan memanasi mobil sebelum di bawa oleh Cyra. Tapi ia terkejut karena melihat sosok bayangan seorang pria berada di bawah mobil.
Aneh siapa itu pikir Aroon. Ia berhenti sambil terus mengawasi gerak gerik orang itu. Tampaknya ia melakukan sesuatu dengan mobil. Jangan - jangan dia mau menyabotase mobil yang di gunakan oleh istriku.
"Hei! Apa yang kau lakukan!" teriak Aroon.
Bayangan itu langsung sadar bahwa aksinya di ketahui. Ia langsung melarikan diri.
Aroon dengan sekuat tenaga mengejarnya. "Hei! Berhenti!" teriaknya.
Bayangan itu terus berlari akan tetapi karena fisik Aroon yang kuat ia bisa dengan cepat mengejar dan memberikan tendangan pada bayangan itu hingga jatuh terguling - guling.
Aroon dengan sekuat tenaga langsung mengunci tangan bayangan itu ke belakang dan menindihnya.
Aroon menjambak rambutnya karena ingin melihat siapa wajah bayangannya itu dan alangkah terkejutnya dia.
__ADS_1
"Billy!"
🍀🍀🍀🍀