My Love Teacher

My Love Teacher
Penangkapan Denisha


__ADS_3

Sore itu Cyra yang setelah melakukan olah raga panas bersama Aroon segera mandi. Sebelumnya ia memastikan bahwa Arthit sedang tertidur pulas. Setelah mencium putranya itu ia segera masuk ke dalam kamar mandi.


Aroon yang saat ini menunggu kedatangan Sulaiman di ruang kerjanya. Ia juga sudah memberitahu tim penyidik agar menyiapkan rencana yang matang. Setelah Sulaiman datang mereka akan menuju ke kantor polisi. Aroon tidak mau menunda penangkapan Denisha karena ia seorang phsicopat yang bisa membahayakan keselamatan keluarganya.


Cyra mandi sambil menikmati kucuran shower. Ia membersihkan badannya hingga wangi. Entah kenapa akhir - akhir ini hidungnya sangat sensitif. Setelah puas menikmati kesegaran air Cyra segera mengeringkan tubuhnya dan mengenakan baju. Sebelum keluar dari kamar mandi Cyra mengeringkan rambutnya.


Ceklek.. Terdengar pintu di buka.


"Aroon kau kah itu sayang?" teriak Cyra dari dalam. Tapi sama sekali tidak ada jawaban. Perasaan Cyra menjadi tidak enak. Ia menghentikan kegiatannya dan memutuskan untuk keluar. "Davira!" teriaknya kaget karena saat itu Arthit dalam gendongannya. Bayi itu menangis karena kaget.


"Heh. Jangan pura - pura!"


"Apa maksudmu?"


"Kalian sudah tahu kan kalau aku Denisha. Dasar munafik!" umpatnya.


"Oke.. Aku mengaku." ucap Cyra berusaha tenang. "Kami memang sudah tahu siapa kamu sebenarnya."


"Munafik semua kan kalian. Apa bedanya kalian dengan aku."


"Denisha, tenang dulu." Cyra panik karena tangisan Arthit semakin keras. Bayi itu tidak tenang dalam gendongan Denisha. "Mari kita bicara baik - baik. Letakkan Arthit di sini biar suara tangisnya mereda."


"Kau pikir aku bodoh! Kalian sudah merencanakan penangkapanku dengan matang! Hahahahh..!!!" Cyra tertawa seperti orang kesetanan. Bahkan ia tidak memperdulikan keselamatan Arthit. Hampir saja bayi itu lepas dari gendongannya.


Tangisan Arthit mengundang Aroon dan yang lainnya datang.


"Davira, kembalikan anakku!" teriak Aroon.


"Hahahahhh.. Sudahlah Aroon jangan terus memanggilku Davira. Kau sudah tahu siapa aku kan?"


"Denisha lepaskan anakku. Dia masih bayi. Dia tidak tahu apa - apa masalah kita."


"Justru karena dia anak kalian. Jadi jangan harap aku akan melepaskannya!" teriak Denisha. "Kalian sudah membuat hidupku hancur bahkan mukaku juga rusak! Perlu kalian tahu aku muak dengan muka baruku ini!"


Denisha berjalan mundur dan masih membawa Arthit dalam gendongannya. Terkadang ia mengangkat tinggi - tinggi yang membuat Cyra histeris. Tapi ia justru menyukainya.


"Ini adalah wajah yang aku benci karena sudah merebutmu. Kamu tahu kan bagaimana rasanya hidup dalam bayang - bayangnya? Tapi tenang saja. Aku sudah mempercepat kematiannya agar ia tidak menderita dengan penyakitnya."


"Apa? Mma.. Mmaaksudmu kau yang membunuh Davira?" suara Aroon bergetar.


"Iya.. Aku mempercepat ia bertemu dengan tuhan. Hahahahha..!"


"Kau gila Denisha!!!" teriak Aroon.


"Diam kau laki - laki brengsek!!! Ini semua gara - gara kau!!!"


Cyra menangis sejadi - jadinya. Saat itu Sulaiman dan Syamsudin berhasil menelepon pihak berwajib. Mereka sudah mengelilingi rumah Aroon untuk mengepung Denisha. Tapi mereka juga harus hati - hati karena ia membawa sandera.


Tiba - tiba saja Gio datang. "Lepaskan adikku!!!" teriaknya.


Denisha malah tertawa terbahak - bahak melihat Gio. "Hmmm.. Bagus. Sekarang sudah lengkap."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" tanya Cyra. "Tolong lepaskan anakku."


"Hmmm.." Denisha tampak berpikir dan tiba - tiba kembali tertawa. "Tidak akan bodoh!!!" Denisha mengeluarkan pisau dari sakunya. "Kemari keponakanku. Mendekatlah jika kamu tidak mau kehilangan nyawa adikmu ini."


"Tidaaakkkk!!!" teriak Cyra. "Jangan bawa Gio, jangan bawa anakku." Cyra menangis dan terus memohon.


"Hahahahh.. Aku suka.. Aku suka.." Denisha tertawa sambil menari - nari. "Diantara mereka siapa yang akan kalian pilih?" Denisha menaruh pisau itu di leher Gio dan Arthit ia gendong dengan satu tangan.


"Tolong Denisha. Jangan sakiti anak kami. Kau bawa aku saja. Bukankah aku penyebab kesedihanmu." ucap Aroon.


"Terlambat Aroon. Kau sudah menolakku. Aku hanya ingin perasaanmu menjadi hampa dengan kehilangan mereka berdua." ucap Denisha. "Kau akan merasakan kesepian yang mendalam seperti yang aku rasakan sekarang.


Tiba - tiba Denisha menangis. "Dari kecil mereka selalu membanggakan Davira sebagai anak yang pintar dan juga lembut. Aku di jauhi oleh teman - temanku. Apa kau tahu bagaimana perasaanku saat itu! Hah!"


"Denisha, tolong lepaskan anak - anakku. Mereka tidak tahu apa - apa. Kami yang salah. Aku yang salah." mohon Cyra dalam isak tangis. "Mari bicara baik - baik. Kamu perlu ke psikiater. Dan kami berjanji akan menemanimu ke sana."


"Aku tidak gila! Tidaakkk!!! Aku tidak gila!!!" tiba - tiba saja tangan Denisha gemetar. "Jangan! Jangan suntik aku!" ia seperti ketakutan oleh suatu hal. "Jangan siksa aku papa, jangan jauhi aku mama. Aku tidak gilaaa!!!" teriaknya histeris.


Ia seperti kebingungan dan bahkan linglung. Kesempatan ini digunakan oleh Gio untuk merebut Arthit dari gendongan Denisha. Dan yes berhasil. Gio segera berlari ke arah orang tuanya.


"KURANGG AJAARRR!!!" teriak Denisha yang menyadari bahwa sanderanya melarikan diri.


Cyra yang melihat itu segera berlari menyambut anaknya. Ia takut jika dari belakang Denisha bisa menangkap mereka lagi. Sudah pasti ia akan membunuhnya.


Denisha mengejar Arthit dengan pisau di tangannya. "Berhenti!" teriaknya.


Gio tetap berlari sambil mendekap Arthit. Cyra dengan sekuat tenaga berusaha melindungi kedua anaknya. Akhirnya Cyra bisa memeluk kedua putranya itu.


"Tidak akan kubiarkan!" Denisha berteriak sambil mengangkat pisaunya tinggi - tinggi ia akan menikam mereka. Cyra merangkul anak - anaknya sambil memejamkan mata.


Plak! Bugh!


Aroon berhasil menangkis tangan Denisha hingga pisau itu terpelanting beberapa meter darinya. Aroon juga mendorong tubuh Denisha hingga terjatuh ke belakang. Denisha berusaha meraih pisau itu dan berhasil. Ia segera berdiri dan akan menikam Aroon lagi akan tetapi pihak kepolisian lebih cepat dengan menembakkan senjata api. Beberapa peluru mengenai dada dan perutnya.


Denisha terjatuh di lantai dengan tubuh bersimbah darah. Cyra menutupi wajah Gio agar tidak melihat hal yang mengerikan seperti itu.


Tubuh Denisha mengejang darahnya terus mengalir. "Maafkan aku Denisha. Aku tidak bisa menjagamu sesuai pesan Davira."


Denisha memandang Aroon. Ia sudah tidak bisa berkata - kata dan tidak beberapa lama tubuhnya mengejang lagi. Matanya melotot. Tak lama kemudian ia tidak bergerak lagi. Denisha menghembuskan napas terakhirnya dengan luka tembak di dada dan perutnya.


Pihak kepolisian segera mengurus jenasah Denisha dan membawanya ke rumah sakit Bhayangkara untuk proses pelaporan kejadian.


Aroon menghampiri anak dan istrinya mereka saling berpelukan. "Syukurlah kalian selamat." bisik Aroon. "Terima kasih untuk selalu ada di sisiku."


Cyra mengangguk. Tak lama kemudian ia diam. Matanya tiba - tiba saja berkunang - kunang. Dan kemudian menjadi gelap hanya terdengar suara Aroon yang memanggilnya.


Cyra terbangun disebuah ruangan yang tidak ia kenal. "Dimana ini?"


"Kamu sudah bangun? Syukurlah." Aroon mencium kening Cyra.


"Apa yang terjadi?"

__ADS_1


"Kamu pingsan tadi."


"Anak - anak bagaimana?"


"Mereka di rumah bersama bik Tika." jawab Aroon. Ia duduk di samping istrinya. "Bagaimana perasaanmu?"


"Tidak apa - apa hanya sedikit pusing."


"Kamu hamil sayang."


Cyra menatap Aroon. "Aku hamil?"


"Iya. Kata dokter janin berusia empat minggu."


"Benarkah?" mata Cyra tampak berkaca - kaca. Ia tersenyum bahagia.


"Iya benar. Aku harap anak kita nanti perempuan. Gio pasti senang memiliki adik perempuan."


Cyra memeluk suaminya. "Aku bahagia."


"Aku juga. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku." Aroon melepas pelukannya dan ia mencium bibir Cyra. "Hah. Aku jadi menginginkanmu."


"Hei ini rumah sakit." ucap Cyra tersenyum geli. "Gara - gara hobimu itu aku hamil lagi padahal Arthit baru lima bulan."


"Tapi suka kan?"


Cyra mengangguk malu.


"Aku urus administrasi dulu. Kata dokter setelah kamu siuman kamu boleh pulang."


🍀🍀🍀🍀


Pagi itu dilakukan pemakaman jenasah Denisha. Aroon sengaja memakamkannya di dekat Davira. Apapun yang di lakukan oleh Denisha, Davira tetap sayang padanya. Hanya saja kebencian dan rasa iri sudah menutupi mata hati Denisha sehingga ia selalu menganggap Davira sebagai saingannya.


Ternyata semasa kecil Denisha juga pernah masuk rumah sakit jiwa dan konsultasi secara rutin ke psikiater karena sering menyakiti dirinya sendiri.


Polisi juga sudah menangkap tuan John yang dianggap ikut membantu kejahatan Denisha. Ternyata bisnis hewan buas dan langka miliknya adalah usaha ilegal.


Pemakaman berjalan dengan khidmat dan cepat.


"Akhirnya semuanya sudah selesai. Sebenarnya aku tidak mengingankan hal ini terjadi."


"Maksudmu?"


"Dulu almarhum Davira pernah berpesan padaku kalau aku harus menjaga Denisha. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan adiknya. Setelah kedua orang tuanya meninggal hanya Denisha keluarga yang di milikinya."


"Memang benar apa kata orang - orang bahwa Davira berhati lembut. Mungkin saja Davira tahu kalau adiknya mau membunuhnya tapi masih saja ia memikirkan masa depannya." puji Cyra. "Kamu beruntung memilikinya."


"Iya dan sekarang aku beruntung memilikimu. Kita akan hidup bahagia bersama dengan anak - anak kita." Aroon mengecup kening Cyra dan membelai perut istrinya yang sedang hamil itu.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2