
Seakan tersadar dari perbuatannya dan malu, membuat sikap Aroon menjadi canggung. "Mandi sana, kamu bau kotoran." Aroon sedikit mendorong tubuh Cyra ke depan sambil melepaskan pelukannya.
What! Bau kotoran? Umpat Cyra dalam hati. Sial! Aku bau kotoran seperti ini kan juga karena kamu.
Cyra segera meninggalkan Aroon, ia berlari - lari kecil untuk kembali bergabung bersana Gio, Omar dan Olif. Saat ini mereka bertiga masih asyik kejar - kejaran jadi mungkin saja mereka tidak menyadari kejadian tadi.
Cyra mulai mengatur napasnya, tapi yang utama mengatur detak jantungnya. Ini pertama kalinya ia di peluk oleh pria selain ayahnya. Waktu berpacaran dengan Vano mereka hanya jalan biasa. Maklumlah masih cinta monyet.
"Hei! Hei! Hei! Ayo kita kembali serius lagi."
Mereka bertiga segera menghentikan kegiatannya dan datang menghampiri Cyra.
"Uh, bu Cyra bau." Gio menutup hidungnya.
Eh, anak bapak sama saja. Bilang aku bau ucap Cyra dalam hati.
"Iya. Rambutku terkena kotoran sapi. Oleh sebab itu kita percepat kegiatan ini agar aku bisa segera mandi."
"Baik bu Cyra." jawab mereka bertiga kompak sambil menutup hidung.
Cyra hanya menghela napas, memang itu kenyataannya. Ia sendiri bisa mencium bau tak sedap dari tubuhnya. Ia ingin segera berendam dengan minyak wangi.
"Kita taruh dedak di atasnya." Cyra menyerahkan dedak itu pada mereka. Dengan cepat mereka menyelesaikan pekerjaannya.
"Sudah bu."
"Bagus. Sekarang kita tuang larutan EM4 ini secara merata di atas tumpukan kotoran sapi dan dedak."
Sesuai dengan intruksi Cyra, kali ini Gio yang melakukannya. Ia sangat senang dengan kegiatan ini.
"Pupuk ini sudah jadi tapi belum bisa dipergunakan."
"Kenapa bu?" tanya Gio.
"Karena kita membutuhkan sekitar dua puluh satu hari sampai pupuk kandang ini sempurna."
"Yah masih lama bisa dipergunakan." ucap Gio kecewa.
"Kamu tidak perlu kecewa Gio. Sementara ini bunga dan tanaman baru saja di tanam. Jadi hanya perlu kita siram saja." Cyra menjelaskan. Setelah mendengar penjelasannya raut wajah Gio kembali sumringah.
"Tapi selama dua puluh satu hari itu, pupuk kandang ini tidak kita biarkan begitu saja. Setiap satu minggu sekali harus di aduk untuk mempercepat proses dekomposisi. Suhu juga harus di bawah tujuh puluh derajat celcius . Nah untuk minggu pertama yang mengaduk Gio, minggu kedua Omar dan yang terakhir Olif."
"Siap bu Cyra."
"Baiklah karena semuanya sudah jelas dengan tugas masing - masing. Aku akhiri pelajaran hari ini. Good jobs semuanya."
Cyra segera mandi, karena tidak mungkin jika bau kotoran sapi itu masih menempel di tubuhnya. Mana lagi ia harus kontrol dokter sore ini. Nggak mungkin kan datang periksa dengan bau kotoran.
☘️☘️☘️☘️
"Ah segarnya." teriak Cyra sambil keluar dari kamar mandi. Ia berulang - ulang mencium aroma di tubuh dan rambutnya. Hmmm sudah wangi, ia tersenyum dan mengambil hairdryer di lacinya. Ia mengeringkan rambutnya agar tidak masuk angin.
Drrrttt... Drrrttt... Drrrttt handohonenya berdering. Ia segera mengangkatnya. "Halo bu."
"Sore Cyra."
"Sore bu."
"Bagaimana kabarmu nak?"
"Aku baik bu." jawab Cyra. Ia menahan airmatanya setiap kali orang tuanya bertanya seperti itu. Tidak mungkin ia bercerita kesulitan apa yang ia temui disana karena ia tidak mau membuat mereka khawatir. "Bagaimana kabar Ayah dan ibu?"
"Ibu baik, tapi tidak dengan ayahmu." dengan nada sedih ibu menjawab.
"Bapak kenapa bu?" tanya Cyra cemas.
"Bapakmu kemarin jatuh waktu ambil kelapa. Dan mengalami patah tulang pada tangannya."
"Kok bisa bu. Harusnya bapak tidak usah naik - naik keatas lagi. Kalau butuh kelapa kan bisa beli saja."
"Awalnya ibu sudah memperingatkan untuk tidak nauk ke atas karena mau hujan, tapi kau tahu kan ayahmu itu keras kepala. Ia tetap nekat naik ke atas."
"Buat apa sih kelapanya?"
"Ayahmu mau kirim Jenang buat teman - temanmu di perkebunan."
"Ya tuhan." ucap Cyra. "Terus kondisi bapak saat ini bagaimana?"
"Sudah ibu bawa ke rumah sakit dan sementara tangan ayah di gips. Saat ini sudah membaik. Karena faktor usia mungkin penyembuhannya kan lama. Cuman yang jadi pokok permasalahan minggu depan ayahmu akan panen. Kalau kondisinya seperti ini tidak mungkin bisa panen. Kau tahu kan ibu tidak tahu apa - apa tentang panen. Bisakah kau pulang? Cuma tiga hari."
__ADS_1
Cyra terdiam cukup lama. Ia sangat bingung karena cuti yang akan ia dapatkan masih satu bulan lagi. Kalau ia ijin apakah Aroon akan mengijinkannya.
"Baiklah, ibu tenang saja. Nanti aku coba ijin pada tuan Aroon." Cyra berusaha menenangkan ibu agar tidak terlalu khawatir. "Bisa aku bicara dengan ayah?"
"Saat ini ayahmu sedang istirahat, nanti kalau sudah bangun ibu akan menyuruhnya untuk meneleponmu."
"Baiklah sampaikan salamku untuk ayah."
Panggilan di akhiri. Cyra sempat terdiam sejenak. Ia harus memikirkan segala cara agar Aroon memajukan ijin cutinya.
Untuk sementara pemikiran itu ia kesampingkan dulu karena mau berangkat kontrol. Luka - lukanya sudah mengering tapi memang ada bekasnya.
Setelah semua siap, Cyra sudah meminjam motornya Fahri. Karena jarak ke rumah sakit agak jauh jadi kalau naik sepeda bisa - bisa ia tidak jadi kontrol dokter.
"Nih kuncinya."
"Hehehehehh.. Makasih ya sudah mau minjemin motor."
"Eh nggak usah sungkan, kita di sini itu sama - sama berjuang. Kalau butuh apa - apa bilang saja."
"Oke siap." Cyra memberi hormat pada Fahri. "Kalau begitu aku berangkat dulu, keburu telat."
"Eh kamu yakin sudah bisa naik motor, kemarin kan tangan sama kakimu luka?"
"Tenang saja. Lukanya sudah mengering kok."
"Coba lihat."
Cyra menggulung lengan bajunya sampai siku. Ia memperlihatkan luka jahitannya yang sudah mengering. Fahri memegang tangan Cyra untuk memastikannya. "Gimana? Sudah percaya kan?"
"Hmmm iya, sudah kering." ucap Fahri. "Aku hanya merasa tidak enak dengan pak Syam jika nanti ada apa - apa lagi denganmu."
"Iya Pak Uo ku itu sebagai pengganti orang tuaku disini."
"Ya sudah kamu berangkat hati - hati. Jangan tergoda preman jalanan ya." goda Fahri.
"Iihhh amit - amit. Pait... Pait.."
"Hahahahh.." Fahri tertawa terbahak - bahak melihat tingkah Cyra.
Cyra mulai mengendarai motor matic milik Fahri. Ia harus berhati - hati karena ini jalan perkebunan berbeda dengan jalan - jalan di desa.
Waduh ada tuan, sapa atau tidak ya pikir Cyra bingung. Ia sedikit canggung setelah kejadian tadi siang. Ah masa bodoh, aku sapa saja. Mau senyum ya syukur kalau diam ya sabar putusnya kemudian.
"Selamat sore tuan." Cyra melambatkan laju motornya ketika tepat melintas di depan Aroon.
"Tunggu."
Mau tidak mau Cyra menghentikan laju motornya. "Memanggil saya tuan."
Aroon hanya mengangguk. Cyra segera memarkirkan motornya dan menghampiri Aroon. "Ada apa tuan?"
"Kemana?"
"Mau ke rumah sakit."
"Jangan bohong."
"Bohong?" Cyra tampak kebingungan. "Saya memang benar mau ke rumah sakit."
"Bilang saja pacaran, pakai alasan ke rumah sakit."
"Benar tuan saya tidak bohong." Cyra berusaha meyakinkan Aroon. "Kan tuan sendiri juga tahu kalau dokter meminta saya untuk datang satu minggu lagi. Ini kontrol luka jahitan tuan." Cyra menyodorkan tangannya.
Aroon masih terdiam tanpa ekspresi. Justru itu yang membuatnya takut karena ekspresi Aroon yang seperti itu susah di tebak. "Kalau tuan tidak percaya, tuan bisa ikut saya." akhirnya Cyra menawarkan.
"Baiklah kalau kamu memaksa." Aroon mengambil kunci dari tangan Cyra. "Ayo."
Cyra masih membutuhkan waktu untuk menelaah ucapan Cyra. Siapa yang memaksa pikirnya.
"Hei jangan bengong!" teriak Aroon. "Atau jangan - jangan kamu memang mau pacaran."
"Iiihhh nggak tuan." sanggah Cyra dengan mencibir. Cyra segera berjalan mendekati Aroon yang sudah duduk di atas sepeda motor. "Tuan yakin mau naik ini?"
"Kenapa? Kau meragukanku?"
"Bukan begitu tuan. Motor ini kan kecil takutnya tidak muat untuk kita berdua."
"Oh, kau tidak ingin motornya Fahri aku kendarai. Dasar posesif."
__ADS_1
Lho.. Lho.. Kok posesif. Malah tambah nggak paham aku, pikir Cyra. "Posesif apa tuan?"
"Yah kamu ke Fahri." jawab Aroon enteng. "Perlu kamu tahu, semua fasilitas diperkebunan ini adalah milikku termasuk motor ini."
"Tunggu dulu tuan. Maksud tuan apa dengan kata posesif?" tanya Cyra. "Maaf tuan, posesif itu kata yang cocok ditujukan untuk orang yang mempunyai hubungan khusus. Sedangan saya dan Fahri hanya teman biasa. Kami tidak memiliki hubungan yang spesial."
Tampak seulas senyum di sudut bibir Aroon. "Ya sudah naik, dasar bawel!"
Dengan hati - hati Cyra naik ke boncengan belakang. Ia malas berdebat, takutnya kalau tuannya itu di ladeni bisa - bisa ia gagal periksa. Apalagi ia membutuhkan ijin cuti dari Arron. Ia harus bisa mengambil hatinya.
"Hati - hati tuan, soalnya motornya kecil."
"Hmmm."
Mereka naik motor berdua. Cyra cukup berhati - hati karena motor ini kecil. Sedangkan tubuh Aroon yang tinggi kekar sudah memakan tempat yang banyak. Jika tidak hati - hati bisa terjadi sentuhan tuh.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Aroon tiba - tiba memecah keheningan.
"Bicara dengan siapa tuan?"
"Fahri."
"Fahri?" ucap Cyra lirih. Ia tampak berpikir sejenak dan akhirnya menyadari. "Oh.. Obrolan saya tadi?"
Aroon tidak menjawab.
"Ehmm.. hanya seputar luka jahitan dan kecelakaan tempo hari. Terus terang sejak kejadian itu pak Syam jadi over protektif terhadap saya. Jadi terkadang sering meminta Fahri untuk mengawasi dan menjaga saya tuan."
Keheningan kembali terjadi. Cyra memperhatikan punggung kekar milik Aroon. Kalau dipeluk dari belakang pasti enak pikir Cyra sambil tersenyum malu.
"Jangan gila." tiba - tiba Aroon berteriak
"Hah maksud tuan?"
"Kenapa senyum - senyum?"
"Siapa yang senyum - senyum? Darimana tuan tahu?"
Aroon menunjuk spion motor yang terdapat pantulan gambar Cyra. Hal itu membuat Cyra menyadari kebodohannya.
"Maaf saya hanya teringat guyonan dengan Omar dan Olif."
"Heh aneh."
Mereka kembali terdiam sampai akhirnya sampai juga di rumah sakit. Setelah mendaftar mereka antri untuk di panggil. Hingga akhirnya giliran Cyra sampai. Ternyata lukanya sudah benar - benar kering. Dokter hanya memberi resep penghilang bekas luka.
"Sudah obatnya?"
"Sudah tuan."
"Ayo pulang."
Cyra mengangguk dan mengikuti langkah Aroon yang lebar. Mereka sampai di tempat parkir.
"Tuan."
"Hmmm."
"Bisa saya bicara sebentar?"
Aroon hanya mengangguk.
"Bisakah ijin cutinya saya ajukan?"
Aroon tampak kaget dengan permintaan Cyra. "Tidak bisa!" jawab Aroon tegas. "Belum apa - apa sudah minta reward. Tunjukkan dulu kerjamu!"
"Tuan tidak bisa melihat, sekarang Gio sudah semakin baik."
"Kau bilang itu baik! Penilaian macam apa yang ada dalam pikiranmu!"
"Tuan sama sekali tidak menghargai saya." ucap Cyra cemberut.
"Aku menghargaimu! Hanya saja aku kecewa!" ucap Aroon. "Renungkan! Kau pulang sendiri."
dengan cepat Aroon mengendarai motornya.
"Tuan tunggu! Saya ada alasannya! Tuan tunggu!" Cyra berteriak - teriak sambil terus memanggil nama tuannya.
☘️☘️☘️☘️
__ADS_1