
"Halo, Selamat pagi tuan Bian."
"Sudah kau dapatkan keberadaan gadis itu."
"Sudah tuan, alamat rumahnya yang diSurabaya sudah saya dapatkan."
"Bagus segera kau laksanakan perintahku."
"Baik tuan, hasilnya akan saya laporkan pada tuan."
Panggilan di akhiri...
Sepertinya aku harus segera memberitahu Denisha pikir Bian. Ia segera turun dari tempat tidurnya.
"Mau kemana?"
"Tidurlah, aku ada keperluan."
"Aku masih menginginkanmu Bi." gadis itu menarik tangan Biantara agar kembali ke tempat tidur.
"Lepaskan."
"Tidak akan, aku ingin mengulangi kegiatan panas kita tadi malam."
"Aku bosan."
"Apa! Kau bosan."
"Permainanmu monoton."
"Dasar brengsek!" gadis itu membetulkan letak selimutnya dan bersandar di tempat tidur. "Aku kecewa Bi!"
Biantara mengeratkan jari - jarinya. Ia tampak geram dengan perkataan gadis itu. Dengan gerakan cepat ia menjambak rambut panjangnya.
"Aaauuww!!! Sakit Bi!"
"Sakit? Aku bisa lebih dari ini, bahkan mencincang tubuhmu untuk aku beri pada Anjing - Anjingku yang kelaparan. Ingat jangan pernah mendikteku ataupun memancing emosiku. Jika kau memilih aman dan bisa menikmati hartaku maka diam akan lebih baik. Mengerti?!" mata Biantara merah dengan suara gigi yang gemeretak.
Gadis itu gemetar ketakutan dan hanya menjawabnya dengan anggukan. Biantara melepaskan tangannya. Ia bergegas mengenakan celana dan meninggalkan gadis itu dalam ketakutan. Biantara menuju ke ruang kerjanya, dengan kesal ia melakukan panggilan dengan seseorang.
"Halo."
"Aku sudah menyuruh anak buahku menyingkirkan gadis itu. Kau akan segera mendapatkan kabar baiknya."
"Thank's."
"Ingat Denis dengan apa yang sudah kau janjikan padaku."
"Iya.. iya aku ingat."
"Aku butuh secepatnya. Semakin cepat informasi itu ada di tanganku, semakin cepat pula anak buahku menyingkirkan Cyra."
"Baiklah hari ini kau akan mendapatkan yang kau inginkan."
"Bagus."
Panggilan di akhiri.
Denisha tampak cemas setelah mendapatkan telepon dari Biantara, hati kecilnya seperti membenarkan peringatan Billy tempo hari.
"Ada apa nona?"
"Biantara meneleponku, dia mengatakan kalau sudah menemukan alamat rumah Cyra yang Surabaya. Anak buahnya siap menyingkirkannya."
"Bukankah itu yang kau inginkan?"
"Benar. Sesuai dengan apa yang aku inginkan. Tapi balasan yang harus aku berikan sangat sulit."
"Aku akan membantumu?"
"Benarkah."
"Iya, aku setia padamu nona."
"Thank's Billy." Denisah memeluk erat Billy. Billy memang seorang asisten yang setia. Ia sudah bekerja cukup lama dengan Denisha hampir lima tahu. Menurut Billy, Denisha adalah sosok yang keras kepala dengan segala sesuatu yang bisa ia dapatkan dengan mudah. Sifat manja dan keras kepala membuatnya sulit untuk mengendalikan emosinya bahkan bisa membuatnya mengambil keputusan tanpa pemikiran yang matan.
"Bil, kemana orang - orang?"
"Sebenarnya itulah yang ingin aku laporkan padamu."
"Ayo kita cari Aroon."
"Dia tidak ada. Anaknya juga."
"Kita tanya dua pengasuh bodoh itu." ucap Denisha.
"Mereka juga tidak ada."
"Aneh pergi kemana mereka kenapa tidak ada yang memberitahuku." gumam Denisha. "Coba kau tanya tukang masak itu."
"Baiklah akan aku tanyakan." Billy bergegas menuju ke dapur untuk menanyakan keberadaan Aroon dan Gio. Di dapur bik Tika sedang memasak di bantu dengan Jono anaknya.
"Hei!"
Bik Tika tidak memperdulikan panggilan itu.
"Hei!" panggil Billy dengan suara lebih keras. "Kau tuli!"
"Oh kau memanggilku?" tanya bik Tika pura - pura bodoh.
"Tentu saja memanggilmu."
__ADS_1
"Namaku Tika bukan Hei. Mana aku tahu jika kau memanggilku." bik Tika menjawab dengan mengiris - irus sayur.
"Dimana tuan Aroon dan tuan muda?"
"Berlibur."
"Jangan bohong."
"Terserah."
Billy menghela napas kesal. "Kemana?"
"Mana aku tahu?"
"Hei aku tanya baik - baik ya! Jawabanmu seperti meremehkanku. Ingat! aku asisten pribadi nona Denisha. Mengerti!"
Bik Tika juga tidak kalah kesal. Kegiatannya memasak jadi rusak gara - gara kedatangan Billy. Dengan spontan bik Tika mengacungkan pisaunya. "Kau kira aku suka dengan kahadiran kalian? Nggak! Jadi jangan sombong dengan statusmu ya! Aku sudah berkerja bertahun - tahun di sini jadi jangan menguji kesabaranku." dengan sekali gerakan bik Tika menancapkan ujung pisau pada talenan kayu di depannya.
Hal itu membuat Billy sedikit gematar. "Yya.. Yya sudah kalau tidak tahu." dengan segera ia mengambil langkah seribu dari pada terkena pisau bik Tika. Melihat Billy yang ketakukan membuat bik Tika puas.
Billy kembali menemui Denisha di kamar. "Nona."
"Dapat informasinya?"
"Dapat."
"Kemana mereka?"
"Kata tukang masak itu tuan dan tuan muda pergi berlibur."
"Oh, pantas saja sepi. Itu artinya dua pengasuh Gio yang bodoh itu juga ikut." gumam Denisha. "Aku bisa melancarkan rencanaku."
"Rencana apa?" tanya Billy yang masih belum mengerti dengan apa yang dikatakan nonanya.
"Bian meminta imbalan berupa informasi?"
"Informasi apa?"
"Informasi tentang kerja samanya dengan perusahaan asing. Data - data itu harus sudah siap dan aku akan memberikannya. Jika tidak ia tidak akan menyingkirkan Cyra."
"Dimana tuan Aroon menyimpan semua berkas - berkasnya?"
"Di brankas. Ia meletakkannya di ruang kerjanya."
"Baiklah aku akan mengambilnya, dan lau yang akan memanduku."
"Terima kasih Billy."
Mereka berdua menuju ke ruang kerja Aroon. Denisha sudah membawa kuci duplikat ruang kerja Aroon sehingga ia dengan mudah membukanya.
"Ayo masuk."
"Sssstt.. Pelankan suaramu." Denisha memperingatkan. "Aku lupa - lupa ingat, bantu aku mencarinya."
Mereka berdua mencari dan akhirnya ketemu, ternyata brankas itu tidak berubah letaknya masih seperti dulu. Denisha tahu dari Davira. Aroon begitu mempercayai istrinya sehingga segala sesuatu ia serahkan pada Davira.
"Apa kodenya?" tanya Billy.
"Coba ulang tahun Davira."
"Berapa?"
"280892."
Billy mencoba menekan angka yang ada di sana. "Gagal."
Hmmm.. mungkin tanggal pernikahan mereka. 310416."
Billy mencoba lagi dan ternyata gagal juga. "Coba ingat - ingat lagi."
"Dulu Davira memberitahuku kalau passwordnya ulang tahunnya. Kau tahu kan kalau Aroon sangat mencintai kakakku itu."
"Mana nyatanya gagal semua."
"Tunggu coba ulang tahunnya Gio, saat ini orang yang dia cintai adalah Gio." ucap Denisha. "250517."
"Ini yang terakhir nona, sudah dua kali kita coba gagal. Jika ini gagal almrm akan berbunyi dan tentu saja rencana kita akan gagal."
"Aku yakin, sudah coba saja."
Billy menekan angka - angka itu dan Tiiiitt.. "Yes berhasil."
"Cepat keluarkan berkas - berka itu aku akan melihatnya."
"Baiklah." dengan cekatan Billy mengeluarkan berkas- berkas yang ada. Denisha segera mencarinya satu persatu dan___.
"Aku sudah menemukannya Billy." ucap denisha. Ia segera memfoto berkas itu satu persatu. "Sudah semua, cepat kembalikan berkas - berkas ini."
"Baik nona."
Setelah mengembalikan semua seperti semuala, Denosha dan Billy keluar dari ruang kerja Aroon. Denisha segera mengirim pesan ke Bian beserta dengan data - data yang sudah ia foto tadi. Dengan cepat Denisha mendapat balasan bahwa Cyra akan segera tersingkir di muka bumi ini.
🍀🍀🍀🍀
Pagi Cyra terbangun dengan kebingungan, ia menemukan dirinya tertidur di kamarnya. Lantas dimana tuan pikirnya. Ia segera bangun dan mendapati tuannya itu meringkuk tertidur di atas kursi rumahnya. Ia jadi merasa tidak enak. Cyra segera ke dapur untuk membantu ibunya memasak sarapan untuk tamunya.
"Pagi bu." Cyra menyapa sambil mencium pipi ibunya.
"Kamu itu, tega dengan tuan Aroon. Dia kan tamu dirumah ini seharusnya kamu yang mengalah."
"Itu yang aku bingung bu. Semalam aku ketiduran di kamar Gio, tapi paginya kenapa bisa pindah ke kamarku ya." ucap Cyra bingung. 'Apa aku pernah tidur berjalan bu?"
__ADS_1
"Dulu." jawab ibu. Ia masih sibuk memotong sayuran. "Ra."
"Ya bu." Cyra yang sedang membersihkan ikan menoleh ke arah ibu. Pagi ini mereka akan makan ikan mujahir goreng dengan tumis kangkung.
"Bagaimana hubunganmu dengan tuan Aroon?"
"Hubungan apa dulu ini bu?"
"Yah kedekatan kalian."
"Hubunganku dengan tuan itu sebatas atasan dan bawahan. Aku ini guru privat anaknya bu. Tidak lebih dari itu." jawab Cyra. "Kenapa? Ibu khawatir ya?"
"Tidak seperti itu. Ibu hanya takut karena statusnya duda."
"Hahahahhh.. Tidak mungkinlah tuan jatuh cinta padaku. Aku ini orang kecil bu."
'Eh jangan salah, cinta itu tidak bisa memilih."
"Ealah ibu.. ibu.. pagi - pagi kok sudah berpuitis."
"Ibu ini serius Ra, bisa saja tuanmu itu tiba - tiba jatuh cinta. Aku perhatikan dia selalu membela dan melindungimu."
"Yah itu karena aku guru privat Gio, bu. Dia membutuhkan tenagaku untuk mengajar Gio tidak lebih." jawab Cyra. "Dan juga Cyra itu tidak cantik."
"Eh siapa bilang tidak cantik. Dulu waktu sekolah banyak pria yang naksir denganmu, eh malah kamu jatuh cintanya sama siapa itu namanya?"
"Devano."
"Nah tuh Devano kurang ajar, deket sama gadis baik - baik malah selingkuh."
"Sudah bu, itu kan bagian dari masa lalu. Kalau tidak seperti itu aku tidak akan belajar."
"Ya sudah, ibu hanya berpesan hati - hati. Ingat tuan Aroon itu orang kaya. Ibu hanya tidak ingin kamu dipermainkan."
Cyra memeluk ibunya dari belakang. "Jangan terlalu banyak pikiran bu. Yakin deh sama Cyra." ucapnya. Tuan tidak akan mungkin jatuh cinta padaku bu, kalau aku mungkin saja sudah jatuh hati dengannya ucap Cyra dalam hati.
"Cyra." panggilan ibu membuyarkan lamunannya Cyra.
"Ya bu."
"Jangan lupa, sampaikan sama tuan Aroon ibu - ibu disini mau minta foto lagi."
"Heh, baiklah. Hahahahahh." jawab Cyra sambil meneruskan kegiatannya mengolah ikan mujahir.
Ibu dan Cyra sudah selesai menyiapkan sarapan. Cyra segera membangunkan Gio, Omar dan Olif. Tuan Aroon sudah bermain catur dengan ayah.
"Ayah, tuan Aroon ayo sarapan dulu."
"Gio sudah bangun?"
"Sudah, dia menunggu tuan di meja makan."
"Ayo kita makan dulu tuan, caturnya kita lanjut nanti sore. Saya yakin akan mengalahkan tuan." ucap ayah. Dan Aroon hanya tersenyum saja.
Mereka semua menikmati sarapan yang terbilang sangat sederhana, tapi karena dalam suasana hangatnya sebuag keluarga jadi terasa nikmat. Setelah selesai Cyra membantu ibu membereskan piring.
"Cyra."
"Ya tuan."
"Ikut aku sebentar."
"Bisa, tapi setelah cuci piring tuan."
"Biar Omar dan Olif yang kerjakan."
"Baiklah." jawab cyra ia mengikuti tuannya itu pergi dengan berboncengan naik motor. "Tuan mau mengajakku kemana?"
"Nanti kau juga akan tahu."
Cyra kembali diam. Dia memutuskan menikmati pemandangan. Mereka melewati sawah - sawah yang sudah masuk musim tanam.
"Kau kenal dengan pengendara motor di belakang kita?" tanya Aroon.
Pertanyaan itu membuatnya mau tidak mau menengok di belakang. I melihat ke arah pengendara sepeda motor di belakangnya. "Sepertinya tidak kenal tuan. Mukanya tertutu helm."
"Apa kau tidak curiga dengan mereka?"
"Hmm.. sepertinya tidak tuan. Apa ada yang aneh?"
"Lihat saja penampilan mereka, Di udara yang panas begini malah mengenakan jaket kulit. Dan juga buat apa ke sawah pakai baju kulit. Mereka mengikuti kita dari tadi."
Cya membenarkan apa yang dikayakan oleh Aroon. "Sepertinya mereka semakin mendekat ke arah kita tuan." berkali - kali Cyra menoleh untuk memastikan posisi mereka. Aroon tidak bisa ngebut karena mengendarai motor tua. Dan Braaakkkk!!! sepeda motor itu menabrak bagian belakang motor Cyra.
"Kamu tidak apa - apa?"
"Tidak apa - apa tuan."
Aroon berusaha memaksimalkan laju sepeda motor tapi apa daya karena sedah tua jadi tidak bisa maksimal.
Braaakkk!!! Lagi - lagi sepeda motor itu menabrak mereka. Dengan cepat pengendara depan mensejajarkan posisi sepeda motor nya dengan sepeda motor Aroon. Dengan cepat orang di bagian penumpang menendang motor tua itu hingga jatuhlah Aroon dan Cyra. Gubrakkk!!!
Dua pengendara itu turun, membius dan mengikat kedua tangan mereka. Tak lama kemudian ada sebuah mobil warna hitam berhenti tepat di depan mereka. Dengan segera mereka memasukkan Cyra dan Aroon ke dalam mobil, membawa mereka ke suatu tempat yang jauh dari keramaian. Hampir satu jam mereka berada di dalam mobil dan masih saja mobil itu berjalan. Aroon mulai sadar dari pengaruh obat bius, ia mengedarkan pandangannya dan menemukan Cyra yang masih menutup mata akibat obat bius.
"Cyra.. Cyra.." Aroon berusaha membangunkan dengan memanggil namanya.
Tak lama kemudian perlahan Cyra mulai membuka matanya. Ia mengerjap - erjap sebelum kesadarannya pulih dengan sempurna. "Dimana ini tuan?"
"Sepertinya kita di culik."
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1