
Cyra mengerjap - erjapkan matanya untuk melihat keadaan di sekelilingnya karena tampak gelap.
"Dimana aku ini?" gumamnya. Cyra melihat ruangannya yang seperti sebuah gudang yang terdapat kayu - kayu tertumpuk rapi.
Ceklek.. pintu terbuka. Masuklah seorang pria dengan brewok yang sangat tebal membawa sebuah tali di tangannya. "Oh sudah bangun kau rupanya."
"Dimana ini? Kalian siapa?"
"Kau tidak perlu tahu siapa kami."
"Tapi apa salah saya, saya tidak punya uang sepeserpun."
"Ini bukan masalah uang nona. Kami menculikmu bukan untuk meminta tebusan."
"Kalau bukan untuk meminta tebusan tolong lepaskan aku."
"Hahahahhh.. tidak semudah itu. Kami hanya menunggu perintah dari bos."
"Siapa bos kalian?"
"Nona tidak perlu tahu."
Cyra kembali terdiam, tubuhnya terasa lemah karena tidak di beri makan. Tangannya terasa perih karena ikatan tali yang terlalu kuat. Penculik itu menghampirinya sambil tersenyum licik. Dengan berjongkok pria brewok itu membelai pipi Cyra.
"Tolong jangan." Ucap Cyra memalingkan muka.
"Tenang saja, tanpa perintah dari bos aku tidak akan memakanmu walaupun aku ingin. Gadis secantik dirimu sangat sayang untuk dianggurkan."
Pria tadi mengikat kaki Cyra.
"Kenapa kakiku diikat. Toh aku sudah tidak bisa melarikan diri?"
"Aku hanya berjaga - jaga karena otakmu cerdik. Kau akan mencari celah untuk melarikan diri,"
Cyra menghela napas panjang, ia pasrahkan hidupnya pada tuhan. "Boleh saya minta minum."
"Maaf nona, bos tidak memerintahkan kami untuk memberimu apa - apa." jawab pria tadi sambil keluar dan kembali mengunci pintu.
Cyra menitikkan air mata. Kenapa jalan hidupnya menjadi seperti ini. Niatnya hanya untuk mencari pekerjaan dan membantu hutang orang tuanya. Ia hanya bisa menyerahkan semua ini pada tuhan, pasti ada rencana yang indah untuknya. Ia teringat dengan kedua orang tuanya, jika terjadi apa - apa dengan dirinya bagaimana nanti dengan hidup kedua orang tuanya.
"Ya tuhan siapa yang tega berbuat ini padaku? Aku mohon selamatkan aku?" doanya. "Tuah Aroon." gumamnya lirih dan kembali memejamkan matanya.
Sementara itu di Perkebunan..
"Bagaimana kalian sudah menemukan jejak mobil itu?" tanya Aroon.
"Terakhir oleh rekam CCTV lalu lintas mobil itu ada di puncak tuan. Di daerah Bandung."
"Bandung itu luas Sulaiman, aku minta yang lebih spesifik. Ini sudah dua hari Cyra di culik!" Aroon tampak emosi.
"Pihak kepolisian juga masih belum ada kabar tuan, tapi mereka terus mencari."
"Tidak biasanya kau lambat seperti ini."
"Maafkan saya tuan, karena petunjuk yang kita dapatkan terlalu sedikit."
Drrrttt... Drrrttt ada pesan masuk ke dalam handphone Aroon. Ia bergegas membuka dan terkejutlah dengan pesan yang masuk. "Cyra!" teriaknya. Pesan itu berisi foto Cyra yang terkulai lemas dengan tangan dan kaki yang terikat. Tak berapa lama handphone nya berdering dengan nomor yang tak di kenal.
"Halo!"
"Selamat sore tuan Aroon."
"Siapa kalian?"
"Hahahhh.. Tenang.. Tenang tuan. Bagaimana dengan foto yang kami kirim. Bagus bukan?"
"Dimana Cyra? Lepaskan dia!"
"Jangan buru - buru tuan. Nikmati saja permainan dari kami."
"Apa yang kalian minta? Uang? Berapa? Asal kalian membebaskan gadis itu."
"Hmmm... Sangat menarik penawaran dari tuan. Tapi sungguh di sayangkan tawaran itu harus kami tolak. Kami tidak butuh uang."
"Apa yang kalian butuhkan? Aku bisa memberikan asal kalian lepaskan gadis itu."
"Kami ingin anda."
"Aku?"
__ADS_1
"Yah benar, kami ingin anda."
"Baiklah dimana kita bisa barter?" tanpa berpikir panjang Aroon menyetujui permintaan para penculik.
"Sabar tuan, tunggu informasi dari kami. Ingat jangan lapor polisi." panggilan di akhiri.
"Halo! Halo! Halo!" teriak Aroon. "Aaacchh!!! Sial!"
Sulaiman berusaha menenangkan Aroon yang sangat emosi. Ia mengacak - acak rambutnya. "Itu telepon dari penculik."
"Apa yang mereka inginkan tuan?"
"Aku."
"Tuan jangan pergi kesana. Bagaimana kalau tuan akan dibunuh?"
"Kalau aku tidak kesana Cyra yang akan dibunuh."
"Tapi tuan___."
"Cukup Sulaiman! Aku akan tetap pergi ke sana. Aku tidak mau ada nyawa yang di korbankan demi keselamatanku. Ia perkerja di perkebunanku jadi dia juga tanggung jawabku."
"Baik tuan, maafkan saya."
"Ingat jangan smpai informasi ini bocor. Termasuk ke polisi."
"Baik tuan." jawab Sulaiman.
Drrttt.. Drrttt.. pesan masuk lagi ke dalam handphone Aroon. Dengan segera ia membukanya, dan melihat tertera sebuah alamat yang harus ia datangi untuk menukarkan dirinya dengan Cyra. Ia tidak memberi tahu Sulaiman.
"Aku pergi dulu. Ingat Sulaiman jaga Gio untukku."
"Hati - hati tuan." Sulaiman berusaha percaya bahwa tuannya bisa lepas dari para penculik.
🍀🍀🍀🍀
Cyra tersadar, ia membuka matanya karena para penculik itu melepaskan ikatan kakinya.
"Kalian mau melepaskan aku?" tanyanya dengan binar mata penuh harap.
"Tidak, kami akan memindahkanmu."
"Sudah jangan banyak tanya!"
Penculik itu membawa tubuh lemah Cyra masuk ke dalam mobil. Sepintas Cyra mengetahui di mana dia di sekap. Ternyata di sebuah pabrik pemotongan kayu. Pabrik itu tidak terlalu besar dan tampak sepi, sepertinya cukup lama terbengkelai dan jauh dari pemukiman penduduk.
Mereka membawa Cyra ke suatu tempat, Cyra bisa mencium aroma teh. Jangan - jangan mereka membawaku ke perkebunan teh pikir Cyra. Itu artinya cukup jauh dari Bogor.
Kira - kira hampir tiga puluh menit mereka dalam perjalanan akhirnya mobil berhenti. Yang membuat Cyra tambah terkejut mereka berhenti di sebuah villa yang cukup bagus. Kenapa mereka membawaku ke sini? Jangan - jangan mau bertemu bos yang sering mereka sebut. Banyak pertanyaan yang tidak terjawab dalam pikiran Cyra.
"Ayo masuk cepat!"
"Dimana ini?"
"Diam!" pria itu menampar pipi Cyra.
"Hei jangan kasar bro. Bos tidak ingin dia luka."
"Masa bodoh!" pria yang menampar Cyra menyeretnya masuk ke dalam sebuah kamar. Ia kemudian melempar tubuh Cyra yang lemah ke atas tempat tidur. Masuklah seorang wanita tua.
Siapa wanita itu? pikir Cyra lagi.
"Bersihkan tubuhnya dan ganti pakaiannya dengan ini." perintah pria itu sambil menyerahkan sebuah tas berisi pakaian.
"Baik tuan."
"Hei!" panggil pria itu pada Cyra. "Jangan coba - coba melarikan diri, atau aku akan menembakmu."
Cyra hanya menunduk diam. Wanita tua itu melepaskan ikatan Cyra dan membawanya pergi ke kamar mandi. Dengan perlahan wanita tua itu membersihkan tubuhnya menggunakan sabun. Mengeringkannya dengan handuk dan memakaikan pakaian yang di berikan oleh pria tadi. Sebuah baju long dress warna hitam.
"Bu, tolong selamatkan saya."
"Saya tidak berani neng. Mereka bawa senjata."
"Bu, ibu cukup biarkan saya keluar lewat jendela itu."
"Jangan neng, ibu cuma disuruh saja. Ibu tidak tahu apa - apa."
Cyra seperti menemukan kesempatan untuk keluar, walaupun dengan terpaksa ia mengorbankan ibu tua itu. "Maafkan saya bu." ucap Cyra yang tiba - tiba mendorong dan lalu mengunci pintu kamar mandi dari luar. Cyra lalu menuju ke jendela. Ia berusaha membukanya tapi itu terkunci dari luar. Cyra sama sekali tidak putus asa, ia seperti menemukan kekuatan, ia mengambil sebuah kursi dan memecahkan kaca jendelanya.
__ADS_1
Praannkkk!!!
"Suara apa itu?"
"Jangan - jangan gadis itu melarikan diri!"
"Ayo kita lihat."
Para penculik segera masuk dan ternyata benar dugaan mereka, mereka melihat Cyra yang berusaha keluar melalui jendela. Dengan cepat mereka berlari dan menariknya ke dalam.
"Lepas! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi!"
"Kurang ajar!" pria brewok itu menampar pipi Cyra.
"Ikat dia! Sebentar lagi kita kedatangan tamu. Cepat!"
Dua pria itu membawa Cyra ke atas tempat tidur. Mereka mengikat tangan Cyra pada dua di tiang penyangga tempat tidur secara terpisah. Selanjutnya kaki Cyra juga diikat pada dua tiang penyangga yang berbeda.
"Apa yang kalian lakukan?!" Cyra terus meronta. "Lepaskan!"
"Diam!" ucap pria brewok. "Keluarkan wanita tua itu dan bawa pergi dari sini. Sebentar lagi tamu kita datang."
Dua pria yang lainnya itu segera membawa wanita itu keluar dan diikuti oleh pria brewok itu. Sepertinya ia pimpinan dari para penculik. Siapa tamu yang akan datang? Cyra bertanya - tanya dalam hati.
Sudah hampir setengah jam ia terikat dia atas tempat tidur. Tubuhnya terasa sakit dan lemah. Bibirnya juga terlihat mengering karena tidak diberi minum sama sekali.
Sementara itu...
Mobil Aroon berhenti di sebuah villa di daerah Bandung. Di villa itu tampak sangat sepi dan satu - satunya villa yang berdiri di perkebunan teh itu. Aroon menyelipkan pistolnya di pinggang belakangnya. Dengan hati - hati dan waspada ia turun dari mobil. Ia masuk ke dalam villa dengan pandangannya yang menyelidik tanpa lengah sekalipun.
Tiba - tiba dari arah belakang dua orang pria mengunci tangannya kebelakang hingga membuatnya kesulitan bergerak. Dan seorang lagi yang brewokan membawa sebuah suntikan. Ia segera menyuntikkan sesuatu ke leher Aroon.
"Lepaskan! Apa itu?"
"Tenang tuan Aroon, setelah ini kami akan membawamu ke surga kenikmatan."
"Aap.. Apa maksud kalian?"
"Hahahahhh.. Bukankah kamu menduda sudah cukup lama." pria brewok itu tertawa lepas. "Masukkan dia di dalam kamar."
Kedua pria yang memegangi Aroon itu membawanya masuk ke dalam sebuah kamar. Mereka mendorong Aroon masuk ke dalam kamar. Tubuhnya yang sempoyongan akibat suntikan itu membuatnya jatuh tersungkur. Setelah itu mereka mengunci pintu itu dari luar.
Aroon dengan susah payah berusaha bangun. Dan terkejutlah ia dengan siapa yang terikat di atas tempat tidur.
"Tuan!" pekik Cyra.
"Cyra!" teriak Aroon. "Syukurlah aku menemukanmu." Aroon berjalan sempoyongan menghampiri Cyra. Matanya berkunang - kunang, tubuhnya berkeringat dan sedikit pusing.
"Lepaskan saya tuan."
"Iya akan aku lepaskan."
"Kenapa tuan berjalan seperti itu?"
"Entahlah Cyra, mereka menyuntikkan sesuatu padaku. Aku sendiri tidak tahu apa yang mereka suntikkan. Dan inilah yang terjadi padaku." Aroon berusaha melepas ikatan Cyra tapi karena pandangannya berkunang - kunang ia jadi agak kesulitan. Napasnya juga terengah - engah.
"Jangan - jangan itu racun."
"Entahlah, tubuhku terasa panas."
"Cepat tuan! Sebelum mereka kesini."
Tiba - tiba saja Aroon menghentikan kegiatannya ia seperti hilang kesadarannya. Berulang kali ia memegang pelipis matanya. "Cyra kenapa aku seperti ini."
"Seperti apa tuan."
"Aku.. Aku merasa bergairah."
"Tuan.. tuan harus sadar. Cepat lepaskan ikatannya, saya akan membawa tuan keluar."
Aroon tiba - tiba saja melepas bajunya. "Aku kepanasan Cyra." tampak keringatnya keluar dari tubuh kekar itu.
"Apa yang tuan lakukan!!!"
Aroon yang tanpa mengenakan baju naik ke atas tempat tidur. Ia berada di atas Cyra. "Maafkan aku Cyra."
"Tidak tuan! Jangannn!!!"
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1