My Love Teacher

My Love Teacher
Sentuhan itu


__ADS_3

Pagi ini Cyra mulai mengajar Gio. Rencananya ia akan memberi pelajaran tentang membuat suatu karya. Dikarenakan mereka tinggal di perkebunan dan ada beberapa hewan ternak jadi mereka akan membuat kandang. Omar sudah mencari beberapa kayu yang akan di pergunakan untuk membuat kandang.


"Ayo kita mulai."


"Sebentar Gio, sabar dulu."


"Huh, Omar lama bawa kayunya."


Dari kejauhan Omar berlari membawa gerobak sorong yang berisi kayu. "Tuan muda saya datang!" teriaknya dati kejauhan. Tingkahnya yang lucu membuat suasana semakin ceria. Cyra bisa tertawa.


"Baiklah, karena semua peralatan sudah lengkap kita bisa memulai." ucap Cyra. "Sebelum membuat kandang kita harus membuat gambar dan ukurannya terlebih dahulu. Kebetulan semalam aku sudah membuat sketsanya. Kita buat kandang yang kecil dulu."


"Kandang kecil buat hewan apa bu?"


"Kucing, Kelinci."


"Kalau untuk Omar ada?" tanya Olif


"Heh, aku bukan hewan." protes Omar.


"Jangan salah kamu kan tikus." cibir Olif.


"Jangan mulai lagi ya!"


"Sudah.. Sudah. Ayo kita mulai. Biar hari ini kandangnya selesai." Cyra berusaha melerai. "Olif dan Gio kalian ukur kayunya sesuai yang ada di gambar ini ya. Setelah itu aku dan Omar akan memotongnya sesuai ukuran."


"Siap bu." jawab mereka bertiga kompak.


Mereka berempat melaksanakan tugas masing - masing. Karena Cyra dan Omar kurang mahir mengergaji kayu jadi pembuatannya agak lama.


"Omar, di perkebunan ini apa ada gergaji mesin yang kecil?" tanya Cyra.


"Tadi saya lihat di gudang tidak ada bu, hanya gergaji manual ini."


"Wah kalau kita gergaji seperti ini disamping lama, bisa - bisa tangan kita patah. Mana kayunya banyak lagi." bisik Cyra pada Omar.


"Biar aku yang gergaji." tiba - tiba suara Aroon dari belakang mengagetkan mereka terutama Cyra.


"Jangan tuan, biar kami saja." tolak Omar.


"Aku perhatikan sudah satu jam kayu yang kalian potong baru enam." Aroon melirik kayu hasil potongan mereka. "Minggir biar aku saja."


Cyra dan Omar akhirnya menyingkir dan benar juga yang dikatakan tuannya itu, kalau begini terus bisa sampai besok baru kelar. Aroon segera menggergaji kayu, karena tenaka kuat ia tidak perlu waktu lama untuk menggergaji sebuah kayu.


Cyra memperhatikan tuannya itu bekerja. Memang seperti biasa ia selalu membantunya.


"Bu Cyra." panggilan Olif membuyarkan lamunannya.


"Ya Olif."


"Tuan seksi ya, lihat itu ototnya keluar semua." puji Olif.


Omar yang mendengar obrolan mereka segera menutup mata Olif dengan kedua tangannya.


"Omar, lepaskan. Aku tidak bisa lihat."


"Aduh tanganku tidak bisa lepas." goda Omar.


"Ach sialan kau Omar."


Karena perkataan Olif akhirnya Cyra jadi memperhatikan Aroon. Seketika peristiwa itu terbayang lagi di pelupuk matanya. Bagaimana badan kekar itu berada di atasnya dan merobek bajunya. Cyra memejamkan mata dan berusaha mengalihkan pikirannya. Keringat membasahi dahinya dan tiba - tiba saja ia merasa pusing.

__ADS_1


"Sudah selesai." ucap Aroon.


"Yeeayyy. Phoo hebat." puji Gio.


"Sisanya ku serahkan padamu, Cyra." ucap Aroon.


Cyra membuka matanya perlahan - lahan karena ia masih merasakan pusing. Ia berusaha berdiri untuk berjalan mendekati tumpukan kayu yang sudah terpotong dengan rapi. Baru beberapa langkah berjalan ia terhuyung. Dengan cepat Aroon menangkap tubuh yang hampir jatuh itu.


"Kamu tidak apa - apa?" tanya Aroon cemas.


Cyra terdiam, kenapa suara itu begitu jelas ditelinganya. Ia membuka matanya dan melihat wajah Aroon begitu dekat dengannya. Akal sehat yang membuatnya tersadar bahwa ia harus menghindar dari pria itu.


"Jangan sentuh saya tuan." ucapnya lirih. Cyra mendorong Aroon yang membuat Aroon tersadar bahwa Cyra masih trauma dengannya.


"Maaf." ucapnya. Ia segera mengendalikan situasi dan memilih untuk pergi. "Kalian selesaikan kandangnya, aku akan pergi."


"Terima kasih tuan." ucap Olif dan Omar. Mereka segera menghampiri Cyra. "Ibu tidak apa - apa?"


"Tidak apa - apa, tadi aku sarapan hanya sedikit. Jadi agak sedikit pusing." jawab Cyra. "Ayo kita lanjutkan lagi."


Mereka mulai merangkai potongan - potongan kayu tadi sesuai dengan gambarnya. Gio sangat antusias memaku kayu - kayu. Walaupun masih harus di bantu oleh Omar minimal dia bisa mengerjakan.


"Yeeaayy! Akhirnya selesai juga." sorak Gio.


"Nah sekarang tinggal kita cat biar lebih cantik." perintah Cyra. 'Kamu suka warna apa Gio?"


"Aku suka warna biru."


"Baiklah kita cat kandangnya dengan warna biru. Setelah itu bisa kita gambar - gambar. Ayo kita mulai."


Gio, Olif dan Omar bersenang - senang dengan warna. Mereka terkadang bercanda saling mencorat coret. Dan akhirnya kandang itu selesai dengan sempurna. Dengan warna dasar biru dan ada gambar - gambar yang mempercantik.


"Hmmm.." Gio tampak berpikir. "Bagaimana dengan kelinci?"


"Baiklah, kita isi dengan kelinci."


"Yeeayy. Besok kita beliΒ  Kelincinya."


"Tunggu beberapa hari dulu Gio."


"Kenapa?"


"Kandang ini masih bau cat yang komposisinya dari bahan kimia. Kalau hewan kita masukkan ke dalam kasihan mereka. Bisa saja akan mati atau lemas."


"Berapa hari bisa diisi bu?" tanya Omar


"Mungkin tiga sampai empat hari." jawab Cyra. "Kita biarkan kandang ini berada di luar."


"kalau terkena hujan bagaimana?" tanya Gio. "Pasti warnanya akan hilang."


"Justru tidak apa - apa, air hujan akan membuat kandungan bahan kimia pada cat akan cepat hilang. Kalau soal warna tidak akan luntur karena ini sudah kering. Perlu waktu lama sampai cat ini memudar."


"Baiklah kita tinggal di sini dulu."


Mereka segera kembali ke dalam rumah, makan siang dan istirahat.


Cyra kembali ke rumahnya. Dengan segera ia mandi, mengguyur tubuhnya dengan air. Ia menggosok dengan kuat lengannya yang tadi sempat di sentuh oleh Aroon. Hal itu ia lakukan berulang kali. Hampir setengah jam ia melakukan hingga tubuhnya terasa perih karena terkena sabun berulang kali.


Setelah berpakaian ia berbaring di atas tempat tidurnya. Aku seperti orang gila pikir Cyra. Sebenarnya tuan tidak bersalah kenapa harus aku perlakukan seperti itu. Ayo ubah pikiranmyu seperti dulu Cyra ucapnya pada dirinya sendiri.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


Tiga hari sudah berlalu sejak mereka membuat kandang. Cyra memutuskan menghadiahkan Gio seekor kelinci untuk menjadi penghuni di kandang buatannya. Cyra sudah meminta ijin Pak Uo untuk keluar sebentar membeli Kelinci.


"Tunggu aku temani sebentar."


"Tidak usah Pak Uo, tempatnya dekat kata bik Tika hanya lima menit dari sini."


"Aku masih khawatir dengan kejadian penculikan itu."


"Aku tidak apa - apa Pak Uo, sedikit demi sedikit aku belajar menghilangkan rasa traumaku."


"Baiklah tapi jangan lama - lama."


"Siap."


Cyra pergi dengan meminjam sepeda motor milik Pak Uo nya itu. Ia sudah sampai di petani kelinci seperti yang bik Tika bilang. Disana banyak sekali pilihan kelinci dari warna dan jenisnya. Ia memutuskan membeli kelinci warna hitam dan putih dengan jenis kelamin jantan dan betina. Dengan puas Cyra membawa dua kelinci itu pulang.


Ia sudah sampai di depan gerbang perkebunan akan tetapi ada sesuatu yang menghadangnya.


"Vano." gumam Cyra. Ia tidak percaya setelah beberapa waktu menghilang ia muncul lagi di hadapannya. Ternyata pukulan yang di berikan padanya oleh Aroon tidak membuatnya menjadi jera.


"Cyra kita harus bicara."


"Tidak ada yang perlu di bicarakan. Perbuatanmu yang terakhir itu cukup untuk menjebloskanmu ke dalam penjara. Sudah baik kami tidak melaporkan."


"Cyra aku hanya minta maaf." tiba - tiba Vano menarik dan menggenggam tangannya. Cyra menjadi panik, ia melihat di sekeliling kenapa tidak ada satpam di sana.


"Lepaskan Vano atau aku teriak!"


"Jangan seperti itu sayang, aku hanya mau kamu dengarkan."


"Aku tidak mau! Aku tidak mau berurusan denganmu lagi."


"Ayolah Cyra hanya sebentar saja." Vano terus menarik tangannya dan menjauh dari perkebunan.


"Tidak! Jangan! Jangan lakukan itu!" teriak Cyra histeris.


"Lepaskan dia atau aku pecahkan kepalamu!" teriak Aroon tiba - tiba dengan menudingkan sebuah pistol pada Vano. Ia berjalan mendekat dan menarik Cyra ke dalam dekapannya. Cyra yang gemetar dan panik segera memeluk Aroon dengan erat. "Pergi dari perkebunanku!"


Vano memandang tajam ke arah Aroon. Lagi - lagi ia gagal mendekati Cyra. "Sial!" umpatnya sebelum pergi.


"Kau sudah aman Cyra." ucap Aroon. Cyra masih tidak bergeming, ia memeluk Aroon dengan erat.


"Tidak! Jangan!" ucapnya sambil terus memejamkan mata. Aroon merasakan tubuh Cyra yang gemetar ketakutan. Keringatnya keluar. Dengan segera ia membopongnya masuk kedalam. "Tolong kalian bawa motor dan kelinci itu masuk, setelah itu kalian aku pecat karena tidak menjaga perkebunanku dengan baik."


"Maafkan kami tuan." ucap kedua penjaga.


Aroon tidak memperdulikan, ia tetap berjalan sambil membawa Cyra masuk ke dalam. Aroon membawa Cyra pulang ke rumahnya. Ia sudah merasakn tubuh Cyra yang tenang dan tidak gemetar seperti tadi. Cengkeramannya juga sudah mengendur. Itu artinya Cyra sudah tenang.


"Jangan takut, kamu sudah aman." bisik Aroon.


Seakan tersadar dengan apa yang terjadi Cyra segera minta di turunkan. "Turunkan saya tuan."


Aroon juga mengerti situasinya, mungkin Cyra tadi memeluknya karena terdesak oleh ketakutannya dan berusaha meminta perlindungan. Ia menurunkan Cyra dengan perlahan. "Maaf." ucapnya dengan suara serak.


"Terima kasih tuan."


"It's oke." jawab Aroon. "Ini Kelincinya." Aroon meletakkan Kelinci itu di atas meja.


Cyra hanya menjawabnya dengan anggukan. Aroon segera pergi meninggalkan Cyra sendiri. Sepeninggal Aroon Cyra hanya duduk di sofa. Ia tidak seperti beberapa hari yang lalu langsung mandi dan membersihkan diri begitu di sentuh oleh tuannya, sepertinya ia sudah bisa berdamai dengan keadaan. Apalagi tuannya tadi juga terpaksa demi menolongnya karena ia ketakutan.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


__ADS_2