My Love Teacher

My Love Teacher
Pengakuan Bik Tika


__ADS_3

Sejak kejadian itu sikap Davira berubah drastis dan lebih pendiam. Ia juga meminta maaf pada Cyra karena keegoisannya. Sekarang ia lebih banyak menghabiskan waktu di kamar. Cyra benar - benar marah dan sama sekali tidak bertegur sapa. Aroon sendiri lebih memilih menghindar.


Sore itu Cyra sedang duduk santai bersama Arthit. Sedangkan Gio mengikuti ektrakulikuler melukis, ia sepertinya memiliki bakat di bidang itu. Cyra sesekali mengajak ngobrol Arthit.


"Maaf nyonya bisa saya berbicara?"


"Eh bik Tika." sahut Cyra. "Bisa bik. Ayo duduk."


Bik Tika duduk berhadapan dengan Cyra. Kepalanya tertunduk dan wajahnya seperti ketakutan.


"Kenapa diam bik? Apa bik Tika punya masalah."


"Anu.. Anu.. Nyonya saya takut."


"Takut soal apa?"


Bik Tika menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan bahwa di situ hanya ada mereka berdua.


"Saya takut dengan nyonya Davira."


"Takut dengan Davira? Apa yang dia perbuat? Dia mengancam bik Tika?"


Bik Tika menarik napas panjang. "Sebenarnya sudah lama saya ingin bicara dengan nyonya soal ini tapi saya takut nyonya tidak percaya karena saya tidak ada bukti. Tapi saya berani bersumpah bahwa apa yang saya lihat dan rasakan itu benar adanya."


"Bicara yang jelas bik. Atau perlu saya panggilkan Aroon?"


"Jangan nyonya. Saya juga takut kalau tuan tidak percaya dan menganggap bahwa saya tukang fitnah."


"Baiklah kalau begitu. Lanjutkan cerita bik Tika."


Lagi - lagi bik Tika menengok ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihat atau mencuri dengar.


"Jadi begini nyonya. Pertama kali nyonya Davira datang saya tidak percaya kalau beliau masih hidup. Tapi karena dari ujung kepala sampai ujung kali adalah benar - benar nyonya Davira saya memutuskan untuk percaya. Sampai dengan___."


"Sampai dengan apa bik?"


"Sampai dengan ketika saya memeluk beliau karena luapan bahagia bahwa beliau masih hidup dan sembuh dari kanker. Dia memiliki aroma yang berbeda. Nyonya Davira tidak menyukai parfum yang ada aroma buahnya dan terkesan segar. Beliau lebih suka dengan parfum aroma bunga yang lembut."


"Jadi benar kalau dia orang lain."


"Itu baru dugaan awal saya nyonya. Kemudian ada juga yang membuat saya yakin kalau dia bukan nyonya Davira."


"Apa itu bik?"


"Waktu paha Arthit merah."


"Iya.. Sampai malamnya berubah menjadi biru." kenang Cyra. Matanya berkaca - kaca ketika ingat itu. "Memang kenapa bik?"


"Yang melakukannya adalah nyonya Davira."


"Apa?! Benarkah itu bik?" wajah Cyra berubah pias, ia seakan tidak percaya jika yang melakukan itu adalah Davira.


"Setelah melihat kejadian itu saya yakin itu bukan nyonya Davira. Nyonya Davira tidak akan berbuat jahat seperti itu apalagi menyakiti seorang bayi yang tidak bersalah. Beliau memiliki sifat lembut."


"Kenapa bik Tika tidak cerita?"


"Saya takut nyonya karena saya tidak punya bukti. Dan juga saat itu dia menghasut kalau paha merah itu adalah perbuatan saya."


"Aku jadi ingat bik. Waktu lengan Arthit luka, saat itu juga ada Davira di sana. Bisa jadi itu adalah ulahnya. Benar - benar kurang ajar dia! Mau mencelakakan keluargaku!" ucap Cyra geram. "Pantas saja berulang kali Gio bilang bahwa dia bukan Mae nya. Tapi saat itu aku sama sekali tidak berpikir ke sana bik. Pikirku Gio belum mengenal Davira karena ketika meninggal ia masih berusia dua tahun. Tapi ternyata perasaan anak itu sangat peka."

__ADS_1


"Iya nyonya. Tuan muda benar. Itu bukan Maenya."


"Aku harus menyelidiki ini bik. Siapa wanita yang berwajah seperti Davira itu?"


Bik Tika lagi - lagi tertunduk. Sepertinya masih ada yang mau dia katakan.


"Apa masih ada lagi yang mau bik Tika sampaikan?"


"Hmmm.. Ada nyonya. Tapi saya ragu."


"Kenapa ragu? Katakan saja bik. Siapa tahu informasi sekecil apapun bisa sangat berguna untuk membuktikan bahwa dia bukan Davira dan berniat jahat pada keluarga ini."


"Saya hapal parfum yang di pakainya."


"Maksud bik Tika parfum yang di gunakan wanita itu bik Tika tahu siapa orangnya?"


"Iya nyonya. Dulu ketika belanja kebutuhan pribadi nyonya Davira selalu mengajak saya. Jadi saya paham betul barang pribadinya. Setiap membeli parfum beliau selalu membeli dua. Satu untuk dirinya dan satu lagi untuk seseorang."


"Siapa orang itu?"


"Nona Denisha."


Mata Cyra melebar ketika bik Tika menyebut nama itu. "Nggak mungkin bik. Denisha sudah meninggal."


"Oleh sebab itu saya juga ragu menyampaikan ini, nyonya. Tapi saya hapal betul itu parfum yang selalu dikenakan oleh nona Denisha."


"Ini benar - benar membingungkan bik. Tapi Aroon juga mengatakan kalau itu bukan Davira karena tidak ada bekas operasi di perutnya."


"Benarkah itu? Ini memperkuat dugaan kalau itu memang bukan nyonya Davira. Saya ingat dulu tuan muda lahir memang lewat operasi cesar."


"Bik, aku harus mengatakan ini pada Aroon. Kita berdua tidak bisa menyelidiki Davira sendirian."


Sepeninggal bik Tika, Cyra terus memikirkan kemungkinan - kemungkinan yang membuatnya curiga kalau dia bukan Davira. Apalagi ia begitu ingin merebut Aroon dari nya. Bisa saja kan kalau itu Denisha. Tapi bagaimana mungkin dia hidup lagi. Padahal jelas - jelas dia melihat mobil itu hangus terbakar tanpa sisa.


Di saat ia sedang berpikir datanglah Davira.


"Hai."


"Oh Davira." ucap Cyra agak gugup. Tapi ia segera menetralkan emosinya. "Ada apa?"


"Aku mau bicara."


"Soal apa?" tanya Cyra.


"Aroon."


"Bicaralah." Cyra berusaha melunak. Itu semua demi penyelidikannya.


"Entah apa yang merasukiku hingga aku berbuat hal yang memalukan seperti itu Cyra. Kau tahu kan aku sangat syok melihat suamiku sudah menikah lagi dan dia begitu mencintaimu. Kamu mengerti kan dengan perasaan wanita?"


"Iya aku tahu. Tapi jika aku jadi kau, aku akan berpikir beberapa kali untuk melakukan hal itu. Kau juga tidak mementingkan perasaan Gio. Bagaimana jika ia tahu bahwa Mae nya melakukan hal yang rendah seperti itu."


Davira menangis, air matanya berlinang. "Oleh sebab itu aku minta maaf. Tolong maafkan aku dan hubungan kita bisa baik lagi seperti dulu. Aku janji tidak akan mengganggu kalian lagi. Aku akan segera mencari rumah baru untuk aku tinggal."


Cyra berusaha menahan emosinya. Ia kemudian tersenyum. "Aku memaafkanmu Davira. Tapi tolong jangan kau ulangi lagi."


"Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Davira memeluk Cyra. Aku akan membalas kegagalanku ini Cyra, aku harus berhasil mendapatkan suamiku lagi dan menghancurkanmu sampai titik terendah ucap Davira dalam hati.


Davira segera melepaskan pelukannya. "Aku sudah lega, kalau begitu aku permisi dulu."

__ADS_1


"Iya aku juga akan masuk ke rumah. Sudah hampir petang."


Cyra segera membawa bayinya masuk ke dalam bersama dengan Davira.


🍀🍀🍀🍀


Cyra mencari waktu yang tepat untuk berbicara dengan suaminya. Kebetulan malam ini Aroon sangat santai. Sambil rebahan di tempat tidur Cyra mulai ngobrol dengannya. "Sayang aku mau bicara."


"Soal apa?"


"Tadi sore bik Tika datang menemuiku."


"Bukankah biasanya ia juga sering ngobrol denganmu?"


"Ini beda Aroon dan kamu harus mendengarkan hal ini."


Aroon membenarkan letak bantal agar lebih nyaman ngobrol dengan istrinya. Kebetulan Arthit juga sudah tidur.


"Nah sekarang mulailah bercerita."


Cyra menceritakan persis dengan apa yang dikatakan oleh bik Tika. Mengenai Davira yang sudah membuat Arthit terluka.


"Kurang ajar! Dia sudah berani menyakiti anak - anakku!" ujar Aroon geram. "Siapa sebenarnya dia?!"


"Kalau aku cerita soal yang ini kau pasti akan lebih terkejut."


"Maksudmu?"


"Jadi bik Tika itu curiga bahwa ia adalah orang yang kita kenal. Dulu bik Tika sering mengantar Davira belanja kebutuhan pribadinya termasuk parfum. Davira selalu membeli dua parfum. Dan parfum kesukaannya adalah wangi bunga. Sedangkan parfum yang satunya lagi adalah wangi buah segar dan itu parfum untuk Denisha."


"Maksud Tika, Davira yang ada di hadapan kita sekarang itu adalah Denisha?"


"Iya."


"Denisha sudah meninggal sayang. Kita sendiri tahu dengan mata kepala kita bahwa mobil itu hangus terbakar tanpa sisa."


"Iya betul. Tapi kita tidak melihat sisa - sisa tulangnya seperti Billy bukan?"


"Itu karena hancur."


"Sehancur - hancurnya pasti akan tersisa sedikit seperti Billy. Ini sama sekali tidak di temukan. Jadi ada kemungkinan kalau Denisha bisa lepas dari kecelakaan itu."


Aroon terdiam. Wajahnya sangat serius. Ia mendengarkan dan mencoba menelaah dugaan Cyra.


"Kalau itu Davira asli ia tidak mungkin merebutmu dariku karena sifatnya yang penuh kasih dan lembut. Tapi Davira yang ini berusaha menarik perhatian dan merebutmu dariku dan caranya pun sama dengan yang di lakukan Denisha tempo dulu. Wajah, fisik bisa saja sama. Tapi watak dan kebiasaan pasti akan berbeda. Dan itu akan terlihat sedikit demi sedikit."


"Yah kamu benar, ada dugaan mengarah ke sana. Kau ingat dia mengatakan berobat di Singapore bisa jadi ia juga melakukan operasi plastik di sana agar terlihat sama persis dengan Davira."


"Besar kemungkinannya sayang."


"Baiklah besok aku akan menyuruh Sulaiman ke Singapore untuk melakukan penyelidikan di rumah sakit di sana. Sikap kita harus baik padanya agar tidak menimbulkan kecurigaan."


"Hah.. Aku berdoa semoga semua ini bisa segera terungkap. Terus terang aku takut jika memang Davira itu adalah Denisha."


"Percayalah padaku Cyra. Aku akan segera mengungkap kebenarannya. Aku akan melindungi keluarga kita.'


"Iya aku percaya." Cyra memeluk suaminya. Memang pelukan itu yang selalu bisa membuat hatinya tenang.


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2