
Pagi ini Cyra berencana mengajak kedua orang tuanya jalan - jalan. Pertama ia akan ke Kebun Raya Bogor dan taman bunga Nusantara. Mereka berangkat pagi - pagi.
"Sudah kamu bawa makanannya?"
"Sudah ibuku sayang."
"Tikar?"
"Siipp."
"Bagus, ayo kita berangkat."
"Ayah masih di kamar bu."
"Ah memang ayahmu itu lama." ibu yang sudah tidak sabar untuk berjalan - jalan bergegas masuk ke dalam kamar memanggil ayah. "Ayah ayo cepat sudha di tunggu mobil."
"Iya.. Iya sebentar. Bajuku belum rapi."
"Mau apa sih harus rapi."
"Ya biar kelihatan awet muda."
"Oh, mau menarik gadis - gadis Bogor ya? Ingat sudah umur, sudah punya anak gadis." ucap ibu sewot.
"Cyra."
"ya ayah." jawab Cyra sambil tersenyum.
"Bilang ke ibumu. Tidak mungkin aku bisa melirik wanita lain." ucap ayah. "Dia kan tahu, siapa cinta pertamaku."
"Idiihhh.. Tumben ayah romantis." goda Cyra. Ibu yang di awal raut mukanya cemberut lama - lama berubah menjadi malu.
"Sudah jangan ngegombal terus. Ayo berangkat."
Mereka bertiga masuk ke dalam taksi online yang sudah dipesan oleh Cyra. Mereka menikmati perjalan yang terkadang diselingi oleh canda dan tawa. Hati dan perasaan Cyra sedikit terhibur dengan kehadiran kedua orang tuanya. Walaupun terkadang bayangan Gio dan Aroon melintas di pikirannya.
Sementara itu...
Aroon hari ini memilih penerbangan yang paling pagi. Ia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Cyra. Aroon bersyukur karena Cyra masih di Bogor. Apalagi ada ayah dan ibu.
Pesawat mendarat dengan sempurna ia segera meminta Syamsudin untuk menjemputnya.
"Bagaimana kabar Cyra?" Aroon memulai pembicaraan di sepanjang perjalanan.
Syamsudin diam dan terlihat konsentrasi menyetir. "Dia baik. Keponakan saya itu orang yang kuat."
"Aku akan memintanya bekerja lagi di perkebunan."
"Sebagai apa tuan?"
"Guru Gio tentunya."
"Buat apa, toh tuan muda sudah tidak menginginkan dia lagi. Saya mohon biarkan kehidupan keponakan saya itu tenang."
"Syam, aku hanya ingin Cyra mendapatkan kehidupan yang layak."
"Saya yakin dia akan mendapatkan kehidupan yang layak, mendapatkan kebahagiaan tapi bukan di tempat tuan. Tempat itu terlalu berbahaya untuknya."
"Apa maksudmu? Aku akan menjaganya."
"Nona Denisha tuan."
"Denisha? Kenapa dengan dia? Apa hubungannya masalah ini dengannya?"
"Saya sudah melakukan investigasi mengenai bagaimana bisa aryo datang sehingga menimbulkan kesalah pahaman antara tuan dengan Cyra." Syamsudin membuka dashbor dan mengambil handphonenya. "Saya sudah meminta rekaman telepon yang masuk ke kantor di mana Aro bekerja." Syamsudin menyerahkan handphone itu pada tuannya.
Aroon membuka dan mulai mendengarkan percakapan antara Aryo dengan Denisha. Tampat raut muka terkejut. tangannya yang mengepal dan rahangnya yang mengeras. "Aku tidak percaya dia bisa melakukan ini. Padahal dia tahu kalau aku sangat tidak menyukai Aryo dan bahkan membuat peringatan agar orang lain tidak bisa masuk tanpa seijinku."
"Saya yakin dia sengaja melakukan itu."
"Sengaja? Setega itukah Denisha?"
"Saya baru bisa membuktikan itu tuan. Untuk yang lainnya saya akan terus berusaha memberikan bukti bahwa nona Denisha tidak seperti tuan pikirkan."
__ADS_1
Aroon memandang ke arah jendela. "Dulu Davira sangat memanjakannya."
Tak berapa lama mereka sampai di depan rumah lama milik Syamsudin. Syamsudin segera membuka pintu mobil. "Silahkan tuan."
"Kenapa tampak sepi. Dimana mereka?"
"Mungkin di dalam." jawab Syamsudin. "Tunggu sebentar biar saya ketuk." Syamsudin megetuk pintu dan sama sekali tidak ada jawaban. "Apa mereka di belakang." gumamnya. Ia kemudian membuka handle pintu tapi ternyata terkunci.
"Mereka pergi?"
"Mungkin tuan. Sebentar saya akan menelepon Cyra."
"Jangan katakan aku disini."
"Baik tuan."
Syamsudin kemudian segera melakukan panggilan.
"Halo Pak Uo."
"Kamu dimana?"
"Ah iya. Aku lupa memberi tahu." ucap Cyra. "Kami bertiga keluar jalan - jalan."
"Lama."
"Hmm.. Aku kurang tahu Pak Uo. Semua tergantung ibu. Kalau capek kami pulang cepat kalau tidak kemungkinan bisa malam." jawab Cyra. "Pak Uo datang ke rumah?"
"Iya aku mampir sebentar." jawab Syamsudin. "Ya sudah lanjutkan jalan - jalanmu. Bahagiakan mereka."
Panggikan diakhiri.
"Maaf tuan mereka sedang keluar jalan - jalan kemungkinan nanti pulang malam."
"Oke.. Aku tunggu di sini."
"Tttapi ini masih siang tuan. Akan terlalu lama jika kita tunggu di sini."
Aroon terdiam. Ia tampaknya membenarkan apa yang di katakan oleh Syamsudin. "Baiklah kita pulang dulu. Sore kita kembali ke sini."
Aroon keluar dari rumah lama Syamsudin. Tanpa dia sadari ada sepasang mata sedang memperhatikannya. Orang itu segera beranjak dari terasnya dan masuk ke dalam. Tampaknya ia menghubungi seseorang.
"Ya Billy."
"Nona, aku melihat tuan Aroon di sekitar rumah kontrakku."
"Benarkah itu? Kau tidak bohong? Bisa saja kau salah lihat."
"Tidak nona. Ia bersama Syamsudin. Sepertinya mereka mau bertamu di tetangga saya."
"Rumah siapa?"
"Aduh mana saya tahu nona. Saya juga baru saja pindah, belum mengenal banyak orang."
"Awasi terus, jika sewaktu - waktu Aroon kembali ke sana kamu segera telepon aku."
"Baik nona."
Panggilan diakhiri.
Sungguh aneh, kata beberapa orang Aroon pergi ke Surabaya. Kenapa ia sudah ada di sini. Siapa yang mau dia temui pikir Denisha. Cyra kah?.
🍀🍀🍀🍀
"Ayo pulang yah. Kakiku rasanya sakit semua."
"Tadi kan sudah ayah bilang. Jangan terlalu bersemangat. Nah begini kan jadinya."
"Namanya juga pertama kali ke sini yah."
Cyra hanya tersenyum melihat mereka berdua. Walaupun sering berbeda pendapat tapi mereka tidak pernah sampai bertengkar. Ia sangat kagum dengan kedua orang tuanya dalam memanage suatu pernikahan.
Walaupun ayah terlihat mengomel, ia juga memijat kaki ibu yang terasa pegal.
__ADS_1
"Gimana sudah mendingan?"
"Sudah dong. Tangan ayah ini ajaib."
"Hmmm.. Bilang begitu karena ada maunya." cibir ayah.
Ibu terlihat malu dan menepuk pundak ayah.
"Eh Ra, kamu tidak memberi tahu Pak Uo kalau kita sudah perjalanan pulang."
Cyra melihat jam di tangannya. "Kalau jam segini biasanya jarang ada yang keluar dari perkebunan. Apalagi nanti kita sampai ke rumah sekitar jam tujuh malam. Apa kita tidak mengganggu Pak Uo bu? Mungkin saja tadi hanya mampir karena mau kirim sayur."
"Sudahlah bu. Jangan ganggu Syam. Besok pagi kan masih ada waktu untuk ketemu."
"Iya.. Iya aku nurut kalian saja." ibu akhirnya mengalah. "Yah, jangan berhenti dong mijitnya."
Ayah hanya menggeleng - gelengkan kepala. "Sabar." ucapnya.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sudah sampai di rumah. Terkejutlah Cyra dengan siapa yang sudah menunggunya di teras.
"Tuan." Cyra terkejut.
Aroon hanya memandangi Cyra. Tapi pandangannya segera teralihkan pada keberadaan ayah dan ibu.
Aroon segera menyalami mereka berdua. Ibu tersenyum ketika Aroon menyalaminya sedangkan ayah tampak diam saja. Ia masih jengkel karena hidup Cyra diperkebunan tidak baik - baik saja.
Mereka berempat saling diam akhirnya Cyra membuka suara.
"Oya. Silahkan masuk tuan. Diluar dingin."
"Baiklah." Ayah ibu masuk.duluan diikuti Cyra dan Aroon.
"Tuan mau minum apa?" Cyra menawarkan.
"Teh saja."
"Ayah dan ibu mau minum apa?"
"Seperti biasa saja." jawab ayah datar.
"Silahkan duduk tuan." ibu mempersilahkan. Mereka bertiga duduk tapi semuanya diam. Wajah ayah tampak sangat tegang.
"Ehem.. Tuan Aroon se____."
"Ayah, ibu, tuan silahkan di minum dulu. Mumpung masih hangat." Cyra menyela ucapan ayah. Karena ia tahu ayahnya pasti akan menuntut tuan Aroon. Ia pasti akan meminta pertanggung jawaban.
Suasana sedikit cair. Setelah meminum minuman yang hangat emosi menjadi sedikit turun.
"Pak Kusno, ada yang perlu saya bicarakan dengan Cyra."
"Maaf tuan, jika ingin bicara silahkan di sini. Dihadapan kami. Kami sudah tahu hal yang menimpa Cyra. Dan kami sangat menyayangkan sikap tuan." ayah berusaha menahan emosinya.
"Baiklah jika bapak dan ibu mau mendengar." ucap Aroon. Ia mulai menatap Cyra. "Cyra aku ingin kamu kembali ke perkebunan."
"Tidak bisa! Saya orang pertama yang akan menolaknya!" teriak ayah. "Lantas di sana Cyra bekerja sebagai apa? Sebagai pembantu? Kalau seperti itu nantinya lebih baik dia membantu saya di sawah."
Ibu segera memegang lengan suaminya sambil membelai dengan lembut. Ibu berusaha membuat ayah tenang. Agar tidak terjadi hal yang di inginkan.
"Tetap sebagai guru dari Gio."
"Bagaimana mungkin. Bukankah yang menyuruhnya pergi adalah tuan muda sendiri.
"Saya akan berusaha membujuk Gio. Saya yakin Gio anak yang baik."
"Membujuk bagaimana? Bukankah dia keras kepala seperti anda." ucap ibu.
Aroon hanya diam. Sebenarnya ia tahu itu akan sulit dilakukan tapi hanya itu satu - satunya cara. Aku perlu meyakinkan lagi.
"Saya ingin anak saya bisa mengikuti sekolah dengan baik. Oleh sebab itu saya membutuhkan Cyra. Akan saya bawa dia masuk ke dalam sebagai pengantinku."
"Apa!" teriak mereka bertiga seolah tidak percaya dengan apa yang di dengarnya.
"Menikah dengan tuan?" tanya ayah. Terus terang ia masih tidak percaya.
__ADS_1
Aroon mengangguk pasti. "Ya menikah dengan saya."
🍀🍀🍀🍀