
Cyra merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, ia sudah menata pakaian yang akan dia bawa besok. Senyumnya masih menghiasi wajahnya. Ia tidak menyangka jika tuan Aroon ternyata mengijinkannya. Ia harus meralat penilaiannya tentang tuannya itu. Cyra sudah tidak sabar menunggu hari esok dan tentu saja rindu masakan ibu.
Kali ini ia tidak membawa oleh - oleh karena serba mendadak, di kasih ijin cuti saja dia sudah bersyukur. Lama kelamaan Cyra mulai memejamkan matanya.
🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Cyra sangat bersemangat, ia segera mandi dan bersiap untuk ke terminal. Sebelum pergi ia akan berpamitan pada Aroon, Gio dan semua pekerja yang ada di rumah utama.
"Bik."
"Eh Cyra, mau kemana pakai tas besar begitu?"
"Hehehh.. Aku mau pulang kampung bik."
"Boleh sama tuan?"
"Boleh bik. Aku minta ijin untuk memajukan waktu cutiku. Ayahku kecelakaan dan tidak bisa memanen padi, jadi aku pulang kampung untuk membantunya."
"Aku doakan semoga ayahmu cepat sembuh."
"Terima kasih bik." Cyra memeluk bik Tika. "Aku berangkat dulu."
"Loh nggak sarapan dulu."
"Nanti saja di bus, takut telat."
Cyra segera ke ruang kerja Aroon tapi sungguh aneh, ia tidak menemukan . Biasanya jam pagi Aroon akan bekerja di ruangan untuk mengecek administrasi. Cyra memutuskan ke kamar Gio tapi ternyata di sana ia juga tidak menemukan siapa - siapa termasuk Omar dan Olif.
"Aneh, kok sepi? Pada kemana ini?" guman Cyra. Ia melihat jam dan waktu sudah menunjukkan pukul tujuh sedangkan bus berangkat pukul delapan, Cyra harus bergegas. Ya sudahlah aku langsung berangkat saja toh semalam tuan juga tahu kalau aku pulang kampung pikirnya kemudian.
Cyra menuju ke pintu depan karena Pak Uo nya menunggu di depan. Semalam Syamsudin mengatakan akan mengantarnya ke terminal.
"Loh kenapa ada mobil di depan? Bukankah Pak Uo mau mengantarku pakai motor." gumam Cyra. Ia membuka pintu dan___
"Surprise!!!" teriak Gio, Omar dan Olif.
"Loh, ternyata kalian ada disini?" Cyra tersenyum dan memeluk Gio.
"Bu Cyra mencari kami?" tanya Gio.
"Iya, aku mau berpamitan. Aku akan pulang kampung, cuma tiga hari."
"Bu Cyra tidak usah berpamitan dengan kita." ucap Omar
"Kenapa?"
"Karena kami akan ikut bu Cyra pulang kampung!" teriak Olif. "Yeaayy."
"Benarkah?"
"Iya bu Cyra." jawab Gio.
"Hmmm... aku senang karena kalian akan membantuku panen padi."
"Yeeaayy." mereka bersorak bersama - sama dan bahkan membuat tarian bebek yang biasa mereka tarikan bersama - sama ketika bermain challenge.
"Ayo kita berangkat. Let's go!" teriak Cyra sambil mengangkat tangannya sebagai komando rombongan menuju ke mobil. Cyra berjalan di depan di ikuti Gio, Omar dan Olif. Ia kemudian membuka pintu mobil dan lagi - lagi ia di buat terkejut.
"Tuan?!" ia terkejut dengan keberadaan Aroon di dalam mobil. "Kok___."
"Iya bu cyra, kita akan pergi bersama." jawab Omar
"Dengan tuan?" tanya Cyra karena tidak percaya dengan yang dilihatnya.
"Iya tentu saja, justru tuan yang mengajak kami ikut." ucap Olif
"Tapi___." Cyra masih kebingungan.
"Masuk, pesawatnya sebentar lagi berangkat." perintah Aroon.
"Pesawat? Saya naik bus tuan, ini tiketnya."
"Pesawat lebih cepat."
"Tttapi tiket saya?"
"Sudah buang saja, bus terlalu lama. Kasihan Gio kalau lelah diperjalanan."
__ADS_1
Cyra menggeleng - geleng tidak percaya. Ekspresi terkejutnya masih belum hilang. Sebenarnya hal itu membuat Aroon ingin tertawa tapi ia tahan demi harga dirinya.
Ya tuhan, aku benar - benar terkejut ucap Cyra dalam hati.
"Bu Cyra jangan bengong, ayo naik." ajak Gio yang sudah duduk di sebelah Aroon.
Mau tidak mau ia segera naik. Cyra dan Olif duduk dibelakang sedangkan Omar duduk di depan.
"Ayo berangkat!" teriak Omar yang membuat semuanya tertawa dengan tingkah lucunya.
Mobil segera melaju menuju bandara. Selama perjalanan Cyra tampak resah, mau ditaruh dimana mereka semua. Rumahnya hanya memiliki tiga kamar mana ukurannya kecil. Apa mereka betah nanti. Kalau tidur dihotel agak jauh dari rumahnya, karena letak rumahnya dipinggiran.
"Hmmm, maaf tuan kenapa tuan ingin pergi ke rumah saya?"
"Tidak boleh?"
"Oh tentu saja boleh, suatu kehormatan jika tuan mau berkunjung ke gubug saya."
"Terus."
"Ehmm begini tuan, rumah saya kecil. Saya khawatir tuan tidak nyaman."
"Aku terbiasa hidup di alam liar, tidak masalah bagiku tidur dimana saja."
"Bagaimana dengan Gio, apa dia bisa?"
"Harus bisa."
"Aku senang bisa pergi bersama Phoo, jadi tidur dimana saja aku mau." sahut Gio.
"Oh, baiklah." ucap Cyra. "Aku merasa lega jika kalian semua tidak keberatan tidur di gubug."
"Apa ada lolongan serigala kalau malam, bu?" tanya Omar
"Hahahahhh... Tidak Omar. Aku tidak tinggal di hutan." jawab Cyra yang geli dengan pertanyaan Omar. "Mungkin suara jangkrik."
"Bagaimana suara Jangkrik?" tanya Gio.
"Ehmm... Krik! Krik! Krik!" Cyra menirukan suara Jangkrik sambil menggelitik Gio yang duduk di depannya.
"Hahahahhh.. Geli bu. Stop! Aku geli! Hahahahah."
"Aku mau duduk di belakang bersama bu Cyra, boleh kan Phoo?" Gio meminta ijin.
"Cyra kau pindah ke depan." perintah Aroon.
"Oh baik tuan. Sebentar." Cyra beranjak dari duduknya untuk pindah di samping Aroon. Gio duduk di atas pangkuannya. "Kau mau belajar sampai kita nanti sampai di bandara?"
"Aku mau."
"Good boy." puji Cyra. "Maaf tuan jika nanti kami agak berisik."
"It's okay."
Cyra segera memberi pelajaran Cyra tentang jenis - jenis angkutan umum yang biasa digunakan oleh orang kota maupun desa. Ternyata ada beberapa yang Gio tidak tahu, karena memang jarang di jumpai. Hanya di beberapa daerah tertentu seperti Dokar, Lori, Gethek, Bentor.
Tak terasa mereka sudah sampai di bandara, mereka segera melalui pemeriksaan dan bisa masuk kedalam pesawat. Kali ini Cyra naik bisnis clas. Ini juga pertama kalinya ia duduk bi bisnis clas. Waktu kemarin berangkat ke Bogor ia duduk di ekonomi, itu saja ia sudah bersyukur sudah bisa naik pesawat.
Setelah menempuh waktu satu jam tiga puluh menit mereka akhirnya sampai juga di kota Surabaya.
"Selamat datang di kota saya." wajah Cyra tampak berseri - seri. Ia segera memanggil taksi yang akan mengangkut mereka semua ke rumahnya. Tadi sebelum naik pesawat ia sempat menelepon ibunya untuk memberitahu kalau kedatangannya kali ini dengan tuan Aroon dan Gio. Cyra meminta bantuan temannya untuk mengirimkan kasur ke rumahnya. Jarak antara bandara dengan rumahnya hanya ditempuh dengan waktu tiga puluh menit.
"Nah tuan itu rumah saya." Cyra menunjuk rumah yang di dominasi dengan kayu berbentuk Joglo. Rumah yang tidak besar tapi tampak asri dengan beberapa bunga dan pohon mangga di depan rumah. "Ayo semua kita masuk ke dalam, maaf rumahnya kecil."
"Aku suka dengan rumah bu Cyra."
"Benarkah?" tanya Cyra. Gio mengangguk. "Terima kasih Gio." Cyra mengusap lembut pucuk kepala Gio.
"Cyra." panggil seseorang. Spontan Cyra menoleh dan langsung memeluknya.
"Ibu, Ayah, aku kangen." Cyra mengeratkan pelukannya pada kedua orang tuanya.
"Ayah senang melihatmu pulang Cyra."
"Iya ibu juga kangen." jawab Ibu. "Eh sudah lepas, malu sama tamu."
Cyra melepas pelukannya dan menggandeng kedua orang tuanya untuk menemui Aroon dan Gio. "Ayah ibu, ini tuan Aroon pemilik perkebunan. Atasannya Pak Uo dan juga aku. Sedangkan ini Gio putra satu - satunya tuan Aroon sekaligus muridku."
__ADS_1
Ayah dan Ibu menyalami mereka berdua. Dan seperti biasa wajah tuan Aroon yang tanpa ekspresi membuat orang tua Cyra menjadi canggung.
Cyra segera mengalihkan perhatian. "Oya kalo yang ini namanya Omar dan Olif mereka yang bertanggung jawab terhadap Gio. Mereka berdua muridku yang paling bandel."
"Walaupun bandel tapi paling bisa membuat bu Cyra terpingkal - pingkal." ucap Omar. "Apalagi melihat tarian bebekku ini." Omar mulai memperlihatkan tarian wajibnya hingga membuat ayah dan ibu ikut tertawa.
"Eh Sudah Omar. Ayo bawa tasnya masuk kedalam. Diluar panas." perintah Cyra.
"Mari silahkan masuk tuan Aroon." ibu mempersilahkan.
Rumah Cyra ini sangat sederhana dan jauh dari kata mewah, tapi cukup nyaman ditempati. Rumah ini terasa sekali kehangatannya. Itu bisa dirasakan oleh Aroon. Ia jadi teringat dengan rumahnya ketika masih ada Davira.
Cyra mulai memperlihatkan kamar untuk mereka tidur. "Ini kamar untuk tuan, maaf ini dulu kamar saya jadi tempat tidurnya kecil."
Aroon mengedarkan pandangannya. Memang tempat tidur yang kecil dan juga tanpa pintu hanya ada tirai. Cyra memasukkan tas milik Aroon ke dalam.
"Tuan bisa memasukkan baju ke dalam almari. Almari ini kosong. Apa perlu saya bantu?"
"Tidak usah, biar aku sendiri."
"Baik kalau begitu saya permisi dulu."
"Dimana kamu tidur?"
"Nanti sama kedua orang tua saya, sekalian melepas rindu."
Cyra keluar dan membawa Gio ke kamar yang berhadapan dengan kamar Aroon. "Nah ini kamar kalian bertiga. Maaf Omar, Olif terpaksa kalian tidur di bawah. Ada dua kasur lantai yang bisa kalian pergunakan."
"Tenang saja bu Cyra, kami nyaman kok dan juga senang bisa datang ke rumah bu Cyra." ucap Olif.
"Terima kasih Olif.
Cyra meninggalkan mereka di kamar. Ia membantu ibu di dapur untuk menyiapkan makan siang. Setelah semua siap, ia segera memanggil mereka semua.
"Nah Gio, ini namanya pecel semanggi, terus yang kuah hitam itu Rawon dan ini tahu telur. Kamu mau yang mana?"
"Tahu telur?"
Cyra segera mengambilkan Gio tahu telur.
"Tuan, mau yang apa?"
"Rawon."
Cyra mengambilkan nasi dan menyiramnya dengan kuah Rawon dan beberapa daging dengan kecambah dan telur asin. "Mau sambal?" tanya Cyra dan Aroon mengangguk. dengan cepat dia mengambilkan aroon sambal.
"Bagaimana masakannya tuan." tanya ibu.
"Enak."
Ibu tersenyum bangga. Apalagi melihat tamunya makan dengan lahap.
Sore ini mereka duduk diteras sambil menikmati teh hangat. Ayah sudah istirahat di kamar, ibu menemaninya karena terkadang ayah minta untuk di pijit. Gio, Omar dan Olif bermain ayunan yang terbuat dari ban truk. Itu mainan Cyra ketika kecil. Aroon memperhatikan mereka.
"Omar jaga Gio."
"Baik tuan."
"Jangan di ayun kencang - kencang,"
"Tidak tuan, ini pelan - pelan." jawab Olif
"Ach Phoo tidak seru!" Gio protes.
"Ayunan itu sudah lama, Gio. Aku takut itu sudah rapuh."
"Betul yang dikatakan oleh Phoo. Itu ayunanku waktu aku se usiamu. Walaupun talinya sudah diganti tapi pohon penopangnya juga sudah tua. Sudah dua puluh tahun pohon itu tumbuh." sahut Cyra dari belakang dengan membawa sepiring gemblong goreng. Ia meletakkan di meja. "Silahkan tuan."
"Apa ini?"
"Gemblong goreng. Ehmmm terbuat dari ketan dan kelapa."
Aroon memasukkan ke dalam mulutnya. "Gurih."
"Gurih itu dari parutan kelapa di dalamnya."
Tak terasa Aroon sudah habis dua. Itu membuat Cyra senang. Walau masakan yang disajikan sangat sederhana jauh dari kata mewah tapi bisa di terima oleh Aroon dan yang lainnya sudah membuat Cyra bahagia.
__ADS_1
"Terima kasih tuan." ucap Cyra.
🍀🍀🍀🍀