My Love Teacher

My Love Teacher
Kau Bukan Ibuku


__ADS_3

"Gio tenang dulu. Saat ini Phoo dan Mae juga masih bingung."


"Itu benar sayang, lebih baik kamu keluar dulu menemui Mae Davira. Nanti seiring berjalannya waktu kita akan tahu itu Mae Davira atau bukan."


Gio terdiam mendengar penjelasan dari Aroon dan Cyra. "Baiklah aku mau keluar." putusnya kemudian. "Tapi jangan paksa aku untuk menerimanya, karena aku yakin Mae Davira sudah meninggal."


Mereka bertiga akhirnya keluar. Berita akan hidupnya kembali Davira membuat seisi perkebunan menjadi geger. Mereka tidak pecaya orang yang sudah meninggal hidup lagi. Tapi apa mau di kata memang yang ada di perkebunan saat ini adalah Davira.


Gio sudah sampai di sekat ruang tamu. Ia menghentikan langkahnya.


"Kenapa?" tanya Cyra


"Aku takut."


"Tidak perlu takut, kan ada Mae."


"Aku takut jika itu memang benar Mae Davira terus bagaimana dengan Mae Cyra. Akankah aku memiliki dua orang ibu."


Cyra tersenyum ia tahu akan kebimbangan hati Gio. Bahkan ia juga tahu kalau Aroon merasakan hal yang sama. Sedangkan ia sendiri takut jika terpaksa harus pergi dari keluarga yang sangat ia cintai. Bisakah ia menata hatinya.


"Gio, apapun yang terjadi kita harus menerima. Itu semua sudah di tuliskan oleh tuhan. Jadi harus kita hadapi, oke. Aku tahu kamu mampu." Cyra memberikan semangat untuk Gio padahal hatinya sendiri saat ini juga sedang hancur.


Gio akhirnya mau lanjut menemui Davira di ruang tamu. Gio melihat seorang wanita yang sama persis dengan yang ada di foto. Karena saat itu Davira meninggal ketika ia berusia dua tahun jadi ia hanya tahu dari fotonya saja. Tapi untuk pelukan, cinta dan kasih sayang yang di berikan Davira saat itu ia bisa merasakannya.


"Gio." panggil Davira dengan mata berkaca - kaca. "Kemarilah nak. Peluk Mae."


Gio berjalan dengan pelan menghampiri Davira. Ia melihat mata Davira yang mengeluarkan air mata. Mata itu sama persis dengan yang biasa ia lihat. Tapi ada sesuatu yang aneh.


Gio memeluk Davira. Dan davira menyambutnya dengan hangat. Ia terus menangis sambil memeluk Gio. "Maafkan Mae, Gio. Mae telah lama meninggalkanmu. Kau tahu kan kalau Mae di luar sana juga berjuang demi penyakit yang Mae derita." Davira menjelaskan dengan terbata - bata karena di selingi dengan isak tangis.


Gio hanya terdiam. Ia mematung dan itu membuat Cyra agak aneh dengan sikap Gio. Pasti ada sesuatu.


Davira melepaskan pelukannya. Ia mencium kening dan kedua pipi Aroon. "Kau sudah besar dan tampan seperti Phoo mu." ucap Davira. "Aku akan selalu menjagamu Gio. Kita akan menjadi keluarga yang utuh."


Gio masih tetap diam dengan memandang wajah Davira.


"Kenapa kamu diam Gio? Kau marah dengan Mae?"


Gio tidak menjawab dan masih memandangi wajah Davira.


"Gio, kamu tidak apa - apa kan?" tanya Cyra. "Mae Davira bertanya padamu. Kau tidak mau menjawabnya?"


Gio tertunduk. Dan Cyra tahu bahwa ia masih butuh waktu menerima berita yang begitu mengagetkan ini.


"Baiklah kalau kamu tidak mau menjawab. Kamu mau masuk ke kamar?" tanya Cyra lagi.


Dengan perlahan Gio mengangguk.


"Omar tolong bawa Gio masuk." perintah Cyra.


"Baik bu." Omar menggandeng tangan Gio dan membimbingnya masuk ke dalam.

__ADS_1


Davira memandang Cyra dengan tatapan tidak suka. "Maaf, aku berhak bertemu dengan anakku." ucapnya.


"Aku tahu. Tapi tidakkah kau sadar bahwa Gio sangat syok dengan hal ini. Mari kita beri dia waktu."


"Aku tahu apa yang anakku rasakan karena aku ibunya. Kau adalah orang lain."


"Maaf, aku hanya melihat kalau Gio masih bingung. Dia hanya butuh waktu saja."


"Davira, yang sopan. Cyra adalah istriku."


"Aku juga istrimu Aroon."


Aroon terdiam.


Cyra langsung tahu jika suaminya bingung di antara dua pilihan. "Aroon aku masuk dulu. Takut kalau Arthit terbangun. Kau bicaralah pelan - pelan dengan Davira."


"Tapi___."


"Aku tidak apa - apa." Cyra menatap suaminya seakan meyakinkan kalau ia kuat dan tidak ada masalah dengan itu.


"Terima kasih sayang." ucap Aroon lirih.


Cyra kemudian masuk ke dalam. Tinggallah Aronn dan Davira sendiri.


"Kau mau bicara?"


"Iya, banyak yang harus aku jelaskan padamu, kenangan - kenangan kita."


Mereka berdua jalan ke taman samping agar lebih bebas dan leluasa. Setelah sampai Aroon duduk di salah satu bangku sambil menatap Davira.


"Bicaralah." ucap Aroon.


"Aroon aku ingin kita kembali seperti dulu. Menjadi suatu keluarga yang utuh."


"Kau tahu aku tidak bisa melakukannya." jawab Aroon. "Aku sudah punya istri."


"Aku juga istrimu Aroon. Kita masih terikat pernikahan. Kau tidak bisa menghindar dari itu."


"Kamu sudah meninggal Davira. Hubungan kita sudah selesai saat kamu di nyatakan meninggal oleh negara."


"Tapi saat ini aku masih hidup, berdiri di hadapanmu. Aku rasa untuk administrasi bisa kita urus bersama. Asalkan kau beri aku kesempatan untuk memperbaiki waktu yang sudah lama hilang."


"Aku tidak bisa Davira, aku tidak mungkin meninggalkan istri yang aku cintai." jawab Aroon. "Maaf aku sangat mencintai Cyra."


"Kau mengkhianatiku Aroon, aku sungguh tidak percaya."


"Aku sama sekali tidak mengkhianatimu. Seandainya aku tahu kamu masih hidup tentu saja aku tidak akan menikah lagi. Kau tahu bertahun - tahun aku mencoba bangkit dari keterpurukanku karena kamu sudah meninggal. Dan setelah aku bisa bangkit dan menemukan cinta baru, kau tiba - tiba muncul."


"Aku sakit Aroon. Aku saat itu sedang berjuang."


"Kalau saat itu kau benar - benar mencintaiku, kau seharusnya tidak memalsukan kematianmu. Kita bisa hadapi penyakitmu ini bersama - sama."

__ADS_1


"Saat itu aku bingung, duniaku hancur karena akan kehilangan kalian. Tapi ternyata aku masih ada harapan untuk sembuh." ucap Davira.


"Aku sama sekali tidak bisa memutuskan hal ini. Aku butuh waktu."


"Baiklah, aku mengerti karena aku sangat mencintaimu. Ingat perjuangan kita yang dari nol membangun perkebunan ini." Davira menyeka air mata penyesalan. "Aroon aku tahu kamu sudah memiliki keluarga baru. Tapi tolong biarkan aku tinggal di sini sementara waktu. Aku ingin mengenal anakku sehingga rasa bersalah karena meninggalkannya tidak terus membebani hidupku. Aku ingin menebus kesalahanku. Menebus waktu yang hilang antara aku dan Gio. Setelah itu aku janji tidak akan mengganggu hidupmu lagi."


Aroon terdiam, wajahnya tampak letih dengan beban pikiran yang berat.


"Aroon, aku juga butuh waktu untuk mencari tempat tinggal. Kau tahu kan aku sudah tidak punya siapa - siapa. Denisha juga sudah meninggal."


Aroon masih terdiam. Ia bingung haruskah ia meminta pendapat Cyra karena menampung istrinya yang dahulu. Bagaimana jika Cyra tidak setuju pikir Aroon. Ini benar - benar membingungkan.


"Aroon, please. Tolong aku." Davira terus meneteskan air mata. Memohon kelegaan hati Aroon walaupun ia juga merasakan sakit yang teramat sakit.


"Baiklah." jawab Aroon lirih.


"Terima kasih kau sudah mau membantuku. Aku akan berusaha menjaga kepercayaanmu."


Aroon berdiri. "Nanti bicaralah dengan Cyra. Dia nanti yang akan mengatur kamarmu." ucapnya kemudian pergi meninggalkan Davira sendiri.


Davira masih duduk di bangku itu sambil menutup wajahnya. Ia terisak dan menangis sejadi - jadinya. Seandainya ia tahu suaminya akan menikah lagi tentu saja ia tidak akan meninggalkannya.


Sementara itu...


"Tuan muda kenapa masih diam saja?"


"Aku bingung Omar."


"Tuan muda tidak usah bingung harusnya tuan muda senang nyonya Davira masih hidup." ucap Olif.


"Justru itulah yang membuatku beban. Aku sudah bahagia dengan keluarga baruku. Dengan Mae Cyra dan juga Arthit."


"Tuan muda butuh waktu untuk mengenal lagi Mae Davira."


"Entahlah aku bingung."


"Bingung dimana tuan muda?" tanya Olif.


"Aku sama sekali tidak merasakan kehangatan seperti dulu waktu Mae Davira memelukku, Olif."


"Ah, itu karena tuan muda lama tidak bertemu. Hampir lima tahun. Kan saat itu tuan muda juga masih kecil."


"Walaupun aku masih kecil, aku bisa merasakan kehangatan pelukan Mae saat itu. Dan juga sorot matanya."


"Saya lihat dari ujung kepala hingga ujung kaki sama sekali tidak ada yang berubah dengan nyonya Davira. Iya kan lif?"


"Iya tuan, masih sama tidak ada yang berubah."


"Tidak aku yakin ada yang berbeda." ucap Gio. "Dia bukan Mae ku. Bukan ibuku."


🍀🍀🍀🍀

__ADS_1


__ADS_2