
"Bagaimana pencariannya?"
"Mobil itu benar - benar hancur dan hanya tinggal rangkanya saja. Polisi bahkan kesulitan untuk segera mencapai TKP."
"Tapi Denisha dan Billy di temukan tidak?" tanya Cyra.
"Tidak." jawab Aroon. "Berdasarkan dugaan dati mereka Denisha dan Billy sudah hangus terbakar. Karena tidak mungkin bisa lolos dari kecelakaan maut itu."
"Ya tuhan. Kasihan Denisha."
"Mungkin ini adalah balasan atas semua perbuatannya padamu."
"Mungkin juga. Tapi aku juga tidak menginginkan dia meninggal juga. Haruanya dia di beri keaemoatan untuk memperbaiki semua kesalahannya waktu dulu."
"Kita tidak tahu hidup dan mati seseorang."
"Kau sudah menjelaskannya pada Gio?"
"Besok pagi saja. Ini sudah malam."
"Baiklah. Istirahatlah aku sudah menyiapkan air hangat untukmu mandi."
"Terima kasih."
🍀🍀🍀🍀
Sudah satu minggu sejak kepergian Denisha. Beberapa waktu yang lalu polisi menemukan beberapa tulang yang di duga milik Denisha dan Billy. Tulang itu sudah hancur hingga sulit di kenali.
Aroon mengambil sisa - sisa tulang yang ada untuk di kuburkan agar Denisha di beri ketenangan. Aroon memilih tempat pemakaman yang dekat dengan Davira karena mereka adalah saudara kembar.
Sekarang ini keluarga Aroon menjalani kehidupan yang tenang. Sudah tidak ada yang mengadu domba ataupun saling menyakiti. Gio sudah mulai mendaftar ke sekolah yang baru. Dia harus melalui beberapa tes untuk bisa masuk kesana. Tapi karena Gio anak yang cerdas dan juga pembelajaran yang di berikan oleh Cyra selama ini ia bisa mengerjakannya dengan baik.
Ia.keluar dari kelas dengan qajah ceria dan langsung memeluk Cyra.
"Bagaimana? Kau bisa mengerjakannha?"
"Tentu saja. Aku cerdas seperti Phoo."
"Aduh sombonganya." gida Cyra. "Kau mau ke mana setelah ini."
"Bagaimana kalau makan burger?"
"Oke. Ayo kita berangkat tuan muda."
"Mae jangan menggodaku terus."
"Hahahahhh.." Cyra menggandeng putranya keluar menuju ke tempat parkir mobil.
"Cyra." panggil seseorang.
Cyra memghentikan langkahnya dan menoleh. "Hasan?"
"Kowe iseh ileng karo aku? (Kamu masih ingat padaku?)"
"Masih." jawab Cyra. "Awakmu kerjo neng kene to? (Kamu kerja di sini?)"
"Iyo." jawab Hasan. "Eh iku sopo? (Eh itu siapa?)"
"Ini anakku. Namanya Gio."
"Loh kapan kowe nikah. Kok rak ngundang - undang." (Kapan kamu nikah. Kok nggak rame - rame.)"
__ADS_1
"Heheheh.. Sederhana wae kok." jawab Cyra. "Gio ini pak Hasan temannya Mae waktu sekolah di Surabaya."
Gio mendekat dan mengulurkan tangannya untyk bersalaman.
"Wah. Anakmu ganteng yo. Bapakke mesti yo ganteng." puji Hasan. Cyra hanya tersenyum mendengar komentar Hasan.
"Kamu ngajar kelas berapa? Sudah lama kerja di sini?"
"Yah Alhamdulillah aku bisa ngajar di sini, Ra. Kira - kira sudah tiga tahun. Awal - awal aku di beri kepercayaan mengajar olah raga. Baru satu tahun ini aku mengajar kelas satu."
"Kamu sudah nikah?"
"Sudah baru beberapa bulan yang lalu." jawab Hasan. "Ayo main ke rumahku."
"Iya.. Lain kali aku akan main. Sekalian kenal sama istrimu." ucap Cyra."Oya aku permisi dulu. Anakku ini sudah kelaparan."
"Oke. Salam buat suamimu juga."
Cyra segera masuk ke dalam mobil dan membeli burger seperti rencananya dengan Gio. Dan segera kembali ke perkebunan. Hari ini Aroon ada pengiriman jeruk jadi tidak bisa ikut bersama mereka. Semua ia serahkan pada Cyra.
"Bagaimana dengan tes hari ini?" tanya Aroon saat makan malam.
"Soalnya terlalu mudah untukku." jawab Gio. Ia menunjukkan ekspresi bangga.
"Duuhh sombongnya." goda Cyra lagi.
"Oya Phoo ternyata ada temannya Mae yang kerja di sana."
"Benarkah? Teman apa?"
"Temanku sekolah di Surabaya. Namanya Hasan." jawab Cyra.
"Orangnya gagah dan tampan seperti Phoo. Tadi ia juga memujiku tampan."
Cyra tiba - tiba merasa canggung. Ia tahu suaminya itu sedang menyindirnya. "Aku pulang sore karena kami jalan - jalan dulu."
"Oh aku kira keasyikan nostalgia."
"Dia sudah punya istri." Cyra berusaha menjelaskan agar tidak ada kesalah pahaman. Entah kenapa ia tidak ingin suaminya itu marah ataupun cemburu.
"Phoo cemburu?" tanya Gio tiba - tiba.
"Hei. Aku? Cemburu? Oh tentu tidak." jawab Aroon. Ia tampak malu karena pertanyaan putranya itu. Cyra menahan tawa karena kali ini ia melihat Aroon dipermalukan sendiri oleh anaknya. Ia tidak punya wibawa.
"Phoo jangan khawatir. Phoo jauh lebih tampan dan gagah dari pak Hasan. Iya kan Mae?"
"Iya, jauh lebih tampan."
Aroon tersenyum mendengar pujian yang keluar dari orang yang di cintainya.
🍀🍀🍀🍀
Pagi ini Aroon, Cyra dan Gio.pergi ke sekolah. Hari ini Gio sudah lolos masuk seleksi dengan hasil yang sangat memuaskan. Ia bisa masuk ke dalam.kelas unggulan. Jadi ada beberapa administrasi yang harus disetujui oleh orang tua murid.
"Hai, Cyra. Selamat ya, anakmu di terima masuk ke sini." ucap Hasan sambil menjabat tangan Cyra.
"Ehem." Aroon berdehem walaupun tenggorokannya tidak gatal.
"Iya terima kasih." ucap Cyra. "Oya perkenalkan ini suamiku. Aroon."
"Hai. Aku hasan. Teman sekolah Cyra di Surabaya."
__ADS_1
"Aroon." jawab Aroon
"Pantas anakmu tampan ternyata suamimu tampannya luar biasa."
"Heheheh.. Terima kasih." ucap Cyra tersipu. Ada kebanggaan tersendiri setiap ada orang yang memuji suaminya tampan.
"Sudah registrasi?"
"Sudah. Ini kami mau pulang."
"Hmmm.. Tunggu sebentar." Hasan masuk ke dalam sekolah dan segera kembali membawa sebuah undangan. "Ini ada undangan reunian. Kemarin Edi dan Hasna yang membawanya kemari. Dan kebetulan ada juga undangan untukmu jadi di titipkan padaku."
"Oh. Reuni ya." gumam Cyra. "Aku usahakan datang jika ada waktu."
"Luangkanlah. Acaranya minggu depan pas ada hari libur dua hari."
"Oke." Cyra tersenyum simpul. "Oya kami pamit dulu."
"Baiklah. Sekali lagi selamat Aroon kami akan menjaga Gio di sekolah ini."
Aroon tersenyum. "Terima kasih." ucapnya. Ia kemudian membawa keluarga kecilnya itu pulang.
Sepanjang perjalanan Cyra hanya terdiam dan tidak banyak bicara.
"Kenapa?"
"Heh kau bilang apa?" Cyra seakan tersadar dengan pertanyaan Aroon.
"Kenapa melamun? Memikirkan acara reuni?"
Cyra menunduk dan memainkan jari jemarinya. "Iya." jawabnya lirih.
"Ada yang mengganjal di hatimu?"
"Ada. Kau tahu kan dulu waktu sekolah aku sangat sederhana bahkan jauh dari kata mewah. Hanya otakku saja yang membedakan. Beberapa tahun yang lalu aku mencoba datang tapi hanya cemoohan yang aku dapat. Mereka banyak memamerkan harta dan keberhasilan mereka yang saat itu aku hanya sebagai guru dengan bayaran kecil." Cyra menghela napas. Ia melihat pemandangan dari dalam mobil. "Jadi aku sedikit trauma."
"Hei kau lupa siapa suamimu ini?"
"Maksudmu?"
"Sekarang kau harus bangga memiliki aku. Kau tidak perlu berkecil hati."
"Hahahhahhh.." Cyra tertawa mendengar Aroon membanggakan dirinya.
"Kau sekarang berbeda. Sudah menikah, mapan dan memiliki suami yang tampan." ucap Aroon. Aku akan menemanimu kesana."
Cyra terhenyak dan memandang ke arah suaminya. Ia seakan tidak percaya jika Aroon mau menemaninya ke acara reuni yang menjadikannya trauma.
"Kau mau menemaniku?"
"Iya tentu saja. Kalau bukan aku yang menemanimu kesana terus siapa lagi? Si Hasan?"
Mata Cyra berkaca - kaca. Ia senang dan sekaligus terharu.
"Bukan hanya Phoo tapi aku juga." ucap Gio dari belakang.
"Iya.. Iya.. Tidak mungkin kami akan meninggalkanmu." ucap Cyra.
"Yeeaayy." teriak Gio.
"Reuni i'm coming." teriak Cyra.
__ADS_1
"Surabaya, i'm coming." teriak Gio.
🍀🍀🍀🍀