
Tanpa terasa Cyra sudah di perbolehkan dokter untuk pulang kerumah. Ia menjalani rawat jalan dan akan kontrol empat hari ke depan untuk melihat jahitannya.
"Sudah siap untuk pulang?"
"Ya aku siap. Aku sudah kangen dengan perkebunan."
Aroon membawa Cyra duduk di kursi roda.
"Aku mau mendorong Phoo."
"Kau tidak akan kuat."
"Aku seorang pria, aku mau coba dorong Mae." rengeknya.
"Ini berat Gio."
Gio tampak cemberut dengan larangan Aroon.
"Hmm.. Bagaimana kalau kau duduk di pangkuanku. Biar Phoo yang dorong."
"Yaaaeeayy.. Aku mau."
"Hei bagaimana dengan lukamu?" bisik Aroon.
"Tidak apa - apa. Kan cuma sebentar. Lihat dia bisa kecewa nanti."
"Baiklah, tapi cuma sebentar ya."
Aroon mendorong anak dan istrinya dan itu adalah hal yang mudah mengingat badannya yang kekar. Gio tampak bahagia. Setelah sampai di depan mobil Gio turun, dia berniat membantu Cyra berdiri dan masuk mobil tapi di cegah oleh Aroon.
"Biar Phoo yang gendong Mae masuk mobil."
"Aku saja Phoo, Mae bisa bertumpu di badanku ini."
"Badanmu kecil Gio, nanti Mae akan jatuh."
"Nggak, aku kuat Phoo." Gio memperlihatkan ototnya.
Cyra tersenyum melihat pertengkaran kecil antara anak dan bapak. Ia menjadi rebutan. "Sudah.. Sudah.. jangan berebut. Ini kan masalah kecil, dari pada rebutan lebih baik aku di bantu Omar saja." ucap Cyra.
"Ashiap bu Cyra."
"Nggak bisa!" jawab Aroon dan Gio bersamaan.
"Jangan sentuh istriku tanpa ijin dariku Omar." ancam Aroon.
"Betul, jangan sentuh Mae."
"Maaf.. Maaf tuan dan tuan muda." Omar langsung mundur dan tidak berani mendekati Cyra.
"Aroon, Gio kalau kalian berebut tentang siapa yang akan membawaku masuk mobil, kapan kita akan pulang." ucap Cyra. "Gio, masuk ke dalam mobil kan agak naik, jadi biarkan Phoo yang membantuku kali ini, Oke?"
"Oke, baiklah. Tapi nanti kalau sudah sampai di perkebunan aku yang akan merawat Mae."
"Iya.. Iya.."
Aroon tersenyum penuh kemenangan, akhirnya ia bisa menggendong istrinya itu. Dengan hati - hati, ia membawa tubuh mungil itu masuk ke mobil dan memastikan kalau ia sudah nyaman.
"Nyaman?"
"Sudah nyaman. Terima kasih."
Rombongan akhirnya Pergi dari rumah sakit dan kembali ke perkebunan. Tidak perlu memakan waktu yang lama akhirnya mereka sampai. Semua menyambut kedatangan Cyra hanya Denisha dan Billy yang tidak nampak. Aroon segera membawa Cyra ke kamar, Gio selalu mengikuti karena ia berjanji akan merawat Cyra dengan baik.
"Nanti malam aku akan tidur sini." ucap gio tiba - tiba.
"Eh, kau sudah punya kamar sendiri."
"Tadi Phoo yang menyetujui kalau sampai rumah aku yang akan merawat Mae."
'Iya tapi tidak malam juga kan. Biarkan Mae istirahat. Besok pagi kau boleh merawatnya."
Gio bersungut karena kesal. "Baiklah aku akan kembali ke kamar. Besok pagi aku kan kembali merawat Mae. Dan Phoo tidak bisa melarangku lagi." Gio segera keluar kamar.
Cyra tersenyum melihat tingkah anak nya itu. "Kenapa kau melarangnya tidur di sini?"
"Kau butuh tempat yang luas. Kau tahu kan Gio kalau tidur suka berputar, senggol sana senggol sini. Kalau terkena lukamu bagaimana?"
"Iya. Terima kasih sudah perhatian denganku."
"Istirahatlah aku akan meminta Tika memasak untukmu."
Cyra mengangguk. Aroon membenarkan letak bantalnya hingga Cyra senyaman mungkin. Setelah itu Aroon keluar dari kamar.
🍀🍀🍀🍀
__ADS_1
Pagi ini Cyra terbangun karena teriakan Gio.
"Pagi, Mae."
"Pagi Gio."
"Bagaimana tidurmu?"
"Hmmm, sangat nyenyak. Di rumah sakit aku tidak bisa tidur."
"Apa kau mau mandi?"
"Ah.. Iya. Kalau mandi pasti rasanya lebih segar. Badanku sudah lengket semua." jawab Cyra. '"Tapi kau tahu kan lukaku belum boleh terkena air."
"Hmmm, iya juga."
"Tidak apa - apa. Beberapa hari lagi aku pasti sudah boleh mandi."
"Hari ini aku bosan."
"Kau mau belajar disini?"
Mata bulat Gio terbelalak. "Iya aku mau."
"Baiklah setelah sarapan kita akan belajar bersama."
"Yeaayyy." Gio bersorak kegirangan.
Aroon yang masuk membawa makanan untuk Cyra heran melihat putranya melompat - lompat. "Apa yang membuatmu senang?"
"Aku mau belajar disini bersama Mae."
"Tidak boleh. Mae harus istirahat."
"Yah Phoo tidak seru." Gio lagi - lagi cemberut.
"Aroon aku tidak keberatan."
"Tapi kau harus banyak istirahat, ingat pesan dokter."
"Iya aku tahu, tapi belajarnya kan juga di ruangan ini. Aku tidak perlu banyak bergerak hanya memberi penjelasan jika ada soal yang Gio tidak tahu."
"Oh.. Oke.. Oke.. dasar keras kepala semua." Aroon akhirnya mengijinkan walaupun dengan berat hati. "Gio, pergilah sarapan dan mandi. Persiapkan peralatan belajarmu."
"Siap." jawab Gio sambil melompat turun dari tempat tidur.
"Terima kasih."
Dengan telaten Aroon mempersiapkan semuanya. Cyra menghabiskan makanan yang sudah di siapkan oleh suaminya.
"Kalau seperti ini aku jamin kau akan cepat sembuh."
"Aku rasa uga seperti itu."
"Aku akan membawa nampan ini keluar." Aroon segera keluar. Tak lama kemudian dia masuk dan memdapati istrinya sedang menggaruk beberapa badannya. "Badanmu kenapa?"
"Gatal, mungkin karena belum mandi."
"Iya kata dokter lukamu belum boleh kena air."
Cyra masih terus menggaruk badannya dan terkadang kepalanya. Aroon jadi kasihan melihat istrinya seperti itu.
"Aku akan memandikanmu."
"Apa?" mata Cyra terbelalak. "Maksudnya?"
"Aku akan memandikanku menggunakan handuk dan air hangat. Dan juga kau butuh mencuci rambutmu bukan."
"Iya. Tapi apa tidak bisa dengan bik Tika saja."
"Bik Tika takut Cyra karena kamu sedang sakit."
Cyra terdiam, aduh bagaimana ini, ia harus membuka baju di depan Aroon. "Hmm terus terang aku malu. Biarlah badanku gatal. Aku bisa tahan kok."
"Hahahahh... Oke.. Oke.. Aku tahu apa yang kamu rasakan. Kau pasti canggung." ucap Aroon. "Bagaimana kalau aku tutup mata. Kau nanti yang memanduku, dan aku yang membasuh tubuhmu dengan handuk?"
Cyra kembali terdiam, sepertinyaini jalan satu - satunya. "Baiklah."
"Oke kalau kamu sudah setuju, aku akan menyiapkan air hangat." Aroon ke kamar mandi untuk mempersiapkan semua. Setelah siap ia menghampiri Cyra. "Airnya sudah siap, aku bawa kamu ke kamar mandi.'
Aroon membopong tubuh Cyra dan mendudukkannya di dalam bathtub kosong. Pertama Aroon akan mencuci rambut Cyra. "Kau suka shampoo dengan aroma stroberry bukan?"
"Iya aku suka, aromanya sangat segar."
Dengan telaten Aroon mencuci rambut Cyra bahkan terkadang memberikan pijatan sedikit. "Sakit?"
__ADS_1
"Tidak."
"Sudah nyaman?"
"Sangat nyaman." jawab Cyra sambil memejamkan mata. Ia menikmati pijatan dari tangan Aroon. Aroon yang melihat istrinya seperti itu ingin rasanya ia mencium karena terlalu menggemaskan. Setelah di rasa cukup Aroon segera membilas rambut Cyra hingga bersih dan membalutnya dengan handuk.
"Sudah selesai." ucap aroon dengan suara seraknya.
"Kau sudah bawa penutupnya?"
"Sudah." jawab Aroon.
"Tutup dulu matanya." perintah Cyra.
Tanpa menjawab Aroon menutup matanya menggunakan kain. "Sudah."
"Oke tunggu aku lepas baju dulu."
Aroon menarik napas panjang ketika Cyra mengatakan itu. Ia berusaha keras menenangkan sesuatu di bawah sana yang hanya dengan mendengar suara Cyra sudah bergejolak.
"Sudah."
"Oke aku akan mulai." Aroon mencari di mana air hangat yang sudah ia siapkan beserta handuknya.
"Di sebelah kirimu." ucap Cyra.
Aroon mengarahkan tangannya ke kiri dan benar ia menemukannya. Aroon memerah handuk itu agar tidak terlalu banyak air yang bisa mengenai luka Cyra. Setelah memantikan tidak terlalu banyak air tangannya mulai mencari Cyra.
Agar tidak terlalu sulit Cyra meraih tangannya dan mengarahkannya. "Sebelah sini." perintahnya.
Aroon mulai mengelap tubuh Cyra. Beberapa kali Cyra mengarahkan jika Aroon salah letak. Sebenarnya jantung Cyra berdetak tak karuan merasakan sentuhan Aroon. Walaupun tangannya terhalang oleh handuk tapi Cyra beberapa kali memejamkan air mata jika mengenai titik - titik rangsangan pada tubuhnya.
Gila, kenapa sentuhannya terasa begitu lembut ucap Cyra dalam hati.
"Sudah semua?" pertanyaan Aroon membuyarkan lamunan nakal Cyra.
"Eh.. Oh.. Ya.. Aku rasa sudah."
"Apa ada yang terlewatkan?"
"Hmmm sebenarnya ada. Biar aku sendiri saja."
"Dimana? Biar aku selesaikan."
"It.. It.. Itu di bagian dada." jawab Cyra lirih.
"Oh.." Aroon kembali meletakkan handuk yang di pegangnya. Ia memalingkan muka karena malu dan juga mau.
Cyra bergegas mengambil handuk dan mengelap tubuhnya sendiri dengan cepat. Jika terlalu lama disini bisa - bisa ia khilaf. Entah mengapa sejak suaminya itu dengan penuh perhatian merawatnya, ia menjadi lebih kagum dan bangga. "Aku sudah selesai. Tolong ambilkan bajuku."
"Oke.." Aroon mencari - cari letak baju Cyra dengan mata yang masih tertutup dan akhirnya ketemu. "Ini."
"Terima kasih." Cyra segera mengenakan agar ia bisa segera mungkin keluar dari sana. Tubuh kekar milik suaminya itu terus saja menggoda. Apalagi sejak sakit mau tidak mau mereka banyak melakukan sentuhan - sentuhan. "Aku sudah selesai."
Aroon segera membuka penutup matanya dan ia melihat wajah Cyra yang tampak segar setelah mandi. Wajah istrinya itu cantik tanpa polesan. Alis tebal dan bibir pink itu merupakan kecantikan alami. Ia membopong Cyra kembali ke tempat tidur. Dan tak lama kemudian Gio masuk sudah membawa tas di temani oleh Omar dan Olif.
"Hmmm, harumnya." Gio memeluk Cyra.
"Iya tadi Phoo yang memandikanku." cerita Cyra tanpa sadar. Omar dan Olif saling melempar senyuman.
"Untung kita datangnya tepat waktu. Kalau dari tadi aku pastikan kita akan di skorsing lagi." bisik Omar pada Olif.
Aroon sebenarnya mendengar apa yang mereka bicarakan tapi ia memang tidak berkomentar. Ia lebih memilih keluar dari kamar karena melihat Cyra ia ingin sekali menerkamnya.
"Gio belajar yang rajin. Phoo akan ke perkebunan." Aroon membelai lembut kepala Gio.
"Pasti. Aku kan anak pintar."
Aroon tersenyum mendengar celotehan anaknya. "Cyra aku pergi dulu." pamit Aroon.
"Loh Phoo tidak mencium Mae. Aku sering melihat di televisi, suami istri selalu berciuman ketika mau pergi."
Aroon tersenyum bangga. Hmmm kau pintar sekali anakku ucap Aroon dalam hati bangga. Tapi berbeda terbalik dengan Cyra yang tampak canggung mendengar perkataan Gio.
"Tentu saja. Phoo hanya lupa."
"Ayo cium Mae."
"Baiklah."
Aroon mendekati Cyra dan mulai mencium keningnya. Cyra hanya terdiam tanpa membantah. Hal itu di manfaatkan Aroon untuk mencuri ciuman dari bibirnya secara sekilas. "Aku pergi dulu."
Cyra sangat terkejut dengan ciuman Aroon yang tiba - tiba. Oa sama sekali tidak menduga. "Oh ya. Hati - hati."
Aroon tersenyum dengan bangga. Sepertinya ia akan bekerja sangat giat pagi ini. Thank"s Gio my son.
__ADS_1
🍀🍀🍀🍀