
Cyra masuk ke dalam kamar. Suasana hatinya tak karuan. Marah, kesal, cemburu dan ingin menangis.
Wanita mana coba yang tidak merasakan itu semua jika melihat suaminya memeluk wanita lain. Apalagi sikap Aroon akhir - akhir ini terlihat cuek.
"Cyra."
"Oh, Mae Busara."
"Ayo kita makan bersama dulu." nenek Busara menggandeng Cyra. "Kau bisa memasak?"
"Sedikit."
"Tidak masalah, aku bisa mengajarimu masak makanan khas Thailand. Aroon sangat suka."
"Apa makanan kesukaan Aroon?"
"Banyak. Tom Yum, Khao Soi, Khanom Krok. Nanti kau bisa belajar denganku atau Kannika."
"Kannika tahu makanan kesukaan Aroon?"
"Iya tentu saja tahu. Mereka itu sudah hidup bersama dari kecil. Tentu saja ia tahu segalanya tentang suamimu."
Duh... Sakit hati ini mendengarnya. Aku tidak tahu apa - apa tentang suamiku tapi dia bisa tahu segalanya. Sabar Cyra.
"Kenapa melamun?"
"Oh tidak apa - apa."
"Aku yakin kamu pasti bisa." ucap nenek Busara. "Ya sudah ayo kita makan dulu. Mereka semua sudah menunggu."
Cyra mengikuti langkah nenek Busara menuju meja makan. Dilihatnya suaminya itu sudah ada di sana sedang berbincang dan tertawa bersama Kannika dengan menggunakan bahasa Thailand. Bahasa yang ia sama sekali tidak tahu.
"Eh kalian nostalgianya nanti saja. Ayo kita makan dulu."
"Mae, Kannika tahu yang Mae ucapkan?" tanya Cyra.
"Tentu saja. Sejak Aroon memutuskan untuk tinggal di Indonesia kami semua yang dekat dengannya belajar bahasa Indonesia untuk memudahkan kita komunikasi. Istri dan anaknya kan juga orang Indonesia."
"Sebenarnya aku juga mau belajar bahasa Thailand sedikit."
"Bisa.. Bisa.. Nanti aku akan mengajarimu."
Acara makan bersama keluarga berlangsung dengan suasana yang hangat. Banyak dari mereka melontarkan lelucon atau bahkan bernyanyi dengan logat khas negara Thailand.
"Aroon tolong ambilkan itu." Cyra berusaha membangun komunikasi dengan suaminya karena sejak dari tadi perhatiannya hanya bersama dengan Kannika.
"Ini pedas kau tidak akan suka." Aroon memperingatkan.
"Aku mau coba. Apa namanya?"
"Ini namanya Som Tum." sahut Kannika. "Aku tadi memang membuat sesuai selera Aroon. Dia suka pedas, Cyra."
"Oh ya."
"Kau baru tahu kalau suamimu ini suka pedas?"
"Iiya." jawab Cyra gugup. Tangannya mengepal menahan amarah karena ia merasa perkataan Kannika hanya meledeknya saja.
"Kau harus sering - sering membuatkan makanan ini untuknya kalau tidak bisa - bisa ia jatuh ke pelukan orang lain. Dan ingat harus pedas. Iya kan Roon?"
"Iya. Kau paling tahu makanan apa yang aku suka."
What! What! kata - kata seperti itu kenapa dengan mudahnya keluar dari mulut suaminya. Bisa - bisanya wanita itu mengatakan hal seperti itu di hadapan istrinya. Hello tolong hargai perasaan istrinya di sini umpat Cyra dalam hati. Cyra berusaha tersenyum tapi tatapan tidak suka pada Kannika terlihat jelas. Dan yang lebih menyakitkan lagi Aroon sama sekali tidak peduli. Padahal dulu ia adalah orang nomor satu yang memperdulikannya.
"Sudah biarkan saja mereka berdua. Kau harus maklum mereka lama tidak bertemu." ucap nenek Busara.
"Iya Mae." Cyra menjawab dengan suara lirih. Matanya sudah terasa panas. Kalau ia tidak berusaha menenangkan hatinya sudah di pastikan air matanya akan membasahi pipi. Cyra berusaha menelan makanan yang ada. Rasanya sangat sulit menikmati makanan enak dengan hati yang sakit.
"Mae, aku mau itu." tunjuk Gio.
"Sebentar aku ambilkan." Cyra agak sedikit berdiri karena letaknya yang agak kejauhan. Makanan yang di maksud Gio adalah Tom Yum. Semacam sup seafood yang rasanya asam pedas. Tom Yum ini di letakkan di atas tungku sehingga hangat terus.
Ternyata Kannika pun juga ikut mengambil hingga tidak sengaja tangannya menyenggol tangan Cyra. Tanpa sengaja tangan Cyra terkena tungku.
"Biar aku ambilkan saja. Tempat dudukmu kan jauh. Pasti akan kesulitan. Gio itu sangat mirip dengan Aroon suka dengan Tom Yum. Makanya aku membuat agak banyak."
"Oh. Terima kasih." ucap Cyra. Ia kembali duduk dan menyembunyikan tangannya yang memerah karena terkena tungku yang panas.
"Mae tanganmu___."
"Gio sayang makan makananmu jangan sampai dingin oke." Cyra buru - buru memotong perkataan Gio.
"Tapi___."
__ADS_1
"Ssstt.. Ingat kalau makan jangan banyak bicara." Cyra memperingatkan.
"Baiklah." Gio kembali memakan makanannya.
"Maaf, saya permisi sebentar." Cyra pamit. Ia harus mengguyur tangannya dengan air dingin agar tidak membekas. Tapi rasa sakit di hatinya lebih sakit dari tangannya.
Ia bergegas ke wastafel di dekat kamar mandi. Ia mulai mengucur kan air kran ke tangannya. Tanpa terasa airmatanya jatuh ke pipi. Bergegas ia mengusapnya.
"Kenapa tidak bilang?" tanya Aroon dari arah belakang.
"Hanya luka kecil. Nanti di kasih salep juga membaik."
Aroon diam tanpa menjawab. Ia memegang tangan istrinya dan melihat bahwa tangannya memerah. "Sakit?"
"Sedikit."
"Jangan cengeng. Nanti kalau Gio tahu ia bisa mengejekmu."
"Maaf."
Dengan telaten Aroon merawat luka bakar di tangan Cyra. Perbuatan kecil seperti ini bisa melebur rasa amarah Cyra. Ia senang ternyata suaminya itu masih perhatian dengannya.
"Terima kasih."
"Kembalilah makan. Dari tadi ibu menanyakanmu." Aroon membelai rambut Cyra.
"Ya." jawab Cyra malu. Ia mengikuti langkah suaminya dari belakang.
ππππ
Pagi ini semua berencana untuk pergi ke pantai. Di Phuket memang terkenal dengan keindahan pantainya yang jernih.
"Cyra."
"Ya Mae."
"Pakailah ini. Nanti di sana panas."
"Bajunya sedikit terbuka. Kalau Aroon marah."
"Dia tidak akan marah. Di sana panas pakailah baju yang bahannya dingin."
"Baiklah." Cyra akhirnya berganti baju dengan baju yang di berikan oleh Nenek Busara. Dress pendek dengan tali spageti dan bermotif floral warna hijau botol. Tampak cantik di pakai oleh Cyra.
"Wah menantuku cantik sekali. Bukankah begitu Chai?"
Nenek Busara sangat menyukai kehadiran Cyra. Mereka bahkan sudah memasak bersama. Belajar bahasa bersama.
Aroon datang bersama dengan Gio. Ia sangat kaget melihat Cyra memakai baju seperti itu.
"Apa ini?" tanyanya. "Ganti."
"Hei Aroon. Aku yang memberikan istrimu baju. Jangan marah dengannya." sahut nenek Busara.
"Oke ibu yang memberikannya tapi ia terlihat sangat murahan."
Cyra terbelalak tidak percaya bahwa suaminya tega mengatakan itu padanya. Secepat kilat Cyra berlari dan mengganti pakaiannya.
"Tidak seharusnya kau mengatakan itu padanya."
"Aku lakukan ini demi keselamatannya Mae. Banyak orang liar di pantai."
"Ah sudahlah. Bilang saja kau tidak mau istrimu di nikmati orang lain."
Tak lama kemudian Cyra kembali. Ia hanya menggunakan baju putih dan celana pendek. Tak lupa topi pantai yang besar untuk melindunginya dari panas. Tapi hanya kekecewaan yang ia temukan di sana karena suaminya sβ΅edang asyik mengobrol dengan Kannika yang mengenakan model baju yang sama dengan yang di beri oleh nenek Busara.
Oh ternyata ia hanya ingin baju seperti itu di kenakan oleh Kannika. Cyra kecewa karena awalnya ia mengira suaminya perhatian tapi ternyata tidak.
Sepanjang perjalanan menggunakan kapal Cyra hanya bersendau gurau dengan Gio dan beberapa kali melirik suaminya yang tampak menikmati pemandangan. Setelah sampai mereka turun dari perahu. Ternyata banyak turis dan warga lokal di sana.
Beberapa orang ada yang memperhatikan Cyra karena Cyra tampak sendirian. Ia tidak bergabung bersama Gio bermain pasir dan justru memilih menyendiri menikmati pemandangan.
"Sawaddee krab." sapa seorang pria.
"Oh sawaddee krab." balas Cyra.
"Thailand?"
"No. Indonesia." jawab Cyra menggunakan bahasa inggris.
"I'm Atid. What is your name?" pria itu mengulurkan tangannya.
"Cyra." sambut Cyra.
__ADS_1
"Do you want to take a walk to see the scenery over there?"
"Hmmm.." Cyra ragu - ragu untuk menjawab. "I have to get my husband's permission first."
"You're married?"
"Yes I'm. My husband is thai." tunjuk Cyra pada Aroon yang masih bermain bersama Gio.
"I think your husband will definitely allow it."
"Okey, but only for a moment."
"Okey, deal." Cyra mengikuti pria itu berjalan menyusuri pantai dan agak menjauh. Ternyata di sana ada beberapa gerombolan pria warga lokal.
"Cyra!" Aroon memanggil tiba - tiba. Ia segera menarik tangan istrinya. "Ko tod phi phrrya chan tang klab ban (maaf, istri saya harus pulang)." tanpa memperdulikan hal itu Aroon menarik tangan Cyra.
"Aroon lepas. Tanganku sakit!"
"Aku sudah bilang jangan jalan sendiri. Apalagi berjalan dengan orang asing."
"Itu karena kau sibuk sendiri dan tidak pernah memperhatikanku. Salah aku bersenang - senang sendiri?! Kau sekarang tidak memperdulikanku apakah aku sakit, apakah aku sedih kau hanya diam saja dan yang kau pedulikan hanya teman masa kecilmu itu!" meledaklah amarah Cyra. Ia mengeluarkan semua uneg - uneg yang ada di dalam hatinya. Airmatanya membasahi wajah cantiknya.
Aroon hanya diam mendengarkan amarah istrinya. Cyra mengusap airmata yang membasahi pipinya. Ia tidak mau marahnya ini di lihat oleh Gio. Ia meninggalkan Aroon dan berdiam diri di dalam kapal.
"Mae sakit?"
"Iya, aku sedikit pusing."
"Kata Phoo, kita pulang karena Mae sakit." ucap Gio.
"Kemarilah." Cyra tersenyum sambil menyuruh Gio mendekat. "Mae butuh pelukan. Dengan pelukan hangatmu Mae akan sembuh."
Gio memeluk Cyra dengan erat dan itu membuat Cyra sedikit terobati. Harusnya suaminya yang menenangkan.
ππππ
"Kok sudah pulang?" tanya nenek Busara.
"Kepalaku pusing Mae. Maaf semuanya, liburannya jadi terganggu." Cyra tersenyum simpul. Aroon masih terdiam dan hanya menatap istrinya. Kannika juga melakukan hal yang sama. Ia agak sedikit menjauh dari Aroon.
"Aku mau keluar sebentar." tiba - tiba Aroon pamit.
"Eh Cyra, ayo ikut aku ke kamar." ajak nenek Busara.
"Ada apa Mae?"
"Sudah ikut saja." Cyra menurut dan mengikuti nenek Busara ke kamar. "Ada hadiah untukmu."
"Apa ini?"
"Bukalah di dalam kamar dan coba perlihatkan pada Aroon."
"Tapi kalau reaksinya seperti tadi?"
"Ah. Aku jamin kali ini pasti beda."
"Baiklah. Aku coba ke kamar dulu."
Nenek Busara menjawab dengan anggukan. Cyra menuju ke kamarnya. Hati - hati ia buka hadiah dari mertuanya. "What!" teriaknya tidak percaya. Beberapa lingerie dengan berbagai model dan warna. Mata Cyra tak berkedip. Bagaimana ia akan mencoba pikirnya. Berukang kali ia membolak balikkan lingerie itu dan akhirnya ia memutuskan mencoba lingerie warna coklat dengan belahan dada rendah, berbahan tipis tapi selembut sutra.
Perlahan ia melepas bajunya satu persatu dan mencoba lingerie pemberian mertuanya.
Wow! Aku terlihat seksi pikir Cyra. Ia berputar dan mematutkan diri di depan cermin hingga___.
"Apa yang kau lakukan?" teriak Aroon.
Cyra berbalik dan kaget mendapati suaminya sudah berada di belakangnha. Mata Aroon tampak melotot melihat apa yang di kenakan istrinya.
"Ganti."
"Oh.. Bbaik. Ini tadi pemberian Mae. Aakh.. Aaku hanya mencoba." Cyra ternata - bata karena gugup. Cyra tampak bingung ia mengambil bajunya yang berserakan di bawah hingga dua buah bukit kembarnya terlihat nyata oleh Aroon. Bahkan bokongnya pun ikut menggoda Aroon.βΉ
"Ssiiaal!" umpatnya dan braakkk!! Ia masuk ke dalam kamar mandi. Cyra kaget dengan suara pintu yang keras.
Aduuhhh.. Aku salah lagi pikir Cyra.
Sementara itu di dalam..
Sial kenapa ia begitu seksi. Kalau godaannya seperti ini rencanaku bisa gagal untuk mengetahui apakah ia cinta padaku atau tidak pikir Aroon.
Berulang kali ia menahan nalas dan menurunkan hasratnya. Bahkan ia sudah mengguyur tubuhnya dengan shower air dingin. Tapi tetap saja sesuatu miliknya tidak mau tidur.
"Aaccgghh!" teriaknya frustasi. Akhirnya mau tidak mau ia melakukan sesuatu yang sulit. Yaitu bermajn singke.
__ADS_1
"Cyra.. Cyra.. Cyra.." Aroon nemanggil istrinya dengan suara serak dan lirih sambil terus bermain single.
ππππ