My Love Teacher

My Love Teacher
Rumah Pertama Aroon


__ADS_3

"Rumah pertama tuan?"


Aroon mengangguk dan membawa mereka masuk ke dalam. Terdapat sofa, meja makan yang tertutup plastik mungkin agar tidak kotor. Aroon mulai membuka plastik yang berdebu itu.


"Ini adalah rumah pertama yang berhasil aku bangun ketika pertama kali aku menginjak di Indonesia. Setelah menikah dengan Davira aku membangun rumah kedua yang sekarang ini aku tempati."


Cyra menjadi ingat cerita Pak Uo nya yang mengatakan kalau tuan punya rumah lain. Dan ternyata ini.


"Kau bisa mengajar Gio di sini. Aku tahu Gio sulit menyesuaikan diri dengan Denisha. Jadi mungkin dia lebih tenang jika bermain - main di sini."


"Wah.. wah.. rumah ini sangat besar bu Cyra." puji Omar. "Kalau bu Cyra takut saya bisa disini menemani bu Cyra." Omar menawarkan diri.


"Urus urusanmu sendiri Omar."


"Hehehehh.. Iya tuan. Saya hanya berusaha berbuat baik tuan."


"Sudah bantu Cyra membersihkan rumah ini."


"Siap tuan." jawab Olif dan Omar bersamaan.


Mereka berdua sangat antusias membantu Cyra membuka plastik penutup perabotan. Cyra sendiri mulai membuka pintu, jendela dan gorden panjang penutup jendela yang besar. Aroon turut membantunya karena gorden itu berat.


"Cyra."


"ya tuan."


'Aku harap kau menjaga rumah ini. Walau sederhana tapi semua perabotan dan dapur masih bisa digunakan."


"Baik tuan."


"Dan satu lagi."


"Ya tuan."


"Aku tahu kesan pertama Gio pada Denisha kurang baik. Aku tidak ingin menambah jurang perpisahan diantara mereka. Jadi aku mohon beri pengertian pada Gio bahwa Denisha bukanlah suatu ancaman untuknya, Denisha itu keluarganya."


"Baik tuan, saya akan mencoba. Saya meminta waktu karena Gio anak yang keras kepala. Dan juga saya meminta dukungan dari nona Denisha agar tidak membuat sesuatu yang Gio nantinya akan salah paham."


"Misalnya?"


"Hmmm, pelukan."


"Apalagi?"


"Ccci.. Ccciuman."


"Oh, ciuman yang bagaimana?" goda Aroon.


"Ah tuan ini, ciuman ya ciuman." Cyra menggerutu sambil meninggalkan Aroon sendiri.


"Hei kok malah pergi!" teriaknya. "Kau belum menjawab pertanyaanku. Ciuman yang bagaimana?"


"Saya mau lanjut bersih - bersih tuan." Cyra mengalohkan pembicaraan.


"Oke. Kalau kamu tidak mau jawab. Aku pergi dulu ke kebun." pamit Aroon. "Omar, Olif bantu Cyra jika ada yang perlu dibeli bilang pada Syamsudin."


"Baik tuan."


Sepeninggal Aroon mereka melanjutkan bersih - bersih. Rumah Aroon ini lumayan luas karena tidak tingkat. Ada kolam renang juga walaupun tidak besar.


"Aduh capeknya." ucap Omar sambil tiduran dilantai yang sudah ia pel.


"Kalian mau makan apa?" tanya Cyra.


"Bu Cyra mau masak?" tanya Olif.


"Iya, aku ambil dulu di dapur."


"Wah masak yang enak ya bu."


"Tenang saja, yang penting ada bahan dulu,"

__ADS_1


Cyra segera pergi kembali ke rumah utama. Ia menuju ke dapur.


"Bu Cyra." panggil Gio. "Ibu pindah kemana? Kenapa aku tidak menemukanmu di kamar."


'Maaf Gio nanti aku cerita." jawab Cyra. "Mau ikut aku?"


"Kemana?"


"Ke tempatku yang baru."


Setelah mengambil beberapa bahan Cyra mengajak Gio ke tempatnya yang baru. Tak lupa ia mengambil telur kesukaan Gio. Siapa tahu ia juga ikut makan.


"Dimana ini?"


"Sssstt jangan keras - keras. Kita lewat lorong itu."


Gio mengikuti Cyra tanpa banyak tanya dan____."


"Taarraaa!!!" ucap Cyra ketika membuka pintu. "Kaget kan?"


"Ini rumah siapa bu?"


"Ini rumah Phoo mu waktu pertama kali di Indonesia."


"Benarkah?"


"Benar. Ada Omar dan Olif di dalam."


Gio segera berlari untuk bertemu Omar dan Olif. "Omar! Olif!" panggilnya.


"Tuan muda!!!" teriak Omar dan Olif. Mereka bertiga saling berpelukan seolah - olah sudah bertahun - tahun tidak bertemu. Padahal hanya baru beberapa jam tidak bertemu.


"Aku mencari kalian."


"kami membantu bu Cyra pindahan tuan muda. Nenek sihir itu mengusir bu Cyra."


"Olif jangan sebut nona Denisha dengan sebutan nenek sihir."


"Kalau aku sudah pasti jengkel sama banci hitam itu." Omar mengeluarkan tunjunya dan meninjukannya di sofa.


"Iya mereka jahat. Mereka mau merebut Phoo dari sisiku."


"Tidak Gio, itu tidak benar." Cyra berusaha memberi pengertian agar Gio tidak membenci seseorang. "Gio ingat kita sesama manusia tidak boleh saling membenci."


"Dia memeluk dan mencium Phoo."


"Itu hanya sebagai ucapan selamat datang dan juga melepas rindu karena mereka sudah bertahun - tahun tidak bertemu."


"Kalau memang itu hanya pelukan dan ciuman yang biasa, kenapa ibu tidak melakukan dengan Phoo setiap kali bertemu. Jadi itu tandanya pelukan dan ciuman itu berbeda." sanggah Gio. Ia masih berdebat dengan argumentasinya.


Ternyata otak Gio sangat cerdas. Ia bisa merasakan kalau kedatangan Denisha adalah ancaman buatnya. Ya tuhan apa yang harus aku lakukan agar dia tidak menganggap Denisha sebagai musuh.


"Gio sayang, dengarkan ibu." ucap Cyra. "Di Dunia ini ada beberapa macam pelukan dan ciuman. Jika itu kita lakukan pada saudara atau keluarga kita itu artinya kita sayang. Akan tetapi jika pelukan dan ciuman itu dilakukan oleh orang yang tidak memiliki hubungan keluarga itu artinya cinta. Sedangkan Phoo dengan nona Denisha adalah adik iparnya jadi tidak masalah. Kamu mengerti kan."


Gio hanya diam. Ia b erusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Cyra. "Ya bu. Aku mengerti."


"Kita ini diciptakan di dunia bukan untuk saling memusuhi tapi saling mengasihi satu sama yang lain. Kalau misalnya ada salah satu dari orang terdekat kita berbuat jahat, kita wajib untuk memperingatkan. Jadi ibu mohon, jangan terlalu menilai buruk pada aunty mu. Ini kan baru tertemuan pertama kalian. Cobalah untk menerima dan mengenalnya dengan baik."


"baiklah aku akan mencoba."


"Good boy." puji Cyra. "Sebagai hadiah hari ini aku akan memasak telur kesukaan kita."


"Yeaayy. Aku mau."


Cyra segera memasak mie rebus dengan telur spesial. Karena full dengan sayuran.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€


Tak terasa mereka selesai membersihkan rumah, walaupun capek tapi Cyra tampak puas dengan hasilnya. AroonΒ  datang berkunjung untuk memastikan bahwa semuanya sudah beres. Ia melihat Gio yang sedang asyik bermain di sana jadi teringat akan masa lalunya.


"Gio."

__ADS_1


"Phoo." Gio berlari dan melompat dalam gendongan Aroon.


"Kau suka main disini?"


"Iya aku suka."


"Hmmm ada yang mau Phoo katakan."


"Apa?"


"Aunty Denisha memasak untuk makan malam kita."


"Aku mau makan masakan bu Cyra."


"Tapi aunty sudah susah payah memasak, akan tidak sopan jika kita tidak mencicipinya." bujuk Aroon. Ia memandang ke arah Cyra seolah meminta bantian untuk meyakinkan Gio.


"Gio, ingat apa yang aku katakan tadi. Aunty Denisha sudah memasak spesial untukmu. Alangkah bauknya jika kau mencicipinya sedikit. Apalagi tidak baiuk makan telur terus."


"Baiklah." jawab Gio menyetujui. "Tapi aku ingin bu Cyra menemaniku."


"Baiklah bu Cyra boleh ikut." ucap Aroon.


Sebenarnya kalau boleh memilih, Cyra memilih untuk tidak ikut, entah kenapa sepertinya Denisha menganggapnya sebagai suatu ancaman.


Malam sudah tiba, Cyra ada di kamar Gio untuk keluar bersama makan malam. Setelah merapikan baju Gio mereka berdua mkeluar menuju meja makan.


"Aroon, kenapa Cyra ikut? Ini makan malam keluarga."


"Iya tuan, apalagi nona Denisha hanya memasak tiga porsi." lirik Billy sinis.


"Tenang saja, saya hanya mengantarkan Gio." ucap Cyra sambil tersenyum manis. Memang mereka mulai mencari gara - gara. Aku harus hati - hati.


"Baguslah kalau kamu tahu posisimu." gumam Billy lirih. walaupun pelan tapi Cyra mendengar dengan jelas. Memang sengaja memancing amarahnya. Tapi sayang mereka berhadapan dengan orang yang salah.


Setelah memastikan Gio duduk dengan benar, Cyra segera pergi ke dapur sambil menunggu mereka selesai makan malam.


"Apa yang kau masak hari ini?"


"Aku memasak steak khusus, aku yakin kau pasti suka." ucap denisha dengan percaya diri.


Wajah Gio hanya datar, apalagi mengetahui kalau hidangan makan malam adalah steak. Aroon mulai memotong dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Bagaimana? Enakkan?" tanya Denisha sambil menaruh tangannya di paha Aroon kemudian membelainya pelan - pelan. "Kau suka masakanku kan?"


"Suka. Kau sudah banyak kemajuan."


"Tentu saja aku belajar dari Davira. Kau suka wanita yang pintar memasak bukan?" ucap denisha manja. Tangannya masih tidak berubah tetap pada posisi di atas paha Aroon.


Gio yang melihatnya menjadi marah. Ia membanting piring berisi steak itu kebawah.


Praankkk!!!


"Gio! Apa yang kau lakukan?!"


"Aku tidak suka dengannya!" teriak Gio.


"Apa! Bicara yang sopan!" Aroon sangat marah


"Sudah Aroon, dia hanya anak kecil." ucap Denisha, ia pura - pura meredam kemarahan Aroon padahal itu sesuai dengan apa yang telah dia rencanakan.


"Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan! Sikapnya sangat kurang ajar!" teriak Aroon. "Kamu harus minta maaf pada aunty."


"Tidak! aku tidak mau! Ia mau merebut Phoo dariku!"


"Oh, membangkang kamu rupanya! Kamu harus dihukum!" Aroon mengambil sebuah kemoceng yang ada di sana. Ia memukulkan kemoceng ke tembok.Β  "Ayo minta maaf!"


"Tidak aku tidak mau minta maaf!"


"Baiklah kalau itu maumu, Kau tidak usah minta maaf jika tidak mau! Tapi makan itu!" Aroon menunjukkan steak yang telah jatuh ke lantai.


πŸ€πŸ€πŸ€πŸ€

__ADS_1


__ADS_2