My Love Teacher

My Love Teacher
Percaya Padaku Cyra


__ADS_3

"Iya sayang ini aku." ucap Davira sambil memeluk Aroon. "Tidakkah kau rindu padaku?"


Aroon hanya terdiam mematung. Ia tidak membalas pelukan wanita di depannya yang mengaku sebagai Davira istrinya yang sudah meninggal.


Cyra juga hanya terdiam seakan melihat hantu.


"Kenapa kalian diam? Mana Gio? Ia pasti sudah sangat besar." Davira berjalan masuk mencari Gio.


"Tunggu." cegah Aroon. "Aku ingin bicara denganmu?"


"Baiklah sayang, mari kita bicara."


Cyra masih terdiam ia perlu waktu untuk menerima bahwa istri suaminya masih hidup. Bagaimana seandainya itu benar Davira yang masih hidup. Ia sebagai pihak kedua harus rela mundur.


"Cyra ayo duduk." ajak Aroon.


"Iya."


Cyra mengikuti perintah suaminya. Mereka bertiga duduk bersama.


"Siapa kamu?" tanya Aroon.


"Ya tuhan harus aku jelaskan berapa kali agar kamu percaya bahwa aku adalah Davira istrimu."


"Davira istriku sudah meninggal lima tahun yang lalu. Lantas kamu siapa?"


"Aroon, aku minta maaf jika membuatmu bingung seperti ini." ucap Davira.


"Kami menunggu penjelasanmu?"


"Baiklah." ucap Davira. Ia menarik napas panjang sebelum bercerita. "Sebenarnya aku belum meninggal."


"Tidak mungkin, aku sendiri yang menguburkanmu."


"Yang kamu kuburkan bukan aku."


"Bagaimana bisa?"


"Aku bekerja sama dengan dokter. Saat tahu aku terkena kanker darah hidupku terasa gelap. Aku tidak mau merepotkan mu Aroon. Karena pasti kamu akan tahu proses kematianku selangkah demi selangkah. Oleh sebab itu aku meminta dokter untuk memalsukan kematianku. Biarlah aku menanggung derita akan penyakitku ini sendiri."


"Kemana saja kamu selama ini?"


"Aku berobat ke Singapore beruntunglah ada seorang dokter yang mau merawatku hingga sembuh seperti sekarang ini."


"Itu tidak mungkin."


"Keajaiban tuhan Aroon. Tuhan masih sayang denganku dan mengijinkan aku berkumpul bersama dengan kalian lagi. Aku benar - benar bahagia bahwa perjuanganku selama lima tahun ini membuahkan hasil. Dan aku sembuh. Aku ingin kembali bersama kalian."

__ADS_1


Aroon terdiam tanpa bisa berkata apa - apa. "Bagaimana aku tahu kalau kamu benar - benar Davira?"


"Ujilah aku Aroon, kalau kau benar - benar ragu padaku."


Aroon mengajukan pertanyaan - pertanyaan yang bersifat pribadi yang hanya dia dan Davira yang tahu. Ternyata wanita yang mengaku Davira itu bisa menjawab dengan tepat.


"Aku sudah menjawab semua pertanyaanmu dengan benar. Sekarang kau percaya kalau aku adalah Davira istrimu?"


Aroon hanya terdiam tanpa menjawab apapun. Cyra tahu suaminya itu sedang bingung dan tentu saja masih sangat terkejut. Itu tampak pada wajahnya.


"Aroon kenapa diam saja? Kau masih ragu kalau aku adalah Davira istrimu? Uji lah lagi sampai kau benar - benar percaya."


"Bukan masalah itu." jawab Aroon lirih. "Masalahnya sekarang adalah aku sudah menikah lagi dan memiliki seorang anak." lanjut Aroon.


Davira tampak terkejut. "Kamu sudah menikah lagi."


"Ini Cyra istriku. Aku baru saja memiliki seorang bayi."


"Kau tidak setia padaku Aroon." mata Davira berkaca - kaca.


"Bukan tidak setia Davira, kamu sudah meninggal dan itu menjadi kenangan buatku. Dan berjalannya waktu aku jatuh cinta lagi dengan Cyra. Aku mencintainya karena cinta yang tulus yang ia berikan padaku dan Gio."


"Tapi.. Tapi aku masih istrimu."


"Kau sudah meninggal Davira. Kami sudah memakamkanmu. Surat kematian dari negara juga sudah keluar. Kau bukan istriku lagi."


"Ya tuhan Aroon. Banyak hal yang kita lewati bersama - sama. Aku di sini tidak punya siapa - siapa. Denisha sedang ada di Perancis, dia pasti sudah memiliki kehidupan sendiri." Davira mulai menangis.


"Davira perlu kamu ketahui. Denisha sudah meninggal."


"Apa?! Ya tuhan waktu lima tahun cukup membuatku bertambah syok. Bukan ini yang aku harapkan. Aku hanya ingin kembali bersama suami dan anakku." Davira menangis sejadi - jadinya.


Aroon mendekat. Ia berusaha menenangkan Davira. "Kita akan cari jalan keluar bersama." Mendengar perkataan Aroon, Davira terisak di dadanya.


Cyra hanya bisa memandang kejadian itu dengan perasaan yang sulit di lukiskan. Antara marah, cemburu dan juga kasihan. Ia merasa menjadi pihak ketiga yang merenggut kebahagiaan Davira dan Aroon. Haruskah ia pergi. Tapi ia tidak bisa juga merelakan suaminya jatuh ke dalam pelukan perempuan lain. Ia terlanjur mencintai Aroon.


"Kamu tenang dulu." ucap Aroon.


"Aku mau bertemu dengan Gio."


"Bisa. Tapi aku akan menjelaskan dulu padanya tentang keberadaanmu yang masih hidup. Aku tidak ingin membuatnya syok."


"Baiklah."


Aroon beranjak dari duduknya. Ia kemudian mengajak Cyra masuk ke dalam. "Ayo." perintahnya.


Cyra menuruti keinginan suaminya. Begitu sampai di dalam Aroon memeluk Cyra. "Maaf sayang.. Maafkan aku."

__ADS_1


Cyra membalas pelukan Aroon ia tahu suaminya itu sedang bingung jadi ia tidak marah dengan apa yang di lakukan oleh Aroon.


"Maaf untuk apa?"


"Aku memeluk wanita lain di hadapanmu."


"Aku tidak marah Aroon karena aku tahu posisimu."


"Cyra aku bingung dengan kejadian yang mendadak ini. Aku harus bagaimana? Aku masih tidak percaya bahwa orang yang aku kubur, yang aku datangi makamnya setiap tahun, yang aku tangisi kepergiannya tiba - tiba saja hidup dalam keadaan segar bugar di hadapanku." ucap Aroon. "Bagaimana aku menjelaskan hal ini pada Gio?"


"Aroon apa kamu yakin kalau dia adalah Davira. Mungkin saja kembarannya."


"Kembaran Davira itu Denisha. Mereka juga tidak kembar identik. Dan kau tahu kan kalau Denisha tewas di kecelakaan itu."


"Tapi.. Ini begitu aneh menurutku."


"Aku juga tidak percaya. Tapi pertanyaan - pertanyaan dariku ia jawab dengan benar. Aku di paksa untuk percaya." Aroon terlihat sangat putus asa. "Apa yang harus aku lakukan?"


Cyra tahu ia tidak mungkin egois. Saat ini yang terbaik yang ia lakukan adalah berteman dengan keadaan. Menerima itu semua. "Biarkan ia menginap di sini dulu. Setelah itu baru kita pikirkan jalan keluarnya. Aku tidak ingin berpisah denganmu Aroon. Aku mencintaimu."


"Aku juga sayang. Saat ini kamu adalah satu - satunya wanita yang aku cintai. Perasaanku dengan Davira sudah berbeda. Percayalah."


"Iya aku percaya."


Setelah mendengar jawaban dari Cyra, Aroon menjadi sedikit lega. Mereka berdua kemudian memutuskan untuk bertemu dengan Gio.


"Kenapa kalian lama sekali?" protes Gio.


"Maaf sayang tadi Phoo ada tamu."


"Huh. Mengganggu saja. Aku ingin cepat - cepat main bersama Arthit."


"Adikmu baru tidur."


Gio memandabg ke arah Aroon yang tampak sedih. "Kenapa Phoo tampak sedih? Kan kita sudah memiliki keluarga yang baru." ucap Gio.


Cyra tersenyum. "Gio ayo duduk. Phoo mau berbicara sesuatu padamu."


Aroon mendekati Gio dan duduk di sebelahnya. "Gio, phoo ingin memberitahukan sesuatu padamu. Tapi ini pasti akan membuatmu terkejut. Hal itu juga di alami oleh Phoo."


"Apa itu?"


Aroon menarik napas panjang. "Ternyata Mae Davira masih hidup."


Gio terdiam dengan mulut yang terbuka seakan tidak percaya dengan yang ia dengar. "Benarkah?"


"Iya, Mae Davira masih hidup."

__ADS_1


"Tidak.. Itu tidak mungkin." teriak Gio.


🍀🍀🍀🍀


__ADS_2